Perusahaan Jepang Mulai Bersaing Menawarkan Remunerasi bagi Tenaga Kerja Ahli

Selasa, 01 Maret 2022 | 16:31 WIB
Perusahaan Jepang Mulai Bersaing Menawarkan Remunerasi bagi Tenaga Kerja Ahli
[ILUSTRASI. Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida dalam konferensi pers di Tokyo, Jepang, 17 February 2022. David Mareuil/Pool via REUTERS]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID -  TOKYO. Selama lima tahun terakhir Lasertec Corp yang berbasis di Yokohama melakukan sesuatu yang jarang terlihat di perusahaan-perusahaan Jepang selama beberapa dekade terakhir. Yaitu, kenaikan gaji yang besar.

Pembuat peralatan pengukur chip itu meningkatkan gaji sekitar sepertiga secara keseluruhan sejak 2016. Karyawan di unit utamanya, yang kebanyakan merupakan insinyur, menghasilkan rata-rata di bawah 14 juta yen, atau setara Rp 1,7 miliar lebih dalam setahun. Penghasilan itu tiga kali lipat lebih tinggi dibandingkan rata-rata penghasilan nasional, yaitu 4,3 juta yen atau Rp 537,4 juta.

Lasertec termasuk sebagian kecil perusahaan Jepang, yang didominasi oleh sektor khusus, terutama teknologi, yang mengaitkan gaji dengan kinerja karyawan. Dan bukan senioritas ataupun upah pokok yang ditetapkan dalam rapat tenaga kerja tahunan.

Baca Juga: Pejabat China Sebut Ekonomi Negerinya Terkepung Kendala dari Dalam dan Luar Negeri

Memang, pembicaraan upah di musim semi antara produsen besar dan serikat pekerja, yang kerap disebut shunto, masih memiliki signifikansi besar terhadap perekonomian Jepang, terutama di tahun ini. Namun semakin banyak perusahaan Jepang yang mengadopsi sistim remunerasi berdasar kinerja, kata para ahli. Ini mencerminkan pergeseran yang lebih luas, yang perlahan-lahan terjadi di Jepang.

"Bagi perusahaan seperti kami, karyawan adalah aset berharga, bukan biaya," kata Yutaro Misawa, eksekutif senior di Lasertec, yang labanya melonjak hampir lima kali lipat dan harga sahamnya telah melonjak lebih dari 2.800% selama lima tahun terakhir.

Dengan menawarkan gaji yang menarik, Lasertec lebih mudah mempertahankan insinyur berbakat yang berspesialisasi dalam penelitian dan pengembangan. Ini semakin penting mengingat krisis tenaga kerja di Jepang, sejalan dengan menuanya populasi di negeri itu, tutur Misawa.

Baca Juga: Pemasoknya Mengalami Serangan Siber, Toyota Hentikan Produksi selama Sehari

Tetapi untuk sebagian besar jagad bisnis di Jepang, upah tetap bergerak perlahan. Berkat deflasi selama beberapa dekade, perusahaan juga rumah tangga, cenderung menimbun uang tunai daripada membelanjakannya. Nilai kas dan setara kas perusahaan Jepang saat ini mencapai rekor tertingginya, yaitu US$ 2,8 triliun.

Dalam dolar, gaji tahunan rata-rata mencapai US$ 38.515 di Jepang pada tahun 2020, jauh di bawah rata-rata di negara anggota OECD, yaitu US$ 49.165. Nilai itu juga hanya berubah sedikit dibanding nilai di awal 1990-an.

Upah yang lebih tinggi sangat penting untuk target pemerintah inflasi 2% yang stabil. Perdana Menteri Fumio Kishida telah meminta perusahaan untuk meningkatkan gaji dan memulai siklus belanja yang baik, sebagai bagian dari platform "kapitalisme baru" untuk mendorong distribusi kekayaan yang lebih besar.

Perusahaan rintisan energi terbarukan Abalance Corporation telah secara aktif merekrut eksekutif madya selama tiga tahun terakhir, mengangkat gaji rata-rata di Jepang lebih dari 30%. Sekitar 100 karyawannya di Jepang - baik penduduk lokal maupun non-Jepang - dibayar rata-rata lebih dari 7 juta yen, atau sekitar Rp 874,8 juta per tahun.

"Mendapatkan orang-orang berbakat dari seluruh dunia sangat penting untuk pertumbuhan perusahaan," kata Yuichi Kawauchi, seorang eksekutif senior. "Jika kita membiarkan segala sesuatunya apa adanya dan gagal menunjukkan Jepang sebagai tempat yang menarik untuk bekerja, Jepang akan semakin tertinggal dari negara-negara lain di dunia."

Yang pasti, gaji yang dikaitkan dengan kinerja berarti bonus dapat dipotong dalam penurunan - prospek yang tidak menarik bagi banyak pekerja Jepang yang menghargai stabilitas. Serikat pekerja biasanya mencari kenaikan tambahan untuk gaji pokok, yang bersifat permanen.

Baca Juga: Ikuti Langkah BP, Shell Menghentikan Kegiatan Bisnisnya di Rusia

Sebagian besar perusahaan tidak berencana menaikkan gaji pokok pada pembicaraan tenaga kerja musim semi tahun ini, menurut Survei Perusahaan Reuters terbaru. Mayoritas tipis berharap untuk menaikkan gaji total, yang mencakup bonus satu kali, survei menunjukkan.

Itu tidak akan cukup untuk mengimbangi lonjakan biaya komoditas baru-baru ini, kata para analis, mengikis daya beli rumah tangga. Baca cerita selengkapnya

Untuk Yamada Consulting Group, yang membantu restrukturisasi perusahaan menengah, gaji dan tunjangan yang menarik diperlukan untuk menjaga staf agar tidak diburu, kata Presiden Keisaku Masuda.

Perusahaan konsultan mengizinkan staf untuk bekerja dengan jam kerja yang lebih pendek untuk mendorong mereka membesarkan anak-anak.

"Kami menghadapi persaingan ketat untuk mendapatkan pekerja berkinerja tinggi. Kami telah menaikkan gaji secara substansial dan memperbaiki kondisi kerja untuk mencegah perburuan kepala," kata Masuda.

Itu menaikkan gaji rata-rata 19% pada tahun 2020 dan 5% tahun lalu dan sekarang rata-rata karyawannya menghasilkan 9,2 juta yen atau Rp 1,1 miliar lebih.

Baca Juga: Amerika Menambahkan Sanksi, Blokir Bank Sentral, SWF dan Kementerian Keuangan Rusia

Pembicaraan tenaga kerja Jepang pada akhirnya akan bergeser dari kenaikan seragam dalam gaji pokok ke upah yang lebih fleksibel yang mencerminkan nilai pasar pekerja, kata Yuya Takada, seorang peneliti di perusahaan rekrutmen dan staf Recruit Holdings Co.

Bahkan Toyota Motor Corp, yang telah lama menjadi penentu kecepatan pembicaraan perburuhan musim semi, telah berhenti mengungkapkan rincian gaji pokok. Sikap itu mencerminkan penurunan gengsi dari pembicaraan upah tenaga kerja di tingkat nasional.

Pembayaran berdasarkan senioritas akan menjadi sesuatu dari masa lalu, kata Takada dari Recruit. "Itu akan menurunkan pentingnya cara manajemen dan serikat pekerja berjuang untuk kenaikan gaji pokok pada ritual tahunan."

Bagikan

Berita Terbaru

Check & Balance Perjanjian Indonesia-AS
| Selasa, 24 Februari 2026 | 02:39 WIB

Check & Balance Perjanjian Indonesia-AS

Sikap kenegarawanan dituntut karena perjanjian seperti ini penting dan akan mengikat kita untuk waktu yang lama.

IHSG Bakal Menguji Level 8.400, Cermati Saham-Saham Berikut Untuk Selasa (24/2)
| Selasa, 24 Februari 2026 | 02:30 WIB

IHSG Bakal Menguji Level 8.400, Cermati Saham-Saham Berikut Untuk Selasa (24/2)

IHSG mengakumulasi kenaikan 1,58% dalam lima hari perdagangan terakhir. Sedangkan sejak awal tahun, IHSG masih turun 2,90%.

Ekonomi Kelas Menengah Bawah Masih Lesu
| Selasa, 24 Februari 2026 | 02:30 WIB

Ekonomi Kelas Menengah Bawah Masih Lesu

Per Januari 2026, simpanan di bawah Rp 100 juta hanya tumbuh 3,6% yoy, tipis dan mencerminkan daya beli masih tertekan.

Lonjakan Pajak Konsumsi Ungkit Setoran Awal Tahun
| Selasa, 24 Februari 2026 | 02:20 WIB

Lonjakan Pajak Konsumsi Ungkit Setoran Awal Tahun

Kementerian Keuangan mencatat, realisasi penerimaan pajak hingga akhir Januari 2026 tumbuh 30,7% secara tahunan

Merdeka Copper Gold (MDKA) Kebut Tambang Emas Pani
| Selasa, 24 Februari 2026 | 02:20 WIB

Merdeka Copper Gold (MDKA) Kebut Tambang Emas Pani

Pengembangan Tambang Emas Pani mengacu pada studi kelayakan (feasibility study) yang diselesaikan pada kuartal I-2024.

Impor Truk & Pikap dari India Menuai Sorotan
| Selasa, 24 Februari 2026 | 02:15 WIB

Impor Truk & Pikap dari India Menuai Sorotan

Sejak lima dekade yang lalu, industri otomotif nasional sudah mampu memproduksi kendaraan niaga atau mobil pikap di dalam negeri.

Belanja Tancap Gas, Ekonomi Diuji
| Selasa, 24 Februari 2026 | 02:05 WIB

Belanja Tancap Gas, Ekonomi Diuji

Realisasi belanja negara Januari 2026 tertinggi dibanding rerata tiga tahun terakhir                

Banyak Emiten Buru Modal Lewat Rights Issue, Simak Penggunaan Dananya
| Selasa, 24 Februari 2026 | 02:05 WIB

Banyak Emiten Buru Modal Lewat Rights Issue, Simak Penggunaan Dananya

Fenomena rights issue ramai di pasar modal! Emiten buru modal baru demi ekspansi dan perbaikan struktur keuangan. 

Saham SMGR Melonjak 20%, Tapi Masih Ada Risiko Membayangi
| Selasa, 24 Februari 2026 | 02:00 WIB

Saham SMGR Melonjak 20%, Tapi Masih Ada Risiko Membayangi

Meski saham SMGR menguat, industri semen hadapi oversupply dan perang harga. Pahami risiko tersembunyi di balik kenaikan harga SMGR saat ini.

Mencermati Aksi Korporasi dan Strategi Bertahan MPPA di Awal Tahun 2026
| Senin, 23 Februari 2026 | 13:00 WIB

Mencermati Aksi Korporasi dan Strategi Bertahan MPPA di Awal Tahun 2026

Head of Korea Investment Sekuritas Indonesia Muhammad Wafi menilai bahwa aksi korporasi MPPA di awal 2026 merupakan manuver survival to revival.

INDEKS BERITA