Kebijakan Pemerintah Berganti, Penjualan Senjata Militer AS Menurun

Kamis, 23 Desember 2021 | 14:59 WIB
Kebijakan Pemerintah Berganti, Penjualan Senjata Militer AS Menurun
[ILUSTRASI. Prajurit memasukkan roket latihan ke sebuah pod helikopter penyerang AH-64E Apache saat latihan militer 'Combat Readiness Week' di Hsinchu, Taiwan, Kamis (29/10/2020). REUTERS/Ann Wang]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Penjualan peralatan militer Amerika Serikat ke pemerintah asing selama tahun fiskal terakhir turun 21% menjadi US$ 138 miliar, demikian pengumuman Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) AS pada Rabu (22/12).

Penurunan ini sejalan dengan kebijakan administrasi Joe Biden yang meninggalkan beberapa praktik penjualan senjata yang lebih agresif, yang dijalankan di masa pemerintahan Donald Trump.

Angka penjualan militer untuk tahun fiskal 2021 yang diumumkan kemarin berakhir pada 30 September. Nilai penjualan yang dilaporkan termasuk penjualan helikopter serang AH-64E Apache senilai US$ 3,5 miliar ke Australia dan helikopter CH-53K senilai US$ 3,4 miliar ke Israel.

Penjualan peralatan militer AS pada tahun fiskal sebelumnya bernilai US$ 175 miliar.

Baca Juga: Jepang Akan Pangkas Nilai Obligasi Pemerintah yang Diterbitkan di Tahun Depan

Pemerintahan Biden menghentikan penjualan senjata serang ke Arab Saudi setelah banyaknya korban sipil yang jatuh di Yaman. AS akan mengumumkan kebijakan baru yang menyertakan pertimbangan hak asasi manusia dalam proses evaluasi penjualan senjata.

Di tahun terakhir pemerintahan Trump, AS mencatat penjualan tertinggi dalam jet tempur dan peluru kendali. Kesepakatan transaksi senjata bernilai besar tahun 2020 termasuk pembelian Jepang atas 63 jet tempur F-35 dari Lockheed Martin yang menyumbang US$ 23 miliar terhadap total penjualan di tahun itu.

Ada dua cara utama pemerintah asing membeli senjata dari perusahaan AS. Pertama, penjualan komersial langsung yang dinegosiasikan antara pemerintah dan perusahaan.

Baca Juga: Militer China Akhirnya Mengungkap Detail Kemampuan Helikopter Tempur Z-10

Kedua, penjualan dalam skema militer asing, di mana pemerintah sebuah negara menghubungi perwakilan dari Kementerian Pertahanan di kedutaan AS di ibukotanya. Kedua skema penjualan itu membutuhkan persetujuan dari pemerintah AS.

Penjualan militer langsung oleh perusahaan AS turun 17% menjadi US$ 103 miliar pada tahun fiskal 2021 dari US$ 124 miliar pada tahun fiskal 2020. Sementara penjualan yang diatur melalui pemerintah AS turun 31% menjadi US$ 34,8 miliar pada tahun 2021 dari US$ 50,8 miliar pada tahun sebelumnya, demikian pernyataan Kemenlu AS.

Pada tahun 2018, administrasi Trump meluncurkan program "Beli Amerika" yang melonggarkan pembatasan penjualan militer sambil mendorong pejabat AS untuk mengambil peran yang lebih besar dalam meningkatkan bisnis negaranya di luar negeri, termasuk bisnis senjata.

Bagikan

Berita Terbaru

Membedah Dampak Arbitrase Gunvor Terhadap Kinerja Keuangan dan Prospek Saham PGAS
| Rabu, 02 September 2026 | 08:02 WIB

Membedah Dampak Arbitrase Gunvor Terhadap Kinerja Keuangan dan Prospek Saham PGAS

Efek putusan arbitrase yang diajukan Gunvor ke kinerja keuangan PGAS bergantung pada nilai ganti rugi dan waktu penyelesaian.

ITSEC Asia Mencetak Laba Usaha Rp 23,01 Miliar, Meroket 1.171% yoy
| Rabu, 02 September 2026 | 07:49 WIB

ITSEC Asia Mencetak Laba Usaha Rp 23,01 Miliar, Meroket 1.171% yoy

Kinerja kuartal kedua mencerminkan pertumbuhan pendapatan yang terus berlanjut serta realisasi sejumlah proyek utama pada periode tersebut.

Harga Saham KOTA Sudah Melambung Tinggi, Investor Disarankan Tak Kejar Momentum
| Rabu, 02 September 2026 | 07:49 WIB

Harga Saham KOTA Sudah Melambung Tinggi, Investor Disarankan Tak Kejar Momentum

Kenaikan harga saham PT DMS Propertindo Tbk (KOTA) kemungkinan telah jauh melampaui fundamental perseroan. 

Valuasi Jauh di Bawah Rata-Rata Lima Tahun, TPIA Jadi Saham Big Caps Paling Terdiskon
| Rabu, 02 September 2026 | 07:31 WIB

Valuasi Jauh di Bawah Rata-Rata Lima Tahun, TPIA Jadi Saham Big Caps Paling Terdiskon

Rata-rata target harga konsensus saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) berada di Rp 2.990 per saham.

Nilai Pasar Industri Kosmetik Bisa Tembus US$ 10 Miliar
| Rabu, 02 September 2026 | 07:27 WIB

Nilai Pasar Industri Kosmetik Bisa Tembus US$ 10 Miliar

Selama ini produk kosmetik dan perawatan diri digunakan oleh hampir seluruh kelompok usia dan gender.

Sinyal Hawkish Datang Dari AS, Rupiah Terancam Kembali Merosot ke Rp 18.000?
| Rabu, 02 September 2026 | 07:12 WIB

Sinyal Hawkish Datang Dari AS, Rupiah Terancam Kembali Merosot ke Rp 18.000?

Analis memperkirakan jika The Fed semakin hawkish, risiko rupiah kembali menembus level Rp 18.000 per dolar AS tetap terbuka.

Industri Manufaktur Belum Lepas dari Persoalan Struktural
| Rabu, 02 September 2026 | 07:08 WIB

Industri Manufaktur Belum Lepas dari Persoalan Struktural

Untuk melihat kondisi industri secara struktural, pelaku usaha tetap mencermati IKBM dari BPS dan berbagai indikator lainnya.

Waspada Harga Pangan
| Rabu, 02 September 2026 | 07:05 WIB

Waspada Harga Pangan

Penurunan harga BBM jangan langsung diterjemahkan sebagai ruang belanja yang lebih besar jika harga kebutuhan pokok masih naik.

Risiko Ekonomi Ditopang Konsumsi
| Rabu, 02 September 2026 | 07:00 WIB

Risiko Ekonomi Ditopang Konsumsi

Kondisi obesitas konsumsi bisa terjadi bila terjadi kebijakan berorientasi kalori bukan produktivas.​

Bunga The Fed Menentukan Arah Kinerja Portofolio Investasi
| Rabu, 02 September 2026 | 06:55 WIB

Bunga The Fed Menentukan Arah Kinerja Portofolio Investasi

Sejumlah aset investasi mencatatkan penguatan sepanjang Agustus 2026. Aset kripto menjadi instrumen dengan kenaikan paling tinggi.

INDEKS BERITA

Terpopuler