Sejumlah Investor Ingin Diversifikasi dari Sektor Teknologi, S&P 500 Bisa Tergerus

Senin, 08 November 2021 | 09:04 WIB
Sejumlah Investor Ingin Diversifikasi dari Sektor Teknologi, S&P 500 Bisa Tergerus
[ILUSTRASI. Charging Bull atau Wall Street Bull di kawasan Manhattan New York City, New York, AS, 16 Januari 2019. REUTERS/Carlo Allegri]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - NEW YORK.  Valuasi yang terus meningkat serta kenaikan harga besar-besaran dari tahun ke tahun merupakan alasan sejumlah investor untuk melakukan diversifikasi dari saham-saham teknologi, sektor yang telah memimpin pasar selama bertahun-tahun.

Saham teknologi telah melonjak sepanjang tahun ini. Bobot mereka yang besar dalam perhitungan S&P 500 telah membantu mendorong indeks ke rekor dengan kenaikan 25,1% tahun ini pada tahun 2021.

Beberapa investor khawatir valuasi saham teknologi telah naik terlalu tinggi. Saham holding Google, Alphabet, misalnya, diperdagangkan pada rasio harga terhadap pendapatan (PER) 12 bulan ke depan sebesar 26,6. Angka itu jauh di atas PER indeks S&P 500, yaitu 21,1.

Saham Apple Inc dihargai dengan PER estimasi sebesar 26,2. Sedangkan rerata saham sektor teknologi informasi, yang naik hampir 28% tahun ini, kini memiliki PER estimasi 26,4.

Baca Juga: IHSG melemah 0,15% sepekan, asing justru net buy Rp 1,51 triliun

Dengan bobot perhitungannya yang besar, saham-saham sektor teknologi tidak cuma dapat mendorong S&P. Ia juga bisa menenggelamkan indeks, apabila tidak lagi menjadi pilihan investor. Microsoft, Apple dan Amazon, tiga perusahaan paling berharga di Wall Street, menyumbang hampir 15% dari kapitalisasi pasar S&P 500, menurut Refinitiv Datastream.

Manajer dana di BoFA Global Research Survey bulan lalu menyebut “long tech” sebagai perdagangan yang paling ramai di bursa. Perusahaan itu secara kolektif telah mengurangi posisi “overweight” mereka di saham teknologi ke level terendahnya sejak Mei. 

Empat saham individu paling ramai di pasar adalah Microsoft, Apple, Alphabet, dan Amazon, menurut analisis terbaru oleh firma riset Bernstein, yang menggabungkan faktor-faktor seperti kepemilikan institusional dan momentum harga.

Membatasi eksposur terhadap saham teknologi selama dekade terakhir cenderung merusak kinerja portofolio dalam jangka panjang, membuat investor waspada untuk memotong kepemilikan mereka terlalu drastis. Namun, beberapa mencari untuk memperluas portofolio mereka untuk mengurangi eksposur mereka ke nama-nama terbesar di sektor ini.

Baca Juga: Sepekan naik 2%, harga emas cetak penguatan tertinggi mingguan sejak Agustus

Garret Melson, ahli strategi portofolio di Natixis Investment Managers Solutions, percaya saham perusahaan teknologi berskala besar mungkin rentan terhadap investor yang ingin mengunci keuntungan dan memindahkan sejumlah dana ke sektor lain. 

Melton membeli saham di perusahaan keuangan dan energi, yang dia yakini akan mendapat manfaat dari kenaikan inflasi dan pemulihan ekonomi yang kuat. “Kami yakin bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi kurang dihargai tahun ini dan tahun depan,” kata Melson.

Analis di DataTrek Research percaya sektor-sektor yang dapat mengambil manfaat dari peningkatan pertumbuhan, termasuk perusahaan keuangan dan energi, kemungkinan akan menantang saham teknologi besar hingga akhir tahun.

“Teknologi telah menjadi kelompok pemenang selama bertahun-tahun, dan kami berharap itu akan terus berlanjut di masa depan,” tulis mereka dalam laporan Jumat. “Tetapi karena investor mempertimbangkan di mana harus mengalokasikan modal hari ini … kami pikir kemungkinan mereka akan mencari sektor-sektor yang lebih terbuka untuk meningkatkan fundamental ekonomi.”

Angka ketenagakerjaan AS yang kuat pada hari Jumat mencerahkan prospek ekonomi, seperti halnya berita tentang obat antivirus eksperimental yang menjanjikan dari Pfizer. Saham perjalanan diuntungkan, dengan indeks maskapai S&P 1500 naik 7% hari ini.

Investor akan mendapatkan wawasan tentang inflasi ketika data harga konsumen AS dirilis minggu depan.

Denny Fish, manajer portofolio dan pemimpin sektor teknologi di Janus Henderson, mengatakan kekhawatiran inflasi dan valuasi tinggi di sektor teknologi telah mendorongnya untuk mencari perusahaan kecil yang akan mendapat manfaat dari pertumbuhan raksasa dengan posisi saham yang lebih padat.

Fish cenderung bullish terhadap saham perusahaan pengembangan perangkat lunak Australia Atlassian Corp PLC, yang alat manajemen produknya "menambah" rangkaian aplikasi Microsoft, serta perusahaan e-commerce Kanada Shopify Inc, yang diuntungkan dari pertumbuhan Amazon, katanya.

Baca Juga: Wall Street perkasa: S&P 500, Dow Jones dan Nasdaq kompak menguat di pekan ini

“Apa yang kami lakukan adalah menemukan perusahaan baru yang memiliki pertumbuhan lebih baik daripada perusahaan raksasa dan valuasi rasional yang akan unggul dalam beberapa tahun mendatang,” kata Fish.

Banyak investor tetap optimistis terhadap saham-saham besar yang berfokus pada teknologi, merujuk ke pendapatan yang kuat serta jejak rekam pertumbuhan yang dinamis.

Saira Malik, kepala investasi untuk ekuitas global di Nuveen, sedang mencari perusahaan teknologi yang mungkin mendapat manfaat dari kenaikan inflasi, sekaligus tertinggal dari reli pasar yang luas.

Dia percaya saham Amazon.com Inc, yang telah mengikuti pasar dengan kenaikan 8% tahun ini, akan menjadi salah satu "pengejaran perdagangan", yang didukung oleh pertumbuhan e-commerce. “Ini saatnya lebih selektif,” kata Malik.

Selanjutnya: Nilai Cryptocurrency Squid Jatuh Hampir Nol Setelah Sempat Reli, Ada Dugaan Penipuan

 

Bagikan

Berita Terbaru

A$1,6 Triliun Dana Pensiun Australia Siap Guyur RI, Ini Proyek Incaran!
| Rabu, 04 Februari 2026 | 14:59 WIB

A$1,6 Triliun Dana Pensiun Australia Siap Guyur RI, Ini Proyek Incaran!

Misi bisnis Australia lebih konkret, dengan investor institusi A$ 1,6 triliun mencari peluang di Indonesia. Pahami mengapa mereka tertarik.

Hubungan Dagang Australia–Indonesia Menguat, Investasi Energi Hijau Jadi Fokus
| Rabu, 04 Februari 2026 | 14:41 WIB

Hubungan Dagang Australia–Indonesia Menguat, Investasi Energi Hijau Jadi Fokus

Hubungan ekonomi Indonesia-Australia makin solid. Austrade ungkap potensi investasi di energi hijau, SDM, dan hilirisasi. Cek sektor prioritasnya!

Penjualan BBM dan Lahan JIIPE Melesat, Potensi Dividen dari Saham AKRA Menggoda
| Rabu, 04 Februari 2026 | 09:35 WIB

Penjualan BBM dan Lahan JIIPE Melesat, Potensi Dividen dari Saham AKRA Menggoda

Total penjualan lahan industri PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) sepanjang tahun 2025 tembus 84 hektare (ha).

Batas Atas Investasi Asuransi & Dapen di Saham Naik, Penegak Hukum Harus Paham Pasar
| Rabu, 04 Februari 2026 | 09:05 WIB

Batas Atas Investasi Asuransi & Dapen di Saham Naik, Penegak Hukum Harus Paham Pasar

Investasi dapen dan asuransi bisa menjadi buffer namun mereka harus diberikan kepastian hukum agar tak jadi korban di kemudian hari.

Seminggu Terbang 23%, Saham Samator (AGII) Jadi Primadona di Tengah Pasar yang Labil
| Rabu, 04 Februari 2026 | 08:14 WIB

Seminggu Terbang 23%, Saham Samator (AGII) Jadi Primadona di Tengah Pasar yang Labil

Permintaan gas industri mayoritas datang dari pelanggan tetap dengan kontrak jangka menengah hingga panjang.

Fundamental Kuat, Prospek Phapros (PEHA) Masih Sehat
| Rabu, 04 Februari 2026 | 07:42 WIB

Fundamental Kuat, Prospek Phapros (PEHA) Masih Sehat

Prospek PT Phapros Tbk (PEHA) pada 2026 dinilai semakin membaik seiring perbaikan fundamental kinerja dan fokus bisnis ke produk bermargin tinggi.

MSCI Effect Menghantam Saham Konglomerasi, Duo Indofood ICBP dan INDF Justru Menari
| Rabu, 04 Februari 2026 | 07:39 WIB

MSCI Effect Menghantam Saham Konglomerasi, Duo Indofood ICBP dan INDF Justru Menari

Jauh sebelum badai MSCI menghantam IHSG, saham INDF dan ICBP sejatinya sudah berada di fase bearish.

Sinergi Inti Andalan Prima (INET) Menuntaskan Akuisisi Saham PADA
| Rabu, 04 Februari 2026 | 07:37 WIB

Sinergi Inti Andalan Prima (INET) Menuntaskan Akuisisi Saham PADA

PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) telah membeli sekitar 1,68 juta saham PADA di harga Rp 63 per saham.  

Saham EXCL Paling Banyak Dibeli Investor Asing, Vanguard & Dimensional Tambah Muatan
| Rabu, 04 Februari 2026 | 07:10 WIB

Saham EXCL Paling Banyak Dibeli Investor Asing, Vanguard & Dimensional Tambah Muatan

Investor asing tertarik dengan EXCL seiring potensi perbaikan kinerja setelah proses merger dengan Smartfren Telecom selesai.

Kurs Rupiah Menguat 0,26% Lawan Dolar AS, Ada Apa di Baliknya?
| Rabu, 04 Februari 2026 | 06:45 WIB

Kurs Rupiah Menguat 0,26% Lawan Dolar AS, Ada Apa di Baliknya?

Penguatan rupiah didorong oleh membaiknya sentimen risiko (risk-on) di pasar global akibat berita kesepakatan tarif antara AS dengan India.

INDEKS BERITA

Terpopuler