Tren Aksi Korporasi Asia Tenggara lebih Selektif di 2025, Regulasi Jadi Penyebabnya
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tren merger dan akuisisi yang terjadi di Kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia mencerminkan perubahan ke arah yang lebih selektif. Aksi korporasi yang berskala lebih kecil lebih banyak dilakukan di sepanjang 2025. Namun ini agak berbeda dengan fenomena global yang terlihat lebih aktif dan optimistis.
Temuan itu disampaikan oleh EY dalam laporan terbarunya “Southeast Asia Financial Services Saw Higher Deal Volume but Lower Values in 2025 as Indonesia Turns More Selective”. Dalam laporannya aktivitas merger dan akuisisi khusus di Asia Tenggara (ASEAN) tercatat 58 transaksi sektor jasa keuangan yang diumumkan secara publik sepanjang 2025, meningkat dari sebelumnya 48 transaksi pada 2024.
Namun, nilai total transaksi di kawasan ini menurun, dari US$ 4,2 miliar pada 2024 menjadi US$ 2,1 miliar pada 2025.
Jika menilik lebih jauh ke aktivitas merger dan akuisisi per sektor di pasar keuangannya di Asia Tenggara, transaksi sektor perbankan meningkat dari 32 transaksi pada 2024 menjadi 35 transaksi pada 2025.
Baca Juga: Merger dan Akuisisi Diprediksi Menguat Tahun Ini
Namun, nilai total transaksi yang diungkapkan menurun, dari US$ 2,3 miliar pada 2024 menjadi US$ 1,2 miliar pada 2025. Transaksi sektor asuransi turun dari 12 transaksi pada 2024 menjadi 11 transaksi pada 2025, seiring penurunan nilai transaksi dari US$ 1,6 miliar menjadi US$ 0,8 miliar.
Transaksi sektor pengelolaan kekayaan dan aset meningkat signifikan dari 4 transaksi pada 2024 menjadi 12 transaksi pada 2025. Meski demikian, nilai total transaksi turun, dari US$ 0,3 miliar pada 2024 menjadi US$ 28 juta pada 2025.
Jumlah perusahaan non–Asia Tenggara yang mengakuisisi target di kawasan Asia Tenggara menurun cukup signifikan, dari 31 transaksi pada 2024 menjadi 24 transaksi pada 2025, dengan nilai total transaksi yang diungkapkan juga turun tajam dari US$ 4,2 miliar pada 2024 menjadi hanya US$ 0,7 miliar pada 2025.
Di sisi lain, jumlah perusahaan Asia Tenggara yang mengakuisisi target di luar negeri juga mengalami penurunan, dari 16 transaksi pada 2024 menjadi 10 transaksi pada 2025, dengan nilai total transaksinya merosot dari US$ 1,1 miliar pada 2024 menjadi hanya US$ 0,1 miliar pada 2025.
EY Asean Financial Services Leader, Sumit Narayanan menjelaskan meski volume transaksi meningkat secara tahunan, nilai total transaksi di Asia Tenggara justru mengalami penurunan. Hal ini mengindikasikan pergeseran strategi menuju akuisisi berskala lebih kecil dan investasi minoritas, alih-alih transaksi besar yang bersifat transformatif.
Baca Juga: 2025, Kesepakatan Merger Akuisisi Sektor Keuangan Indonesia Capai Rp 9,21 triliun
“Tingginya biaya pendanaan serta kesenjangan valuasi antara pembeli dan penjual membuat realisasi transaksi skala besar menjadi lebih menantang,” ujarnya dalam laporan yang disampaikan kepada KONTAN, Selasa (28/4/2026).
Di sisi lain, pengawasan regulasi dan permodalan yang semakin ketat juga mendorong perusahaan lebih berhati-hati.
Seiring itu, banyak perusahaan kini memfokuskan investasi pada upaya penguatan kapabilitas, khususnya di bidang layanan digital, solusi pembayaran, dan pengelolaan kekayaan. Tren ini mencerminkan penerapan strategi pertumbuhan yang lebih disiplin dan berbasis penyesuaian risiko, di tengah ketidakpastian makroekonomi dan geopolitik.
Di Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus melanjutkan strategi untuk menciptakan struktur pasar yang lebih efisien, dengan jumlah pelaku yang lebih sedikit namun berdaya tahan finansial lebih kuat.
Pendekatan ini mendorong terbentuknya lingkungan investasi yang lebih selektif. Investor memprioritaskan peluang-peluang terarah pada pelaku usaha yang lebih kecil dan terspesialisasi, serta semakin berfokus pada sektor pertumbuhan berbasis digital seperti perbankan digital, sistem pembayaran, dan teknologi finansial.
Baca Juga: Nilai Kesepakatan Merger dan Akuisisi di Indonesia Merosot 72,1% di 2025
EY-Parthenon Indonesia Strategy and Transactions Partner, Reuben Tirtawidjaja mengungkapkan investor kini semakin selektif, dengan lebih sering memilih pelaku usaha yang lebih kecil dan terspesialisasi dibandingkan transaksi berskala besar yang bersifat menyeluruh, terutama saat mengevaluasi peluang investasi ekuitas.
Dari perspektif regulator, pendekatan ini diperkirakan akan mempercepat konsolidasi industri.
Pada saat yang sama, pelaku utama industri juga semakin memilih akuisisi portofolio pinjaman atau aset dibandingkan pengambilalihan ekuitas secara penuh, khususnya jika suatu transaksi tidak membutuhkan izin, infrastruktur, teknologi, atau jaringan distribusi yang umumnya melekat pada investasi ekuitas.
Meski banyak investor masih bersikap hati-hati terhadap Indonesia, posisi Indonesia sebagai pasar terbesar di kawasan, dengan ruang pertumbuhan yang masih sangat luas, tetap dinilai menarik.
“Oleh karena itu, investor tetap memfokuskan strategi untuk memperkuat kehadiran mereka, sekaligus secara aktif mencari peluang saat aset yang tepat tersedia,” ujarnya.
Pertumbuhan sektor jasa keuangan Indonesia masih sangat bertumpu pada perbankan digital, sistem pembayaran, dan inovasi teknologi finansial. Segmen-segmen itu mencerminkan pesatnya perkembangan ekonomi digital nasional serta minat investor untuk memperoleh kapabilitas digital baru, bukan semata-mata melalui akuisisi tradisional yang berbasis neraca keuangan.
Sejatinya kondisi yang terjadi di Asia Tenggara ini agak berbeda dengan fenomena yang berlangsung di global. EY Global Financial Services Leader, Omar Ali mengatakan meski kondisi pasar masih menjadi tantangan bagi aktivitas transaksi di sektor jasa keuangan global, situasi tersebut tidak menghambat minat investor.
Jumlah transaksi di global hanya naik tipis dibandingkan tahun sebelumnya, namun nilai total transaksi melonjak hingga 49%. Transaksi bernilai di atas US$ 1 miliar meningkat lebih dari 70%, sementara seluruh wilayah dunia mencatatkan pertumbuhan nilai transaksi.
Sepanjang 2025, lebih dari 2.000 transaksi jasa keuangan diumumkan secara global, termasuk 93 transaksi berskala mega. Data ini menunjukkan bahwa pertumbuhan, ekspansi skala, dan inovasi menjadi prioritas utama.
“Perusahaan juga semakin percaya diri mengakuisisi aset berkualitas tinggi dengan valuasi premium demi memperkuat posisi kompetitif mereka,” terangnya dalam laporan tersebut.
