Risiko Sentralisasi

Selasa, 08 September 2026 | 06:10 WIB
Risiko Sentralisasi
[ILUSTRASI. TAJUK - R Cipta Wahyana (KONTAN/Indra Surya)]
Cipta Wahyana | Senior Editor

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Wacana pengalihan jalur pembayaran gaji aparatur sipil negara (ASN) daerah dari bank pembangunan daerah (BPD) ke bank anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) memicu polemik. Maklum, layanan pembayaran gaji (payroll) merupakan salah satu jangkar ekosistem bank. Di belakang aliran gaji terdapat dana murah, transaksi harian, kredit konsumsi, hingga kapasitas membiayai ekonomi daerah. 

Pemindahan serentak dapat menimbulkan guncangan berlapis. Likuiditas BPD berisiko tertekan karena dana murah susut. Padahal, per Juni 2026, dana pihak ketiga BPD senilai Rp 766,1 triliun turun 0,01% secara tahunan, adapun rasio kredit terhadap simpanan naik menjadi 86,49%. Hilangnya dana payroll akan mempersempit ruang kredit sekaligus menaikkan biaya dana.

Risiko berikutnya muncul pada kualitas aset. Banyak kredit ASN dibayar melalui pemotongan otomatis rekening gaji. Ketika payroll berpindah, angsuran bisa terganggu dan risiko kredit bermasalah meningkat. Efeknya merambat ke laba dan dividen bagi pemerintah daerah, tenaga kerja BPD, serta pembiayaan UMKM dan proyek lokal.

Dampak lebih besar akan muncul jika preseden sentralisasi kanal pembayaran ini meluas. Misalnya jika sentralisasi pembayaran merambah ke layanan publik seperti tagihan listrik PLN, air PDAM, hingga pajak bumi dan bangunan (PBB). Konon, bank-bank swasta mulai menghitung dan mengantisipasi risiko jika transaksi pemerintah makin diarahkan melalui Himbara.

Pemerintah berhak mengejar efisiensi, transparansi, dan pengawasan arus kas. Tapi, tujuan itu tidak mensyaratkan pemusatan rekening. Teknologi memungkinkan sistem pembayaran terhubung, terbaca real time, serta dapat diaudit tanpa mencabut hubungan pemda dan BPD. Pemusatan justru memperbesar dampak gangguan teknologi atau serangan siber.

Karena wacana ini belum final, pemerintah perlu membuka kajian dampaknya. Ukur kontribusi payroll terhadap dana murah, likuiditas, kredit, NPL, dan pendapatan tiap BPD. Lakukan pula perubahan secara bertahap, dengan masa transisi dan mitigasi atas kredit ASN. BPD sendiri juga wajib memperbaiki tata kelola, teknologi, dan diversifikasi bisnis agar tak bergantung ASN. 

Pada akhirnya, agenda efisiensi jangan berubah menjadi pemusatan rente. Atau, jangan-jangan, tujuan akhirnya memang demi memperbesar laba bank pelat merah dan setoran dividen ke kas negara?

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

Prospek Multi Media Internasional (MMIX) dari Ekspansi Pabrik Popok
| Jumat, 16 Oktober 2026 | 07:03 WIB

Prospek Multi Media Internasional (MMIX) dari Ekspansi Pabrik Popok

MMIX meresmikan produksi pabrik popok di fasilitas PT Multi Nice Paper Indonesia (MNPI) sebagai langkah ekspansi di Legok, Banten, Kamis (15/10).

Terkerek Euforia Padel, Permintaan Atap IMPC Makin Ramai
| Jumat, 16 Oktober 2026 | 07:01 WIB

Terkerek Euforia Padel, Permintaan Atap IMPC Makin Ramai

Kinerja keuangan PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) terdorong permintaan produk material bangunan untuk berbagai kebutuhan.

Terbang 142 Persen Dalam Seminggu, Ada Apa dengan Saham TFCO?
| Jumat, 16 Oktober 2026 | 06:55 WIB

Terbang 142 Persen Dalam Seminggu, Ada Apa dengan Saham TFCO?

Prospek industri tekstil dan serat sintetis masih menghadapi tantangan akibat maraknya produk impor murah.

Tekanan Daya Beli Hantam Properti
| Jumat, 16 Oktober 2026 | 06:48 WIB

Tekanan Daya Beli Hantam Properti

Lesunya daya beli masyarakat memperlambat realisasi pendapatan prapenjualan (marketing sales) emiten properti

Realisasi Ekspansi Akan Menjadi Penentu Kinerja MGLV
| Jumat, 16 Oktober 2026 | 06:44 WIB

Realisasi Ekspansi Akan Menjadi Penentu Kinerja MGLV

Prospek saham MGLV masih akan didominasi oleh realisasi ekspansi bisnis data center berbasis kecerdasan buatan serta perbaikan kinerja keuangan

Pertumbuhan Permintaan Topang Kinerja Semen Indonesia (SMGR)
| Jumat, 16 Oktober 2026 | 06:30 WIB

Pertumbuhan Permintaan Topang Kinerja Semen Indonesia (SMGR)

Proyek pemerintah di semester II akan memberi kontribusi pada kinerja PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) di 2026

Rupiah Terseret Risk Off di Pasar Saham
| Jumat, 16 Oktober 2026 | 06:15 WIB

Rupiah Terseret Risk Off di Pasar Saham

Melansir Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,19% secara harian di level Rp 17.938 per dolar AS pada Kamis (15/10)

Antrean BBM
| Jumat, 16 Oktober 2026 | 06:10 WIB

Antrean BBM

Jika audit membuktikan kelalaian manajerial, sanksi harus dijatuhkan, termasuk evaluasi terhadap pejabat yang gagal menjalankan tugasnya.

Pencairan Restitusi Pertimbangkan Setoran Pajak
| Jumat, 16 Oktober 2026 | 06:08 WIB

Pencairan Restitusi Pertimbangkan Setoran Pajak

Pemerintah masih harus mengumpulkan penerimaan sekitar Rp 750,1 triliun di Oktober hingga Desember 2026 untuk mencapai target

Awas Tekanan Subsidi Energi di Akhir Tahun
| Jumat, 16 Oktober 2026 | 06:03 WIB

Awas Tekanan Subsidi Energi di Akhir Tahun

Lonjakan harga minyak dan pelemahan rupiah berisiko membuat anggaran subsidi bengkak                

INDEKS BERITA

Terpopuler