KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah saham teknologi dan bank digital menjadi pemberat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama semester pertama lalu. Emiten-emiten tersebut seperti ARTO,EMTK,BUKA, BBYB dan AGRO.
ARTO misalnya. Sepanjang enam bulan pertama tahun ini harga saham turun 46,57%, sehingga mengurangi IHSG 81,99 poin di periode tersebut. EMTK turun 28,67% pada periode yang sama sehingga poin terhadap indeks hilang 22,14. Sementara BUKA, menyeret IHSG dengan penurunan 20,83 poin lantaran harga sahamnya minus 37,61%.
Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Desy Israhyanti melihat prospek saham yang berbasis teknologi memang cukup berat akibat potensi kenaikan suku bunga.
"Perkiraannya, The Fed akan menaikkan suku bunga agresif Juli sehingga berpotensi melambat dalam jangka pendek," ujar dia, Sabtu (2/7).
Selain saham teknologi dan bank digital, saham yang menjadi penyeret IHSG selama semester pertama lalu adalah TLKM, ANTM, INTP dan GEMS. Desy melihat, beberapa emiten laggard ini masih menarik, seperti ARTO, TLKM dan ANTM.
ARTO dinilai menarik lantaran memiliki ekosistem bisnis yang kuat dan bank digital pertama yang sudah bisa mencetak keuntungan. Lalu TLKM dipilih karena merupakan market leader di industri yang prospeknya baik.
Kemudian ANTM dinilai berpotensi memegang porsi besar suplai nikel untuk baterai kendaraan listrik yang saat ini sedang dikembangkan. "ANTM dengan Indonesia Battery Corporation sedang membentuk perusahaan patungan dengan perusahaan asing untuk bangun smelter, sebagai bagian program hilirisasi pemerintah," papar Desy.
Analis Binaartha Sekuritas Ivan Rosanova menilai saham-saham laggard tersebut masih berpotensi mengalami tekanan jual, seiring dengan proyeksi pada IHSG. "Pelaku pasar bisa melakukan strategi buy on weakness selama bulan Juli-Agustus ini dalam beberapa tahap, dengan porsi lebih besar ketika harga semakin murah," saran dia.
Ivan menjagokan saham EMTK, ARTO, TLKM, BBYB, INTP serta ANTM. Ia merekomendasikan sektor perbankan karena dalam fase pemulihan, biasanya sektor ini akan lebih dahulu bergerak naik, baru disusul sektor lain. Selebihnya, saham-saham ini, dilihat secara teknikal, sudah pada akhir koreksi. Dus, saham berpotensi mengalami rebound akhir tahun nanti.
