Sejenak Konsolidasi, Tren Harga Komoditas Masih Positif

Rabu, 27 April 2022 | 03:00 WIB
Sejenak Konsolidasi, Tren Harga Komoditas Masih Positif
[]
Reporter: Danielisa Putriadita | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks dollar Amerika Serikat (AS) merangkak naik seiring sikap hawkish The Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan. Dampaknya, beberapa harga komoditas kompak menurun.

Berdasarkan Bloomberg, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) di pasar Nymex sempat melemah ke US$ 98,54 per barel di Senin (25/4). Pada Selasa (26/4), harga kembali naik 0,58% ke US$ 99,11 per barel.

Pergerakan sama juga terjadi pada harga emas di Commodity Exchange, Senin (25/4) turun ke US$ 1.896 per ons troi, kemudian di Selasa (26/4) naik ke US$ 1.904 per ons troi. Kompak, harga batubara Senin (25/4) juga turun 2,22% ke US$ 304,2. 

Baca Juga: Jokowi Larang Ekspor Bahan baku Minyak Goreng, Ini Kata Pengamat

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, harga komoditas melemah karena proyeksi kenaikan suku bunga AS yang tinggi. Sejauh ini The Fed terbuka menaikkan suku bunga acuan 50 basis poin (bps) di awal Mei. Di Juni dan Juli The Fed juga diproyeksikan menaikkan suku bunga lagi. Karena itu, indeks dollar AS naik.

"Di tengah sentimen The Fed, investor cenderung mengalihkan investasinya ke safe haven seperti dollar AS, sehingga harga komoditas menurun," kata Ibrahim. Di satu sisi, kenaikan indeks dolar AS juga membuat harga komoditas semakin mahal dan terjadi penurunan minat.

Analis Global Kapital Investama Alwi Assegaf juga mengatakan harga minyak menurun karena permintaan dari China menurun akibat pengetatan ketat di negara tersebut. Turunnya harga minyak pada akhirnya menyeret penurunan harga komoditas yang lain.

Baca Juga: Revisi ke Bawah Prospek Ekonomi Asia, IMF Peringatkan Ancaman Stagflasi

Seperti, harga emas ikut menurun karena percepatan inflasi karena kenaikan harga emas tidak lagi terjadi karena harga minyak saat ini cenderung menurun. Beda cerita, jika harga minyak naik, maka inflasi akan cepat terjadi dan emas sebagai aset lindung nilai akan naik harganya.

Sebaliknya, rebound harga komoditas saat ini, Ibrahim liat hanya terjadi karena faktor teknikal dan bersifat sementara. Namun, dalam jangka panjang, Ibrahim memproyeksikan setelah sentimen The Fed mereda, maka fokus pelaku pasar akan kembali geopolitik Rusia dan Ukraina tidak kunjung selesai yang membuat pasokan komoditas pun masih tersendat dan harga komoditas bisa naik lagi.

Alwi menyimpulkan, harga komoditas saat ini cenderung konsolidasi terlebih dahulu. Dia juga mengatakan faktor geopolitik Rusia dan Ukraina masih menyebabkan gangguan pasokan berakibat naiknya harga komoditas. Dia memproyeksikan harga minyak di akhir tahun US$ 100.

Sementara, harga emas stabil di US$ 1.950 per ons troi. "Harga emas disokong ketidakpastian ekonomi dan pemangkasan pertumbuhan ekonomi," kata Alwi.

Baca Juga: Ekspor Tiga Komoditas Bahan Baku Minyak Goreng Sawit Resmi Dilarang, Ini Kata Gapk

Bagikan

Berita Terbaru

Industri Ban Bakal Terus Menggelinding
| Selasa, 20 Januari 2026 | 04:10 WIB

Industri Ban Bakal Terus Menggelinding

Meski menghadapi tantangan bisnis, Michelin tetap menaruh harapan terhadap perbaikan kinerja pada tahun ini dibandingkan tahun sebelumnya.

Performa Kompas100 Paling Moncer & Masih Punya Tenaga, LQ45 dan IDX30 Tertinggal Jauh
| Senin, 19 Januari 2026 | 12:57 WIB

Performa Kompas100 Paling Moncer & Masih Punya Tenaga, LQ45 dan IDX30 Tertinggal Jauh

Hingga pertengahan Januari 2026, pergerakan saham-saham unggulan di Indeks Kompas100 masih menunjukkan sinyal positif.

Guncangan Trump Jilid II: Antara Perang Dagang, Operasi Militer, dan Nasib Ekonomi RI
| Senin, 19 Januari 2026 | 09:43 WIB

Guncangan Trump Jilid II: Antara Perang Dagang, Operasi Militer, dan Nasib Ekonomi RI

Produsen lokal RI semakin tergencet oleh banjir barang murah dari Tiongkok, mulai dari tekstil (TPT), besi baja, hingga kendaraan listrik (EV).

Harga Perak Menggila! Sempat Anjlok Lalu Melawan ke US$ 93,92, Bakal Kemana Lagi?
| Senin, 19 Januari 2026 | 08:45 WIB

Harga Perak Menggila! Sempat Anjlok Lalu Melawan ke US$ 93,92, Bakal Kemana Lagi?

Harga perak diprediksi bakal mencari level keseimbangan baru yang lebih tinggi akibat keterbatasan pasokan.

Danantara Tumpuan Realisasi Investasi
| Senin, 19 Januari 2026 | 08:38 WIB

Danantara Tumpuan Realisasi Investasi

Ivestasi masih akan sangat ditentukan oleh faktor kepastian kebijakan dan eksekusi proyek di lapangan.

Pengangguran Jadi Risiko Utama Perekonomian RI
| Senin, 19 Januari 2026 | 08:30 WIB

Pengangguran Jadi Risiko Utama Perekonomian RI

Bonus demografi belum diimbangi penciptaan lapangan kerja berkualitas mengancam ekonomi             

Normalisasi Diskon Dimulai, Sektor Otomotif Masuk Fase Penyesuaian di 2026
| Senin, 19 Januari 2026 | 08:28 WIB

Normalisasi Diskon Dimulai, Sektor Otomotif Masuk Fase Penyesuaian di 2026

Diskon besar-besaran membuat penjualan mobil roda empat (4W) secara wholesale pada Desember 2025 melesat 27% secara bulanan.

IHSG Rekor, Rupiah Makin Loyo Dekati Rp 17.000, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Senin, 19 Januari 2026 | 08:19 WIB

IHSG Rekor, Rupiah Makin Loyo Dekati Rp 17.000, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Pada Kamis (15/1), kurs rupiah di Jisdor Bank Indonesia (BI) melemah semakin mendekati Rp 17.000, tepatnya ke Rp 16.880. 

Ekonomi RI Merana Saat Macan Asia Menyala
| Senin, 19 Januari 2026 | 08:01 WIB

Ekonomi RI Merana Saat Macan Asia Menyala

Malaysia, Singapura, dan Vietnam mencetak pertumbuhan ekonomi solid di 2025. Temukan pendorong utama yang membuat mereka jadi magnet investasi.

BWPT Masuki Fase Turnaround Neraca, Deleveraging Jadi Katalis Revaluasi
| Senin, 19 Januari 2026 | 07:54 WIB

BWPT Masuki Fase Turnaround Neraca, Deleveraging Jadi Katalis Revaluasi

Rencana ekspansi kapasitas pabrik secara bertahap hingga 2028 diproyeksikan bakal menopang pertumbuhan volume produksi dan laba secara organik.

INDEKS BERITA