Ini Kompromi yang Diinginkan AS untuk Selesaikan Sengketa Subsidi Pesawat dengan UE

Jumat, 16 Oktober 2020 | 10:42 WIB
Ini Kompromi yang Diinginkan AS untuk Selesaikan Sengketa Subsidi Pesawat dengan UE
[ILUSTRASI. Pesawat Airbus A330neo di fasilitas perakitan akhir Airbus di Colomiers, Toulouse, Prancis, 26 November 2018. REUTERS/Regis Duvignau]
Reporter: Nathasya Elvira | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - PARIS / WASHINGTON / BRUSSELS (Reuters) -  Amerika Serikat (AS) ingin berkompromi dengan Uni Eropa (UE) untuk menyelesaikan sengketa subsidi pesawat yang telah berlangsung lama. AS menawarkan penghapusan tarif atas anggur, wiski dan produk lain yang diimpor dari Eropa, jika Airbus melunasi utang senilai miliaran dolar ke pemerintah di banyak negara Eropa, kata beberapa sumber yang mengetahui langsung masalah tersebut kepada Reuters.

Tawaran itu dibuat  Perwakilan Dagang AS (USTR), Robert Lighthizer, jauh sebelum WTO, Selasa (13/10), merilis laporan yang memberi lampu hijau bagi Uni Eropa untuk mengenakan tarif balasan atas barang-barang yang diimpor dari AS. Dasar pengenaan tarif itu adalah pemberian subsidi oleh Pemerintah AS untuk pembuat pesawat Boeing.

Baca Juga: Donald Trump kurang dipercaya di negara-negara maju dibanding Xi Jinping

Bagaimanapun, proposal Lighthizer tidak akan mendapatkan dukungan dari UE. Pada 26 Oktober esok, UE akan meminta WTO untuk mengizinkan pemberlakuan tarif impor atas barang-barang dari AS yang bernilai US$ 4 miliar. UE menyatakan tarif impor atas barang-barang dari Eropa senilai US$ 7,5 mulai mempengaruhi barang-barang Eropa di pasar AS.

Komisi Eropa mengkonfirmasi telah menerima apa yang digambarkannya sebagai tanggapan AS pertama terhadap proposal Juli sendiri untuk mengakhiri perselisihan.

Baca Juga: AS marah lantaran kebijakan tarifnya terhadap produk China dinilai melanggar WTO

“Ini adalah pertama kalinya kami menerima umpan balik AS tentang beberapa aspek substantif dari proposal kami. Kami sekarang telah memberikan reaksi kami dan kami siap untuk melanjutkan diskusi ini,” kata seorang juru bicara Komisi.

Kantor USTR, yang awal pekan ini mengatakan sedang menunggu jawaban dari UE atas tawaran yang tidak ditentukan, tidak menanggapi permintaan komentar.

Saham Airbus turun 3,3% pada 12.14 GMT sehingga memperpanjang kerugian sebelumnya.

WTO telah memutuskan bahwa pinjaman dari pemerintah berbagai negara di Eropa untuk Airbus merupakan bentuk subsidi melalui suku bunga rendah. Sementara Boeing dinilai menerima dukungan yang tidak adil berupa keringanan pajak dari Pemerintah AS. Kedua belah pihak mengatakan, mereka telah memperbaiki kekurangan masa lalu dan mengikuti aturan WTO sekarang.

Pinjaman tersebut berada di tengah perselisihan yang telah berlangsung selama 16 tahun dan mengganggu hubungan perdagangan di berbagai sektor, mulai dari barang mewah hingga pertanian ketika kedua negara berusaha untuk menghukum subsidi pesawat dengan tarif.

Baca Juga: OECD: Seperti Ini Kerugian Dunia Jika Gagal Menyepakati Aturan Pajak Digital

Di bawah tawaran AS, suku bunga pinjaman masa lalu untuk mendukung program pengembangan Airbus akan diatur ulang ke tingkat yang mengasumsikan bahwa hanya setengah dari proyek yang akan berhasil, menurut dua sumber tanpa menyebut nama.

Itu akan mengasumsikan risiko yang lebih tinggi daripada negara-negara mitra Airbus seperti Inggris, Prancis, Jerman dan Spanyol, yang memperhitungkan secara tradisional pinjaman dan mencerminkan jenis investasi spekulatif.

Baca Juga: Jepang mulai bayar insentif relokasi pabrik dari China

Penetapan ulang harga seperti itu dapat merugikan Airbus hingga US$ 10 miliar, serta dipandang tidak dapat diterima oleh UE pada saat produsen pesawat sedang mencari dana untuk bertahan dari krisis akibat pandemi.

Satu sumber dari Eropa menyebut proposal AS itu "menghina" dan mengatakan itu bisa mempercepat perang tarif. Sementara itu, salah satu sumber dari AS mengatakan Lighthizer "serius" untuk meminta Airbus membayar kembali bantuan.

Para pengamat mengatakan, AS dan UE sedang mencoba memperkuat posisi mereka menjelang negosiasi di masa depan. Kedua belah pihak telah mendesak negosiasi sambil menuduh yang lain menolak untuk terlibat secara serius.

Membayar kembali subsidi lama adalah salah satu topik tersulit dalam diskusi karena perbaikan WTO sering kali berwawasan ke depan. Komisi mengatakan, proposalnya mencakup bantuan masa depan untuk sektor tersebut.

Amerika Serikat berpendapat bahwa hanya menangani jenis dukungan di masa depan akan gagal menyelesaikan kerugian yang sedang berlangsung pada Boeing disebabkan oleh adanya pinjaman masa lalu di neraca Airbus yang masih dapat digunakan untuk mengembangkan jet dan menawarkan harga rendah yang tidak adil.

Baca Juga: Corona Tak Jua Mereda, Maskapai Penerbangan Nasional Kian Merana

Mantan Kepala Staff Lighthizer, Jamieson Greer yang sekarang bermitra dengan firma hukum King & Spaulding mengatakan bahwa kesepakatan apapun harus melibatkan beberapa bentuk pengembalian subsidi oleh Airbus.

"(Lighthizer) telah sangat terbuka pada prinsip dasar bahwa beberapa bentuk restitusi adalah bagian penting dari resolusi apapun," kata Greer.

Sumber Eropa mengatakan bahwa Boeing juga harus mengembalikan miliaran jika menerapkan filosofi yang sama pada pembuat pesawat AS.

Baca Juga: Eximbank kucurkan pembiayaan Rp 1 triliun ke Garuda Indonesia

Saat ini, Airbus membayar kembali pinjaman pemerintah jika penjualannya melebihi ambang tertentu, sementara pinjaman untuk pesawat dengan penjualan yang lemah seperti superjumbo A380 dapat dihapuskan sebagian atau seluruhnya.

Airbus mengatakan, sistem yang disengketakan itu menguntungkan pembayar pajak karena pembayaran pinjaman untuk jet sukses seperti A320 jauh lebih besar daripada jumlah yang dihapuskan pada jet yang gagal mencapai target penjualan.

Selanjutnya: Kondisi Masa Sulit, Korporasi Mulai Andalkan Utang Bank

 

Bagikan

Berita Terbaru

Saatnya Meminimalkan Kasus-Kasus Investasi Mukidi
| Rabu, 07 Januari 2026 | 12:28 WIB

Saatnya Meminimalkan Kasus-Kasus Investasi Mukidi

Faktor lain yang menyebabkan masyarakat kita mudah tergiur investasi ala Mukidi adalah kondisi ekonomi yang buruk dan ingin kaya secara cepat.

PPN DTP Diperpanjang dan Bunga KPR Turun, Properti di 2026 Masih Punya Ruang Tumbuh
| Rabu, 07 Januari 2026 | 10:20 WIB

PPN DTP Diperpanjang dan Bunga KPR Turun, Properti di 2026 Masih Punya Ruang Tumbuh

Insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) properti resmi diperpanjang hingga akhir 2026.

Emiten Menara Diproyeksikan Tumbuh di 2026, Pilih Koleksi MTEL, TOWR atau TBIG?
| Rabu, 07 Januari 2026 | 10:02 WIB

Emiten Menara Diproyeksikan Tumbuh di 2026, Pilih Koleksi MTEL, TOWR atau TBIG?

Potensi pemulihan ARPU diprediksi menjadi bahan bakar baru bagi emiten menara telekomunikasi di tahun 2026.

Target Lelang Awal Tahun Rp 220 Triliun
| Rabu, 07 Januari 2026 | 09:03 WIB

Target Lelang Awal Tahun Rp 220 Triliun

Belum diketahui target pembiayaan utang 2026, mengingat UU APBN 2026 yang disepakati tak kunjung dipublikasikan pemerintah kepada publik

Konsumsi Terangkat, Tapi Ada Sinyal Tahan Belanja
| Rabu, 07 Januari 2026 | 08:54 WIB

Konsumsi Terangkat, Tapi Ada Sinyal Tahan Belanja

Masyarakat belanja di akhir tahun, terutama pada sektor rekreasi dan barang konsumsi                

Saham WIIM Terbang 135,71 Persen Sepanjang 2025, Begini Prospek Wismilak di 2026
| Rabu, 07 Januari 2026 | 08:50 WIB

Saham WIIM Terbang 135,71 Persen Sepanjang 2025, Begini Prospek Wismilak di 2026

Performa saham PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) di sepanjang 2025 didorong kinerja kuat dan kebijakan cukai.

Goldman Sachs hingga Invesco Pasang Posisi di ANTM, Sinyal Harga Bisa Tembus 4.000?
| Rabu, 07 Januari 2026 | 08:31 WIB

Goldman Sachs hingga Invesco Pasang Posisi di ANTM, Sinyal Harga Bisa Tembus 4.000?

Investor asing institusi rajin memborong saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)di tengah gejolak geopolitik.

Terbang 34 Persen di Awal Tahun 2026, Kemana Arah Saham MINA Selanjutnya?
| Rabu, 07 Januari 2026 | 07:48 WIB

Terbang 34 Persen di Awal Tahun 2026, Kemana Arah Saham MINA Selanjutnya?

Secara teknikal saham PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA) masih berpeluang melanjutkan penguatan dalam jangka pendek.​

Dikabarkan Bakal Dicaplok Emiten BEI Senilai Rp 2 Triliun, Ini Konfirmasi Dirut NELY
| Rabu, 07 Januari 2026 | 07:28 WIB

Dikabarkan Bakal Dicaplok Emiten BEI Senilai Rp 2 Triliun, Ini Konfirmasi Dirut NELY

Rumor soal akuisisi PT Pelayaran Nelly Dwi Putri Tbk (NELY) bikin harga saham perusahaan jasa angkutan laut ini melejit. 

Operator Jalan Tol Mengalap Berkah Nataru
| Rabu, 07 Januari 2026 | 07:25 WIB

Operator Jalan Tol Mengalap Berkah Nataru

Banyak masyarakat memakai kendaraan pribadi maupun angkutan umum menggunakan layanan jalan bebas hambatan ini.​

INDEKS BERITA

Terpopuler