Untuk Stabilkan Harga di Negaranya, Fed Janji Akan Lakukan Apa Pun yang Dibutuhkan

Sabtu, 18 Juni 2022 | 10:54 WIB
Untuk Stabilkan Harga di Negaranya, Fed Janji Akan Lakukan Apa Pun yang Dibutuhkan
[ILUSTRASI. Seorang pria memperhatikan indeks saham dan informasi pasar lainnya di papan informasi di Tokyo, Jepang, 21 Juni 2021. REUTERS/Kim Kyung-Hoon/File Photo]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - NEW YORK.Tren pengetatan moneter di Amerika Serikat tidak akan mereda dalam waktu dekat. Tak lama setelah menaikkan bunga hingga rekor terbesar selama lebih dari 25 tahun, Federal Reserve (Fed) memberi isyarat akan melanjutkan perjuangan untuk menghambat laju inflasi. Dalam pernyataan yang dirilisnya pada Jumat, Fed menyebut peningkatan risiko resesi tidak akan menghentikan perjuangannya untuk menurunkan inflasi di AS.

"Komite memegang komitmen tidak bersyarat untuk memulihkan stabilitas harga, yang diperlukan untuk mempertahankan pasar tenaga kerja yang kuat," demikian penuturan Fed dalam laporan kebijakan moneter per semester ke Kongres. Komite yang dimaksud adalah Federal Open Market Committee, unit Fed yang menetapkan bunga acuan.

"Kami menyerang inflasi dan kami akan melakukan semua yang kami bisa untuk mengembalikannya ke tingkat yang lebih normal, yang menurut kami adalah 2%," kata Presiden Fed Atlanta Raphael Bostic dalam program Marketplace di stasiun American Public Media. "Kami akan melakukan apa pun untuk mewujudkannya."

Tiga minggu lalu, Bostic memperingatkan kenaikan suku bunga yang terlalu cepat. Ia mengatakan Fed mungkin perlu menghentikan pengetatan pada September untuk menilai ekonomi. Pada hari Jumat dia mengatakan mendukung kenaikan suku bunga yang besar dan kuat minggu ini, dan kebijakan itu perlu "lebih berotot."

Baca Juga: Urai Kemacetan di Pelabuhan Negaranya, Presiden Biden Teken UU Pengiriman Laut

Inflasi, yang diukur dengan Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi, berjalan lebih dari tiga kali lipat dari target 2% Fed. Bank sentral pada hari Rabu menaikkan kisaran suku bunga kebijakannya sebesar 75 basis poin menjadi 1,50% -1,75%. Perkiraan yang dipublikasikan Fed menunjukkan sebagian besar pembuat kebijakan mendukung peningkatan biaya pinjaman lebih lanjut di tahun ini menjadi mungkin 3,4%, dan lebih tinggi lagi pada 2023.

Para ekonom mengatakan kenaikan tajam seperti itu dapat memicu resesi.

Penggunaan kata "tanpa syarat" dalam laporan tersebut dan penggunaan frasa "apa pun yang diperlukan" oleh Bostic, menunjukkan bahwa para pejabat di bank sentral bersedia mengambil risiko ekonomi melesu untuk menghindari inflasi yang tidak terkendali.

"Kami bersama rakyat Amerika, dan berusaha memastikan bahwa rasa sakit yang dialami, dan ketidaknyamanan, berlangsung sesingkat mungkin," kata Bostic.

Baca Juga: Ketua WTO Desak Negara Anggota Terima Rancangan Kesepakatan Yang "Tidak Terbayangkan"

Ketua Fed Jerome Powell akan memberi tahu anggota Kongres AS minggu depan tentang rencana Fed untuk memerangi laju inflasi yang telah mencapai tingkat tertinggi selama 40 tahun. Upaya itu akan lebih sulit karena harus dilakukan bersama dengan agenda mencetak lapangan kerja. 

Kritikus mengatakan Fed bertindak terlambat dalam menangani inflasi. Investor dibuat bingung: Di Wall Street, indeks acuan S&P 500 turun 5,79% minggu ini, penurunan mingguan terbesar sejak Maret 2020.

Berbicara di Barcelona pada hari Jumat, Presiden Fed St. Louis James Bullard mengatakan dia yakin baik The Fed dan Bank Sentral Eropa "memiliki kredibilitas yang cukup besar, menunjukkan bahwa soft landing layak dilakukan" di kedua benua.

Dia mengatakan bahwa berbeda dari tahun 1980-an ketika perjuangan Fed melawan inflasi yang tinggi di bawah mantan Ketua Fed Paul Volcker memicu dua resesi.

"Disinflasi Volcker mahal, tapi awalnya tidak kredibel - Volcker harus mendapatkan kredibilitas," kata Bullard.

Presiden Fed Minneapolis Neel Kashkari, dalam sebuah esai yang diterbitkan di situs web bank regional Jumat, mengatakan dia mendukung keputusan suku bunga minggu ini. Kaskhari juga mendukung kenaikan berukuran serupa di bulan Juli. Namun dia menambahkan The Fed harus "berhati-hati".

"Strategi yang bijaksana mungkin, setelah pertemuan Juli, hanya melanjutkan dengan kenaikan 50 basis poin sampai inflasi turun dengan baik ke 2 persen," kata Kashkari.

Powell minggu ini mengatakan pembuat kebijakan pada bulan Juli kemungkinan akan memilih antara kenaikan suku bunga setengah poin atau 75 basis poin lagi.

Instrumen derivatif yang berkaitan dengan suku bunga kebijakan Fed untuk akhir tahun berada di kisaran 3,5%-3,75%. Itu setara dengan peningkatan rata-rata 50 basis poin pada setiap empat pertemuan tersisa tahun ini.

Banyak faktor pendorong inflasi berada di luar kendali The Fed, seperti rantai pasokan global yang rusak dan invasi Rusia ke Ukraina yang telah mendorong harga pangan dan energi.

Baca Juga: Yen Melemah, Jepang Cetak Defisit Perdagangan Terbesar Sejak 2014

Pasar tenaga kerja AS tetap kuat, dengan tingkat pengangguran sebesar 3,6%. Pembuat kebijakan Fed pada hari Rabu memproyeksikan pengangguran naik menjadi 4,1% pada tahun 2024, karena pertumbuhan melambat menjadi 1,9% dan inflasi turun menjadi 2,2%, sebuah skenario yang menurut Powell akan sulit dicapai tetapi merupakan pendaratan "lunak".

Pada hari Jumat The Fed New York menerbitkan hasil dari model ekonomi yang menunjukkan kemungkinan hard landing. Istilah itu merujuk ke seperempat dari 10 berikutnya di mana PDB menyusut setidaknya 1%, memiliki kemungkinan sekitar 80%.

Presiden Fed Kansas City Esther George, yang tidak setuju dalam keputusan kebijakan minggu ini, mengatakan pada hari Jumat bahwa dia berpikir langkah yang lebih besar menambah ketidakpastian kebijakan karena The Fed juga mulai menyusutkan neraca besar-besarannya. Namun, dia mengatakan dia berbagi "komitmen kuat untuk menurunkan inflasi untuk mencapai mandat kami untuk stabilitas harga jangka panjang."

Bagikan

Berita Terbaru

Di Balik Rencana Arsari Kibarkan Bisnis Digital
| Minggu, 18 Januari 2026 | 12:51 WIB

Di Balik Rencana Arsari Kibarkan Bisnis Digital

Saat ekonomi global sarat tantangan, Arsari Group justru tancap gas untuk membangun bisnis infrastruktur digital.

 
Peta Baru Bisnis Teh usai Peracik Sariwangi Berganti
| Minggu, 18 Januari 2026 | 12:48 WIB

Peta Baru Bisnis Teh usai Peracik Sariwangi Berganti

Pergantian kepemilikan merek teh Sariwangi akan menandai babak baru industri teh Indonesia, di tengah ketatnya persaingan.

 
Peluang Cuan Padel: Pengusaha Raup Untung dari Jasa Sewa Raket Premium
| Minggu, 18 Januari 2026 | 12:44 WIB

Peluang Cuan Padel: Pengusaha Raup Untung dari Jasa Sewa Raket Premium

Olahraga padel tak hanya bikin sehat dan bikin dompet tebal. Setelah ramai sewa lapangan padel, kini ramai jasa penyewa.

Luka Etika Demokrasi
| Minggu, 18 Januari 2026 | 12:42 WIB

Luka Etika Demokrasi

Ingatan kolektif masyarakat Indonesia pendek dan kerap bekerja selektif. Peristiwa besar yang sempat mengguncang ruang publik perlahan pudar.

Utang Luar Negeri Dalam Tren Menurun
| Minggu, 18 Januari 2026 | 10:00 WIB

Utang Luar Negeri Dalam Tren Menurun

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), per akhir November 2025, ULN sebesar US$ 424,9 miliar, turun berturut-turut sejak Juni 2025.

Investasi Asing Tertahan, Domestik Jadi Bantalan
| Minggu, 18 Januari 2026 | 09:00 WIB

Investasi Asing Tertahan, Domestik Jadi Bantalan

Realisasi investasi sepanjang tahun 2025 mencapai Rp 1.931,2 triliun, atau tumbuh 12,7% secara tahunan.

Punya Cuan Menarik, Investasi Jam Tangan Mewah Masih Diminati
| Minggu, 18 Januari 2026 | 06:17 WIB

Punya Cuan Menarik, Investasi Jam Tangan Mewah Masih Diminati

Minat untuk mengoleksi hingga investasi menjaga permintaan atas investasi jam tangan mewah di Indonesia

CYBR Akan Memperluas Jangkauan Pasar Keamanan Siber
| Minggu, 18 Januari 2026 | 06:13 WIB

CYBR Akan Memperluas Jangkauan Pasar Keamanan Siber

PT ITSEC Asia Tbk (CYBR) membidik pendapatan lebih kuat dengan memperluas jangkauan ke berbagai negara

Prospek Bank Digital 2026: Kredit Diproyeksi tumbuh 11%, Sementara Laba Naik 5%
| Minggu, 18 Januari 2026 | 06:04 WIB

Prospek Bank Digital 2026: Kredit Diproyeksi tumbuh 11%, Sementara Laba Naik 5%

Sejumlah emiten bank digital mulai mencatatkan kenaikan harga disertai peningkatan volume transaksi, menandakan adanya akumulasi jangka pendek.

Halo Jane (HALO) Bidik Pertumbuhan Dobel Digit
| Sabtu, 17 Januari 2026 | 14:10 WIB

Halo Jane (HALO) Bidik Pertumbuhan Dobel Digit

Manajemen HALO menjalankan strategi efisiensi biaya secara berkelanjutan, khususnya pada cost of production

INDEKS BERITA

Terpopuler