Jangan Terjebak Euforia, UNSP ARA Dua Hari Beruntun Usai Unsuspensi

Jumat, 25 September 2026 | 14:54 WIB
Jangan Terjebak Euforia, UNSP ARA Dua Hari Beruntun Usai Unsuspensi
[ILUSTRASI. NULL (KONTAN/Daniel Prabowo)]
Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) menjadi perhatian pasar usai kembali diperdagangkan kembali sejak suspensi 1 Juli 2026. Dalam dua hari perdagangan pertamanya ini, UNSP bahkan langsung menyentuh batas auto rejection atas (ARA).

Asal tahu saja, UNSP sebelumnya terkena suspensi perdagangan sejak 1 Juli dan Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali membukanya pada 23 September, setelah ekuitas perseroan kembali positif berdasarkan laporan keuangan per 31 Agustus 2026.

Pada perdagangan perdana pasca suspensi dibuka, saham UNSP langsung bergerak naik dibuka di Rp 256 pada 23 September alias meningkat 24,47% dari harga Rp 206. Harga saham UNSP kembali ARA dengan kenaikan 25,00% di sesi pertama Kamis (24/9) ke Rp 320 dan bertahan di posisi yang sama hingga penutupan pasar.

Head of Research Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan penguatan UNSP pasca-unsuspensi lebih banyak dipengaruhi faktor teknikal dan mekanisme perdagangan setelah saham lama tertahan selama hampir tiga bulan.

“ARA dua hari beruntun pasca buka suspensi hampir selalu teknikal, bukan cerminan fundamental,” ujar Wafi kepada KONTAN, Kamis (24/9).

Baca Juga: Konversi Utang Rp 4,35 Triliun, UNSP Menggelar Private Placement

Dia melanjutkan, saham yang lama mengalami suspensi memiliki potensi permintaan yang tertahan. Tak hanya itu, pasokan pada awal perdagangan dapat relatif terbatas lantaran sebagian pemegang saham lama masih terjebak pada harga yang jauh lebih tinggi.

Kondisi tersebut menjadi semakin signifikan karena UNSP kini berada di Papan Pengembangan yang cenderung memiliki likuiditas lebih tipis. Dengan jumlah saham yang ditransaksikan terbatas, pergerakan harga dapat menjadi lebih volatil.

Wafi menilai keberlanjutan reli UNSP masih perlu diuji. Pasalnya, kenaikan harga akan lebih berkelanjutan apabila mulai didukung oleh perbaikan arus kas, profitabilitas dan kemampuan operasional perusahaan.

“Keberlanjutannya rendah tanpa bukti arus kas, dan tekanan jual biasanya muncul begitu saham hasil private placement bisa diperdagangkan,” imbuh dia.

Di sisi fundamental, private placement senilai Rp 4,35 triliun memang membawa perubahan besar terhadap struktur permodalan UNSP.

Sebagaimana diketahui, UNSP menerbitkan sekitar 14,5 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp 300. Aksi korporasi tersebut terutama digunakan untuk mengonversi utang kepada kreditur dan pemegang surat utang menjadi saham.

Investment Advisor Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis juga memberikan pandangan bahwa hal ini penting untuk membedakan antara perbaikan neraca dan masuknya dana segar ke perusahaan.

“Private placement tersebut bukan sekadar suntikan kas untuk membiayai ekspansi,” kata Alrich.

Sebelum aksi korporasi tersebut, ekuitas UNSP per 30 Juni 2026 masih negatif sekitar Rp 5,53 triliun. Pasca restrukturisasi, posisi ekuitas kembali positif sehingga salah satu persoalan utama yang menjadi dasar penghentian sementara perdagangan saham dapat diselesaikan.

Dari sana, terlihatlah bahwa dampak terbesar dari aksi tersebut adalah perubahan struktur kewajiban menjadi ekuitas. Beban kewajiban perusahaan berkurang dan struktur neraca menjadi lebih sehat.

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan

Berita Terbaru

Asing Net Sell Rp 1,7 Triliun Tapi Saham TINS Malah Naik 20%, Ini Pemicunya
| Jumat, 25 September 2026 | 15:13 WIB

Asing Net Sell Rp 1,7 Triliun Tapi Saham TINS Malah Naik 20%, Ini Pemicunya

Selain harga timah, pemulihan produksi menjadi penopang penting, dengan produksi bijih timah tumbuh 75% dan produksi logam naik 58% secara tahunan

Jangan Terjebak Euforia, UNSP ARA Dua Hari Beruntun Usai Unsuspensi
| Jumat, 25 September 2026 | 14:54 WIB

Jangan Terjebak Euforia, UNSP ARA Dua Hari Beruntun Usai Unsuspensi

Fenomena El Nino yang sedang aktif berpotensi menekan produksi tandan buah segar (TBS) dengan jeda dampak sekitar enam hingga 18 bulan.

Deretan Emiten Properti Terdampak UU Reforma Agraria
| Jumat, 25 September 2026 | 09:44 WIB

Deretan Emiten Properti Terdampak UU Reforma Agraria

Pengesahan Undang-Undang Pengaturan Reforma Agraria menyebabkan para investor mencermati pengembang dengan land bank besar dan terkonsentrasi.

Bea Impor CPO India Turun: Mana Emiten Sawit yang Paling Diuntungkan?
| Jumat, 25 September 2026 | 09:00 WIB

Bea Impor CPO India Turun: Mana Emiten Sawit yang Paling Diuntungkan?

Penurunan bea impor ini akan membuat CPO lebih kompetitif dan mendukung permintaan India, dampaknya kemungkinan bertahap.

PMUI Genggam 34% Saham Main Dealer Motor Listrik Vinfast, ini Dampaknya
| Jumat, 25 September 2026 | 08:00 WIB

PMUI Genggam 34% Saham Main Dealer Motor Listrik Vinfast, ini Dampaknya

Dealer kendaraan listrik tahap awal umumnya masih rugi, jadi jangka pendek lebih berpotensi menambah rugi asosiasi daripada laba.

Layanan KRL Jabodetabek Butuh 87 Trainset
| Jumat, 25 September 2026 | 07:54 WIB

Layanan KRL Jabodetabek Butuh 87 Trainset

Jumlah penumpang KRL saat ini telah mencapai sekitar 1,1 juta orang per hari, atau tumbuh 11,3% dibandingkan dengan 2025.

Rupiah Ambruk, Emiten dengan Beban Dolar Terpuruk
| Jumat, 25 September 2026 | 07:38 WIB

Rupiah Ambruk, Emiten dengan Beban Dolar Terpuruk

Emiten yang menanggung kewajiban berdenominasi dolar AS terancam oleh tren pelemahan nilai tukar rupiah

Dinamika Yield US Treasury
| Jumat, 25 September 2026 | 07:31 WIB

Dinamika Yield US Treasury

Arah pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bakal dipengaruhi dinamika yield US Treasury pada Jumat (25/9)

Megalestari Epack (EPAC) Kejar Pertumbuhan Penjualan 15%
| Jumat, 25 September 2026 | 07:10 WIB

Megalestari Epack (EPAC) Kejar Pertumbuhan Penjualan 15%

Selain tekanan harga bahan baku, kinerja EPAC juga dipengaruhi oleh tingginya beban operasional pada segmen usaha kemasan.

Genjot Bisnis Bullion, HRTA Borong 50 Kilo Gram Emas dari Freeport
| Jumat, 25 September 2026 | 07:06 WIB

Genjot Bisnis Bullion, HRTA Borong 50 Kilo Gram Emas dari Freeport

PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) memperkuat bisnis bullion melalui kerja sama pembelian emas murni dengan PT Freeport Indonesia 

INDEKS BERITA

Terpopuler