Pengambil Kebijakan di Fed Mulai Membahas Kapan Bunga Harus Dinaikkan

Minggu, 26 September 2021 | 15:14 WIB
Pengambil Kebijakan di Fed Mulai Membahas Kapan Bunga Harus Dinaikkan
[]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Federal Reserve memasuki babak perdebatan baru. Pertanyaan tentang kapan harus menaikkan suku bunga dan apa yang harus dilakukan dengan neracanya yang bernilai masif kini menjadi bahan perdebatan di antara para pengambil kebijakan moneter di Amerika Serikat (AS).

Dua orang anggota pengambil kebijakan The Fed, Jumat (24/9), mulai membuka perdebatan tersebut. Presiden Federal Reserve Bank Cleveland, Loretta Mester, dan Presiden Fed Kansas City, Esther George, mengatakan, ekonomi AS telah mencetak “kemajuan yang substansial” menuju target penyerapan tenaga kerja maksimum dan sasaran inflasi senilai 2%.

Kedua target itu merupakan kriteria yang ditetapkan The Fed untuk mulai mengurangi pembelian aset bulanan senilai US$ 120 miliar, yang bertujuan untuk menekan suku bunga jangka panjang.

Baca Juga: Gubernur BI Perry Warjiyo jadi ketua ACC-BIS 2021-2023

Pernyataan itu muncul beberapa hari setelah Ketua Fed Jerome Powell mengatakan ekonomi AS masih kurang satu laporan pekerjaan bulanan yang layak, yang memungkinkan The Fed untuk mulai mengurangi pembelian aset bulanannya sebelum pertemuan Fed berikut, pada 2-3 November.

“Saya mendukung untuk mengurangi pembelian aset pada bulan November, dan menyelesaikannya selama paruh pertama tahun depan," kata Mester dalam sebuah acara yang diselenggarakan oleh Ohio Bankers League.

“Semakin berkurang alasan untuk terus menambah kepemilikan aset kami setiap bulan,” kata George kepada American Enterprise Institute.

Baca Juga: Sentimen risk on muncul, yield obligasi Indonesia masih berpeluang naik

 

Kedua penampilan itu terjadi secara online, menggarisbawahi pandemi virus corona masih menjadi momok. Pandemi itu pula yang menjerumuskan ekonomi ke dalam resesi tertajam dan terpendek sepanjang tahun lalu. Pandemi juga menjadi penyebab ekonomi AS kekurangan tenaga kerja dan bahan baku yang dibutuhkan saat ekonomi kembali pulih.

 

Situasi semacam itu yang menyebabkan inflasi melaju di atas target yang ditempatkan Fed, yaitu 2%. Para pembuat kebijakan Fed, seperti Mester dan George, mencemaskan inflasi yang tinggi itu bisa bertahan lama.

Komentar dari dua pembuat kebijakan The Fed yang berada di kubu hawkish itu, akan menyulut perdebatan pada pertemuan kebijakan Fed minggu ini. Sejumlah pengambil kebijakan Fed akan membahas masalah ini minggu depan.

Termasuk Presiden Fed Chicago Charles Evans dan Gubernur Fed Lael Brainard, yang selama ini memperlihatkan sikap lebih dovish terhadap kebijakan, serta Presiden Fed New York John Williams.

Separuh dari anggota dewan pembuat kebijakan Fed percaya bahwa standar untuk menaikkan suku bunga kebijakan jangka pendek akan tercapai pada akhir tahun depan. Kondisi tersebut termasuk inflasi yang tahan lama pada target 2% bank sentral dan lapangan kerja maksimum telah tercapai.

Mester mengatakan kebijakan moneter akan tetap akomodatif, bahkan setelah Fed memangkas pembelian obligasi karena Fed masih akan menambah neraca. Sedang George, menyorot komplikasi yang mungkin ditimbulkan oleh neraca The Fed yang bernilai US$ 8,5 triliun terhadap mekanisme penetapan suku bunga.

Baca Juga: Wall Street gagal reli, krisis Evergrande terus membayangi dan jatuhnya saham Nike

Aset bernilai raksasa itu akan tetap mengendap di neraca Fed, “bahkan ketika tapering selesai,” kata George. Ia menggarisbawahi kecemasannya bahwa mempertahankan suku bunga mendekati nol berisiko terhadap inflasi dan ketidakstabilan keuangan.

Setelah krisis keuangan 2007 hingga 2009, The Fed harus menanti satu tahun antara masa taper imbal hasil obligasi dan kenaikan pertama suku bunga kebijakannya. Dua tahun lagi dibutuhkan The Fed sebelum mulai membiarkan neracanya, yang pada saat itu sekitar setengah dari ukurannya saat ini, menyusut.

Prosesnya mungkin terjadi lebih cepat kali ini, dengan penurunan diperkirakan tidak akan berakhir hingga pertengahan tahun depan. Dan, pembuat kebijakan sekarang menunjuk pada kenaikan suku bunga akhir tahun itu.

Baca Juga: Pemerintah bakal pangkas penerbitan SBN di pasar perdana untuk tahun 2021

Menemukan tingkat yang tepat untuk tingkat kebijakan mengingat efek stimulatif lanjutan dari neraca akan menjadi tantangan, kata George.

George menduga The Fed mungkin ingin mempertahankan suku bunga jangka panjang rendah dengan menjaga neraca besar. Tetapi melawan stimulus itu dengan tingkat kebijakan jangka pendek yang lebih tinggi.

Itu, bagaimanapun, dapat meningkatkan risiko kurva imbal hasil terbalik, katanya. Argumen untuk menyusutkan neraca “atau setidaknya bergeser ke arah aset dengan jatuh tempo lebih pendek, dengan tingkat kebijakan netral yang lebih rendah.”

“Ketika ekonomi pulih dari guncangan pandemi ini, jalannya kemungkinan akan mengacaukan asumsi kami tentang seperti apa kembalinya ke normal,” kata George. “Hal yang sama berlaku untuk proses normalisasi kebijakan moneter. Keduanya menunjukkan proses yang panjang dan sulit ke depan.”

Selanjutnya: Meng Terbang Pulang, China Bebaskan Dua Warga Kanada

 

Bagikan

Berita Terbaru

Obligasi Korporasi Tertekan Bunga Tinggi, Investor Disarankan Fokus Flight to Quality
| Selasa, 03 November 2026 | 10:00 WIB

Obligasi Korporasi Tertekan Bunga Tinggi, Investor Disarankan Fokus Flight to Quality

Jika BI-Rate naik lagi, yield benchmark akan terkerek hingga membuat kupon korporasi semakin mahal dan berisiko mendemotivasi emiten.

TAPG Bagi Dividen Interim Senilai Rp 1,38 Triliun
| Selasa, 03 November 2026 | 09:32 WIB

TAPG Bagi Dividen Interim Senilai Rp 1,38 Triliun

PT Triputra Agro Lestari Tbk (TAPG) akan membagikan dividen interim Rp 1,38 triliun. Tiap pemegang saham berhak menerima dividen Rp 70 per saham

MEDC Menyebar Dividen Interim Sebesar US$ 30 Juta
| Selasa, 03 November 2026 | 09:28 WIB

MEDC Menyebar Dividen Interim Sebesar US$ 30 Juta

Keputusan pembagian dividen mendapat persetujuan direksi dan dewan komisaris pada 29 Oktober 2026. Jumlah dividen ini setara Rp 544,86 miliar.​

Tertekan Harga Bahan Baku dan Kurs, Laba Duet Emiten Grup Salim Tergerus
| Selasa, 03 November 2026 | 09:23 WIB

Tertekan Harga Bahan Baku dan Kurs, Laba Duet Emiten Grup Salim Tergerus

Kinerja PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) belum moncer di sepanjang sembilan bulan 2026

Ada Indeks Komoditas Saham Mulai Bernas
| Selasa, 03 November 2026 | 09:15 WIB

Ada Indeks Komoditas Saham Mulai Bernas

Mengawali pekan ini, mayoritas saham emiten di IDX Commodity 20 melaju. Saham komoditas Grup Bakrie dan Grup Barito menguat secara harian.

Melepas Beban HSC dari Punggung IHSG
| Selasa, 03 November 2026 | 09:05 WIB

Melepas Beban HSC dari Punggung IHSG

Pengecualian saham-saham HSC bisa mengembalikan dominasi saham blue chip di  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Prospek Dividen UNTR 2027 di Tengah Penurunan Laba dan Arus Kas
| Selasa, 03 November 2026 | 09:00 WIB

Prospek Dividen UNTR 2027 di Tengah Penurunan Laba dan Arus Kas

Prospek harga batubara, emas, permintaan alat berat, dan kinerja kontraktor pertambangan turut memengaruhi kemampuan UNTR menghasilkan kas.

Saham BSDE Tertekan di Tengah Penurunan Laba tapi Target Marketing Sales bisa Dicapai
| Selasa, 03 November 2026 | 08:32 WIB

Saham BSDE Tertekan di Tengah Penurunan Laba tapi Target Marketing Sales bisa Dicapai

Investor yang mendekap saham BSDE tak mendapat insentif tambahan lantaran emiten Grup Sinarmas ini sudah lama absen membagikan dividen.

WBSA Mengandalkan Integrasi Multimoda
| Selasa, 03 November 2026 | 08:05 WIB

WBSA Mengandalkan Integrasi Multimoda

PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) mengandalkan integrasi layanan multimoda dan penerapan hybrid asset model untuk menjaga pertumbuhan bisnis.

ARKO Gencar Menambah Portofolio EBT
| Selasa, 03 November 2026 | 08:01 WIB

ARKO Gencar Menambah Portofolio EBT

PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) menargetkan produksi listrik pada 2027 tumbuh 49,4% dibandingkan proyeksi tahun ini.

INDEKS BERITA

Terpopuler