Sentimen Negatif Bagi Batubara, Hari Ini (10/12) Korsel Tutup 10 PLTU

Selasa, 10 Desember 2019 | 08:38 WIB
Sentimen Negatif Bagi Batubara, Hari Ini (10/12) Korsel Tutup 10 PLTU
[ILUSTRASI. Pengolahan batubara asal Sumatera sebelum dikirim ke industri di penimbunan sementara Cilincing, Jakarta Utara (7/2). KONTAN/Muradi/07/02/2012]
Reporter: Tedy Gumilar | Editor: Tedy Gumilar

KONTAN.CO.ID - SEOUL. Sentimen negatif kembali menerpa komoditas batubara seiring keputusan terbaru Pemerintah Korea Selatan (Korsel).

Kementerian Perdagangan, Industri dan Energi Korsel dikutip dari Reuters menyatakan, pada Selasa waktu setempat (10/12) pihaknya telah menutup 10 pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

Keputusan itu diambil sebagai bagian dari kampanye anti-polusi yang ditimbulkan dari penggunaan batubara.

Pada November 2019 lalu, pemerintah Korsel memang telah mengumumkan akan menghentikan operasional 15 pembangkit listrik tenaga batubara pada Desember 2019 hingga Februari 2020.

Baca Juga: Impor Batubara China Anjlok 19% pada November 2019, ini Penyebabnya

Sementara 41 pembangkit listrik tenaga batubara yang tersisa akan beroperasi dengan utilisasi 80%.

Sebelum penghentian operasional PLTU, pembangkit listrik tenaga batubara berkontribusi terhadap 40% dari suplai listrik negeri ginseng.

Sementara pembangkit bertenaga nuklir berkontribusi sekitar 30% dan tenaga gas sekitar 20%.

Menjepit Indonesia

Keputusan Korsel menghentikan operasional 15 PLTU, sedikit banyaknya tentu akan berdampak negatif bagi Indonesia.

Meskipun sejauh ini belum ada data yang dipublikasikan terkait seberapa besar kebutuhan batubara Korsel akan berkurang.

Pasalnya, Indonesia merupakan salah satu pemasok utama batubara untuk Korsel, selain Australia dan Rusia.

Bersama dengan bijih tembaga, karet alam, kayu lapis dan timah, batubara merupakan komoditas ekspor andalan Indonesia ke Korsel.

Baca Juga: Sempat terhenti, deklarasi penyelesaian Indonesia-Korea CEPA ditandatangani

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, pada 2018 nilai perdagangan Indonesia dengan Korea Selatan mencapai US$ 18,62 miliar. 

Khusus total ekspor Indonesia ke Korea Selatan nilainya mencapai sebesar US$ 9,54 miliar.

Indonesia pada 2018 lalu mencetak surplus perdagangan dengan Korsel sebesar US$ 460 juta.

Pada 25 November 2019, Menteri Perdagangan RI Agus Suparmanto dan Menteri Perdagangan Korea Selatan Yoo Myung-Hee menandatangani Deklarasi Bersama Penyelesaian Perundingan Indonesia-Korea Comprehensif Economic Partnership Agreement (IK-CEPA) di Busan, Korea Selatan.

Bukan hanya kucuran investasi dari negeri ginseng yang diharapkan pemerintah RI dari IK-CEPA.

Melainkan juga peluang memperbesar ekspor yang selama ini bersandar pada komoditas, termasuk batubara.

 

Bagikan

Berita Terbaru

Harga Aluminium Terkerek Imbas Konflik Iran Vs Israel-AS, Simak Efeknya ke Indonesia
| Minggu, 08 Maret 2026 | 13:00 WIB

Harga Aluminium Terkerek Imbas Konflik Iran Vs Israel-AS, Simak Efeknya ke Indonesia

Harga aluminium berada di level tertinggi dalam hampir empat tahun terakhir akibat gangguan pasokan dari dua produsen besar.​

Dua Smelter HPAL Selesai, Vale Indonesia (INCO) Siap Geber Produksi
| Minggu, 08 Maret 2026 | 11:42 WIB

Dua Smelter HPAL Selesai, Vale Indonesia (INCO) Siap Geber Produksi

Pabrik di Pomalaa dan Morowali PT Vale Indonesia Tbk (INCO) rencananya selesai di akhir 2026. Dua pabrik pengolahan ini telah dimulai sejak 2022.​

Strategi Manfaatkan Dana THR untuk Investasi
| Minggu, 08 Maret 2026 | 11:29 WIB

Strategi Manfaatkan Dana THR untuk Investasi

Saat pasar saham masih volatil, dana Tunjangan Hari Raya (THR) investor berpotensi dialihkan ke portofolio lain.

Perjanjian Dagang Indonesia-AS dan Dampaknya Terhadap Surplus Neraca Dagang
| Minggu, 08 Maret 2026 | 11:00 WIB

Perjanjian Dagang Indonesia-AS dan Dampaknya Terhadap Surplus Neraca Dagang

Investasi dan perdagangan dari mitra strategis lain seperti China, ke Indonesia terancam turun, terutama di sektor mineral kritis dan teknologi.​

Reksadana Pasar Uang AS Cetak Rekor, Prospek di Indonesia Makin Dilirik
| Minggu, 08 Maret 2026 | 09:00 WIB

Reksadana Pasar Uang AS Cetak Rekor, Prospek di Indonesia Makin Dilirik

Investor AS berbondong-bondong masuk ke reksadana pasar uang yang membuat total aset instrumen ini cetak rekor US$ 8,271 triliun.​

Pemimpin Tertinggi Iran Wafat, Harga Emas Bergejolak, Saham Ini bisa Jadi Pilihan
| Minggu, 08 Maret 2026 | 08:35 WIB

Pemimpin Tertinggi Iran Wafat, Harga Emas Bergejolak, Saham Ini bisa Jadi Pilihan

Harga emas dunia dalam jangka pendek berpeluang menguji level tertinggi yang pernah dicapai sebelumnya, yakni di US$ 5.590 per ons troi.

Portofolio Direktur Allo Bank Ganda Raharja: Untung dari Diversifikasi Portofolio
| Minggu, 08 Maret 2026 | 04:30 WIB

Portofolio Direktur Allo Bank Ganda Raharja: Untung dari Diversifikasi Portofolio

Direktur Allo Bank Ganda Raharja buka-bukaan strategi investasinya. Ia berhasil alokasikan 30% dana di emas digital. Simak cara lengkapnya

Rupiah Melemah, Konflik Global & Rating Indonesia Ancam Ekonomi
| Minggu, 08 Maret 2026 | 04:00 WIB

Rupiah Melemah, Konflik Global & Rating Indonesia Ancam Ekonomi

Rupiah melemah ke Rp16.925/USD Jumat lalu. Konflik global dan rating Fitch jadi pemicu utama. Simak proyeksi dan dampaknya di sini.

Manis Cuan Bisnis Buah dari Timur Tengah
| Minggu, 08 Maret 2026 | 02:55 WIB

Manis Cuan Bisnis Buah dari Timur Tengah

Tingginya minat masyarakat terhadap kurma membuat bisnis buah khas Timur Tengah ini menjanjikan bagi pelaku usaha.

Banyak Dicari, Bisnis Emas Bank Syariah Kian Mendaki
| Minggu, 08 Maret 2026 | 02:50 WIB

Banyak Dicari, Bisnis Emas Bank Syariah Kian Mendaki

Sebagai aset save haven, pamor emas semakin berkilau di tengah panasnya konflik di Timur Tengah seperti saat ini. 

INDEKS BERITA

Terpopuler