Pemimpin Itu Episentrum
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di ranah apa saja, seorang pemimpin ibarat sebuah episentrum. Apapun yang memancar darinya, baik tindakan, rumusan kebijakan, maupun tutur kata, akan berdampak langsung pada lingkungan di sekitarnya. Ketika ditarik ke dalam ranah bernegara, getarannya tak bisa dianggap main-main, karena ia adalah penentu nasib dan arah hidup ratusan juta nyawa.
Mengingat besarnya pertaruhan tersebut, kebijaksanaan adalah syarat mutlak, bukan sekadar pelengkap. Setiap kebijakan yang lahir haruslah buah dari perencanaan yang matang, berbasis data faktual yang terukur, dan melalui kalkulasi risiko yang komprehensif.
Lebih jauh lagi, setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah kebijakan dan panduan bagi setiap jajarannya. Ia mesti menyadari posisinya tak setara pengamat kelas warung kopi yang bisa seenak perut melempar opini secara emosional dan tanpa menanggung konsekuensi yang luas.
Pemimpin juga tak selayaknya bersikap reaktif, tapi ia juga haram melakukan simplifikasi masalah. Menyederhanakan atau menganggap enteng suatu masalah tidak hanya naif tetapi juga sangat berbahaya. Sebab, hal itu menunjukkan ketidakpedulian, arogansi, dan alienasi yang fatal antara pucuk pimpinan dengan realitas yang dihadapi orang-orang di akar rumput.
Di saat bersamaan, seorang pemimpin tentu wajib memiliki ambisi yang konstruktif bukan ambisi buta yang dibangun di atas fondasi egosentris. Ia tetap harus berkaca pada keadaan, sehingga saat kondisi tak mendukung, mestinya berani melakukan penyesuaian. Ini tidak ada urusannya dengan menjilat ludah sendiri tapi menandakan sosok pemimpin yang rasional, adaptif, dan tahu diri.
Tidak kalah krusialnya, seorang pemimpin pantang bersikap anti-kritik. Suara dan sikap yang bertentangan jangan dipandang sebagai pembangkangan atau ketidaksukaan subjektif tanpa dasar. Suara-suara yang dianggap sumbang itu sesungguhnya adalah pengingat paling jujur yang berlandaskan kepedulian dan rasa sayang. Di sisi lain, suara orang-orang di lingkaran dalam seringkali meninabobokan namun sarat kepentingan mengamankan muka dan jabatan.
Pada akhirnya, sejarah akan mencatat, ketika sang nakhoda justru sibuk melubangi lambung kapalnya sendiri lewat arogansi dan keengganan untuk melihat realitas, maka seluruh penumpang harus bersiap tenggelam diterkam badai yang ia ciptakan sendiri.
