Harga Tiket Pesawat Mahal Bikin Laju Ekonomi Nasional Terhambat

Selasa, 07 Mei 2019 | 06:24 WIB
Harga Tiket Pesawat Mahal Bikin Laju Ekonomi Nasional Terhambat
[]
Reporter: Benedicta Prima, Lidya Yuniartha, Vendi Yhulia Susanto | Editor: A.Herry Prasetyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lonjakan harga tiket penerbangan sejak awal 2019 mulai berdampak negatif ke ekonomi Indonesia. Bukan hanya konsumen yang dirugikan akibat harus bayar tiket mahal, industri terkait perhotelan, pariwisata dan ekonomi daerah ikut terdampak.

Puncaknya: pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan I-2019 hanya 5,07%, jauh di bawah prediksi analis dan ekonom yakni 5,2%.

Tingginya harga tiket pesawat menyebabkan masyarakat mengurangi perjalanan udara.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat total penumpang penerbangan domestik kuartal I-2019, hanya 18,32 juta orang, turun 17,66% dibanding periode sama tahun 2018 yang mencapai 22,5 juta.

Jumlah itu anjlok 80,02% ketimbang kuartal IV-2018 yakni 23,61 juta penumpang.

Adapun produk domestik bruto (PDB) dari lapangan usaha transportasi dan pergudangan pada kuartal I-2019 tumbuh minus 0,56% ketimbang kuartal sebelumnya. "Ini karena faktor harga tiket," ujar Kepala BPS Suhariyanto, Senin (6/5).

Padahal bidang transportasi dan pergudangan berkontribusi 5,52% ke PDB kuartal I-2019. Jumlah itu merupakan yang terbesar keenam diantara 17 lapangan usaha lain. Industri pengolahan masih menjadi penyumbang terbesar yakni 20,07% PDB.

Berdasarkan harga berlaku, BPS menghitung PDB kuartal I-2019 sebesar Rp 3.782,40 triliun. Artinya lapangan usaha transportasi dan pergudangan bernilai Rp 208,9 triliun.

Selain transportasi, BPS juga menyebut bisnis pariwisata kena imbasnya. Tingkat hunian hotel susut. Pertumbuhan secara kuartalan usaha restoran dan hotel minus 1,63% dari kuartal IV-2018.

BPS mengaku sudah mengingatkan persoalan ini ke pemerintah sejak beberapa bulan lalu. Namun, belum ada solusi konkret hingga kini. "Konsumsi rumah tangga jika tak ada yang menarik ke bawah, mungkin akan jauh lebih tinggi. BPS sudah warning transportasi efeknya kemana-mana," tandas Suhariyanto.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemhub) Polana Banguningsih Pramesti menyatakan, pemerintah saat ini masih mencari solusi menurunkan harga tiket pesawat. Salah satu opsinya menurunkan tarif batas atas.

Untuk itu, pemerintah akan membahas dengan pelaku usaha. "Kami sedang bahas, karena untuk menurunkan (tarif batas atas) tak sembarangan bisa menurunkan, harus ada parameter atau asumsi-asumsi yang dibahas bersama dengan badan usaha milik negara (BUMN) termasuk stakeholder lain," katanya.

Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) saat ini juga mengaku sudah menurunkan investigator untuk mengusut dugaan kartel dalam menetapkan harga tiket. Yang jelas, saat ini, pasar penerbangan Indonesia dikuasai oleh Grup Garuda dan Grup Lion. Komisioner KPPU Guntur Saragih menyebut, hingga kini, belum ada kesimpulan KPPU.

Bagikan

Berita Terkait

Berita Terbaru

Batasan Tindak Pidana di UU Tipikor
| Rabu, 28 Oktober 2026 | 06:50 WIB

Batasan Tindak Pidana di UU Tipikor

Menteri Yusril Ihza Mahendra, menegaskan pembahasan tersebut bukan untuk menghapus unsur kerugian negara.

Menerapkan Efisiensi, Kinerja Grup MAP Semakin Berisi
| Rabu, 28 Oktober 2026 | 06:45 WIB

Menerapkan Efisiensi, Kinerja Grup MAP Semakin Berisi

PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) dan PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA) mencetak kinerja keuangan cemerlang per kuartal III-2026.

Pembahasan UMP 2027 Tuntas November
| Rabu, 28 Oktober 2026 | 06:44 WIB

Pembahasan UMP 2027 Tuntas November

Kemnaker juga masih menghitung estimasi kebutuhan hidup layak (KHL) sebagai salah satu pertimbangan dalam penetapan UMP 2027.

BUMN Pangan Serap Produksi Telur Rakyat
| Rabu, 28 Oktober 2026 | 06:37 WIB

BUMN Pangan Serap Produksi Telur Rakyat

Kndisiii eternak kita tinggal di ujung tanduk. Mereka banyak yang tutup kandang, bahkan kandangnya dijual

Rupiah Ketinggalan Kereta Penguatan Mata Uang di Asia
| Rabu, 28 Oktober 2026 | 06:30 WIB

Rupiah Ketinggalan Kereta Penguatan Mata Uang di Asia

Rupiah masih tertekan oleh rentetan kekhawatiran di pasar domestik. Ini mencakup risiko pelebaran beban fiskal dari program pemerintah 

Kejar Target Utilisasi Industri Manufaktur 85%
| Rabu, 28 Oktober 2026 | 06:24 WIB

Kejar Target Utilisasi Industri Manufaktur 85%

Peningkatan aktivitas industri mulai diikuti kenaikan serapan tenaga kerja. Pemerintah pun akan mendorong peningkatan utilisasi kapasitas industri

Arah The Fed Jadi Rujukan Pergerakan Rupiah pada Rabu (28/10)
| Rabu, 28 Oktober 2026 | 06:15 WIB

Arah The Fed Jadi Rujukan Pergerakan Rupiah pada Rabu (28/10)

Pada perdagangan Selasa (27/10), rupiah ditutup terkoreksi 0,12% secara harian ke level Rp 18.156 per dolar AS

Mengurai Geopolemik
| Rabu, 28 Oktober 2026 | 06:10 WIB

Mengurai Geopolemik

Inilah puncak dari Geopolemik. Ketika geopolitik dunia menuntut kita menjadi pemain yang cerdas, kita sibuk menjadi penonton atraksi penguasa.

Divestasi Kestrel Jadi Pendorong Kinerja Adaro Andalan Indonesia (AADI)
| Rabu, 28 Oktober 2026 | 06:00 WIB

Divestasi Kestrel Jadi Pendorong Kinerja Adaro Andalan Indonesia (AADI)

Didukung harga dan permintaan global, prospek kinerja PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) berpeluang tumbuh di semester II

Rajin Akuisisi Tambang Emas-Tembaga Australia, Simak Prediksi Pergerakan Saham BUMI
| Rabu, 28 Oktober 2026 | 05:37 WIB

Rajin Akuisisi Tambang Emas-Tembaga Australia, Simak Prediksi Pergerakan Saham BUMI

Alrich menjelaskan bahwa akuisisi dapat menjadi katalis positif jangka panjang bagi BUMI karena memperluas sumber pertumbuhan di luar batubara.

INDEKS BERITA

Terpopuler