Siapa Peduli Efek AI?

Kamis, 16 Juli 2026 | 06:10 WIB
Siapa Peduli Efek AI?
[ILUSTRASI. TAJUK - Hasbi Maulana (KONTAN/Indra Surya)]
Hasbi Maulana | Managing Editor

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gubernur The Fed Michael Barr berdiri di podium konferensi inklusi keuangan di Washington, Amerika Serikat (AS) (14/7) lalu. Ia menyampaikan sesuatu yang jarang keluar dari mulut pejabat bank sentral: peringatan eksplisit tentang akal imitasi (AI).

Bukan soal inflasi. Bukan soal suku bunga. Barr memperingatkan bahwa AI bisa menjadi mesin baru konsentrasi kekayaan, sekaligus menyingkirkan jutaan pekerjaan kelas menengah sambil mempertebal kantong segelintir elite teknologi. Dalam waktu bersamaan, Ketua Fed Kevin Warsh bersaksi di hadapan Kongres. Dua pejabat bank sentral AS dalam satu hari, bicara lantang tentang AI dan masa depan ekonomi kepada para wakil rakyat mereka.

Lalu kita melirik ke sini. Apakah pemerintah Indonesia juga menakar gejala yang sama?

Laporan ILO menyebut sekitar 56% pekerjaan di Indonesia teridentifikasi berisiko tinggi terhadap otomatisasi dalam dua dekade ke depan. Jumlah orang yang putus asa mencari kerja melonjak dari 883.000 pada 2019 menjadi 2,7 juta pada 2024, menurut riset BRIN. Lapangan kerja administrasi menyusut nyata, dan setiap bulan AI menggerogoti lebih banyak fungsi yang selama ini dikerjakan manusia. 

Namun sejauh ini tidak ada satu pun lembaga pemerintah yang secara resmi menerbitkan kalkulasi terbuka: berapa juta pekerjaan yang akan hilang, sektor mana paling rentan, dan dalam rentang waktu berapa tahun.

Yang ada hanyalah kebijakan tambal sulam. Komdigi menyusun draft Perpres AI yang berfokus pada etika dan tata kelola sistem. OJK menerbitkan panduan AI untuk perbankan. Kemnaker menawarkan kerja sama pelatihan vokasi di forum ILO. Kemenko PMK menggelar rapat koordinasi. Semuanya bergerak tapi tidak ada yang berani menyebut angka risiko secara terbuka, tidak ada satuan tugas yang ditugaskan khusus menakar dampak AI terhadap pasar tenaga kerja nasional secara menyeluruh. Negara sibuk mengatur cara memakai AI, tapi lupa menghitung apa dan berapa yang akan menjadi korban oleh gelombang ini.

Bonus demografi Indonesia sedang berjalan. Jendela peluangnya menyempit setiap tahun. Jika pemerintah terus absen dari tugas mendasar menakar risikonya sendiri, bisa dipastikan kelak kita tak akan kekurangan regulasi AI. Yang akan terjadi, kita akan kekurangan jawaban atas pertanyaan: ke mana perginya jutaan pekerja kita?

Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Bursa Karbon Jadi Katalis Baru Emiten Energi Hijau, PGEO dan BREN Paling Berpeluang
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 14:30 WIB

Bursa Karbon Jadi Katalis Baru Emiten Energi Hijau, PGEO dan BREN Paling Berpeluang

Analis mengingatkan perlu berhati-hati agar tidak menganggap seluruh nilai ekonomi dari bursa karbon akan otomatis masuk ke kantong emiten EBT.

JGLE Dilirik Pasar, Volume dan Harga Melejit di Tengah Rencana Rights Issue Rp 414 M
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 14:00 WIB

JGLE Dilirik Pasar, Volume dan Harga Melejit di Tengah Rencana Rights Issue Rp 414 M

Pasar sedang berspekulasi tinggi terhadap JGLE seiring dengan adanya rencana rights issue sambil mengejar tren harga saham yang terbaca uptrend.

Emiten Emas Topang IHSG, BRMS Jadi Pilihan Agresif di Kuartal III-2026?
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 13:30 WIB

Emiten Emas Topang IHSG, BRMS Jadi Pilihan Agresif di Kuartal III-2026?

Menurut analis, BRMS menarik karena ada kombinasi antara harga emas yang tinggi dan potensi peningkatan produksi emas di Poboya secara bertahap.

Harga Timah Diprediksi Normalisasi 2027, Waspadai Peak Earnings TINS di 2026
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 13:00 WIB

Harga Timah Diprediksi Normalisasi 2027, Waspadai Peak Earnings TINS di 2026

Dalam laporannya, Stockbit menyebutkan konsensus Bloomberg memproyeksikan harga timah pada 2027 berada di US$ 44.750 per ton.

BEI Hapus Batas Harga Minimum Rp 50, Apa yang Bakal Terjadi dengan GOTO?
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 12:00 WIB

BEI Hapus Batas Harga Minimum Rp 50, Apa yang Bakal Terjadi dengan GOTO?

Mengingat jumlah pemegang saham GOTO mencapai lebih dari 456 ribu, risiko panic selling begitu nyata ketika batas psikologis Rp 50 hilang.

Harga Saham Tertekan Jadi Alasan BBCA Lebih Sering Bagikan Dividen?
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 11:17 WIB

Harga Saham Tertekan Jadi Alasan BBCA Lebih Sering Bagikan Dividen?

Peningkatan frekuensi dividen BBCA cukup efektif dalam menjaga minat investor, khususnya investor yang mengutamakan pendapatan tunai dari saham.

Fenomena Girl Math, Siasat Agar Dompet Selamat
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 09:20 WIB

Fenomena Girl Math, Siasat Agar Dompet Selamat

Di balik humor girl math di media sosial, pembenaran atas belanja impulsif ternyata bisa berdampak panjang. Simak ulasannya!

SR025 Tawarkan Kupon Pasti 6,8%-6,9%, Instrumen Halal Bebas Risiko?
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 08:00 WIB

SR025 Tawarkan Kupon Pasti 6,8%-6,9%, Instrumen Halal Bebas Risiko?

Sukuk Ritel seri SR025 menawarkan jaminan negara dan imbalan rutin di tengah ketidakpastian pasar. Simak pertimbangan sebelum berinvestasi!

Lautan Luas Mengisi Pundi-Pundi dari Bisnis Solusi Air
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 06:34 WIB

Lautan Luas Mengisi Pundi-Pundi dari Bisnis Solusi Air

Di tengah meningkatnya kebutuhan pengelolaan air yang berkelanjutan, PT Lautan Luas Tbk (LTLS) menawarkan solusi pengola

Berebut Pelanggan di Taksi Segmen Menengah
| Minggu, 23 Agustus 2026 | 06:31 WIB

Berebut Pelanggan di Taksi Segmen Menengah

Persaingan bisnis taksi di layanan segmen menengah kini semakin masif. Siuapa yang dibidik dan seperti apa pasarnya? 

 
INDEKS BERITA

Terpopuler