Kinerja Kedaung Indah Can (KICI) Terdampak Pelemahan Daya Beli Domestik

Selasa, 30 Juli 2019 | 07:21 WIB
Kinerja Kedaung Indah Can (KICI) Terdampak Pelemahan Daya Beli Domestik
[]
Reporter: Agung Hidayat | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Produsen enamel dan kaleng PT Kedaung Indah Can Tbk tak mampu menghindari pelemahan daya beli di pasar domestik. Hasilnya, semester pertama tahun ini, Kedaung Indah mengalami rugi bersih hingga Rp 1,38 miliar atau meningkat 38% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Oleh karena itu, emiten berkode saham KICI di Bursa Efek Indonesia (BEI) ini berupaya terus menggenjot bisnisnya dengan meningkatkan penjualan ekspor untuk memperoleh margin keuntungan yang lebih baik. Kabarnya, penjualan ekspor yang dibidik KICI adalah pasar Amerika Serikat (AS).

Saat ini, penjualan ekspor KICI tercatat masih sekitar 11% dari total penjualan bersih di semester I-2019 atau senilai Rp 5,39 miliar. Selain meningkatkan pasar ekspor, Kedaung Indah akan secara selektif menaikkan harga pada produk lokal.

"Saat ini kami mempertahankan harga jual agar mencapai pertumbuhan, meski ditengah pelemahan daya beli pasar domestik," ungkap Ing Hidayat, Sekretaris Perusahaan PT Kedaung Indah Can Tbk kepada KONTAN, Senin (30/7).

Mengacu laporan keuangan hingga semester I-2019, penjualan bersih KICI tercatat sebanyak Rp 48,31 miliar atau tumbuh hingga 24% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp 38,81 miliar. Menurut Ing, pencapaian tersebut tidak terlepas dari pertumbuhan penjualan yang didominasi oleh pasar lokal.

Genjot Efisiensi

Meski penjualan meningkat, beban pokok penjualan KICI ternyata ikut terkerek lebih tinggi yakni 33% secara year on year (yoy) menjadi Rp 40,47 miliar selama paruh pertama tahun ini.

Hasilnya, hal tersebut menggerus laba kotor KICI menjadi Rp 7,83 miliar pada enam bulan pertama tahun ini. Jumlah itu menurun 7,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp 8,48 miliar.

Sementara pada pos beban umum dan administrasi masih tergolong lebar yakni Rp 8,6 miliar hingga akhir Juni tahun ini. Alhasil, bottom line Kedaung Indah sampai paruh pertama tahun ini harus negatif di angka Rp 1,38 miliar. Angka itu tercatat meningkat 38% dibandingkan rugi bersih selama periode yang sama tahun lalu senilai Rp 1 miliar.

Maka dari itu, menurut Ing, memasuki semester kedua tahun ini, manajemen KICI bakal mengencangkan ikat pinggang alias efisiensi. "Upaya efisiensi tenaga kerja menjadi titik berat dalam menekan biaya di semester dua, disamping efisiensi bahan baku yang senantiasa terus kami lakukan," kata dia.

Sebelumnya, Direktur KICI, Hadi Muiyono menyebutkan, salah satu strategi KICI menghadapi pasar global maupun domestik yang berat akibat perang dagang dan kondisi politik, pihaknya melakukan efisiensi bahan baku. "Kami mencari bahan baku yang lebih ekonomis," ungkap dia. Selama ini bahan baku produk enamel menggunakan coated steel (gulungan baja), sementara produk kaleng menggunakan tin plat.

KICI mencari bahan baku yang lebih ekonomis dari negara tertentu, seperti China. Menurut Hadi, harga bahan baku dari negara tersebut lebih kompetitif daripada harga dari produsen lokal. Akan tetapi, KICI tetap mempertimbangkan biaya masuk dari negara tersebut. Selain efisiensi bahan baku, KICI melakukan efisiensi tenaga kerja dan energi. Ini dilakukan untuk meraih target penjualan yang tumbuh hingga 15%.

Bagikan

Berita Terbaru

Pasokan DOC Dipangkas, Harga Ayam Broiler Diprediksi Kembali Pulih
| Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:42 WIB

Pasokan DOC Dipangkas, Harga Ayam Broiler Diprediksi Kembali Pulih

CGS International Sekuritas Indonesia mengestimasi break-even point harga ayam broiler bagi peternak kini berada di angka Rp 23.500 per kg.

Yield SBN Ditekan MSCI Hingga Penguatan Dolar, Simak Panduan Investor Obligasi
| Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:07 WIB

Yield SBN Ditekan MSCI Hingga Penguatan Dolar, Simak Panduan Investor Obligasi

Analis sarankan investor ritel mencermati obligasi tenor pendek, yakni tenor 3 tahun ke bawah, untuk menghindari risiko penurunan harga yang besar

Menakar Pergerakan Saham MMIX Di tengah Rencana Ekspansi Produksi 1,8 Miliar Popok
| Kamis, 29 Oktober 2026 | 13:56 WIB

Menakar Pergerakan Saham MMIX Di tengah Rencana Ekspansi Produksi 1,8 Miliar Popok

Manajemen menargetkan pendapatan MMIX pada 2027 mencapai Rp 473 miliar, naik sekitar 21,9% dibandingkan target 2026 sebesar Rp 388 miliar.

Menanti Investasi Jumbo Mengalir ke Hulu Migas
| Kamis, 29 Oktober 2026 | 09:45 WIB

Menanti Investasi Jumbo Mengalir ke Hulu Migas

Kementerian ESDM sudah melakukan proses tender atas 60% dari 118 blok migas di Indonesia yang disiapkan.

Rogoh Kocek Rp 1,47 Triliun, UNTR Sebar Dividen Interim
| Kamis, 29 Oktober 2026 | 09:24 WIB

Rogoh Kocek Rp 1,47 Triliun, UNTR Sebar Dividen Interim

PT United Tractors Tbk (UNTR) akan membagikan dividen tunai interim tahun buku 2026, dengan alokasi dana maksimal Rp 1,47 triliun.

Bisnis Hulu Migas Meningkat, Laba Bersih ELSA Melesat 29,4% di Sembilan Bulan 2026
| Kamis, 29 Oktober 2026 | 09:20 WIB

Bisnis Hulu Migas Meningkat, Laba Bersih ELSA Melesat 29,4% di Sembilan Bulan 2026

Pertumbuhan pendapatan mendorong laba bersih PT Elnusa Tbk (ELSA)melonjak 29,4% yoy jadi Rp 681,55 miliar per akhir September 2026.

Penjualan Emas Mengkilat, Laba ANTM Melambung 46% Pada Januari-September 2026
| Kamis, 29 Oktober 2026 | 09:12 WIB

Penjualan Emas Mengkilat, Laba ANTM Melambung 46% Pada Januari-September 2026

Segmen emas jadi kontributor terbesar penjualan  PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), dengan porsi 77% atau sekitar Rp 68,41 triliun.

Menadah Berkah di Saham Valuasi Murah
| Kamis, 29 Oktober 2026 | 09:03 WIB

Menadah Berkah di Saham Valuasi Murah

Saham dengan valuasi menarik, arus kas kuat, dan dividend yield kompetitif, memiliki daya tahan di tengah tekanan jual asing.

The Fed Tahan Suku Bunga dan Yield SBN Melambung, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Kamis, 29 Oktober 2026 | 08:57 WIB

The Fed Tahan Suku Bunga dan Yield SBN Melambung, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Pasar keuangan domestik masih dibayangi sejumlah tekanan. Seperti pelemahan rupiah, arus keluar modal asing dan kenaikan yield SBN.​

Rupiah di Ujung Tanduk, Ini Daftar PR Pemangku Kepentingan Agar Kembali Menguat
| Kamis, 29 Oktober 2026 | 08:54 WIB

Rupiah di Ujung Tanduk, Ini Daftar PR Pemangku Kepentingan Agar Kembali Menguat

Dalam skenario negatif, nilai tukar rupiah berisiko melemah menuju Rp 18.500–Rp 19.000 per dolar AS.

INDEKS BERITA

Terpopuler