Kisah IPO Semen Indonesia (SMGR), BUMN Pertama di Bursa Efek

Sabtu, 17 Agustus 2019 | 09:54 WIB
Kisah IPO Semen Indonesia (SMGR), BUMN Pertama di Bursa Efek
[ILUSTRASI. Pabrik semen dan pelabuhan pengiriman PT Semen Indonesia Tbk ]
Reporter: Yuwono Triatmodjo | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tepat pada tanggal 8 Juli 2019, PT Semen Indonesia Tbk (SMGR, anggota indeks Kompas100) genap berusia 28 tahun sebagai emiten di pasar modal Indonesia. SMGR yang kala itu masih bernama PT Semen Gresik, menjadi perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang pertama, melantai di bursa efek Indonesia lewat penawaran umum saham perdana atawa initial public offering (IPO).

Pasca mendapat restu Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) lewat surat bernomor S-622/PM/1991 tanggal 17 Mei 1991, SMGR lantas menerbitkan prospektus IPO pada 20 Mei 1991. Dari dokumen prospektus IPO SMGR yang dimiliki KONTAN, disebutkan bahwa SMGR menawarkan sebanyak 40 juta saham pada harga Rp 7.000 per saham. Dari aksi tersebut, SMGR mengincar dana segar Rp 280 miliar.

Dana hasil IPO SMGR, sebagian akan digunakan untuk membangun pabrik semen baru di wilayah Tuban Jawa Timur berkapasitas 2,3 juta ton per tahun. Selain itu, dana hasil IPO juga akan dipakai manajemen SMGR untuk optimalisasi pabrik II di Gresik untuk meningkatkan kapasitas produksi dari 1 juta ton menjadi 1,3 juta ton per tahun. Dana IPO sebagian juga akan dipakai guna meningkatkan efisiensi pemakaian tenaga listrik dan bahan bakar.

Lewat pembangunan pabrik baru dan optimalisasi tersebut, kapasitas SMGR akan meningkat dari 1,5 juta ton menjadi 4,1 juta ton.

Baca Juga: Ini Jurus-Jurus Semen Indonesia (SMGR) Menggenjot Kinerja

Dari aksi tersebut, porsi kepemilikan pemerintah di saham SMGR susut menjadi 73,1% dari semula 100%. Sementara masyarakat mengapit sisanya sebesar 26,9% saham SMGR.

Bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi SMGR adalah PT Indonesian Investments International (Indovest).

Sedangkan, penjamin utama emisi terdiri dari Indovest, PT Buanamas Investindo, PT First Indonesian Finance and Investment Corporation (Ficorinvest), PT Nikko Securities Indonesia, PT Merchant Investment Corporation (Merincorp), PT Prima Rindo Securities, PT Nomura Indonesia, PT Miultinational Finance Corporation (Multicor), PT Private Development Finance Company of Indonesia (PDFCI), PT Danareksa, PT Pentasena Arthasentosa, PT Srikandi Securities Invesindo, PT Sun Hung Kai Securities Indonesia.

 

Sedangkan pihak penjamin peserta emisi terdiri dari PT CARR Dharmala Securities Indonesia, PT Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo), PT Bumi Perdana Securindo, PT Deemte Arta Dharma, PT SEAB Securindo, PT Ravindo Securitama, PT Danatama Makmur, PT Paramitra Yamasekuritas, PT Niki Asia Securindo, PT Sakacarry Securities, PT Danamon Securities, PT Asian Development Securities, PT Morgan Grenfell Asia Indonesia, PT CEF Andromeda Securities, PT Mashill Jaya Securities, PT Makindo dan PT Putra Saridaya Persada.

Riwayat Semen Indonesia

Sejarah berdirinya SMGR bermula dengan ditemukannya deposit batu kapur dalam jumlah yang cukup besar, berdasarkan hasil survei di daerah Gresik sekitar tahun 1935 dan 1938. Namun rencana pemerintah kolonial Belanda membuat pabrik semen di sana saat itu terkendala pecahnya Perang Dunia II.

Barulah pada tahun 1950, atas dorongan Wakil Presiden Moch Hatta, gagasan pendirian pabrik semen mendapat perhatian pemerintah. Hingga akhirnya, realisasi pembangunan pabrik Semen Gresik oleh pemerintah diserahkan kepada Bank Industri Negara (BIN).

Kemudian melalui akta notaris Raden Meester Soewandi No.41 tanggal 25 Maret 1953 atas permintaan BIN, SMGR didirikan dalam bentuk NV Pabrik Semen Gresik. Pembangunan fisik SMGR dimulai pada April 1955. Tahap pertama, kapasitas terpasang SMGR sebesar 250.000 ton per tahun.

Setelah operasi percobaan (trial operation) berhasil dilaksanakan, presiden Soekarno lantas meresmikan pabrik SMGR itu pada 7 Agustus 1957.

Pada tahun 1960, pemerintah memperluas pabrik SMGR. Perluasan pabrik SMGR tahap pertama ini, meningkatkan kapasitas produksi dari 250.000 ton menjadi 375.000 ton per tahun. Perluasan pabrik selesai tahun 1961. Entitas ini kemudian berubah menjadi perseroan terbatas (PT), dengan nama PT Semen Gresik, lewat akta No.81 tanggal 4 Oktober 1969.

Sepuluh tahun kemudian atau pada 1970, pemerintah melaksanakan perluasan pabrik SMGR tahap kedua. Kapasitas produksi SMGR didorong menjadi 500.000 ton per tahun. Proyek ini selesai pada tahun 1972, dan diresmikan presiden Soeharto pada 10 Juli 1972.

Tidak lama berselang, perluasan pabrik SMGR tahap ketiga dimulai pada awal 1976 dan selesai di tahun 1978.

 

Saat prospektus IPO dibuat, duduk sebagai Komisaris Utama SMGR kala itu adalah Kotan Pasaman. Pria lulusan Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 1959 ini merupakan anggota delegasi Republik Indonesia (RI) pada program perencanaan pembangunan pabrik Asean Aceh Fertilizer dan Asean Bintulu Fertilizer. 

Sementara jajaran komisaris lainnya terdiri dari Imam Soekardjo, M. Nirwan Nazarudin, Soekarwandi Kartowardojo, dan Soetatmo.

Adapun Anang Fuad Rivai saat itu menduduki jabatan direktur utama SMGR. Pria kelahiran tahun 1937 ini, merupakan lulusan sarjana teknik mesin ITB tahun 1962. Menjabat Direktur Utama SMGR sejak tahun 1988.

Sedangkan jajaran direksi lainnya ditempati oleh Abdullah hasan, Urip Timurjono, Soekarno, serta Amrul Ikhdan Nizar.

Pada akhir tahun 1990 atau beberapa bulan sebelum IPO, kinerja SMGR tercatat tumbuh pesat. Laba bersih perusahaan ini melonjak dari akhir tahun 1989 yang sebesar Rp 12,19 miliar, menjadi Rp 165,80 miliar (lihat tabel).

Kinerja Semen Indonesia Tahun 1990 (Rp Miliar)
Akun 31 Des 1988 31 Des 1989 31 Des 1990
Kewajiban 13,45 15,48 81,39
Modal 135,76 145,92 300,91
Aset 149,21 161,40 382,30
Penjualan Bersih 85,62 104,47 127,61
Laba Bersih 1,51 12,19 165,80

 

Bagikan

Berita Terbaru

Efek Premi Risiko Menghantui Rupiah pada Selasa (17/10)
| Senin, 26 Oktober 2026 | 20:52 WIB

Efek Premi Risiko Menghantui Rupiah pada Selasa (17/10)

Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,30% secara harian ke level Rp 18.135 per dolar AS

Mobil Listrik Ambil Alih Jawara Penjualan Mobil Nasional
| Senin, 26 Oktober 2026 | 17:30 WIB

Mobil Listrik Ambil Alih Jawara Penjualan Mobil Nasional

Penjualan mobil listrik di pasar dalam negeri menunjukkan sudah menunjukkan tren yang positif sepanjang tahun ini.

Belanja Negara Rp 1.300 Triliun di Kuartal IV, Kualitas Belanja Jadi Perhatian
| Senin, 26 Oktober 2026 | 15:30 WIB

Belanja Negara Rp 1.300 Triliun di Kuartal IV, Kualitas Belanja Jadi Perhatian

Besarnya belanja pemerintah pada kuartal IV-2026 berpotensi mendorong defisit anggaran mendekati batas 3% dari PDB.

Saham GOTO Jadi Buruan Asing di Tengah Sentimen Negatif MSCI, Net Buy Rp 280,9 Miliar
| Senin, 26 Oktober 2026 | 14:43 WIB

Saham GOTO Jadi Buruan Asing di Tengah Sentimen Negatif MSCI, Net Buy Rp 280,9 Miliar

Akumulasi investor asing di saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) bisa dipandang sebagai sinyal bottom fishing.

Langkah MSCI Terkait Status Pasar Saham RI Berimbas ke Minat Investor terhadap SBSN
| Senin, 26 Oktober 2026 | 14:09 WIB

Langkah MSCI Terkait Status Pasar Saham RI Berimbas ke Minat Investor terhadap SBSN

Jika situasi global semakin dinamis, rupiah kian tertekan, dan kredibilitas fiskal semakin dipertanyakan. minat terhadap SBSN bisa semakin berat.

Mengingatkan Kembali, Kisah Bursa Efek Ponari
| Senin, 26 Oktober 2026 | 08:56 WIB

Mengingatkan Kembali, Kisah Bursa Efek Ponari

Kasus ini mengingatkan  Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan otoritas bursa efek untuk lebih serius menjalankan fungsinya sebagai "polisi" bursa.

Laba Bersih UVCR Melejit Tiga Digit di Sembilan Bulan 2026
| Senin, 26 Oktober 2026 | 08:52 WIB

Laba Bersih UVCR Melejit Tiga Digit di Sembilan Bulan 2026

Pada sembilan bulan 2026, emiten yang bergerak di bidang voucher digital itu mencatat laba bersih Rp 10,63 miliar, naik 395,8% secara tahunan.​

Rogoh Kocek Rp 1 Triliun, AMMN Eksekusi Buyback
| Senin, 26 Oktober 2026 | 08:47 WIB

Rogoh Kocek Rp 1 Triliun, AMMN Eksekusi Buyback

Aksi korporasi tersebut akan berlangsung selama tiga bulan dan dimulai sejak Kamis, 22 Oktober 2026 hingga 22 Januari 2027.

Kinerja Emiten Membaik, IHSG bisa Terus Naik
| Senin, 26 Oktober 2026 | 08:39 WIB

Kinerja Emiten Membaik, IHSG bisa Terus Naik

Menakar arah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tengah musim rilis kinerja emiten pada kuartal III-2026

IHSG Reborn, Cerminan Saham Milik Publik
| Senin, 26 Oktober 2026 | 08:14 WIB

IHSG Reborn, Cerminan Saham Milik Publik

Ke depan IHSG lebih jujur mencerminkan saham yang benar-benar dimiliki publik. Beban lama tidak hilang, tapi langkah ke depan lebih ringan.   

INDEKS BERITA

Terpopuler