Kinerja Emiten Menara Bakal Kian Tebal Karena Gaya Hidup Digital

Senin, 07 Maret 2022 | 04:35 WIB
Kinerja Emiten Menara Bakal Kian Tebal Karena Gaya Hidup Digital
[]
Reporter: Hikma Dirgantara | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten sektor menara telekomunikasi masih memiliki outlook cerah sekalipun pandemi Covid-19 berakhir. Sektor ini memang merupakan salah satu yang diuntungkan oleh pandemi, karena banyak kegiatan beralih serba online dan meningkatkan penggunaan data internet. 

Analis Henan Putihrai Sekuritas Steven Gunawan meyakini, berakhirnya pandemi tidak akan menjadi katalis negatif bagi sektor menara. Menurut dia, permintaan terhadap data internet masih akan tinggi. 

Apalagi, tema digitalisasi dan gaya hidup online sudah menjadi kebutuhan. "Pemerintah saat ini menggalakkan digitalisasi melalui roadmap Indonesia digital 2021-2024, meliputi empat aspek, yakni infrastruktur digital, pemerintahan digital, ekonomi digital dan masyarakat digital," kata Steven, Jumat (4/3). 

Baca Juga: Anggarkan Capex Rp 800 Miliar, Ini Strategi Solusi Tunas Pratama (SUPR) di 2022

Dia menilai, rencana pemerintah memperluas cakupan area 4G di daerah tertinggal, terpencil, dan terdepan dengan menambah menara BTS akan menjadi katalis positif. Pemerintah juga akan mengadopsi teknologi 5G melalui teknologi serat optik. 

Steven menilai, teknologi fiber merupakan peluang bisnis potensial baru bagi emiten menara. Harapannya, akselerasi perluasan cakupan 4G dan adopsi 5G akan mempercepat pemanfaatan teknologi. 

Efek kenaikan bunga

Steven juga melihat ada tren merger dan akuisisi yang memperlonggar tingkat kompetisi tarif antaroperator telekomunikasi. Efeknya tarif lebih terjangkau bagi konsumen. "Tapi di satu sisi, aksi merger dan akuisisi berpotensi menyebabkan overlapped sejumlah antena BTS. Ini akan membuat risiko stagnasi tarif sewa ketika perpanjangan kontrak sewa, bahkan ada kemungkinan terjadi penurunan," kata dia.

Kendati begitu, Steven melihat, efek penurunan tarif sewa akan ditutupi dengan ekspansi para penyewa seiring pertumbuhan konsumsi data internet. Kontrak sewa menara berbasiskan jangka panjang pun dapat membuat arus kas operasional dan pendapatan emiten menara relatif stabil.

Baca Juga: Optimistis, Sarana Menara Nusantara (TOWR) Targetkan Pendapatan Naik 20% di Tahun Ini

Analis Jasa Utama Capital Sekuritas Cheryl Tanuwijaya mengingatkan, emiten menara berpotensi terkena sentimen negatif kenaikan suku bunga acuan. Kenaikan suku bunga bisa memangkas laba emiten menara, mengingat porsi utang emiten menara relatif cukup besar.

Analis CGS CIMB Sekuritas Willy Suwanto mengaminii hal tersebut. "Berdasarkan analisis sensitivitas kami, setiap kenaikan suku bunga acuan sebesar 1%, mengindikasikan potensi penurunan laba sebesar 15% untuk PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) dan 9% untuk PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR)," tulis Willy dalam risetnya.

Meski begitu, ia menilai kenaikan suku bunga terhadap kinerja emiten menara akan relatif terbatas. Alasannya, emiten menara cukup rajin mengamankan pendanaan baru serta melakukan refinancing utang. Strategi ini akan menjaga arus kas. 

Willy juga memandang fundamental emiten menara cukup kuat. Kinerja TOWR misalnya ditopang selesainya akuisisi menara milik PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR). Ini akan menjaga bottom line TOWR. Willy menjadikan TOWR sebagai top pick di sektor menara. 

Steven juga menjadikan TOWR sebagai top pick. Ia merekomendasikan beli dengan target harga Rp 1.575 .

Baca Juga: Sarana Menara Nusantara (TOWR) Proyeksikan Pendapatan Naik 20% di Tahun 2022

Sementara Cheryl memilih PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) sebagai top pick. Alasannya, emiten ini memiliki induk usaha yang kuat yakni PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM).

Cheryl yakin, emiten yang ngetop disebut Mitratel ini akan menjadi pemimpin dalam bisnis menara ini. MTEL juga memiliki menara paling banyak. Selain itu rasio utang MTEL terbilang kecil, dengan DER sebesar 0,5 kali.    

 Begini rekomendasi saham masing-masing emiten menara: 

Sarana Menara Nusantara (TOWR)
Pasca mengakuisisi PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR), kini TOWR memiliki total menara mencapai 27.985 unit dengan tenancy ratio 1,89 kali. Akuisisi ini diharapkan bisa memberikan tambahan pendapatan senilai Rp 2,2 triliun dalam setahun. Pada tahun ini, manajemen TOWR menargetkan bisa membukukan pertumbuhan pendapatan hingga 20% dari proyeksi pendapatan di 2021 sebesar Rp 8 triliun. Target tersebut hanya berasal dari bisnis organik TOWR.
Rekomendasi: Buy 
Target harga: Rp 1.900
Willy Suwanto, CGS CIMB Sekuritas

Baca Juga: Prospeknya Menarik, Simak Rekomendasi Analis untuk Saham Telkom Indonesia (TLKM)

Dayamitra Telekomunikasi (MTEL)
MTEL saat ini tercatat memiliki 28.079 menara dengan rerata pertumbuhan tahunan dalam lima tahun terakhir mencapai 26,5%. MTEL juga punya tenancy ratio sebesar 1,50 kali. Anak usaha Telkom Indonesia (TLKM) ini berpotensi menambah 500-750 menara secara organik pada tahun ini. MTEL juga tercatat punya arus kas yang kuat pasca IPO serta didukung rasio DER yang hanya 0 kali, sehingga mendukung untuk ekspansi secara anorganik ke depan. 
Rekomendasi: Buy 
Target harga: Rp 850
Cheryl Tanuwijaya, Jasa Utama Capital Sekuritas

Tower Bersama Infrastructure (TBIG)

Hingga saat ini, TBIG memiliki total 19.938 unit menara, dengan total penyewa mencapai 37.983 tenant. Pada tahun ini, manajemen TBIG menargetkan bisa menambah 3.500 lagi penyewa serta menambah jumlah menara secara organik. Untuk mencapai target tersebut, TBIG telah menganggarkan belanja modal sebesar Rp 2 triliun-Rp 3 triliun, atau naik 50% dari tahun lalu. TBIG baru saja menerbitkan obligasi senilai Rp 2,2 triliun untuk membayar utang anak usahanya. 

Rekomendasi: Buy 
Target harga: Rp 4.500
Gani, Ciptadana Sekuritas

Baca Juga: Mitratel Gaet 2.580 Tenant Baru Usai Akuisisi Menara Telkomsel

 

Bagikan

Berita Terbaru

Menimbang Saham Tambang Logam yang Harganya Terbang
| Senin, 26 Januari 2026 | 14:45 WIB

Menimbang Saham Tambang Logam yang Harganya Terbang

Saham tambang logam di bursa melanjutkan reli. Kenaikannya masih menarik bagi investor. Saham-sahamnya masih menarik dik

Ekspansi Hulu Gas Indonesia Bisa Lebih Semarak Saat Investasi Global Diramal Landai
| Senin, 26 Januari 2026 | 09:35 WIB

Ekspansi Hulu Gas Indonesia Bisa Lebih Semarak Saat Investasi Global Diramal Landai

Lesunya transaksi merger dan akuisisi global tak lepas dari volatilitas harga minyak yang cenderung bearish sepanjang 2025.

Mari Menghitung Kinerja Saham Grup Konglomerasi
| Senin, 26 Januari 2026 | 09:29 WIB

Mari Menghitung Kinerja Saham Grup Konglomerasi

Konglomerat mempunyai pendanaan yang relatif kuat serta bagi yang sudah mengucurkan penambahan modal kerja atau investasi perlu dicermati

Risiko Setor Surplus BI Sebelum Audit
| Senin, 26 Januari 2026 | 08:38 WIB

Risiko Setor Surplus BI Sebelum Audit

Ekonom memproyeksikan surplus BI akan meningkat pada 2025 sebelum kembali menurun pada 2026         

Tak Berkutik, Pajak Bisa Blokir Layanan Publik
| Senin, 26 Januari 2026 | 08:29 WIB

Tak Berkutik, Pajak Bisa Blokir Layanan Publik

Ditjen Pajak bisa memblokir penunggak pajak dengan utang minimal Rp 100 juta                        

Ada Wacana Penerapan Layer Cukai Baru, Wismilak (WIIM) Disebut Paling Diuntungkan
| Senin, 26 Januari 2026 | 08:26 WIB

Ada Wacana Penerapan Layer Cukai Baru, Wismilak (WIIM) Disebut Paling Diuntungkan

Penambahan layer cukai agar pelaku usaha dapat bertransformasi menjadi legal tanpa tekanan biaya yang terlalu berat.

Lonjakan Harga Emas Meniup Angin Segar ke Arah Emiten, Saham Boy Thohir Paling Cuan
| Senin, 26 Januari 2026 | 08:12 WIB

Lonjakan Harga Emas Meniup Angin Segar ke Arah Emiten, Saham Boy Thohir Paling Cuan

Kombinasi faktor geopolitik dan kebijakan moneter membuat tren harga emas global masih cenderung uptrend.

Menghitung Dampak Rencana Pemangkasan Komisi dan Asuransi Terhadap Kinerja GOTO
| Senin, 26 Januari 2026 | 07:50 WIB

Menghitung Dampak Rencana Pemangkasan Komisi dan Asuransi Terhadap Kinerja GOTO

Teradang rencana aturan baru, harga saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) terjerembap 11,76% dalam sepekan.​

Jadi Price Anchor, Harga Pasar Saham SGRO Berpotensi Mendekati Harga Tender Offer
| Senin, 26 Januari 2026 | 07:10 WIB

Jadi Price Anchor, Harga Pasar Saham SGRO Berpotensi Mendekati Harga Tender Offer

Kehadiran Posco turut berpotensi memberikan akses pendanaan yang lebih kompetitif untuk mendukung ekspansi agresif SGRO ke depan.

Pilih ADMR, ADRO, atau AADI? Cek Target Harga & Valuasi Saham Emiten Boy Thohir
| Senin, 26 Januari 2026 | 07:02 WIB

Pilih ADMR, ADRO, atau AADI? Cek Target Harga & Valuasi Saham Emiten Boy Thohir

Risiko berpotensi datang dari volatilitas harga komoditas, potensi keterlambatan proyek, tekanan regulasi, dan isu transisi energi global.

INDEKS BERITA

Terpopuler