Kinerja Indeks Sektoral dan Prospeknya

Senin, 01 November 2021 | 07:40 WIB
Kinerja Indeks Sektoral dan Prospeknya
[]
Reporter: Harian Kontan | Editor: Harris Hadinata

KONTAN.CO.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai mengalami kenaikan cukup signifikan akhir-akhir ini, sehingga menorehkan return 9,12% sejak awal tahun per 28 Oktober 2021. Namun recovery belum dirasakan indeks LQ45, yang hanya naik 0,85% di periode yang sama.

Kinerja sektor industri yang dibagi menjadi 11 sektor oleh Bursa Efek Indonesia (BEI), ternyata juga sangat beragam. Kali ini penulis mencoba mengamati sektor apa yang menjadi penopang kenaikan IHSG dan apakah ada sektor yang berprospek menghasilkan gain paling tidak hingga akhir tahun ini.

Mengingat klasifikasi sektor industri mengalami pembaruan per 25 Januari silam, maka perhitungan kinerja dimulai dari tanggal tersebut. Penyumbang kenaikan IHSG dari 25 Januari hingga 28 Oktober 2021 adalah sektor teknologi, yang melompat 398,6%. Ini jauh meninggalkan ranking di bawahnya, yang ditempati transportasi & logistik yang naik 28,5% dan sektor energi yang naik 27,1%.

Sektor yang masih merugi berturut-turut properti dan real estate yang minus 6,8%, barang konsumen primer yang turun 12,0% serta barang baku yang turun 13,5%. Kinerja ketiga sektor tertinggal ini juga lebih rendah dari IHSG dan LQ45 di periode yang sama, masing-masing tercatat 4,24% dan -4,6%.

Tiga sektor yang masih minus return-nya ini berpotensi menjadi incaran investor yang horizon investasinya jangka panjang, lebih dari 3 tahun, juga tipe contrarian, yaitu berinvestasi secara berlawanan dibanding animo pemodal saat ini.

Jika dilihat tren kinerja per sektor sejak inception di 25 Januari hingga 28 Oktober 2021, hampir semua sektor mengalami peningkatan. Bahkan ada satu sektor yang naik lima bulan berturut-turut, sejak Juni hingga Oktober, yaitu sektor barang konsumen non-primer.

Sedangkan yang naik empat bulan terakhir secara berturut-turut ada empat sektor, meliputi infrastruktur, keuangan, properti dan real estate serta transportasi dan logistik. Ada dua sektor yang naik tiga bulan terakhir, yaitu barang primer dan perindustrian. Adapun sektor kesehatan naik dua bulan terakhir ini.

Terakhir adalah sektor barang baku yang baru naik satu bulan terakhir ini di Oktober. Satu satunya sektor yang minus di Oktober hanyalah sektor teknologi, akibat aksi ambil untung setelah naik gila-gilaan di Juni, sebesar 182.2% secara bulanan.

Dari pengamatan return bulanan, ada sektor yang baru mulai membukukan return bulanan positif di Oktober ini, sebesar 6,34% secara bulanan, setelah mengalami terkoreksi 4,31% secara bulanan di September. Sektor yang relatif tertinggal dan berpotensi melanjutkan kinerja positif di November dan Desember nanti adalah sektor barang baku.

Di saat sektor lain sanggup naik rata-rata tiga hingga empat bulan berturut-turut, sektor barang baku baru naik di Oktober ini, sehingga masih menyisakan potensi ruang kenaikan satu atau dua bulan ke depan. Sektor barang baku mengalami kenaikan seiring perbaikan ekonomi akibat turunnya kasus Covid-19, selain karena valuasi harga sahamnya yang murah.

Ada beberapa saham di sektor barang baku yang menjadi anggota indeks Kompas100 dan memiliki fundamental baik serta likuid. Di antaranya adalah TKIM, MDKA, INKP, ESSA dan SMGR serta INTP. Selain itu juga ada TPIA, ANTM, INCO serta BRPT.

Sektor lain yang cukup menarik adalah sektor barang konsumen primer. Walaupun indeks sektor saham ini sudah naik tiga bulan terakhir, namun kenaikan return tergolong stabil dan masih menyisakan potensi berlanjut. Argumennya, sektor ini sudah menderita, dengan penurunan emoat bulan berturut-turut sebelum tinggal landas di tiga bulan terakhir.

Saham-saham penghuni sektor barang konsumen primer yang ada di indeks Kompas100 dan berfundamental bagus serta likuid antara lain ada UNVR, LSIP, AALI, ICBP dan INDF. Selain itu juga ada HOKI, MYOR, DSNG dan CPIN serta JPFA.

Menarik juga mencermati pergerakan indeks sektor kesehatan yang naik moderat dua bulan terakhir. Jika ditarik garis tren tampak masih menyisakan pertumbuhan di November-Desember. Fundamental juga masih mendukung. Meski pasien Covid-19 turun, tapi ada tren kaum menengah mulai berani ke rumahsakit untuk memeriksakan kesehatan, seiring pertumbuhan kesadaran pencegahan penyakit dan permintaan yang tertunda.

Saham-saham sektor kesehatan yang tercakup di indeks Kompas100 antara lain KLBF, Sido serta MIKA.

Dari pengamatan kinerja sektoral, diharapkan investor lebih mudah menangkap peluang atas rotasi sektor industri seiring pemulihan ekonomi. Investor diharapkan bisa mengoptimalkan keuntungan, sambil berharap agar tahun ini terjadi window dressing seperti tahun-tahun sebelumnya.

Investor bisa mengubah investment universe saham dari contoh penulis yang menggunakan indeks Kompas100 jadi indeks lain, sesuai tujuan investasi dan profil risiko masing-masing. Yang perlu digarisbawahi adalah ada pendekatan dalam memilih saham, yaitu bisa dilakukan dengan melihat tren sektornya lebih dahulu.

Bagikan

Berita Terbaru

Dari Lahan Parkir Berkembang Menjadi Charging Station
| Minggu, 05 April 2026 | 05:30 WIB

Dari Lahan Parkir Berkembang Menjadi Charging Station

Parkir tak lagi sekadar menepikan kendaraan, ia bertransformasi menjadi simpul mobilitas modern dengan beragam layanan.

Ruwetnya Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih
| Minggu, 05 April 2026 | 05:05 WIB

Ruwetnya Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih

Pelimpahan operasional dari Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih kepada Agrinas Pangan, sesuai dengan arahan Presiden Prabowo Subianto.

Strategi Petronella Soan: Perhiasan Bukan Sekadar Investasi, Tapi Penanda Hidup
| Sabtu, 04 April 2026 | 11:38 WIB

Strategi Petronella Soan: Perhiasan Bukan Sekadar Investasi, Tapi Penanda Hidup

Perhiasan itu beauty investment, bisa bisa dijual kembali dan bisa mendapat keuntungan. Perhiasan itu bisa jadi legacy, bisa diturunkan ke anak.

Pesona Labubu Mulai Luntur?
| Sabtu, 04 April 2026 | 07:41 WIB

Pesona Labubu Mulai Luntur?

Dalam lima hari perdagangan terakhir hingga Selasa, saham Pop Mart International Group Ltd. anjlok lebih dari 30%.               

Laba Medco Energi (MEDC) Tergerus 72,48% Pada 2025
| Sabtu, 04 April 2026 | 07:37 WIB

Laba Medco Energi (MEDC) Tergerus 72,48% Pada 2025

 Anjloknya laba bersih PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dipicu kinerja pendapatan MEDC yang melambat 0,16% menjadi US$ 2,39 miliar.​

Dian Swastatika Sentosa DSSA Siap Stock Split Saham di Rasio 1:25
| Sabtu, 04 April 2026 | 07:31 WIB

Dian Swastatika Sentosa DSSA Siap Stock Split Saham di Rasio 1:25

Emiten Grup Sinar Mas ini akan melakukan pemecahan saham atau stock split dari nilai nominal Rp 25 menjadi Rp 1 per saham.

Pendapatan Melesat Satu Digit, Laba ACES Merosot Dua Digit
| Sabtu, 04 April 2026 | 07:26 WIB

Pendapatan Melesat Satu Digit, Laba ACES Merosot Dua Digit

Laba bersih  PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) di 2025 hanya Rp 668,72 miliar, atau turun 25,03% yoy dari Rp 892,04 miliar pada 2024.

Terpapar Efek Pidato Trump, IHSG Melemah 1,59% Dalam Sepekan
| Sabtu, 04 April 2026 | 07:21 WIB

Terpapar Efek Pidato Trump, IHSG Melemah 1,59% Dalam Sepekan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah setelah harga minyak mentah berbalik menguat akibat pidato Trump terkait perang Iran.

Strategi Mendorong Transparansi Data di BEI
| Sabtu, 04 April 2026 | 07:11 WIB

Strategi Mendorong Transparansi Data di BEI

Bursa Efek Indonesia (BEI) akan mengumumkan saham emiten dengan kepemilikan yang terkonsentrasi tinggi.

Gejolak Global Picu Tekanan, Ini Strategi Investasi di Tengah Ketidakpastian
| Sabtu, 04 April 2026 | 07:00 WIB

Gejolak Global Picu Tekanan, Ini Strategi Investasi di Tengah Ketidakpastian

Proyeksi harga emas spot bisa melesat hingga 30% di 2026. Simak pula target emas Antam yang menjanjikan cuan besar bagi investor.

INDEKS BERITA