Tumbuh Lebih Lambat, Data Ekspor Impor China Isyaratkan Prospek Global yang Suram

Sabtu, 07 Agustus 2021 | 21:15 WIB
Tumbuh Lebih Lambat, Data Ekspor Impor China Isyaratkan Prospek Global yang Suram
[ILUSTRASI. Kontainer disusun menunggu untuk dikirim oleh kapal kargo di sebuah pelabuhan di kota Wuhan, ibukota provinsi Hubei, China, Kamis (30/4/2020). China Images via Reuters]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - BEIJING. Realisasi ekspor impor China untuk Juli memunculkan sinyal ekonomi dunia tertekan gelombang baru infeksi Covid-19. Pertumbuhan ekspor China secara tak terduga melambat, sementara impor kehilangan momentum, menunjukkan perlambatan yang menghinggapi sektor industri di negara itu pada paruh kedua.

Sebagai eksportir terbesar dunia, China mengalami pemulihan ekonomi yang mengesankan di tahun ini. Negeri itu mampu bergerak lebih cepat dibanding ekonomi maju lainnya, setelah mengatasi pandemi, dan menggulirkan program vaksinasi.

Namun penyebaran varian Delta, yang lebih menular, memicu gelombang infeksi baru ke puluhan kota di China pada bulan Juli lalu. Situasi ini mendorong pemerintah setempat untuk melakukan penguncian di komunitas yang terkena dampak, memerintahkan jutaan orang untuk diuji dan untuk sementara menangguhkan operasi beberapa bisnis, termasuk pabrik.

Baca Juga: Di tengah pandemi, permintaan ekspor edamame dan porang tinggi

Banjir musiman dan cuaca buruk bulan lalu juga mempengaruhi produksi industri di beberapa daerah seperti China tengah.

Ekspor China di bulan Juli naik 19,3% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Angka itu lebih rendah dibanding kenaikan 32,2% year-on-year di bulan Juni. Hasil tersebut juga di bawah proyeksi para analis yang diwawancara Reuters, yaitu 20,8%.

“Ekspor China tetap kuat pada Juni. Pandemi memburuk di negara-negara berkembang Asia lainnya, yang mungkin menyebabkan relokasi perdagangan ke China. Tetapi indikator utama menunjukkan ekspor mungkin melemah dalam beberapa bulan mendatang,” kata Zhiwei Zhang, kepala ekonom di Pinpoint Asset Managemet.

Baca Juga: Varian baru Covid-19 merajalela, ekspor impor China melambat di bulan lalu

Wabah kasus Covid-19 di kawasan timur dan selatan China, yang merupakan sentra ekspor utama negara itu, telah mengurangi produksi pabrik.

Selain hambatan dari upaya untuk melawan penyebaran varian Delta, eksportir China juga berjuang dengan kekurangan pasokan semikonduktor, kemacetan logistik, serta kenaikan biaya bahan baku dan pengiriman.

“Meskipun pesanan pulih, ada terlalu banyak ketidakpastian di paruh kedua tahun ini, seperti bagaimana epidemi domestik berkembang dan biaya bahan baku. Dan pada saat yang sama, kapasitas produksi asing perlahan meningkat,” kata Ye, manajer penjualan ekspor di sebuah perusahaan di Suzhou.

Impor China pada Juli naik 28,1% dibanding periode yang sama di tahun sebelumnya. Namun angka itu lebih rendah daripada jajak pendapat Reuters, yaitu 33%, dan pertumbuhan di bulan sebelumnya yang mencapai 36,7%. Permintaan telah turun dalam beberapa bulan terakhir untuk bijih besi, bahan utama dalam pembuatan baja.

Aktivitas pabrik China berkembang pada kecepatan yang lebih lambat pada bulan Juli karena biaya bahan baku yang lebih tinggi, pemeliharaan peralatan dan cuaca ekstrim.

Pengiriman China yang lebih lambat juga mencerminkan moderasi dalam bisnis AS pada bulan Juli di tengah kendala pasokan, menunjukkan pendinginan di ekonomi terbesar dunia setelah apa yang diharapkan menjadi kuartal kedua yang kuat.

Baca Juga: Startup China mati kutu dengan aturan IPO ketat bursa Hong Kong

China mencatat surplus perdagangan sebesar $56,58 miliar pada bulan Juli, dibandingkan dengan perkiraan jajak pendapat, yaitu $51,54 miliar. Sedangkan surplus yang tercatat pada Juni sebesar $51,53 miliar.

Surplus perdagangannya dengan Amerika Serikat naik menjadi $35,4 miliar, perhitungan Reuters berdasarkan data bea cukai menunjukkan, naik dari $32,58 miliar pada bulan Juni.

Ekonomi berada di jalur untuk tumbuh lebih dari 8% tahun ini tetapi analis mengatakan permintaan virus corona yang terpendam telah memuncak dan memperkirakan bahwa tingkat pertumbuhan mulai moderat.

Selanjutnya: Pasar Cemaskan Varian Delta, Minyak Mentah Cetak Penurunan Mingguan Terbesar

 

Bagikan

Berita Terbaru

Calon Investor Masih Belum Terlihat, BPKH Belum Lepas Muamalat
| Rabu, 11 Februari 2026 | 20:53 WIB

Calon Investor Masih Belum Terlihat, BPKH Belum Lepas Muamalat

BPKH belum juga lepas Muamalat, kepemilikan saham masih di atas batas OJK. Aturan ketat menanti, bagaimana nasib Bank Muamalat ke depan?

Tidak Ada Temuan Besar Emas di 2023-2024, Dukung Harga Emas Jangka Panjang
| Rabu, 11 Februari 2026 | 15:13 WIB

Tidak Ada Temuan Besar Emas di 2023-2024, Dukung Harga Emas Jangka Panjang

Tidak adanya penemuan besar emas selama dua tahun berturut-turut, yakni 2023-2024 diyakini akan mendukung harga emas ke depannya.

Volatilitas Bitcoin Turun Terhadap Emas, Mampu Jadi Aset Lindung Nilai?
| Rabu, 11 Februari 2026 | 14:00 WIB

Volatilitas Bitcoin Turun Terhadap Emas, Mampu Jadi Aset Lindung Nilai?

JPMorgan menyatakan bahwa bitcoin kini terlihat lebih menarik dibanding emas, jika dilihat dari sisi volatilitas yang disesuaikan dengan risiko.

Diam-Diam Kinerja Saham NISP Lebih Moncer dari Emiten Bank Lainnya
| Rabu, 11 Februari 2026 | 13:25 WIB

Diam-Diam Kinerja Saham NISP Lebih Moncer dari Emiten Bank Lainnya

Kekuatan inti PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP) adalah laba yang tumbuh di sepanjang 2025, loan deposit ratio (LDR) di level 70,4% dan CAR 24,5%.

Prospek Cemerlang Emiten Aguan (PANI) Pasca Capaian Marketing Sales yang Sukses
| Rabu, 11 Februari 2026 | 13:00 WIB

Prospek Cemerlang Emiten Aguan (PANI) Pasca Capaian Marketing Sales yang Sukses

BRI Danareksa Sekuritas menilai bahwa preferensi pasar terhadap PIK2 relatif berkelanjutan karena segmen yang disasar didominasi kelas atas.

Transformasi Bisnis Non Batubara Bikin Saham IndIka Energy (INDY) Semakin Membara
| Rabu, 11 Februari 2026 | 11:00 WIB

Transformasi Bisnis Non Batubara Bikin Saham IndIka Energy (INDY) Semakin Membara

Tak hanya kendaraan listrik, Indika Energy (INDY) juga tengah melakukan proyek konstruksi tambang emas Awak Mas di Sulawesi Selatan.

Potensi Penguatan Penjualan Jelang Lebaran
| Rabu, 11 Februari 2026 | 09:17 WIB

Potensi Penguatan Penjualan Jelang Lebaran

 Indeks Penjualan Riil (IPR) Januari 2026 diperkirakan sebesar 228,3, lebih rendah dari Desember 2025 

Bidik Pertumbuhan Ekonomi 5,6% di Kuartal I-2026
| Rabu, 11 Februari 2026 | 09:01 WIB

Bidik Pertumbuhan Ekonomi 5,6% di Kuartal I-2026

Pertumbuhan ekonomi tiga bulan pertama tahun ini akan didorong percepatan belanja dan stimulus pemerintah

Saham Kalbe Farma (KLBF) Terkoreksi di Tengah Aksi Beli Asing dan Program Buyback
| Rabu, 11 Februari 2026 | 09:00 WIB

Saham Kalbe Farma (KLBF) Terkoreksi di Tengah Aksi Beli Asing dan Program Buyback

Lima sekuritas kompak merekomendasikan beli saham PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) pada awal Februari 2026 di tengah penurunan harga yang masih terjadi.

Sederet Batu Sandungan Mengerek Tax Ratio 12%
| Rabu, 11 Februari 2026 | 08:50 WIB

Sederet Batu Sandungan Mengerek Tax Ratio 12%

Untuk mencapai rasio pajak 2026, pemerintah harus tambah Rp 139 triliun dari realisasi 2025         

INDEKS BERITA

Terpopuler