Portofolio Merek Sport dan Lifestyle Menjadi Katalis Positif Saham MAPA

Minggu, 22 Maret 2026 | 06:07 WIB
Portofolio Merek Sport dan Lifestyle Menjadi Katalis Positif Saham MAPA
[ILUSTRASI. PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA) - grup MAPI (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)]
Reporter: Andy Dwijayanto | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA) diperkirakan masih cukup solid tahun ini, diversifikasi merek produk sport dan lifestyle bakal menjadi penopang kuat kinerja. Dengan ekspansi yang tidak hanya menambah gerai, tetapi juga menambah portofolio merek, MAPA memiliki potensi pertumbuhan yang kuat seiring dengan kebiasaan masyarakat untuk gaya hidup sehat.

Muhammad Wafi, Head of Research Korea Investment & Sekuritas Indonesia menyebut strategi MAPA dalam memperluas portofolio merek menjadi salah satu kunci pertumbuhan dalam beberapa tahun terakhir. Banyak brand global terkemuka yang ingin masuk ke Indonesia, memilih menggandeng MAPA karena memiliki jaringan distribusi yang luas serta positioning di industri ritel sport dan lifestyle.

Misalnya pada tahun ini, MAPA sudah memboyong merek Sam Edelman ke pasar Indonesia, selain juga memperkenalkan Golf House. Perusahaan juga melihat peluang dari meningkatnya minat masyarakat terhadap olahraga dan permintaan terhadap produk olahraga yang khusus seperti golf, padel, tenis, running dan lainnya.

Diversifikasi MAPA tidak hanya fokus pada merek fesyen dan sport kasual, tetapi juga merambah ke segmen olahraga premium. Ini membuat permintaan untuk niche market seperti olahraga tertentu juga meningkat, sebut saja padel yang saat ini peminatnya cukup masif.

Nah, di kuartal I dengan adanya Ramadan dan Lebaran, MAPA akan kebagian berkah. Sejumlah merek seperti New Balance, Hoka, Skechers, dan Foot Locker diprediksi mencatatkan pertumbuhan saat Ramadan dan Lebaran. Merek-merek ini secara historikal selalu mengalami pertumbuhan permintaan saat Ramadan dan Lebaran.

Christy Halim, Analis BRI Danareksa mengamini hal ini, Ia bilang kalau MAPA secara seasonal melakukan promosi yang paling intens di antara peritel lainnya. Bahkan MAPA melanjutkan diskon akhir tahun saat Nataru hingga ke Lebaran, yang membuat penjualan perusahaan diprediksi akan kencang pada kuartal I tahun ini.

Dengan gerai sport dan mono brand, MAPA mempertahankan promosi secara konsisten dengan benefit yang berganti-ganti setiap minggunya. Mulai dari promo buy 1 get 50% off pada Januri, kemudian cashback Rp 150-200 di akhir Januari, kemudian promo Imlek, hingga Ramadhan Sale dengan diskon 70% pada Maret 2026.

Vanessa Karmajaya, Analis RHB Sekuritas menilai bahwa saham MAPA seperti saham ritel lainnya akan mengalami kenaikan tersulut momentum Ramadan dan Lebaran. Hanya saja, apakah sahamnya masih akan bergerak naik setelah Lebaran? hal ini akan sangat bergantung dari capaian kinerja kuartal I yang biasanya baru akan muncul pada April.

MAPA dianggap memiliki positioning yang kuat karena tren olahraga sedang booming di Indonesia, dan dengan penguasaan pasar mencapai 60%, MAPA dianggap menjadi emiten ritel sport dan lifestyle yang paling diuntungkan. Apalagi dengan strategi menggandeng merek-merek baru sebut saja ANTA dan Wilson bisa memberikan daya tarik tambahan.

Rekomendasi Saham

Vanessa tetap merekomendasikan buy untuk saham MAPA dengan target harga 1.030 per saham. Momentum musiman seperti Ramadan dan Lebaran menjadi katalis tambahan bagi penjualan perusahaan. Tradisi berbelanja saat festive ini juga merambah pada kebutuhan gaya hidup seperti outfit olahraga dan kebutuhan perlengkapan olahraga akan menguntungkan MAPA.

Sementara, Fanny Suherman, Head of Retail Research BNI Sekuritas menilai MAPA memilik prospek pertumbuhan yang cukup positif. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, MAPA sebagai emiten ritel yang relatif menyasar segmen menengah ke atas diproyeksikan memiliki kinerja yang masih cukup solid. Ia merekomendasikan buy saham MAPA dengan target harga 900 per saham.

Sedangkan Mandiri Sekuritas merekomendasikan buy untuk saham MAPA dengan target harga 950 per saham. Optimisme ini didorong oleh proyeksi pertumbuhan laba yang solid dengan perkiraan mampu membukukan laba mencapai Rp 1,72 triliun pada tahun ini dan meningkat menjadi Rp 1,89 triliun pada tahun depan.

Dari sisi valuasi, saham MAPA dinilai masih berada di fase yang menarik dengan rasio PER diperkirakan 10 kali dengan PBV berada di kisaran 1,8 kali dan EV/EBITDA juga relatif solid di 4,8 kali. Pertumbuhan EPS pada tahun ini juga diperkirakan mencapai 14,2%  menjadikan saham ini cukup menarik.

Senada, BRIDS juga merekomendasikan buy saham MAPA dengan target harga 800 per saham dimana rasio P/E berada di 10,9 kali dan PBV berada di 2,0 kali dengan ROE sekitar 19,8%. Per 17 Maret 2026, saham MAPA berada di level 620 per saham.

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan
Topik Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

Paradoks Fiskal Indonesia
| Rabu, 20 Mei 2026 | 04:30 WIB

Paradoks Fiskal Indonesia

Intervensi di pasar obligasi melengkapi intervensi rupiah di bidang moneter. Bahkan mungkin juga melengkapi intervensi harga saham di pasar modal.

Kinerja Trans Power Marine (TPMA) Terdampak Kebijakan RKAB
| Rabu, 20 Mei 2026 | 04:20 WIB

Kinerja Trans Power Marine (TPMA) Terdampak Kebijakan RKAB

Pemangkasan kuota produksi dalam RKAB 2026 menjadi tantangan bagi perusahaan yang bergerak di industri batubara,

Ekonomi Loyo, LKM Perketat Pembiayaan
| Rabu, 20 Mei 2026 | 04:15 WIB

Ekonomi Loyo, LKM Perketat Pembiayaan

Penyaluran pembiayaan LKM mengalami kontraksi 5,6% secara tahunan menjadi Rp 1 triliun di kuartal I-2026.

Pebisnis Ban Bakal Kerek Harga Jual
| Rabu, 20 Mei 2026 | 04:10 WIB

Pebisnis Ban Bakal Kerek Harga Jual

Konflik di Timur Tengah telah memicu kenaikan harga bahan baku berbasis fosil yang menjadi komponen utama produksi ban.

Dua Lembaga Keuangan Global Soroti Kesenjangan dan Gagalnya Investasi Hijau Indonesia
| Selasa, 19 Mei 2026 | 11:10 WIB

Dua Lembaga Keuangan Global Soroti Kesenjangan dan Gagalnya Investasi Hijau Indonesia

Indonesia harus menelan pil pahit setelah kehilangan sejumlah komitmen investasi raksasa di sektor baterai EV beberapa tahun terakhir.

Indeks Dolar Masih Bertahan Tinggi di Level 99
| Selasa, 19 Mei 2026 | 10:54 WIB

Indeks Dolar Masih Bertahan Tinggi di Level 99

Fluktuasi dolar AS kini ditentukan risalah FOMC & data PMI. Spekulasi kenaikan suku bunga The Fed pengaruhi pasar. 

Menakar Ketahanan Fundamental Japfa (JPFA) di Tengah Tekanan Akibat Depresiasi Rupiah
| Selasa, 19 Mei 2026 | 10:22 WIB

Menakar Ketahanan Fundamental Japfa (JPFA) di Tengah Tekanan Akibat Depresiasi Rupiah

JPFA dinilai lebih unggul dari sisi skala bisnis, diversifikasi usaha, serta kelihaian dalam merawat profitabilitas.

Menakar Era Permanent Volatility, Saat Pasar Tak Lagi Hanya Menghargai Laba Emiten
| Selasa, 19 Mei 2026 | 10:00 WIB

Menakar Era Permanent Volatility, Saat Pasar Tak Lagi Hanya Menghargai Laba Emiten

Investor lebih memilih mencari instrumen atau negara yang lebih aman dibanding harus menanggung risiko dari dampak negatif perkembangan pasar.

Relaksasi SPT Belum Dongkrak Kepatuhan
| Selasa, 19 Mei 2026 | 09:32 WIB

Relaksasi SPT Belum Dongkrak Kepatuhan

Dalam kurun 30 April hingga 17 Mei 2026, total SPT yang masuk bertambah 1,71%, dari 13,06 juta menjadi 13,28 juta SPT

Pembagian Dividen Jadi Pelipur Lara Saat Pasar Anjlok
| Selasa, 19 Mei 2026 | 08:17 WIB

Pembagian Dividen Jadi Pelipur Lara Saat Pasar Anjlok

Pasar saham bergejolak, tapi peluang cuan dividen tetap ada. Analis merekomendasikan saham dengan pertumbuhan laba solid.

INDEKS BERITA