Perubahan Iklim dan Ketahanan Pangan

Kamis, 12 Desember 2024 | 02:02 WIB
Perubahan Iklim dan Ketahanan Pangan
[ILUSTRASI. Petani menggarap sawah di Kabupaten Garut, Jawa Barat, Kamis (5/12/2024). Kementerian Pertanian mempersiapkan program cetak sawah baru dengan target pengembangan 3 juta hektare lahan sawah hingga tahun 2029. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya untuk memperkuat ketahanan pangan nasional. (KONTAN/Cheppy A Muchlis)]
M. Zainul Abidin | Analis Kebijakan Kementerian Keuangan

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perubahan iklim menjadi tantangan besar yang dihadapi oleh negara-negara di seluruh dunia. Gelombang panas ekstrem, peningkatan frekuensi dan intensitas badai, serta banjir bandang adalah beberapa bukti nyata dari krisis iklim. Kejadian seperti ini diperkirakan akan semakin sering terjadi dan menimbulkan kerugian yang besar.

Perubahan iklim menambah tantangan sektor pertanian. Kekeringan dan hujan ekstrem menurunkan produksi pangan dan memicu krisis pangan. Kondisi ini dapat mempengaruhi jumlah ketersediaan pasokan dan stabilitas harga pangan, sehingga berimbas pada inflasi pangan. Hal ini akan berdampak pada kualitas gizi, menyebabkan malnutrisi dan meningkatkan kerentanan terhadap penyakit.

Strategi mengurangi kerentanan pangan ditempuh melalui kebijakan ketahanan pangan. Nota Keuangan Rancangan APBN 2025 menyebutkan kebijakan ketahanan pangan meliputi penyediaan sarana dan prasarana pertanian, pembangunan infrastruktur pertanian, perbaikan rantai distribusi hasil pertanian, penguatan cadangan pangan nasional dan lumbung pangan, penguatan kelembagaan, pembiayaan, serta perlindungan usaha tani.

Baca Juga: Investor Retail FREN Tak Punya Banyak Pilihan di Tengah Rencana Merger dengan EXCL

Anggaran ketahanan pangan relatif meningkat. Pada 2025, alokasi anggaran ketahanan pangan sebesar Rp 124,38 triliun. Jumlah ini meningkat Rp 10,13 triliun dibandingkan tahun 2024 yang sebesar Rp 114,25 triliun. Selama tahun 2020-2023, realisasi anggaran ketahanan pangan mengalami peningkatan rata-rata sebesar 15,6% per tahun. Pertumbuhan tersebut utamanya dipengaruhi oleh penyediaan infrastruktur serta sarana prasarana pertanian.

Sebagian besar anggaran ketahanan pangan 2025 dialokasikan melalui belanja kementerian/lembaga (K/L) mencapai Rp 27,1 triliun. K/L yang terlibat yaitu: Kementerian Pertanian, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Badan Pangan Nasional, Kementerian Pekerjaan Umum dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Adapun alokasi melalui non-K/L sebesar Rp 61,07 triliun, sebagian besar untuk subsidi pupuk sebesar Rp 44,15 triliun.

Baca Juga: Bank Sentral China Rajin Borong Emas, Saat Ekonomi Dunia Penuh Ketidakpastian

Kenaikan anggaran ketahanan pangan diikuti dengan peningkatan angka Indeks Ketahanan Pangan (IKP). Pada 2023, skor IKP diperkirakan sebesar 63,5 meningkat dari tahun 2020 sebesar 60,2. Di sisi lain, sejumlah daerah masih berkategori IKP rendah. Data Badan Pangan Nasional (Bapanas) tahun 2023 menyebutkan sebanyak 68 kabupaten/kota dan dua provinsi berkategori IKP rendah.

Anggaran Transfer ke Daerah (TKD) memberikan dukungan dalam program ketahanan pangan. TKD 2025 untuk ketahanan pangan direncanakan sebesar Rp 36,15 triliun, terutama melalui Dana Alokasi Khusus (DAK). Anggaran DAK Fisik diarahkan untuk mendukung penguatan jaminan usaha serta pembentukan korporasi petani dan nelayan. Terdapat anggaran hibah kepada daerah melalui hibah upland untuk meningkatkan produktivitas pertanian di daerah dataran tinggi. Selain itu, terdapat Dana Desa yang difokuskan bagi desa di kabupaten/kota yang berada pada kategori rentan pangan.

Baca Juga: Belum Sepekan Melantai, Saham AADI Sudah Dilirik Asing

Dari sisi pembiayaan, dukungan untuk ketahanan pangan berupa investasi kepada International Fund for Agricultural Develoment Association (IFAD). Tujuannya untuk memberdayakan dan memberikan akses bagi masyarakat pedesaan, meningkatkan keamanan pangan, meningkatkan nutrisi keluarga, serta meningkatkan pendapatan.

Pangan berkelanjutan

Perubahan iklim mengganggu produksi dan distribusi pangan, serta mengancam ketahanan pangan. Tantangan ini perlu diatasi melalui pertanian adaptif dan penguatan sistem pangan yang lebih tangguh terhadap guncangan iklim. Oleh karena itu, diperlukan proses transformasi sistem pangan yang berkelanjutan.

Baca Juga: Ketimbang PPN Lebih Baik Benahi Aturan

Dalam menghadapi tantangan perubahan iklim, stabilitas dan adaptasi menjadi kunci untuk membangun sistem pangan yang lebih tangguh. Beberapa strategi telah dilakukan pemerintah, seperti penerapan asuransi pertanian dan pengembangan Pooling Fund Bencana (PFB) sektor pertanian. Hal ini penting agar semua orang memiliki akses pangan yang stabil dan aman. 

Produksi pangan di Indonesia tidak merata. Sejumlah daerah mengalami surplus, sementara yang lain defisit. Ditambah lagi, kerugian pascapanen masih relatif besar. Oleh karena itu, transformasi sistem pangan menjadi bagian penting.

Baca Juga: Menanti Transparansi Merger EXCL & FREN  

Transformasi sistem pangan berkelanjutan krusial dalam menjaga keseimbangan antara aspek lingkungan, sosial dan ekonomi. Setiap tahap produksi, distribusi dan konsumsi pangan dilakukan dengan cara yang ramah lingkungan dan efisien. Upaya ini bertujuan mengurangi jejak ekologis dengan memperhatikan penggunaan lahan, air dan emisi gas rumah kaca dalam produksi pangan. 

Penerapan konsep keberlanjutan pada siklus sistem pangan adalah langkah penting. Ini termasuk penggunaan teknologi ramah lingkungan dalam pertanian, pengolahan pangan yang efisien, dan pengurangan limbah pangan. Selain itu, upaya ini dilakukan melalui peningkatan infrastruktur transportasi dan penyimpanan sehingga meningkatkan efisiensi, pemerataan distribusi pangan dan mendukung stabilitas harga.

Baca Juga: Berharap Penjualan Eceran Terangkat di Ujung Tahun  

Dari sisi ekonomi, transformasi sistem pangan meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan di seluruh rantai pasok pangan. Transformasi ini mengurangi biaya produksi dengan mengoptimalkan penggunaan sumber daya. Menerapkan konsep keberlanjutan pada siklus sistem pangan sangat penting. Setiap tahap produksi, distribusi dan konsumsi harus ramah lingkungan. Langkah ini memastikan efisiensi di seluruh rantai pasok. Pengolahan pangan dilakukan dengan cara yang efisien. Selain itu, limbah pangan dikurangi secara signifikan.

Mengoptimalkan pemanfaatan pangan lokal merupakan salah satu langkah strategis dalam sistem pangan. Dengan memprioritaskan pangan lokal, ketergantungan pada impor dapat dikurangi sekaligus memperkuat ketahanan pangan. Langkah ini memberikan peluang ekonomi lebih baik bagi petani lokal. Selain itu, mengurangi jejak karbon dari transportasi pangan membantu menjaga lingkungan. 

Baca Juga: Kemampuan Mengangsur Debitur KPR Melemah

Teknologi ramah lingkungan digunakan dalam pertanian untuk mengurangi dampak negatif terhadap alam. Inovasi teknologi membantu mengurangi limbah dan meningkatkan kualitas produk pangan. Dengan teknologi, hasil panen menjadi lebih optimal dan berkelanjutan. Selain itu, distribusi pangan menjadi lebih efisien dan merata dan ketahanan pangan pun semakin kuat. 

Sistem pangan yang inklusif meningkatkan akses pangan yang lebih merata dan mendukung kesejahteraan sosial. Hal ini juga membantu akses petani kecil ke pasar/konsumen. Dengan demikian, pendapatan petani meningkat dan ketimpangan ekonomi berkurang. Transformasi sistem pangan perlu untuk mengatasi ancaman perubahan iklim dan memantapkan ketahanan pangan. 

Sistem pangan yang tangguh dan berkelanjutan juga mendorong transformasi ekonomi. Hal ini penting untuk menjaga daya beli masyarakat, mendukung iklim investasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Bagikan

Berita Terbaru

Saat Turun Bertahan, Saat Naik Melesat: Peta Saham Bank Agresif vs Defensif
| Jumat, 10 April 2026 | 14:01 WIB

Saat Turun Bertahan, Saat Naik Melesat: Peta Saham Bank Agresif vs Defensif

Wafi melihat BBRI dan BMRI berpotensi menjadi motor rebound, didukung valuasi yang sudah jauh di bawah rata-rata historis.

Matahari Putra Prima (MPPA) Divestasi Anak Usaha Senilai Rp 61,64 Miliar
| Jumat, 10 April 2026 | 09:26 WIB

Matahari Putra Prima (MPPA) Divestasi Anak Usaha Senilai Rp 61,64 Miliar

PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) Melepas seluruh kepemilikannya di PT Super Ekonomi Ritelindo (SER) kepada PT Fortuna Optima Distribusi (FOD). 

Perintis Triniti (TRIN) Bersiap Akuisisi Prima Pembangunan Propertindo
| Jumat, 10 April 2026 | 09:22 WIB

Perintis Triniti (TRIN) Bersiap Akuisisi Prima Pembangunan Propertindo

Kedua pihak sepakat untuk menjajaki kerja sama strategis melalui aksi akuisisi mayoritas saham Prima Pembangunan Propertindo oleh TRIN. ​

Pembangkit Listrik Beroperasi, Kinerja Emiten EBT Bervariasi
| Jumat, 10 April 2026 | 09:12 WIB

Pembangkit Listrik Beroperasi, Kinerja Emiten EBT Bervariasi

Prospek kinerja emiten EBT pada 2026 berpotensi melesat lebih tinggi, sejalan dengan mulai beroperasinya deretan proyek pembangkit listrik hijau.​

Efisiensi Biaya Memacu Laba Emiten Rokok Mengepul di 2025
| Jumat, 10 April 2026 | 09:06 WIB

Efisiensi Biaya Memacu Laba Emiten Rokok Mengepul di 2025

Kinerja laba emiten rokok pada 2025 terutama dipengaruhi faktor efisiensi biaya dan beban non operasional. ​

Laju Saham Bahan Baku Masih Menderu
| Jumat, 10 April 2026 | 09:01 WIB

Laju Saham Bahan Baku Masih Menderu

Dari 11 indeks sektoral di BEI, IDX Basic Materials jadi satu-satunya indeks yang mencatat kinerja positif sejak awal 2026. ​

ABMM Menggenjot  Aset Tambang Baru
| Jumat, 10 April 2026 | 09:00 WIB

ABMM Menggenjot Aset Tambang Baru

ABMM mengandalkan kontribusi dari aset pertambangan baru, serta penguatan sinergi antar lini bisnis guna menjaga daya saing

Minyak Naik, Hitung Harga BBM Non Subsidi
| Jumat, 10 April 2026 | 08:50 WIB

Minyak Naik, Hitung Harga BBM Non Subsidi

Pemerintah perlu mencermati potensi peralihan konsumsi dari BBM nonsubsidi ke subsidi sebelum menaikkan harga

Pebisnis Terusik Pengalihan Gas Industri ke Elpiji 3 Kg
| Jumat, 10 April 2026 | 08:31 WIB

Pebisnis Terusik Pengalihan Gas Industri ke Elpiji 3 Kg

Kementerian ESDM berencana mengalihkan jatah pasokan elpiji industri untuk memenuhi kebutuhan produksi gas melon bersubsidi tersebut.

Krisis Energi dan Risiko Fiskal-Moneter
| Jumat, 10 April 2026 | 08:16 WIB

Krisis Energi dan Risiko Fiskal-Moneter

Jika subsidi bahan bakar minyak (BBM) dipertahankan, atau harga BBM tidak naik, beban fiskal semakin berat.

INDEKS BERITA

Terpopuler