Setelah Mengusulkan Perpanjangan Tenor Obligasi, Harga Saham Kaisa Melonjak

Kamis, 25 November 2021 | 15:04 WIB
Setelah Mengusulkan Perpanjangan Tenor Obligasi, Harga Saham Kaisa Melonjak
[ILUSTRASI. Pejalan kaki melintas di bawah papan elektronik yang memperlihatkan indeks Hang Seng, Hong Kong. (Photo by Budrul Chukrut / SOPA Images)]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - HONGKONG. Kaisa Group Holdings Ltd pada Kamis (25/11) mengumumkan rencana memperpanjang tenor obligasi senilai US$ 400 juta hingga satu setengah tahun dari tanggal jatuh tempo semula. Pengembang properti asal China mengambil langkah itu untuk menghindar dari default, sekaligus menyelesaikan krisis likuiditas.

Dalam keterbukaan di bursa, Kaisa mengatakan akan menukarkan obligasi luar negeri dengan kupon 6,5% yang jatuh tempo pada 7 Desember, dengan surat utang baru yang jatuh tempo pada 6 Juni 2023, dengan tingkat bunga yang sama. Pertukaran itu baru terjadi apabila mendapat persetujuan dari 95% pemilik obligasi. 

Di antara perusahaan pengembang China, Kaisa memiliki utang luar negeri terbesar kedua, setelah Evergrande Group. Kaisa melewatkan pembayaran kupon sebesar US$ 88,4 juta yang jatuh tempo pada 11 dan 12 November. Perusahaan itu memiliki masa tenggang hingga 30 hari untuk melakukan pembayaran.

Saham Kaisa, yang kembali diperdagangkan setelah ditangguhkan pada 5 November, menguat 18% pada perdagangan sesi kedua. Investor menyambut positif upaya perusahaan untuk keluar dari tekanan likuiditas.

Baca Juga: Pengembang China Dengan Utang Luar Negeri Terbanyak Kedua, Minta Bantuan Likuiditas

Kaisa menyatakan, semakin sedikitnya sumber pendanaan membatasi kemampuannya untuk memenuhi jatuh tempo yang akan datang.

"Jika penawaran pertukaran dan permintaan persetujuan tidak berhasil diselesaikan, kami mungkin tidak dapat membayar kembali obligasi yang ada, pada saat jatuh tempo 7 Desember. Dan, kami akan mempertimbangkan bentuk restrukturisasi utang yang lain," demikian pernyataan perusahaan itu.

Pengembang China menghadapi tekanan likuiditas yang belum pernah terjadi sebelumnya setelah otoritas mengetatkan aturan pinjaman bagi properti. Regulasi baru yang lebih ketat memicu serangkaian default utang luar negeri, penurunan peringkat kredit dan penjualan saham serta obligasi perusahaan pengembang.

Kaisa bergegas meningkatkan modal, dengan melakukan divestasi aset, termasuk unit manajemen properti yang terdaftar di Hong Kong, Kaisa Prosperity Holdings Ltd.

Baca Juga: Ada Gagal Bayar Lagi, Saham Properti China Terus Berguguran

Baru-baru ini, Kaisa menjual sebidang tanah di Hong Kong ke investor lokal seharga HK$ 3,78 miliar ($484,82 juta). Setelah menggunakan sebagian dari hasil penjualan untuk melunasi utang, Kaisa mengantongi dana tunai HK$1,3 miliar, demikian pemberitaan Reuters, minggu ini. Kaisa juga menjual sebidang tanah lain di kota.

"Memberikan solusi dan kejelasan lebih ke pasar adalah positif. Lagipula, fundamental Kaisa bagus. Jika berhasil mencapai kesepakatan dengan kreditur, ia dapat membayar sedikit demi sedikit untuk melewati krisis ini," kata Kington Lin, direktur pelaksana Departemen Manajemen Aset di Canfield Securities Limited.

Dalam keterbukaan terpisah yang diajukan Rabu malam, Kaisa menyatakan niat mempercepat pelepasan proyek real estat dan aset berkualitas tinggi lainnya untuk meningkatkan likuiditas.

Setelah melewatkan pembayaran untuk produk manajemen kekayaan dalam negeri sebesar 1,5 miliar yuan ($234,80 juta) yang jatuh tempo pada bulan Oktober dan November, Kaisa mengatakan akan menerapkan langkah-langkah untuk melunasi 1,1 miliar yuan dan sedang menegosiasikan sisanya dengan investor.

Pengembang itu juga menyatakan, beberapa unit usahanya tidak memenuhi kewajiban pembayaran di bawah perjanjian keuangan yang melibatkan pinjaman bank dan pinjaman lainnya, dan sedang merumuskan rencana pembayaran secara keseluruhan.

Pengembang asal China lain yang terdesak likuiditas adalah Evergrande. Dengan nilai utang terbesar di dunia, Evergrande berjalan tertatih-tatih dari tenggat waktu ke tenggat waktu lainnya selama beberapa pekan terakhir untuk menuntaskan pelunasan kewajiban bernilai US$ 300 miliar. Evergrande juga harus bernegosiasi dengan kreditur, dan berjibaku mengumpulkan dana.

"Perusahaan ingin mengulur waktu, sedangkan kreditur ingin mengembalikan uangnya. Menerima perpanjangan lebih baik daripada menyebut perusahaan bangkrut dan tidak mendapatkan apa-apa kembali," kata Lin.

Baca Juga: Output industri China naik, penjualan ritel kalahkan ekspetasi

Anak usaha kendaraan listrik (EV) milik Evergrande meningkatkan modal terdaftarnya sebesar 39% menjadi US$ 3,5 miliar, demikian pemberitaan media lokal, Kamis. Evergrande New Energy Vehicle, yang tercatat di bursa Hong Kong, pada pekan lalu mengatakan rencana untuk mengumpulkan dana sekitar US$ 347 juta melalui penempatan saham.

Pesaing Kaisa yang berskala lebih kecil, Fantasia Holdings, pada Rabu  mengatakan telah mencapai kesepakatan dengan pemegang obligasi domestik senilai 1,5 miliar yuan yang jatuh tempo pada tahun 2023. Isi kesepakatan itu, Fantasia akan melunasi bunga sebesar 20% dari kupon yang jatuh tempo pada Kamis, dan membayar sisanya pada setahun kemudian.

Namun, media melaporkan, bahwa usulan perpanjangan untuk obligasi domestik lain yang jatuh tempo pada 2023, dan bernilai 2,5 miliar yuan, gagal disepakati.

Baca Juga: Evergrande Terhindar Lagi dari Default, Bayar Kupon Obligasi di Menit-menit Terakhir

Fantasia telah melewatkan pembayaran obligasi luar negeri senilai US$ 205,7 juta yang jatuh tempo pada 4 Oktober.

Secara terpisah, lembaga pemeringkat Fitch pada Rabu menurunkan peringkat kredit China Aoyuan menjadi "CCC-" dari "B-", yang mencerminkan berkurangnya peluang bahwa perusahaan akan dapat membiayai kembali obligasi luar negeri senilai $688 juta yang jatuh tempo pada Januari 2022.

Aoyuan mengatakan pada hari Senin bahwa pihaknya telah memperpanjang tanggal penebusan sekuritas beragun aset darat senilai 816 juta yuan dan melibatkan Admiralty Harbour Capital Limited dan Linklaters sebagai penasihat untuk menilai struktur modal perusahaan dan berbicara dengan kreditur.

Saham Fantasia datar, sementara Aoyuan dan Evergrande naik tipis masing-masing 2,3% dan 0,7%. Indeks Hang Seng mendatar.

Bagikan

Berita Terbaru

Bangun dari Tidur Panjang, Saham BIPI Melesat 95% di Tengah Isu Akuisisi Bakrie
| Senin, 16 Februari 2026 | 11:15 WIB

Bangun dari Tidur Panjang, Saham BIPI Melesat 95% di Tengah Isu Akuisisi Bakrie

Fundamental  PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) tengah tertekan, bahkan per September 2025 berbalik mengalami kerugian.

Paradoks Bursa Efek Indonesia (BEI): Saham Bagus Sepi, Saham Ramai Dicurigai
| Senin, 16 Februari 2026 | 10:18 WIB

Paradoks Bursa Efek Indonesia (BEI): Saham Bagus Sepi, Saham Ramai Dicurigai

Yang harus diburu, perilaku manipulatif: transaksi semu, cornering, spoofing, atau penyebaran informasi menyesatkan untuk menggerakkan harga.

Banyak Sentimen Positif Menyertai, Saham UNVR Diserbu Investor Asing Institusi
| Senin, 16 Februari 2026 | 10:05 WIB

Banyak Sentimen Positif Menyertai, Saham UNVR Diserbu Investor Asing Institusi

Iming-iming dividen jumbo dengan dividend yield yang menarik jadi daya tarik saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR).

Strategi Cuan di Pekan Pendek Saat Imlek dan Awal Ramadan
| Senin, 16 Februari 2026 | 08:45 WIB

Strategi Cuan di Pekan Pendek Saat Imlek dan Awal Ramadan

Investor disarankan mengatur alokasi aset portofolio pada pekan pendek di tengah sentimen Tahun Baru Imlek dan awal bulan Ramadan 2026. 

Masih Terbebani Biaya Merger, EXCL Rugi Rp 4,43 Triliun
| Senin, 16 Februari 2026 | 08:40 WIB

Masih Terbebani Biaya Merger, EXCL Rugi Rp 4,43 Triliun

Rugi bersih yang dialami EXCL lebih bersifat pada kerugian akuntansi sebagai dampak pasca merger dengan Smartfren.

Produksi Dipangkas, Emiten Jasa Tambang Ikut Terdampak
| Senin, 16 Februari 2026 | 08:38 WIB

Produksi Dipangkas, Emiten Jasa Tambang Ikut Terdampak

Tak hanya bagi produsen, kebijakan pemerintah yang memangkas produksi batubara dan nikel pada 2026 juga memengaruhi emiten jasa pertambangan

ESG Perbankan: Kredit Keberlanjutan Menjadi Pendorong Baru Pertumbuhan
| Senin, 16 Februari 2026 | 07:50 WIB

ESG Perbankan: Kredit Keberlanjutan Menjadi Pendorong Baru Pertumbuhan

Sektor berkelanjutan dan hijau berpotensi menjadi motor pertumbuhan baru kredit bank. Seperti apa laju pertumbuhan kredi

Mengukur Potensi Efisiensi Bank dari Larangan Komisaris Terima Bonus
| Senin, 16 Februari 2026 | 07:15 WIB

Mengukur Potensi Efisiensi Bank dari Larangan Komisaris Terima Bonus

​Bonus jumbo direksi dan komisaris bank BUMN kembali disorot jelang RUPST 2025, di tengah pengetatan tata kelola dan evaluasi skema tantiem.

Bank Pelat Merah Siap Dorong ROA
| Senin, 16 Februari 2026 | 07:00 WIB

Bank Pelat Merah Siap Dorong ROA

Presiden Prabowo Subianto telah meminta Danantara untuk mencetak ROA atau tingkat pengembalian dari aset sebesar 7% tahun ini. ​

Daya Beli Lesu Menyeret Kualitas KPR Perbankan
| Senin, 16 Februari 2026 | 06:50 WIB

Daya Beli Lesu Menyeret Kualitas KPR Perbankan

Bisnis KPR perbankan tengah menghadapi tekanan ganda. Tak hanya dibayangi perlambatan pertumbuhan pada 2025, kualitas asetnya pun tergerus. ​

INDEKS BERITA