Jadi Anak Usaha Kimia Farma (KAEF), Phapros (PEHA) Kembali Rencanakan Rights Issue

Senin, 13 Mei 2019 | 05:33 WIB
Jadi Anak Usaha Kimia Farma (KAEF), Phapros (PEHA) Kembali Rencanakan Rights Issue
[]
Reporter: Agung Hidayat | Editor: Tedy Gumilar

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Phapros Tbk (PEHA) menghidupkan kembali rencana menghimpun dana lewat rights issue alias penerbitan saham baru yang urung direalisasikan pada tahun lalu. Jika tak ada aral melintang, mereka berencana menggelar aksi korporasi tersebut pada semester kedua tahun ini.

Target perolehan dana segar dari penerbitan saham baru mencapai Rp 1 triliun. Manajemen Phapros akan menggunakan dana tersebut untuk membiayai dana belanja modal atau capital expenditure (capex) dan investasi.

Adapun ekspansi Phapros antara lain membeli mesin produksi ampoule gigi. "Lalu ada rencana juga restrukturisasi pinjaman," kata Barokah Sri Utami, Direktur Utama PT Phapros Tbk, saat ditemui KONTAN di kantornya, Kamis (9/5) pekan lalu.

Manajemen Phapros menjelaskan, rencana penerbitan saham baru tahun 2018 batal karena beban perusahaan sudah cukup besar. Tahun lalu, mereka membeli pabrik dengan pendanaan perbankan.

Pada 29 September tahun lalu, Phapros mengakuisisi 55% saham PT Lucas Djaja senilai Rp 192 miliar. Lucas Djaja memiliki sejumlah fasilitas produksi yang belum dimiliki oleh Phapros. Beberapa di antaranya seperti fasilitas produksi softgel, oralit dan obat generik.

Selain agenda korporasi tadi, terbersit dalam benak Phapros untuk mengakuisisi rumahsakit dan apotek. Informasi saja, mereka mengempit 20% saham Rumah Sakit Permata di Cirebon, Jawa Barat. Perusahaan tersebut ingin memperbesar kepemilikan saham di rumahsakit tersebut.

Phapros juga berharap bisa segera mengekspor produk Antimo ke Nigeria pada semester II 2019. Perusahaan itu memperkirakan, surat izin edar produk dari Pemerintah Nigeria bisa keluar dalam waktu dekat.

Ada pula rencana ekspor ke Myanmar. Phapros telah membentuk satu perusahaan patungan dengan perusahaan lokal. Dua pasar ekspor tersebut akan melengkapi pasar Kamboja dan Filipina yang sudah mereka rambah.

Namun aneka agenda tetap mempertimbangkan rencana besar pemerintah yang akan membentuk Holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Farmasi. Seperti diketahui, Phapros kini menjadi anak usaha PT Kimia Farma (Persero) Tbk. Sementara Kimia Farma dan PT Indofarma (Persero) Tbk akan berada di bawah PT Bio Farma (Persero) dalam struktur holding BUMN tersebut.

Maka dari itu, Phapros harus menyelaraskan diri dan mengoptimalkan potensi perusahaan bagi holding di masa mendatang. "Kami memiliki spesialisasi di produk anestesi gigi, multivitamin dan produk ortopedi," tutur Emmy, sapaan akrab Barokah Sri Utami.

Sepanjang kuartal pertama tahun ini, Phapros membukukan pertumbuhan penjualan bersih 27,01% year on year (yoy) menjadi Rp 177,85 miliar. Obat generik berlogo menjadi kontributor terbesar. Namun laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk alias laba bersih menyusut hampir 2,5 kali lipat menjadi Rp 5,09 miliar.

Bagikan

Berita Terbaru

Nilainya Tembus US$ 33,9 Triliun! Produk ESG Jadi Primadona Baru Pelindung Portofolio
| Rabu, 18 Maret 2026 | 20:08 WIB

Nilainya Tembus US$ 33,9 Triliun! Produk ESG Jadi Primadona Baru Pelindung Portofolio

BEI telah mengoleksi 26 produk investasi berkelanjutan yang dikemudikan oleh 15 Manajer Investasi (MI) yang berbeda.

Mudik 2026: Jumlah Pemudik Turun, Pergerakan Penduduk Terbesar Tetap di Pulau Jawa
| Rabu, 18 Maret 2026 | 14:27 WIB

Mudik 2026: Jumlah Pemudik Turun, Pergerakan Penduduk Terbesar Tetap di Pulau Jawa

Jawa Tengah jadi tujuan utama mudik, disusul Jatim dan Jabar. Temukan pola pergerakan dan moda transportasi favorit untuk perjalanan Anda.

Pergerakan Valas Asia Terimbas Kenaikan Harga Energi
| Rabu, 18 Maret 2026 | 12:48 WIB

Pergerakan Valas Asia Terimbas Kenaikan Harga Energi

Pergerakan mata uang Asia selanjutnya akan dipengaruhi kebijakan suku bunga The Fed. Rupiah berpotensi melemah di atas Rp 17.000 per dolar AS.

Realisasi Penukaran Uang Jelang Lebaran Tinggi, Daya Beli Pulih atau Cuma Ilusi?
| Rabu, 18 Maret 2026 | 12:30 WIB

Realisasi Penukaran Uang Jelang Lebaran Tinggi, Daya Beli Pulih atau Cuma Ilusi?

Untuk menyimpulkan terjadinnya pemulihan daya beli masyarakat, diperlukan indikator yang lebih komprehensif.

Ketika Pasar Menantikan Akhir Perang Duet Amerika Serikat (AS)-Israel Versus Iran
| Rabu, 18 Maret 2026 | 12:23 WIB

Ketika Pasar Menantikan Akhir Perang Duet Amerika Serikat (AS)-Israel Versus Iran

Bila perang berlangsung lama, penutupan fasilitas produksi migas juga lama. Mematikan fasilitas produksi migas tak seperti mematikan saklar lampu.

Mudik Lebaran Dongkrak Penjualan Astra Otoparts (AUTO)
| Rabu, 18 Maret 2026 | 11:14 WIB

Mudik Lebaran Dongkrak Penjualan Astra Otoparts (AUTO)

Suku cadang paling banyak diminati masyarakat sebelum maupun sesudah periode mudik Lebaran adalah baterai atau aki dan pelumas atau lubricants.

Bisnis Sempat Tertekan di 2025, Penjualan AYAM Bakal Moncer Kala Ramadan dan Lebaran
| Rabu, 18 Maret 2026 | 11:05 WIB

Bisnis Sempat Tertekan di 2025, Penjualan AYAM Bakal Moncer Kala Ramadan dan Lebaran

Fluktuasi harga bahan baku pakan dan masa adaptasi terhadap ekspansi kapasitas nasiona bisa menekan industri peternakan ayaml.

Harga Minyak Memanas, Konsumen Melirik Kendaraan Listrik
| Rabu, 18 Maret 2026 | 11:05 WIB

Harga Minyak Memanas, Konsumen Melirik Kendaraan Listrik

Minat pada kendaraan listrik akan mengalami lonjakan apabila harga BBM tak terkendali imbas konflik di Timur Tengah.

Cuan Industri Tekstil pada Momen Lebaran
| Rabu, 18 Maret 2026 | 10:57 WIB

Cuan Industri Tekstil pada Momen Lebaran

Pada umumnya permintaan di sektor ritel dapat meningkat puluhan persen sejalan dengan kebutuhan masyarakat untuk membeli pakaian baru.

Rem Transaksi Dolar, demi Jaga Kurs Garuda
| Rabu, 18 Maret 2026 | 10:50 WIB

Rem Transaksi Dolar, demi Jaga Kurs Garuda

Ini berbagai strategi Bank Indonesia membentengi nilai tukar rupiah agar tidak kian rontok.                  

INDEKS BERITA

Terpopuler