Inflasi di Tingkat Grosir Melonjak, Kecemasan Pelemahan Yen Muncul Lagi

Jumat, 10 Juni 2022 | 11:37 WIB
Inflasi di Tingkat Grosir Melonjak, Kecemasan Pelemahan Yen Muncul Lagi
[ILUSTRASI. Kegiatan produksi di sebuah pabrik yang berada di kawasan industri Keihin, Kawasaki, Jepang, 28 Februari 2017. REUTERS/Issei Kato]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - TOKYO. Inflasi grosir Jepang pada Mei melambat, namun harga impor berbasis yen melonjak pada kecepatan tertinggi dalam basis tahunan, demikian diperlihatkan data. Itu menggarisbawahi bahwa kemerosotan nilai tukar merupakan tekanan utama bagi ekonomi yang sangat bergantung pada impor komoditas.

Data itu mendebat argumen bank sentral bahwa sebagian besar penyebab kenaikan biaya hidup rumah tangga di Jepang adalah inflasi komoditas global, dan bukannya pelemahan yen.

Indeks harga barang perusahaan (CGPI), yang mengukur harga barang yang dibebankan oleh satu perusahaan ke perusahaan lain, naik 9,1% dari tahun sebelumnya pada Mei,  menurut data Bank of Japan (BOJ). Kenaikan itu lebih kecil daripada median proyeksi pasar, yaitu 9,8%. .

Baca Juga: Berlawanan Arah dengan Tren Global, Inflasi Produsen China pada Mei Melambat

Laju kenaikan melambat dari rekor kenaikan 9,8% di bulan April. Subsidi atas harga bahan bakar yang diberikan Pemerintah Jepang menjadi alasan melambatnya kenaikan harga.

Tetapi dengan menyentuh 112,8, indeks mencapai rekor tertinggi. Lebih dari 80% komponen mengalami kenaikan harga di Mei tahun ini dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya.

"Kenaikan harga meluas terutama untuk makanan dan minuman," kata Shigeru Shimizu, kepala divisi statistik harga BOJ.

"Gambaran besarnya tetap sama bahwa kenaikan biaya komoditas global mendorong harga grosir Jepang."

Harga barang impor berbasis yen melonjak 43,3% pada Mei dari tahun sebelumnya, laju kenaikan tercepat sejak rekor yang sebanding tersedia pada Januari 1981.

"Harga barang impor terus naik dan tekanan inflasi kuat," kata Toru Suehiro, analis Daiwa Securities. "Jika dolar naik menjadi sekitar 140 yen, yen yang lemah akan menjadi pendorong utama" kenaikan harga grosir, katanya.

Nilai tukar dolar AS terhadap yen sebesar 134,16 pada sesi perdagangan Jumat di Asia, lebih tinggi dari level terendah selama 20 tahun yang dilaluinya baru-baru ini.

Harga minuman dan makanan naik 4,6% bulan lalu dalam basis tahunan, mempercepat dari kenaikan 4,1% bulan sebelumnya, data menunjukkan.

Sementara harga bahan bakar turun 5,6% pada Mei dari April, mereka akan naik 1,1% tanpa subsidi pemerintah, kata Shimizu.

Baca Juga: Peluang Menggiurkan, Apple Ekspansi ke Bisnis Paylater

Inflasi komoditas global yang didorong oleh perang di Ukraina dan penurunan yen ke posisi terendah dua dekade telah mendorong harga grosir di Jepang, menekan keuntungan pengecer.

Perusahaan secara bertahap meneruskan biaya yang lebih tinggi ke rumah tangga. Harga konsumen inti naik 2,1% pada bulan April dari tahun sebelumnya, jauh lebih lambat dari laju peningkatan ekonomi Barat tetapi melebihi target BOJ 2% untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun.

Gubernur BOJ Haruhiko Kuroda telah berulang kali mengatakan pelemahan yen menguntungkan ekonomi Jepang secara luas, dan bahwa bank tidak akan menaikkan suku bunga sebagai tanggapan atas apa yang dilihatnya sebagai inflasi sementara yang didorong oleh biaya.

Tapi anggota parlemen oposisi menyalakan panas di BOJ, menyalahkan kenaikan biaya hidup menjelang pemilihan majelis tinggi bulan depan.

Bagikan

Berita Terbaru

Efek Musiman Mendongkrak Likuiditas dan Kredit
| Sabtu, 24 Januari 2026 | 11:11 WIB

Efek Musiman Mendongkrak Likuiditas dan Kredit

Penguatan dinilai lebih banyak dipengaruhi faktor musiman.                                                 

Cashback Bikin Kaget, Coretax Ubah Peta Pajak
| Sabtu, 24 Januari 2026 | 11:09 WIB

Cashback Bikin Kaget, Coretax Ubah Peta Pajak

Coretax berlaku, warganet gelisah masih kurang bayar pajak gara-gara menerima cashback.                    

Bangkitnya Investasi Reksadana Syariah di Indonesia
| Sabtu, 24 Januari 2026 | 09:33 WIB

Bangkitnya Investasi Reksadana Syariah di Indonesia

Reksadana syariah mengikuti prinsip Islam, yaitu menghindari riba gharar dan maysir dengan fokus pada aset halal seperti sukuk dan saham syariah. 

Rama Indonesia Ingin Akuisisi 59,24% Saham Dua Putra Utama Makmur (DPUM)
| Sabtu, 24 Januari 2026 | 08:17 WIB

Rama Indonesia Ingin Akuisisi 59,24% Saham Dua Putra Utama Makmur (DPUM)

Pada 22 Januari 2026, Rama Indonesia berencana mengakuisisi 59,24% saham PT Dua Putra Utama Makmur Tbk (DPUM) dari modal disetor dan ditempatkan.

Erajaya Swasembada (ERAA) Siapkan Dana Rp 150 Miliar untuk Buyback Saham
| Sabtu, 24 Januari 2026 | 08:09 WIB

Erajaya Swasembada (ERAA) Siapkan Dana Rp 150 Miliar untuk Buyback Saham

Jumlah saham yang akan dibeli kembali tidak akan melebihi 20% dari modal disetor dan paling sedikit saham yang beredar 7,5% dari modal disetor. ​

Pelemahan Rupiah Ikut Memicu IHSG Terkoreksi 1,37% Dalam Sepekan
| Sabtu, 24 Januari 2026 | 08:02 WIB

Pelemahan Rupiah Ikut Memicu IHSG Terkoreksi 1,37% Dalam Sepekan

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), jadi salah satu penahan kinerja IHSG di sepanjang pekan ini. ​

Bayang-Bayang Bubble di Saham Teknologi
| Sabtu, 24 Januari 2026 | 07:53 WIB

Bayang-Bayang Bubble di Saham Teknologi

Kinerja saham masih loyo di awal tahun 2026, emiten teknologi dibayangi bubble kecerdasan buatan (AI)

Harga Emas Terus Mencetak Rekor Tertinggi, Peluang Investasi Emas Masih Terbuka
| Sabtu, 24 Januari 2026 | 07:30 WIB

Harga Emas Terus Mencetak Rekor Tertinggi, Peluang Investasi Emas Masih Terbuka

Kondisi geopolitik yang panas dingin membuat harga emas diprediksi bakal terus menanjak di tahun 2026.

Menghadirkan Politik Ekonomi Resilensi
| Sabtu, 24 Januari 2026 | 07:00 WIB

Menghadirkan Politik Ekonomi Resilensi

Ekonomi resiliensi diperlukan saat ini untuk bisa melindungi rakyat kebanyakan dari tekanan ekonomi.​

Menunggu Bunga Layu
| Sabtu, 24 Januari 2026 | 07:00 WIB

Menunggu Bunga Layu

Otoritas perlu lebih galak memastikan efisiensi perbankan diteruskan kepada konsumen dalam bentuk bunga kredit yang rendah.

INDEKS BERITA

Terpopuler