Kenaikan Tarif Cukai Rokok Dinilai Akan Menambah Beban Industri Hasil Tembakau

Rabu, 25 Agustus 2021 | 21:19 WIB
Kenaikan Tarif Cukai Rokok Dinilai Akan Menambah Beban Industri Hasil Tembakau
[ILUSTRASI. Kenaikan tarif cukai hasil tembakau dinilai akan menjadi bumerang. . KONTAN/Muradi/2016/04/21]
Reporter: Herry Prasetyo | Editor: A.Herry Prasetyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana pemerintah menaikkan tarif cukai hasil tembakau (CHT) pada 2022 dinilai akan menambah beban industri hasil tembakau. 

Pada gilirannya, kenaikan tarif cukai rokok, termasuk hasil pengolahan tembakau lainnya (HPTL), akan berdampak terhadap kinerja sektor industri secara umum yang ujungnya akan menghambat pencapaian target pertumbuhan ekonomi nasional. 

Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian Edy Sutopo mengatakan, rencana kenaikan tarif cukai hasil tembakau, termasuk hasil pengolahan tembakau lainnya (HPTL), kurang tepat. Hal ini mempertimbangkan merosotnya pertumbuhan industri hasil tembakau sejak tahun lalu yang diperkirakan belum akan pulih sampai akhir tahun. 

Baca Juga: Tak Hanya di BBYB dan BBKP, Investor Lawas Juga Rajin Melego Saham AMAR dan Mayapada

“Beberapa waktu lalu, kami diundang BKF (Badan Kebijakan Fiskal) terkait usulan cukai, kami mengusulkan agar tahun depan cukai, baik untuk rokok konvensional maupun HPTL tidak dinaikkan,” ujar Edy, Senin (23/8/).

Pada 2020 lalu, pertumbuhan industri hasil tembakau tercatat  minus 9,7%. Pada kuartal I-2021, pertumbuhan industri hasil tembakau masih tercatat minus 5,7%. Adapun penerimaan cukai industri HPTL tercatat merosot sampai 28% pada semester I-2021 menjadi Rp 298 miliar.

Baca Juga: Jejak Pemain Global di Bisnis Data Center Indonesia Semakin Nyata 

Kepala Center of Industry Trade and Investement Indef Andry Satrio Nugroho sepakat bahwa kenaikan CHT berpotensi menjadi bumerang lantaran membatasi ruang pertumbuhan industri hasil tembakau. Menurutnya,  tarif CHT tak bisa hanya dilihat sebagai komponen penerimaan negara, tanpa memperhatikan keberlangsungan industrinya.

“Industri harus tumbuh untuk memberikan penerimaan negara yang optimal via cukai. Dengan kondisi pandemi di mana IHT sampai sekarang juga belum pulih, tidak menaikkan tarif cukai tahun depan sebenarnya bisa menjadi salah satu insentif agar industrinya bisa bernafas lebih dulu,” ungkapnya.

Baca Juga: Fitch Akan Tarik Rating Internasional Maybank, Ini Penjelasan Maybank Indonesia

Andry juga menggarisbawahi keadaan industri HPTL yang dinilai terdampak cukup parah akibat pandemi dan kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Sebab, industri HPTL yang masih sangat mengandalkan penjualan secara ritel saat ini terpaksa harus menutup toko akibat PPKM.

Guna menjaga keberlangsungan industri HPTL, Andry menyarankan pemerintah untuk mengubah skema tarif persentase yang berlaku saat ini menjadi spesifik tanpa ada kenaikan beban. Saat ini tarif cukai industri HPTL dipukul rata sebesar 57% dari harga jual eceran (HJE).

Selanjutnya: Harga Tembaga Rabu (25/8) Bertahan Naik, Katalisnya Permintaan Kuat dan Stok Menipis

 

Bagikan

Berita Terbaru

Dyandra Media (DYAN) Bidik Pertumbuhan Kinerja Sebesar 10% di Tahun Ini
| Jumat, 30 Januari 2026 | 06:15 WIB

Dyandra Media (DYAN) Bidik Pertumbuhan Kinerja Sebesar 10% di Tahun Ini

Pada 2026 segmen bisnis promotor musik, operator venue dan professional event organizer ini terus dioptimalkan dengan sejumlah strategi.​

Meski Dolar Tertekan, Fluktuasi Valas Asia Masih Tinggi
| Jumat, 30 Januari 2026 | 06:15 WIB

Meski Dolar Tertekan, Fluktuasi Valas Asia Masih Tinggi

Pelemahan indeks dolar Amerika Serikat (AS) atau DXY diperkirakan masih akan berlanjut hingga kuartal I-2026

Au Ah Gelap
| Jumat, 30 Januari 2026 | 06:10 WIB

Au Ah Gelap

Investor perorangan yang masih menahan floating loss cemas karena mereka tak tahu sampai di titik mana harga saham yang mereka miliki akan jatuh.

IHSG Tertekan, Lebih Baik Masuk Perlahan Jika Ingin Aman
| Jumat, 30 Januari 2026 | 06:01 WIB

IHSG Tertekan, Lebih Baik Masuk Perlahan Jika Ingin Aman

Potensi pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berlanjut, meskipun ada peluang rebound teknikal

Kawasan Industri Lirik Potensi Bisnis Semikonduktor
| Jumat, 30 Januari 2026 | 06:00 WIB

Kawasan Industri Lirik Potensi Bisnis Semikonduktor

HKI undang perusahaan global membentuk perusahaan patungan atau joint venture (JV) dengan perusahaan lokal dalam pengembangan semikonduktor.

Harga Saham MBMA: Tiga Analis Kompak Rekomendasi Beli, Targetnya Segini
| Jumat, 30 Januari 2026 | 06:00 WIB

Harga Saham MBMA: Tiga Analis Kompak Rekomendasi Beli, Targetnya Segini

Volatilitas harga nikel dan kuota produksi nasional menekan MBMA. Ketahui tantangan dan dampaknya pada prospek saham Anda.

Alfamart (AMRT) Akan Membuka 100 Gerai di Bangladesh
| Jumat, 30 Januari 2026 | 05:57 WIB

Alfamart (AMRT) Akan Membuka 100 Gerai di Bangladesh

AMRT telah membuka gerai perdana di Dhaka, Bangladesh pada 27 Januari 2026 lalu. Langkah ini berpeluang mendorong prospek kinerja AMRT.

IHSG Terjungkal, Dapen hingga Asuransi Tunggu Waktu yang Tepat untuk Menyerok Saham
| Jumat, 30 Januari 2026 | 05:35 WIB

IHSG Terjungkal, Dapen hingga Asuransi Tunggu Waktu yang Tepat untuk Menyerok Saham

Rontoknya IHSG dalam dua hari terakhir membuka kesempatan bagi Industri Keuangan Non Bank (IKNB) menyerok saham saat harganya jatuh

Target Pembangunan Jaya Ancol (PJAA) Menarik 9,59 Juta Pengunjung
| Jumat, 30 Januari 2026 | 05:20 WIB

Target Pembangunan Jaya Ancol (PJAA) Menarik 9,59 Juta Pengunjung

Pada bisnis eksisting, PJAA akan terus melakukan pembaruan tema kawasan, peningkatan kualitas wahana, dan penguatan pengalaman pengunjung.

IHSG Anjlok 8,33% dalam 2 Hari, Intip Prediksi Hari Terakhir Januari (30/1)
| Jumat, 30 Januari 2026 | 04:45 WIB

IHSG Anjlok 8,33% dalam 2 Hari, Intip Prediksi Hari Terakhir Januari (30/1)

Dalam dua hari penurunan saja, IHSG jatuh 8,33% setelah MSCI mengumumkan potensi penurunan status pasar saham Indonesia ke frontier market.

INDEKS BERITA

Terpopuler