Perusahaan Asuransi Beraksi, Dua Saham Emiten Jadi Sasaran Akumulasi

Kamis, 30 Januari 2020 | 11:27 WIB
Perusahaan Asuransi Beraksi, Dua Saham Emiten Jadi Sasaran Akumulasi
[ILUSTRASI. Ilustrasi memilih portofolio investasi. Pekan terakhir Januari 2020 perdagangan saham diramaikan oleh akumulasi yang dilakukan dua perusahaan asuransi. DOK/Shutterstock]
Reporter: Tedy Gumilar | Editor: Tedy Gumilar

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa saham Indonesia tengah dirundung kasus pengelolaan investasi bermasalah oleh sejumlah perusahaan asuransi dan manajer investasi (MI).

Tak urung, merebaknya kasus-kasus tersebut dituding sebagai salah satu penyebab sepinya perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) belakangan ini.

Syukurnya, kabar baik mulai menyeruak dari sejumlah investor kakap.

Pekan ini beberapa perusahaan asuransi mengakumulasi portofolio saham dalam jumlah besar.

Pantauan KONTAN, paling tidak ada dua perusahaan asuransi yang beraksi. 

Baca Juga: Transaksi Saham di BEI Lesu, Ini Penyebabnya

Pertama, PT Indolife Pensiontama, perusahaan asuransi yang terafiliasi dengan Grup Salim.

Kedua, Pacific Life Insurance, yang tercatat sebagai bagian dari PT Pacific Strategic Financial Tbk (APIC).

Transaksi beli yang digelar kedua perusahaan asuransi tersebut terekam dalam laporan kepemilikan efek 5% atau lebih yang disampaikan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 28 Januari 2020.

Indolife di Ultrajaya

Indolife Pensiontama memilih untuk menambah kepemilikannya di PT Ultra Jaya Milk Tbk (ULTJ).

Per 28 Januari 2020, kepemilikan Indolife di ULTJ bertambah sekitar 1,25 juta saham.

Dus, Indolife pun mengempit 15,06% saham ULTJ dibanding posisi hari sebelumnya yang 15,05%.

Tidak ada perubahan kepemilikan di pemegang saham kakap yang lain sehingga kemungkinan besar Indolife menyerap saham tersebut dari tangan investor publik.

Baca Juga: Kali Ini Grup Salim Menggocek Saham Bali United (BOLA) Pakai Dua Kaki

Selain Indolife Pensiontama, investor besar di ULTJ per 30 November 2019 adalah Sabana Prawirawidjaja (31,81%) dan PT Prawirawidjaja Prakarsa (21,4%).

Pada 28 Januari 2020 harga rata-rata ULTJ di sekitar Rp 1.555 per saham.

Jika menggunakan harga ini sebagai rujukan, maka perkiraan nilai investasi yang digelontorkan Indolife adalah sekitar Rp 1,94 miliar. 

Kinerja bagus tapi....

ULTJ merupakan produsen minuman dalam kemasan yang memiliki merek dagang seperti Ultra Milk dan Teh Kotak.

Catatan kinerja keuangannya pun terbilang bagus.

Per 30 September 2019, penjualannya tumbuh sekitar 13,78% menjadi Rp 4,585 triliun.

Sementara laba bersih meningkat sekitar 3,44% menjadi sekitar Rp 814 miliar.

Walhasil, secara valuasi saham ULTJ sebetulnya cukup menarik.

Jika disetahunkan, di harga Rp 1.570, price to earning ratio (PER) 2019 ada di level 16,77 kali.

Baca Juga: Sabana Prawirawidjaja Beli Jutaan Saham Ultrajaya (ULTJ) di Harga Tinggi

Sebagai perbandingan, PER rata-rata ULTJ dalam lima tahun (2014-2018) adalah sekitar 24,35 kali.

Sayangnya, meski di atas kertas investor publik punya sekitar 3,67 miliar lembar, setara 31,81% saham ULTJ, likuiditas perdagangannya kering.

Sejak awal 2020 hingga 29 Januari 2020, total volume perdagangan saham ULTJ di pasar reguler hanya 14.193.200 lembar senilai Rp 22,8 miliar.

Pada perdagangan Kamis (30/1) pukul 09.46 WIB harga saham ULTJ ada di Rp 1.585 per saham.

Pacific Life kepincut NIRO

Cerita berikutnya datang dari Pacific Life Insurance yang kepincut saham PT City Retail Developments Tbk (NIRO).

NIRO memiliki sejumlah aset pusat perbelanjaan yang tersebar di berbagai daerah.

Mulai dari Cirebon Super Block, The Park Solo hingga Borneo Mall Pangkalan Bun.

Menurut catatan KSEI, pada 28 Januari 2020 Pacific Life memiliki sekitar 1,150 miliar lembar, setara 5,18% saham NIRO.

Sehari sebelumnya, nama Pacific Life Insurance tidak terekam dalam data tersebut, juga tidak tertera di laporan bulanan pemegang saham per 31 Desember 2020.

Baca Juga: BEI semprit Pacific Capital

Harga rata-rata saham NIRO di pasar reguler pada 28 Januari 2020 adalah sekitar Rp 146.

Dus, jika berasumsi menggunakan harga tersebut, total nilai transaksi untuk saham sebanyak sekitar 1,150 miliar adalah sekira Rp 167,85 miliar.

Sayangnya, NIRO bukanlah perusahaan properti yang punya fundamental ciamik.

Betul, perolehan pendapatannya per 30 September 2019 tumbuh sekitar 7,58% year on year (yoy) menjadi sekitar Rp 369 miliar.

Catatan ini juga menjadi salah satu yang terbaik untuk periode per 30 September dalam lima tahun terakhir (2014-2018).

Namun perusahaan yang listing di bursa saham pada 13 September 2012, itu sejak 2014 hingga 2018 secara konsisten terus merugi.

Baca Juga: Rindu Dendam Saham Gorengan

Per 30 September 2019, rugi bersih yang ditanggung NIRO membengkak menjadi Rp 19 miliar dari periode sama tahun sebelumnya yang rugi Rp 12 miliar.

Omong-omong, Komisaris Utama PT City Retail Developments Tbk saat ini dijabat Pingki Elka Pangestu.

Pingki adalah kakak kandung Mari Elka Pangestu, mantan Menteri Perdagangan yang per 1 Maret 2020 menjadi Direktur Pelaksana, Kebijakan Pembangunan dan Kemitraan Bank Dunia.

Bagikan

Berita Terbaru

Biaya Operasional Membengkak, Laba Cinema XXI (CNMA) Tergerus di Sepanjang 2025
| Sabtu, 07 Maret 2026 | 09:56 WIB

Biaya Operasional Membengkak, Laba Cinema XXI (CNMA) Tergerus di Sepanjang 2025

Mayoritas pendapatan  PT Nusantara Sejahtera Raya Tbk (CNMA) berasal dari penjualan tiket sebesar Rp 3,6 triliun. 

Laba Bersih Petrosea (PTRO) Melonjak 197,01% di Sepanjang 2025
| Sabtu, 07 Maret 2026 | 09:48 WIB

Laba Bersih Petrosea (PTRO) Melonjak 197,01% di Sepanjang 2025

Mayoritas pendapatan PTRO pada 2025 berasal dari segmen pertambangan, dengan kontribusi sebesar US$ 441,27 juta.

Disetir Sentimen Perang AS-Iran dan Penurunan Outlook RI, IHSG Anjlok 7,89% Sepekan
| Sabtu, 07 Maret 2026 | 09:44 WIB

Disetir Sentimen Perang AS-Iran dan Penurunan Outlook RI, IHSG Anjlok 7,89% Sepekan

Anjloknya kinerja IHSG sepanjang pekan ini, antara lain, dipicu sentimen konflik AS-Iran dan penurunan outlook Indonesia oleh Fitch Ratings. 

Nasib THR: Antara Kebutuhan Lebaran dan Peluang Cuan SR024
| Sabtu, 07 Maret 2026 | 05:00 WIB

Nasib THR: Antara Kebutuhan Lebaran dan Peluang Cuan SR024

Pencairan THR bisa jadi modal. Kupon SR024 menjanjikan untung bersih hingga 5,31% setelah pajak, lebih menarik dari deposito. 

Belajar dari Pekalongan
| Sabtu, 07 Maret 2026 | 04:30 WIB

Belajar dari Pekalongan

Pilih kepala daerah berkualitas, berintegritas dan memiliki visi untuk memajukan wilayah bukan untuk pribadi dan keluarga.

Investor Reksadana Saham Untung Besar? Ini Proyeksi Imbal Hasil 2026
| Sabtu, 07 Maret 2026 | 04:15 WIB

Investor Reksadana Saham Untung Besar? Ini Proyeksi Imbal Hasil 2026

Reksadana saham mencetak return 2% MoM, tertinggi di Februari 2026. Simak proyeksi imbal hasil hingga 15% tahun ini dan strategi pilih yang tepat.

Daya Saing Asuransi Indonesia
| Sabtu, 07 Maret 2026 | 04:15 WIB

Daya Saing Asuransi Indonesia

Sistem yang mampu menjamin keadilan lintas batas, termasuk juga berlaku untuk industri asuransi, adalah fondasi dari kepercayaan.

Alkindo Naratama Beberkan Strategi Bidik Laba Tumbuh 50% di 2026
| Sabtu, 07 Maret 2026 | 04:00 WIB

Alkindo Naratama Beberkan Strategi Bidik Laba Tumbuh 50% di 2026

ALDO menargetkan laba bersih melesat 50% pada 2026! Cari tahu bagaimana ekspansi ke kemasan konsumen dan pasar AS jadi pendorong utama.

Primaya Hospital (PRAY) Melanjutkan Ekspansi Rumah Sakit Baru
| Sabtu, 07 Maret 2026 | 03:00 WIB

Primaya Hospital (PRAY) Melanjutkan Ekspansi Rumah Sakit Baru

Setelah meresmikan RS Primaya Kelapa Gading pada Januari 2026, Primaya akan melanjutkan ekspansi dengan membangun cabang di BSD

Cadangan Devisa Jangka Pendek Masih Akan Tertekan
| Sabtu, 07 Maret 2026 | 02:45 WIB

Cadangan Devisa Jangka Pendek Masih Akan Tertekan

Posisi cadangan devisa per akhir Februari 2026 sebesar US$ 151,9 miliar                              

INDEKS BERITA

Terpopuler