Berita Global

Pertarungan AS dan China di Usaha Pembuatan Semikonduktor Merisaukan Jepang

Rabu, 18 Agustus 2021 | 14:46 WIB
Pertarungan AS dan China di Usaha Pembuatan Semikonduktor Merisaukan Jepang

ILUSTRASI. FILE PHOTO: Bendera Taiwan and Taiwan Semiconductor Manufacturing Co (TSMC) di kantor utamanya yang berada di Hsinchu, Taiwan, 5 Oktober 2017. REUTERS/Eason Lam/File Photo GLOBAL BUSINESS WEEK AHEAD

Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - TOKYO. Rencana Pemerintah Amerika Serikat (AS) untuk menggelontorkan dana hingga miliaran dolar ke sektor manufaktur chip, demi mengadang dominasi China, membuat Jepang risau. Negeri Matahari Terbit itu cemas menjadi pelanduk yang terjepit di antara pertarungan dua gajah ekonomi dunia.

Pemerintah Jepang cemas, duel AS vs China akan mengantarkan industri semikonduktor negerinya, yang pernah berjaya di dunia, memasuki hari-hari terakhir. Kementerian Industri Jepang mencatat, pangsa pasar global industri manufaktur chip di negerinya tinggal sepersepuluh, atau hilang lebih dari separuh dibanding masa jayanya.

Produsen Jepang tak hanya kalah bersaing harga, dengan produk dari negara lain yang lebih murah. Jepang juga gagal mempertahankan keunggulannya dalam menciptakan produk yang terdepan. Jadi, ketika China dan AS berniat untuk habis-habisan membesarkan industri lokalnya masing-masing, Pemerintah Jepang khawatir korporasi negerinya akan tersingkir habis.

Baca Juga: Incar US$ 2,8 Miliar, Olam International Siap Boyong Anak Usaha IPO di Bursa London  

“Kami tidak bisa hanya melanjutkan apa yang telah kami lakukan, kami harus melakukan sesuatu pada tingkat yang sama sekali berbeda,” tutur mantan Perdana Menteri (PM) Jepang, Shinzo Abe. Pernyataan itu disampaikan Abe di depan anggota LDP, partai yang berkuasa di Jepang, Mei lalu. Itu merupakan pertemuan putaran pertama yang digelar Pemerintah Jepang untuk membahas strategi untuk menjadikan negeri itu sebagai  ekonomi digital terkemuka.

Dokumen yang didistribusikan Kementerian Perdagangan dan Industri Ekonomi (METI) awal tahun ini, menggambarkan ketakutan Jepang tertinggal dari tatanan dunia teknologi baru. Grafik dalam dokumen itu menunjukkan garis putus-putus merah tebal di atas grafik batang yang menunjukkan kemungkinan pangsa industri nol chip pada tahun 2030.

Kekhawatiran utama adalah masa depan perusahaan negeri itu, yang masih terkemuka di dunia sebagai pemasok pembuat chip. Seperti perusahaan pembuat warfer silicon, film kimia dan mesin produksi.

Baca Juga: Baidu, si Google dari China Ini Mencetak Kinerja di Atas Proyeksi Wall Street

Pejabat Jepang merisaukan rencana AS untuk memboyong pemain utama pembuatan chip di Asia, seperti Semiconductor Manufacturing Co Ltd (TSMC), akan berujung ke ikut hijrahnya perusahaan-perusahaan terkait ke Negeri Paman Sam.

“Memang, mungkin saja untuk memproduksi di Jepang, dan mengekspornya. Tetapi semakin dekat lokasi Anda dengan perusahaan yang dipasok, tentu semakin baik, dan semakin mempermudah pertukaran informasi," tutur Kazumi Nishikawa, direktur industri  di METI.

Pergeseran lokasi perusahaan kemungkinan tidak segera terlaksana "itu bisa terjadi dalam jangka panjang," katanya.

Perusahaan-perusahaan yang dicemaskan Nishikawa, seperti pembuat wafer Shin-Etsu Chemical, pemasok photoresist Sumco Corp JSR Corp dan pembuat mesin produksi Screen Holdings dan Tokyo Electron.

"Kami selalu siap untuk menanggapi perubahan kebijakan di setiap negara," kata juru bicara JSR, yang membuat pelapis photoresist peka cahaya yang digunakan untuk mengukir chip di Jepang, Belgia, dan AS.

Ketika ditanya Reuters, tidak ada perusahaan yang mengatakan bahwa mereka saat ini berencana untuk mengalihkan produksi ke Amerika Serikat.

Untuk mempertahankan perusahaan-perusahaan itu di dalam negeri, Jepang harus memiliki pembuat chip, yang akan menampung wafer, mesin dan bahan kimia mereka. Keberadaan pembuat chip juga penting untuk memastikan kestabilan pasokan semikonduktor bagi perusahaan mobil dan pembuat perangkat elektronik di Jepang.

Baca Juga: Tingkatkan produksi chip, Intel berencana akuisisi GlobalFoundries

TSMC yang berbasis di Taiwan, berniat ekspansi ke luar negeri karena mencemaskan potensi kerentanan operasinya terhadap ambisi teritorial Pemerintah China. Perusahaan itu telah mendirikan pusat penelitian dan pengembangan di dekat Tokyo. Pihaknya juga tengah mengkaji rencana pembangunan pabrik fabrikasi di Jepang.

Namun, usaha asing terbesarnya sejauh ini adalah pabrik senilai US$ 12 miliar yang sedang dibangun di Arizona di Amerika Serikat.

Dalam upaya untuk mengikuti perlombaan teknologi, pemerintahan Perdana Menteri Yoshihide Suga pada bulan Juni menyetujui strategi yang dirancang oleh tim Nishikawa di METI untuk memastikan Jepang memiliki cukup chip untuk bersaing dalam teknologi yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi di masa depan, termasuk kecerdasan buatan, teknologi tinggi kecepatan konektivitas 5G dan kendaraan self-driving.

Salah satu inisiatifnya adalah mengubah Jepang menjadi pusat data center Asia. Hub semacam itu menghasilkan permintaan besar untuk semikonduktor, yang pada gilirannya akan memikat pembuat chip untuk membangun pabrik di dekatnya.

Namun, keberhasilan kebijakan industri itu akan bergantung pada ketersediaan dana. Sejauh ini Jepang telah mengalokasikan 500 miliar yen (US$4,5 miliar) untuk memperkuat rantai pasokan teknologi. Ini berguna membantu perusahaan mengatasi kekurangan chip dan komponen lainnya selama pandemi virus corona, sekaligus memperlancar peralihan ke 5G.

Namun alokasi yang telah dilakukan itu terlihat kecil jika disandingkan dengan rencana pengeluaran negara lain. "Pada tingkat dukungan saat ini, sulit bagi industri semikonduktor Jepang, dan kami ingin insentif pemerintah yang sebanding dengan tempat lain di dunia," kata Asosiasi Industri Elektronik dan Teknologi Informasi Jepang (JEITA) dalam email.

Baca Juga: Permintaan Chip Membludak Selama Pandemi, Penjualan TSMC Kuartal II 2021 Tembus Rekor

Senat AS telah menyetujui rancangan undang-undang yang mengalokasikan dana anggaran senilai US$ 190 miliar untuk teknologi baru. Nilai itu termasuk anggaran US$ 54 miliar untuk chip. Sementara Uni Eropa berencana untuk membelanjakan 135 miliar euro, atau setara US$159 miliar, untuk memelihara ekonomi digitalnya.

Untuk menyamai AS dan Eropa, Jepang harus mengalokasikan dana anggaran yang tidak sedikit. Hingga kini, METI belum mengusukan besaran dana yang dibutuhkan.

"Menimbang situasi keuangannya terkini, Jepang akan sulit menandingi AS, Uni Eropa dan China,” ujar mantan menteri revitalisasi ekonomi, Akira Amari dan pemimpin kelompok LDP yang ingin "membuat Jepang nomor satu lagi."

Selanjutnya: China Terapkan Pembatasan Tanpa Kecuali, Rantai Pasokan Global Semakin Ketat

 

 


Baca juga