Tembus Rekor, Kepemilikan Asing di SBN Mencapai Rp 925 Triliun

Senin, 11 Februari 2019 | 05:29 WIB
Tembus Rekor, Kepemilikan Asing di SBN Mencapai Rp 925 Triliun
[]
Reporter: Dimas Andi | Editor: Narita Indrastiti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Memasuki Februari, arus dana asing di pasar surat berharga negara (SBN) masih terus terjadi. Hal ini tidak lepas dari sejumlah sentimen positif dari dalam maupun luar negeri.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, kepemilikan asing di SBN telah mencapai Rp 925,68 triliun hingga Kamis (7/2). Ini adalah rekor kepemilikan asing di SBN.

Artinya, dana investor asing di SBN telah bertambah Rp 15,75 triliun dalam empat hari kerja di Februari. Adapun jika dihitung sejak awal tahun, kepemilikan asing di SBN telah meningkat sebanyak Rp 32,43 triliun.

Research Analyst Capital Asset Managament Desmon Silitonga mengatakan, tingginya pertumbuhan dana asing di SBN pada awal Februari dipengaruhi oleh hasil rapat FOMC di akhir bulan lalu.

Kala itu, The Federal Reserves mengonfirmasi sikapnya yang lebih berhati-hati dalam menerapkan kebijakan suku bunga acuan Amerika Serikat (AS) di tahun ini. Ini dilakukan seiring ancaman perlambatan ekonomi global.

Fixed Income Fund Manager Ashmore Asset Management Indonesia Anil Kumar menambahkan, potensi penurunan suku bunga acuan tak hanya terjadi di AS. Sejumlah bank sentral di negara maju lainnya juga mulai ancang-ancang melakukan hal serupa.

Sentimen ini menjadikan instrumen obligasi sebagai tempat parkir dana yang aman bagi para investor global. Lantas, para investor global mulai melirik negara emerging market yang masih menawarkan yield obligasi tinggi sebagai tujuan investasi. Salah satu negara yang menjadi favorit saat ini adalah Indonesia, ujar Anil.

Keunggulan Indonesia terletak pada selisih yield surat utang negara (SUN) dengan US Treasury yang cukup lebar. Di mana, yield SUN tenor 10 tahun kini di level 7,84% sedangkan yield US Treasury tenor serupa di 2,63%.

Keyakinan investor asing masuk ke pasar SBN makin tinggi setelah ekonomi Indonesia berhasil tumbuh 5,17% di tahun lalu. Ini membuat tren penguatan kurs rupiah terus berlangsung. Akhirnya investor asing tak lagi khawatir dengan risiko kerugian kurs, imbuh Desmon.

Hal tersebut membuat investor asing yang masuk ke pasar SBN tak hanya terkonsentrasi di seri-seri tenor pendek saja. Kini, investor asing juga memburu SUN seri tenor menengah hingga panjang.

Batu sandungan

Bahkan, agenda pemilihan umum serentak di April diyakini tidak akan berpengaruh signifikan terhadap sikap investor asing terhadap pasar SBN Indonesia. Lebih lanjut, Anil melihat investor asing akan tetap masuk meski Bank Indonesia benar-benar menurunkan suku bunga acuan.

Sebab, sejauh ini kenaikan suku bunga acuan yang dilakukan BI didorong oleh sentimen di pasar keuangan, bukan karena kenaikan inflasi dalam negeri. Investor asing memandang Indonesia akan baik-baik saja meski suku bunga acuan turun, lanjut dia.

Tapi data neraca transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) Indonesia yang belum memuaskan bisa berdampak negatif. CAD Indonesia mencapai US$ 9,1 miliar atau 3,57% dari produk domestik bruto (PDB) di kuartal IV lalu. Ini membuat CAD pada sepanjang 2018 mencapai US$ 31,1 miliar, setara dengan 2,98% dari PDB.

Bagikan

Berita Terkait

Berita Terbaru

Setoran Bea Keluar Emas Masih Minim
| Jumat, 14 Agustus 2026 | 09:40 WIB

Setoran Bea Keluar Emas Masih Minim

Sejak Desember 2025, pemerintah mulai mengenakan bea keluar atas sejumlah produk emas ekspor        

Pergerakan Saham Grup Barito Dipengaruhi Sentimen Fundamental dan MSCI
| Jumat, 14 Agustus 2026 | 09:38 WIB

Pergerakan Saham Grup Barito Dipengaruhi Sentimen Fundamental dan MSCI

Pergerakan saham Grup Barito tidak semata-mata technical rebound, melainkan kombinasi dari rebalancing MSCI, aksi korporasi, akumulasi investor.

Kendati Status Desil Tinggi, Belum Tentu Kaya
| Jumat, 14 Agustus 2026 | 09:33 WIB

Kendati Status Desil Tinggi, Belum Tentu Kaya

Pengelompokan desil dinilai kurang tepat untuk menentukan kelas ekonomi masyarakat                  

Menguji Ambisi Ekonomi Pemerintah Tahun Depan
| Jumat, 14 Agustus 2026 | 09:21 WIB

Menguji Ambisi Ekonomi Pemerintah Tahun Depan

Ruang fiskal yang kian terbatas membuat pemerintah harus berhati-hati menjaga keseimbangan antara ambisi belanja, target pertumbuhan, dan utang

PBSA Berencana Melakukan Stock Split dengan Rasio 1:2
| Jumat, 14 Agustus 2026 | 08:08 WIB

PBSA Berencana Melakukan Stock Split dengan Rasio 1:2

PT Paramita Bangun Sarana Tbk (PBSA) berencana melakukan pemecahan saham alias stock split dengan rasio 1:2.

Dapat Restu RUPSLB, BRNA Siap Menggelar Rights Issue
| Jumat, 14 Agustus 2026 | 08:04 WIB

Dapat Restu RUPSLB, BRNA Siap Menggelar Rights Issue

Harga pelaksanaan rights issue BRNA Rp 685 per saham. Dus, dari rights issue, BRNA berpotensi meraup dana maksimal sekitar Rp 372,6 miliar. 

Permintaan Ayam Menguat, Laba Emiten Unggas Masih Bisa Ngegas
| Jumat, 14 Agustus 2026 | 07:58 WIB

Permintaan Ayam Menguat, Laba Emiten Unggas Masih Bisa Ngegas

Kuatnya permintaan pada kuartal IV-2026 jadi katalis positif kinerja keuangan emiten unggas di sisa tahun ini.

Energi Mega Persada (ENRG) Genjot Kinerja Melalui Pengembangan Aset dan Akuisisi
| Jumat, 14 Agustus 2026 | 07:50 WIB

Energi Mega Persada (ENRG) Genjot Kinerja Melalui Pengembangan Aset dan Akuisisi

PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) menyiapkan ekspansi produksi migas secara organik melalui pengeboran lebih dari 120 sumur.​

Dibayangi Sentimen MSCI dan Nota Keuangan, IHSG Bergerak Terbatas
| Jumat, 14 Agustus 2026 | 07:41 WIB

Dibayangi Sentimen MSCI dan Nota Keuangan, IHSG Bergerak Terbatas

Selain sentimen MSCI, pelaku pasar juga menunggu pidato kenegaraan Presiden Prabowo Subianto mengenai RAPBN 2027 Jumat, (14/8)

Keputusan MSCI Bikin Bursa Indonesia Semakin Sepi
| Jumat, 14 Agustus 2026 | 07:41 WIB

Keputusan MSCI Bikin Bursa Indonesia Semakin Sepi

MSCI mendepak 10 saham asal Indonesia dari daftar konstituennya. Dengan begitu, MSCI tetap melakukan pembekuan alias freeze pasar saham nasional.

INDEKS BERITA

Terpopuler