Harga Amonia serta Proyek SAF dan Blue Amonia Menyengat Saham ESSA

Selasa, 14 April 2026 | 18:52 WIB
Harga Amonia serta Proyek SAF dan Blue Amonia Menyengat Saham ESSA
[ILUSTRASI. PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) (Dok/ESSA)]
Reporter: Andy Dwijayanto | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Proyeksi kinerja PT Essa Industries Indonesia Tbk (ESSA) dinilai masih cukup baik tahun ini, kenaikan harga rata-rata amonia akibat konflik, serta berbagai inisiasi perusahaan untuk menggenjot pertumbuhan menjadi salah satu katalisnya. Sebagai gambaran harga rata-rata amonia di kuartal IV saja sudah meningkat 31%.

Proyeksi harga rata-rata amonia tahun ini pun diprediksi masih akan tinggi mengingat konflik geopolitik di Timur Tengah yang belum usai. Tak heran kinerja ESSA diprediksi bakal terkerek sentimen kenaikan harga amonia ini yang saat ini masih menjadi kontributor utama pendapatan perusahaan.

Selain itu, perusahaan juga tengah menuntaskan proyek sustainable aviation fuel (SAF) dan Blue Amonia yang diperkirakan akan beroperasi pada tahun depan dan tahun 2028. Ini akan menjadi katalis positif bagi kinerja jangka panjang perusahaan.

Baca Juga: TP Rachmat Kantongi Cuan Tebal Usai Jual 42,24 Juta Saham, Prospek ESSA Masih Oke?

Abida Massi Armand, Analis BRI Danareksa Sekuritas menilai dampak kenaikan harga amonia akan langsung terasa ke kinerja keuangan ESSA pada tahun ini. Dengan kenaikan harga yang cukup tinggi, maka imbasnya akan signifikan terhadap pendapatan perusahaan, sebab amonia masih menjadi tulang punggung pendapatan utama ESSA.

Sebagai contoh, ketika harga amonia naik pada kuartal III tahun 2024, pendapatan perusahaan langsung naik dan margin laba kotor naik hingga 37,2%. Nah, dengan adanya konflik di Timur Tengah yang mengganggu pasokan gas dunia, ini akan menjadi tailwind nyata yang berpotensi mendorong laba ESSA tumbuh dua digit di tahun ini.

Selain itu proyek SAF dan Blue Amonia juga akan menjadi game changer untuk perusahaan. Proyek SAF di Batang akan menjadi pabrik SAF bersertifikat ISCC CORSIA pertama di Indonesia dengan kapasitas 200.000 MTPA. Dengan ditargetkan commisioning pada kuartal pertama di tahun 2028 ini akan mendorong kinerja perusahaan secara signifikan.

Sedangkan proyek Blue Amonia juga bakal menjadi katalis positif berikutnya, pasalnya produk ini mendapatkan harga premium yang lebih tinggi 11% hingga 14% dibandingkan produk amonia biasa. Apalagi Jepang telah berkomitmen per tahunnya akan melakukan impor 3 juta ton amonia rendah karbon ini pada tahun 2030 mendatang.

Baca Juga: Selat Hormuz Ditutup Saham ESSA Ikut Meletup, Masih bisa Ikutan Beli atau Tahan?

"Potensi tambahan pendapatan dari SAF bisa mencapai US$ 312 juta per tahun, lebih dari dua kali lipat pendapatan tahunan saat ini," ujar Abida kepada KONTAN, Selasa (14/4)

Sementara Reggie Parengkuan, Analis Indo Premier Sekuritas menilai kinerja ESSA bakal terkerek harga amonia. Pasalnya 20% perdagangan LNG global mengalami gangguan akibat konflik di Selat Hormuz, ini membuat harga LNG yang merupakan bahan baku amonia harganya meningkat akibat gangguan pasokan yang terjadi.

Apalagi pasokan amonia global sekitar 5% dari Trinidad juga dipangkas sehingga harga akan terus mengalami reli. Beberapa faktor ini membuat asumsi harga amonia diproyeksikan berkisar US$ 575 per ton atau meningkat 27,78% dibandingkan asumsi sebelumnya yang berada di kisaran US$ 450 per ton.

Oleh karena itu, Indo Premier melakukan revisi terhadap kinerja bottom line ESSA, dengan estimasi untuk tahun ini dinaikkan menjadi US$ 103 juta. Kinerja positif ini juga diprediksi masih akan berlanjut pada tahun depan, dengan kinerja laba bersih diperkirakan berada di level US$ 120 juta.

Kenaikan harga amonia akan memberikan dampak langsung terhadap kinerja dan profitabilitas perusahaan dalam beberapa tahun ke depan. Sebagai gambaran, pada tahun lalu, kinerja ESSA masih cukup berat dengan pendapatan turun 2,12% dari US$ 301,4 juta menjadi US$ 295,01 juta dan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga turun 10,82% dari US$ 45,18 juta menjadi US$ 40,29 juta.

Rekomendasi Saham

Reggie merekomendasikan buy untuk saham ESSA dengan target harga berbasis SOTP yang direvisi lebih tinggi dari 1.000 per saham menjadi 1.200 per saham. Prospek jangka panjang ESSA dinilai sangat menarik ditopang oleh ekspansi agresif dalam peningkatan kapasitas produksi amonia serta ekspansi ke bisnis SAF.

Pendapatan ESSA tahun ini diperkirakan akan mencapai US$ 431 juta dengan laba bersih di kisaran US$ 103 juta. EPS growth tahun ini diperkirakan 156%, dengan ROE diproyeksikan sebesar 14%, dengan PER diperkirakan 8.0 kali serta EV/EBITDA diproyeksikan 3,7 kali.

Namun investor masih harus mencermati risiko yang bisa terjadi ke depannya, salah satunya adalah potensi pelemahan harga amonia yang mungkin terjadi atau harga amonia ke depan yang jauh lebih rendah dari ekspektasi.

Sementara Abida melihat penguatan saham ESSA yang secara year to date naik 37,19% ditopang oleh momentum kenaikan harga amonia dan pipeline proyek hijau yang dimiliki. Memang katalis dari proyek SAF dan Blue Amonia belum sepenuhnya tercermin di harga saham saat ini, namun ke depan kedua proyek ini akan memberikan katalis tambahan.

 

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan

Berita Terbaru

Tarik Ulur SAL Cerminkan Dilema Pemerintah
| Selasa, 30 Juni 2026 | 05:40 WIB

Tarik Ulur SAL Cerminkan Dilema Pemerintah

Pemerintah prioritaskan likuiditas Himbara di tengah dilema pembiayaan fiskal dan kredit.                

Tekanan Daya Beli Mengikis Premi Reguler
| Selasa, 30 Juni 2026 | 05:35 WIB

Tekanan Daya Beli Mengikis Premi Reguler

Produk asuransi jiwa dengan premi tunggal menunjukkan tren yang lebih kuat dibandingkan premi reguler.

Pemerintah Evaluasi Aturan Pajak JHT
| Selasa, 30 Juni 2026 | 05:30 WIB

Pemerintah Evaluasi Aturan Pajak JHT

Pemerintah kaji usulan bebas pajak JHT. Ternyata ada kekhawatiran skema ini justru menguntungkan pekerja berpenghasilan tinggi.

Bulog Membidik Rekor Serapan Beras
| Selasa, 30 Juni 2026 | 05:20 WIB

Bulog Membidik Rekor Serapan Beras

Perum Bulog sudah menyerap sebanyak lebih dari 3,2 juta ton beras secara nasional hingga periode 29 Juni 2026.

Parlemen dan Komnas HAM Minta Latsarmil Dihentikan
| Selasa, 30 Juni 2026 | 05:15 WIB

Parlemen dan Komnas HAM Minta Latsarmil Dihentikan

Pelaksanaan Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) bagi calon manajer Kopdes Merah Putih yang menelan lima korban jiwa, menuai sorotan tajam.

Danantara Garap Proyek Rumah Subsidi
| Selasa, 30 Juni 2026 | 05:15 WIB

Danantara Garap Proyek Rumah Subsidi

Komitmen itu ditandai dengan penandatanganan hibah lahan PT Lippo Cikarang kepada negara untuk proyek rumah subsidi.

Keberadaan MBG Belum Pengaruhi Harga Pangan
| Selasa, 30 Juni 2026 | 05:10 WIB

Keberadaan MBG Belum Pengaruhi Harga Pangan

Pelaku pasar berharap penyerapan bahan baku di program MBG bisa ditingkatkan untuk menopang harga pangan.

Harga Pertamax Dorong Inflasi Juni Naik
| Selasa, 30 Juni 2026 | 05:00 WIB

Harga Pertamax Dorong Inflasi Juni Naik

Harga Pertamax naik 33%, inflasi Juni melesat. Cari tahu dampak kenaikan biaya transportasi dan pangan.  

Belajar dari Vietnam, Sebelum Terlambat
| Selasa, 30 Juni 2026 | 04:55 WIB

Belajar dari Vietnam, Sebelum Terlambat

Produktivitas harus diterjemahkan menjadi daya saing melalui institusi yang kredibel dan kebijakan yang konsisten.

Intip Prediksi IHSG dan Rekomendasi Saham Hari Terakhir Semester I, Selasa (30/6)
| Selasa, 30 Juni 2026 | 04:50 WIB

Intip Prediksi IHSG dan Rekomendasi Saham Hari Terakhir Semester I, Selasa (30/6)

IHSG mengakumulasi pelemahan 4,84% dalam sepekan terakhir. Sedangkan sejak awal tahun, IHSG melemah total 32,68%.​

INDEKS BERITA