Kontraksi Manufaktur Zona Euro Bawa Harga Emas Hari Ini Balik Ke US$ 1.460

Senin, 02 Desember 2019 | 23:02 WIB
Kontraksi Manufaktur Zona Euro Bawa Harga Emas Hari Ini Balik Ke US$ 1.460
[ILUSTRASI. Seorang pejalan kaki melewati sebuah jendela yang memajang gambar emas batangan di sebuah diler emas di Piccadilly, London, Inggris, 11 December 2017.]
Reporter: SS. Kurniawan | Editor: S.S. Kurniawan

KONTAN.CO.ID - Harga emas berbalik arah meski masih di jalur penurunan. Karena investor beralih ke aset berisiko, seiring muncul tanda-tanda pertumbuhan ekonomi menyusul laporan peningkatan kegiatan pabrik di China, harga emas sempat merosot dalam. 

Mengacu Bloomberg pukul 22.50 WIB, harga emas hari ini di pasar spot hanya turun 0,06% menjadi US$ 1.463,03 per ons troi, setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi sejak 22 November. Sementara emas berjangka AS turun 0,25% ke posisi US$ 1.469,00.

Ekspansi yang tak terduga dalam aktivitas pabrik di China, ekonomi terbesar kedua di dunia dan pengguna emas terbesar, selama November mendorong investor ke pasar ekuitas. Ini mengikuti data resmi Pemerintah China pada Sabtu (30/11) yang juga menunjukkan ekspansi.

Baca Juga: Harga Emas Hari Ini Turun Kian Dalam, Makin Menjauh dari Level Tertinggi

Sebaliknya, aktivitas manufaktur zona euro mengalami kontraksi selama 10 bulan berturut-turut. Purchasing Managers' Index (PMI) IHS Markit pada November yang rilis Senin (2/12), menunjukkan penurunan. 

"Setidaknya dalam jangka pendek, data semacam ini akan menjaga harga emas terkendali," kata ​​Carsten Menke, Analis Julius Baer, kepada Reuters. "Harga emas bisa bergerak naik dalam jangka menengah panjang karena kekhawatiran perlambatan masih ada," ujarnya.

Permintaan investor terhadap emas sempat tertekan oleh penguatan dolar AS, yang membuat emas dalam denominasi mata uang negeri uak Sam lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lainnya. 

Baca Juga: Gara-gara Trump, harga emas turun 0,30% di level US$ US$ 1.459,59 per ons troi

Tapi, ketidakpastian seputar resolusi perselisihan dagang berusia 17 bulan antara AS dan Cina telah mendukung harga emas. Perjanjian pendahuluan kini mandek karena undang-undang AS yang mendukung para pengunjuk rasa di Hong Kong, dan Beijing menuntut Washington untuk membatalkan tarif sebagai bagian dari kesepakatan awal. 

"Tidak ada yang benar-benar berubah (di sisi perdagangan) dari minggu lalu, pasar tetap dalam kegelapan tentang bagaimana progres kemajuan (kesepakatan perdagangan). Selera investor untuk emas hanya berkurang sedikit karena kurangnya arah," kata Analis ANZ Daniel Hynes kepada Reuters. 

Harga emas sudah naik lebih dari 13% tahun ini terutama karena perselisihan perdagangan yang mendorong permintaan untuk aset yang aman. 

Baca Juga: Emas Antam turun Rp 1.000 hari pertama Desember

"Fundamental masih cukup mendukung, jeda ini tidak akan bertahan terlalu lama. Mungkin sampai akhir tahun kita akan melihat harga emas kembali ke tren kenaikan yang kita lihat awal tahun ini," kata Hynes yang menambahkan, sampai saat itu harga emas akan diperdagangkan antara US$ 1.450-US$ 1.500. 

Harga emas spot bisa menguji level support di US$ 1.455 per ons troi. Tapi, menurut Analis Teknikal Reuters Wang Tao, jika menembus ke bawah level itu, bisa menyebabkan harga emas jatuh ke level US$ 1.440.

Bagikan

Berita Terbaru

Buruh Tuntut Kenaikan Upah 7,5%-9,5%
| Rabu, 14 Oktober 2026 | 08:10 WIB

Buruh Tuntut Kenaikan Upah 7,5%-9,5%

Upah minimum provinsi (UMP) 2027 dijadwalkan ditetapkan pada 1 November 2026, sedangkan UMK dan upah minimum sektoral ditetapkan 10 November 2026.

Rampungkan Rights Issue, ATIC Siap Lunasi Kewajiban
| Rabu, 14 Oktober 2026 | 08:07 WIB

Rampungkan Rights Issue, ATIC Siap Lunasi Kewajiban

Dana hasil rights issue jadi salah satu sumber pendanaan bagi ATIC untuk menyelesaikan kewajiban obligasi konversi perusahaan.​

Kinerja Mulai Membaik, Tapi Saham TOBA Masih Menukik
| Rabu, 14 Oktober 2026 | 08:07 WIB

Kinerja Mulai Membaik, Tapi Saham TOBA Masih Menukik

Pada Selasa (13/10), saham TOBA kembali turun 0,91% ke harga Rp 434 per saham. Dalam sebulan terakhir, saham TOBA sudah melorot 20,37%.​

WSKT Masih Rugi Rp 2,87 Triliun pada Kuartal III-2026
| Rabu, 14 Oktober 2026 | 08:04 WIB

WSKT Masih Rugi Rp 2,87 Triliun pada Kuartal III-2026

Beban pokok pendapatan PT Waskita Karya Tbk (WSKT) naik menjadi Rp 7,16 triliun per September 2026, dari Rp 4,30 triliun pada September 2025.

Suku Bunga Tinggi Membebani Emiten Sektor Teknologi
| Rabu, 14 Oktober 2026 | 07:59 WIB

Suku Bunga Tinggi Membebani Emiten Sektor Teknologi

Suku bunga tinggi meningkatkan biaya pendanaan sekaligus menurunkan proyeksi arus kas emiten. Hal ini ikut menekan valuasi saham emiten teknologi.

Emiten Emas Melirik Pasar Domestik
| Rabu, 14 Oktober 2026 | 07:53 WIB

Emiten Emas Melirik Pasar Domestik

Penerapan bea keluar menjadi penyebab eksportir emas mengalihkan penjualan mereka ke pasar domestik.

Perluas Jaringan Distribusi, Potensi Permintaan Emas HRTA Diprediksi Meningkat
| Rabu, 14 Oktober 2026 | 07:40 WIB

Perluas Jaringan Distribusi, Potensi Permintaan Emas HRTA Diprediksi Meningkat

PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) diproyeksikan membukukan pendapatan Rp 65,99 triliun dan laba bersih Rp 1,39 triliun pada 2026.

Pembiayaan Melambat, Ekspansi Bank Syariah Masih Menggeliat
| Rabu, 14 Oktober 2026 | 07:02 WIB

Pembiayaan Melambat, Ekspansi Bank Syariah Masih Menggeliat

OJK mencatat, pembiayaan bank syariah Rp 748,7 triliun per Agustus 2026, tumbuh 11,61% secara tahunan atau year on year (YoY).

Pasar Saham Ambruk, Investor Asing Masuk
| Rabu, 14 Oktober 2026 | 06:44 WIB

Pasar Saham Ambruk, Investor Asing Masuk

Tetap hati-hati, net buy investor asing selama tiga hari terakhir masih perlu pembuktian lebih lanjut

Dana Kelolaan Manajer Investasi Susut Rp 40 Triliun
| Rabu, 14 Oktober 2026 | 06:30 WIB

Dana Kelolaan Manajer Investasi Susut Rp 40 Triliun

Penurunan dana kelolaan reksadna lebih banyak dipengaruhi oleh kombinasi redemption dan penurunan nilai aset

INDEKS BERITA

Terpopuler