Jangan Terjebak Euforia, UNSP ARA Dua Hari Beruntun Usai Unsuspensi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) menjadi perhatian pasar usai kembali diperdagangkan kembali sejak suspensi 1 Juli 2026. Dalam dua hari perdagangan pertamanya ini, UNSP bahkan langsung menyentuh batas auto rejection atas (ARA).
Asal tahu saja, UNSP sebelumnya terkena suspensi perdagangan sejak 1 Juli dan Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali membukanya pada 23 September, setelah ekuitas perseroan kembali positif berdasarkan laporan keuangan per 31 Agustus 2026.
Pada perdagangan perdana pasca suspensi dibuka, saham UNSP langsung bergerak naik dibuka di Rp 256 pada 23 September alias meningkat 24,47% dari harga Rp 206. Harga saham UNSP kembali ARA dengan kenaikan 25,00% di sesi pertama Kamis (24/9) ke Rp 320 dan bertahan di posisi yang sama hingga penutupan pasar.
Head of Research Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan penguatan UNSP pasca-unsuspensi lebih banyak dipengaruhi faktor teknikal dan mekanisme perdagangan setelah saham lama tertahan selama hampir tiga bulan.
“ARA dua hari beruntun pasca buka suspensi hampir selalu teknikal, bukan cerminan fundamental,” ujar Wafi kepada KONTAN, Kamis (24/9).
Baca Juga: Konversi Utang Rp 4,35 Triliun, UNSP Menggelar Private Placement
Dia melanjutkan, saham yang lama mengalami suspensi memiliki potensi permintaan yang tertahan. Tak hanya itu, pasokan pada awal perdagangan dapat relatif terbatas lantaran sebagian pemegang saham lama masih terjebak pada harga yang jauh lebih tinggi.
Kondisi tersebut menjadi semakin signifikan karena UNSP kini berada di Papan Pengembangan yang cenderung memiliki likuiditas lebih tipis. Dengan jumlah saham yang ditransaksikan terbatas, pergerakan harga dapat menjadi lebih volatil.
Wafi menilai keberlanjutan reli UNSP masih perlu diuji. Pasalnya, kenaikan harga akan lebih berkelanjutan apabila mulai didukung oleh perbaikan arus kas, profitabilitas dan kemampuan operasional perusahaan.
“Keberlanjutannya rendah tanpa bukti arus kas, dan tekanan jual biasanya muncul begitu saham hasil private placement bisa diperdagangkan,” imbuh dia.
Di sisi fundamental, private placement senilai Rp 4,35 triliun memang membawa perubahan besar terhadap struktur permodalan UNSP.
Sebagaimana diketahui, UNSP menerbitkan sekitar 14,5 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp 300. Aksi korporasi tersebut terutama digunakan untuk mengonversi utang kepada kreditur dan pemegang surat utang menjadi saham.
Investment Advisor Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis juga memberikan pandangan bahwa hal ini penting untuk membedakan antara perbaikan neraca dan masuknya dana segar ke perusahaan.
“Private placement tersebut bukan sekadar suntikan kas untuk membiayai ekspansi,” kata Alrich.
Sebelum aksi korporasi tersebut, ekuitas UNSP per 30 Juni 2026 masih negatif sekitar Rp 5,53 triliun. Pasca restrukturisasi, posisi ekuitas kembali positif sehingga salah satu persoalan utama yang menjadi dasar penghentian sementara perdagangan saham dapat diselesaikan.
Dari sana, terlihatlah bahwa dampak terbesar dari aksi tersebut adalah perubahan struktur kewajiban menjadi ekuitas. Beban kewajiban perusahaan berkurang dan struktur neraca menjadi lebih sehat.
