Gara-Gara Kebijakan The Fed, Risiko Kredit Indonesia Naik

Senin, 17 Januari 2022 | 07:00 WIB
Gara-Gara Kebijakan The Fed, Risiko Kredit Indonesia Naik
[]
Reporter: Danielisa Putriadita | Editor: Sanny Cicilia

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Level credit default swap Indonesia dalam tren naik. Ini menunjukkan persepsi investor terhadap risiko investasi di Indonesia juga memburuk.

Jumat (14/1) lalu, CDS tenor 5 tahun berada di level 84,06. Dalam sepekan angka tersebut naik 836 basis poin (bps). Kompak, CDS tenor 10 tahun juga naik ke 155,98 dan dalam sepekan naik 678 bps.

Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto mengatakan, level CDS dalam tren naik setelah The Federal Reserve (The Fed) mengumumkan rencana tapering dan kenaikan suku bunga lebih cepat. "Risiko naik seiring pasar global merespons potensi tingkat suku bunga yang baru," kata Ramdhan.

Selain itu, rencana kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS) memicu arus modal berpindah ke pasar keuangan AS. Dampaknya, ketidakpastian muncul di negara berkembang dan menaikkan risiko investasi di pasar negara berkembang.

"Bagaimanapun, meski The Fed sudah memberi sinyal tapering dihentikan lebih cepat dari jauh-jauh hari, perubahan suku bunga global tetap dapat memunculkan risiko yang tidak bisa disangka-sangka," kata Ramdhan.

Ahmad Mikail Zaini Ekonom Sucor Sekuritas mengatakan, potensi kenaikan inflasi di dalam negeri akibat kenaikan harga bahan bakar minyak hingga listrik juga menambah risiko. Belum lagi, saat ini pelaku pasar masih diselimuti kekhawatiran penyebaran Covid-19 varian omicron.

"Volatilitas pasar keuangan akibat proyeksi omicron menyebar semakin banyak di Februari, mendorong risiko naik," kata Mikail.

Ramdhan memperkirakan kenaikan CDS masih akan berlanjut. Mikail bahkan menghitung CDS tenor 5 tahun berpotensi naik mencapai level 90 di Juni 2022.

Mikail menuturkan, tren kenaikan CDS tersebut akan membuat arus modal asing yang masuk ke pasar keuangan dalam negeri menjadi terbatas. Sebaliknya, investor cenderung memilih menaruh dananya di obligasi AS.

Meski begitu, Ramdhan tetap optimistis kenaikan CDS tersebut tidak mengindikasikan kinerja pasar obligasi akan tertekan. Ia menilai pasar obligasi dalam negeri masih kondusif, dengan dukungan likuiditas domestik yang masih tinggi.

Sebagai gambaran, Jumat (14/1), yield Surat Utang Negara (SUN) acuan tenor 10 tahun cenderung stabil di level 6,37%. Sementara, di periode yang sama, yield US Treasury tenor yang sama menyentuh level tertinggi, 1,78%.

Mikail menganalisa level CDS berpotensi kembali turun di semester II-2022. Alasannya, ada kemungkinan kenaikan suku bunga di AS justru memukul ekonomi dan inflasi kembali melambat.

Bila ini terjadi, yield US Treasury akan turun dan menyebabkan spread yield dengan SUN melebar, sehingga CDS juga turun. Selain itu, CDS berpotensi turun bila proyeksi perbaikan ekonomi Indonesia dapat terealisasi.

 

 

Bagikan

Berita Terbaru

Hobi Unik Bos  Harta Djaya Karya (MEJA): Koleksi Jersey hingga Jam Tangan Lawas
| Minggu, 02 Agustus 2026 | 15:32 WIB

Hobi Unik Bos Harta Djaya Karya (MEJA): Koleksi Jersey hingga Jam Tangan Lawas

Dari sekian banyak koleksim ada dua yang paling ia banggakan. Pertama, jersey Bryan Robson, pemain Inggris, lengkap dengan tanda tangan asli.

Direktur Harta Djaya Karya Venantius Agung: Optimis Pada Prospek Emas Fisik
| Minggu, 02 Agustus 2026 | 10:44 WIB

Direktur Harta Djaya Karya Venantius Agung: Optimis Pada Prospek Emas Fisik

Venantius Agung Passionoraga tetap setia pada satu instrumen yang telah menemani lebih dari tiga dekade, yakni emas fisik.

Investor Masih Berhati-Hati, Kurva Imbal Hasil Obligasi Bergerak Mendatar
| Minggu, 02 Agustus 2026 | 10:38 WIB

Investor Masih Berhati-Hati, Kurva Imbal Hasil Obligasi Bergerak Mendatar

Investor meminta premi tinggi di tengah ketidak pastian fiskal dan prospek ekonomi yang belum pulih.

Jangan Belanja untuk Senang, Merana Kemudian
| Minggu, 02 Agustus 2026 | 09:15 WIB

Jangan Belanja untuk Senang, Merana Kemudian

Simak tanda-tanda terjebak doom spending, dan bagaimana cara mengatasinya.                          

Rapor Juli Positif, Bisakah Reksadana Saham Cuan Tahun Ini?
| Minggu, 02 Agustus 2026 | 08:35 WIB

Rapor Juli Positif, Bisakah Reksadana Saham Cuan Tahun Ini?

Rata-rata reksadana saham cetak kinerja positif sebulan terakhir. Namun, menutup tahun ini dengan kinerja positif, masih akan menantang.

Kapan Waktu yang Tepat Bagi Investor Melakukan Profit Taking?
| Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:05 WIB

Kapan Waktu yang Tepat Bagi Investor Melakukan Profit Taking?

Profit taking terencana bukan tanda hilangnya keyakinan terhadap pasar. Melainkan menjaga hasil jerih payah agar tidak menguap.

Jersey Lokal Meraup Peluang Saat Demam Olahraga Meradang
| Minggu, 02 Agustus 2026 | 00:34 WIB

Jersey Lokal Meraup Peluang Saat Demam Olahraga Meradang

Tren olahraga kini melanda berbagai kalangan, seperti apa pengaruhnya ke bisnis jersey lokal dalam negeri?

Cabai Gendot dari Dieng yang Super Pedas
| Minggu, 02 Agustus 2026 | 00:11 WIB

Cabai Gendot dari Dieng yang Super Pedas

​Di Jawa Barat, cabai gendot dikenal dengan nama cabai tit super, tit paris dan jatilaba. Asal-usul nama tit super dan tit paris tidak jelas.

Angkutan Antarkota Topang Bisnis Weha Transportasi Indonesia (WEHA)
| Sabtu, 01 Agustus 2026 | 20:10 WIB

Angkutan Antarkota Topang Bisnis Weha Transportasi Indonesia (WEHA)

Pertumbuhan pendapatan ditopang bisnis jasa angkutan antarkota yang meningkat 16,7% yoy selama semester I-2026

Laba Bersih Gudang Garam (GGRM) pada Semester I-2026 Melejit 2.440%
| Sabtu, 01 Agustus 2026 | 12:02 WIB

Laba Bersih Gudang Garam (GGRM) pada Semester I-2026 Melejit 2.440%

PT Gudang Garam Tbk (GGRM) mencatat lonjakan laba signifikan di tengah merosotnya penjualan di semester I-2026.

INDEKS BERITA

Terpopuler