Wake Up Call: Efek Break-Even di Pasar Saham

Senin, 05 September 2022 | 07:15 WIB
Wake Up Call: Efek Break-Even di Pasar Saham
[]
Hans Kwee | Direktur Ekuator Swarna Investama, Dosen Magister Universitas Atma Jaya dan Universitas Trisakti

KONTAN.CO.ID - Break-even effect merupakan salah satu bias prilaku keuangan yang dialami investor individual. Bias ini bisa dianggap sebagai kelanjutan efek disposisi.

Kecenderungan investor individual menahan saham rugi lebih lama dibanding menahan saham untung telah membuka kesempatan pembelian tambahan saham rugi lebih besar, dibanding pembelian tambahan saham untung. Tujuan pembelian tambahan saham rugi ini untuk menurunkan average price atau level break-even. Efek break-even jadi salah satu penyebab investor individual merugi ketika bertansaksi di pasar saham.

Thaler dan Johnson (1990) mengatakan, ketika investor merugi pada sebuah transaksi atau saham, kemungkinan dapat keluar dari posisi tersebut tanpa mengalami kerugian menjadi sebuah ide yang sangat menarik.

Investor individual terjebak dengan melakukan pembingkaian (framing) bahwa pembelian tambahan saham yang merugi itu adalah keputusan yang baik. Harganya juga lebih murah dari harga pembelian awal dan menurunkan harga pembelian rata-rata.

Sebenarnya, membeli tambahan saham rugi adalah keputusan yang tidak tepat, kerena mengalokasikan sumber daya pada investasi rugi. Bayangkan, kita memiliki bisnis pakaian yang menjual tiga baju, yakni merah, biru dan kuning. Ternyata baju merah sangat laku dan diminati konsumen, sedangkan baju kuning penjualannya biasa saja. Di sisi lain baju biru tidak laku. Ini menyebabkan harga baju biru turun dan diskon di pasaran.

Baca Juga: Wake Up Call: Waran Terstruktur, Investasi Baru di Bursa

Sebagai pedagang pakaian, apa kita akan menghabiskan stok baju merah dan kuning, kemudian membeli baju biru yang tidak laku tetapi harganya sedang turun? Apakah kita berharap baju biru mendadak di minati dan penjualannya naik sehingga harga naik? Ini yang kurang lebih dilakukan pelaku pasar saham yang melakukan averaging down.

Fenomena efek break-even ini bisa dijelaskan oleh mental akuntasi yang dikemukan R. Thaler (1985). Investor individual melihat setiap saham sebagai akun-akun terpisah dan tidak menghitungnya secara bersama-sama sebagai sebuah portofolio. Investor individual tidak melihat keuntungan dan kerugian total dari seluruh saham dalam portofolio tetapi fokus kepada keuntungan dan keurigan per saham.

Dengan membeli tambahan saham rugi, harga rata-rata pembelian sebuah saham akan turun. Ketika harga saham mulai naik, lebih mudah untuk keluar pasar dalam kondisi impas atau break-even.

Fenomena averaging down juga dapat dijelaskan dengan teori propek yang dikemukakan Kahneman dan Tversky (1979). Investor individual memakai fungsi utilitas yang mirip huruf S. Harga beli saham menjadi titik tengah fungsi utilitas S dan menjadi titik referensi untuk menambah pembelian dan atau penjualan.

Harga referensi ini menjadi anchoring bagi investor individual untuk membuat keputusan beli dan jual di kemudian hari. Membeli tambahan saham rugi membuat titik referensi menurun. Ini seolah-olah menjadi keputusan yang tepat.

Di sisi lain investor individual melakukan averaging up atau menambah saham untung cenderung menaikkan titik referensi. Inilah yang membuat keputusan averaging down terlihat lebih menarik dibandingkan keputusan averaging up.

Baca Juga: Wake Up Call: Investasi di Saham Grup Konglomerat

Bentuk utilitas investor individual yang seperti huruf S yang curam di awal lalu melandai di belakang menambah rasa sakit berkurang ketika harga saham turun. Ini membuat investor individual lebih berani menambah posisi saham rugi karena rasa sakit karena kerugian yang bertambah menurun.

Di sisi lain utilitas investor individual berbentuk huruf S juga mempengaruhi kepuasan investor individual ketika mendapatkan keuntungan. Kenaikan kepuasan yang melandai ketika keuntungan bertambah membuat investor individual tidak terlalu tertarik menambah  saham untung atau averaging up.

Menjual saham rugi dengan melakukan cut loss juga bisa menimbulkan penyesalan di kemudian hari. Bila saham rugi tersebut dijual dan kemudian hari saham tersebut naik, akan timbul penyesalan. Inilah yang membuat investor individual lebih memilih menahan saham rugi lebih lama. Selain itu investor individual lebih memilih fokus menyelamatkan posisi rugi dengan averaging down daripada cut loss.

Menambah saham yang sudah untung juga berpotensi menimbulkan rasa penyesalan di kemudian hari. Pembelian tambahan saham untung atau averaging up menyebabkan rata-rata harga beli naik. Di kemudian hari bila harga saham turun akan memicu penyesalan yang besar. Alhasil, investor individual lebih memilih menjual saham untung lebih cepat daripada averaging up.

Kecenderungan manusia tidak mau disalahkan juga menimbulkan bias ini. Keputusan cut loss atau jual rugi seolah-olah memaksa investor individual mengakui kesalahannya. Melakukan cut loss merupakan pengakuan kesalahan pembelian saham tersebut. Karena tidak ingin mengakui kesalahan, investor cenderung menahan saham rugi dan memilih averaging down untuk menyelamatkan posisi.

Baca Juga: Wake Up Call: Pelaku Pasar Indonesia Mengalami Efek Disposisi

Investor individual perlu memperbaiki kesalahan tersebut dengan tidak melakukan averaging down, dan mengelola dana di pasar dengan pendekatan portofolio. Tidak masalah satu atau dua saham terpaksa direalisasikan kerugiannya, terutama bila tidak ada prospek di saham tersebut.

Yang penting adalah total keseluruhan saham dalam portofolio megalami keuntungan atau kerugian. Lebih baik menjual saham rugi yang tidak mempunyai prospek dengan cut loss, kemudian dana penjualan tersebut dibelikan saham untung yang lebih punya prospek.

Jangan terjebak dalam akuntansi mental, sehingga ingin keluar dari setiap posisi terbuka yang untung. Investor individual harus lebih fokus pada keuntungan menyeluruh, dan melepas saham rugi.

Bagikan

Berita Terbaru

Iming-Iming Insentif Belum Tentu Efektif
| Kamis, 04 Juni 2026 | 08:51 WIB

Iming-Iming Insentif Belum Tentu Efektif

Pemerintah memberikan fasilitas perpajakan yang lebih menarik untuk DHE SDA dibandingkan instrumen investasi reguler

Mega Perintis (ZONE) Merevitalisasi Gerai dan Investasi Mesin
| Kamis, 04 Juni 2026 | 08:27 WIB

Mega Perintis (ZONE) Merevitalisasi Gerai dan Investasi Mesin

ZONE menyiapkan capex sebesar Rp 21 miliar pada tahun 2026untuk ekspansi jaringan ritel, revitalisasi gerai, dan peningkatan kapasitas manufaktur.

Intra Golflink Resort (GOLF) Siapkan Dana Capex Rp 300 Miliar
| Kamis, 04 Juni 2026 | 08:18 WIB

Intra Golflink Resort (GOLF) Siapkan Dana Capex Rp 300 Miliar

Target capex tahun ini meningkat dibandingkan realisasi belanja modal sepanjang 2025 yang mencapai Rp 202,5 miliar.

Merdeka Gold Resources (EMAS) Realisasikan Seluruh Dana IPO Rp 4,54 Triliun
| Kamis, 04 Juni 2026 | 08:04 WIB

Merdeka Gold Resources (EMAS) Realisasikan Seluruh Dana IPO Rp 4,54 Triliun

Dana hasil IPO itu digunakan PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS)untuk mendukung pengembangan tambang emas Pani di Gorontalo. 

Indah Kiat Pulp & Paper (INKP) Bayar Obligasi Jatuh Tempo dan Rilis Obligasi Baru
| Kamis, 04 Juni 2026 | 07:59 WIB

Indah Kiat Pulp & Paper (INKP) Bayar Obligasi Jatuh Tempo dan Rilis Obligasi Baru

PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) menyiapkan jumbo dana untuk melunasi kewajiban obligasi dan sukuk yang akan jatuh tempo. 

Berencana Akuisisi Anak PTRO, SINI Gelar Rights Issue Jumbo
| Kamis, 04 Juni 2026 | 07:53 WIB

Berencana Akuisisi Anak PTRO, SINI Gelar Rights Issue Jumbo

Jumlah dana yang akan diterima PT Singaraja Putra Tbk (SINI) dari rights issue sebanyaknya Rp 3,6 triliun.

Meneropong Prospek Saham dan Kinerja NAYZ Usai Banting Setir Ke Bisnis Teknologi
| Kamis, 04 Juni 2026 | 07:44 WIB

Meneropong Prospek Saham dan Kinerja NAYZ Usai Banting Setir Ke Bisnis Teknologi

Transformasi bisnis akan diikuti divestasi sejumlah aset untuk produksi makanan bayi, termasuk yang diperoleh dari hasil IPO.

Harga Minyak Loyo, Emiten Migas Layu
| Kamis, 04 Juni 2026 | 07:36 WIB

Harga Minyak Loyo, Emiten Migas Layu

Normalisasi harga minyak dunia berpotensi mempengaruhi kelangsungan usaha emiten-emiten produsen minyak dan gas (migas). 

IHSG dan Rupiah Menukik, Pasar Keuangan Domestik Semakin Tak Menarik
| Kamis, 04 Juni 2026 | 07:31 WIB

IHSG dan Rupiah Menukik, Pasar Keuangan Domestik Semakin Tak Menarik

Risiko berinvestasi di Indonesia semakin tinggi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah semakin terkapar.

Manufaktur Keluar dari Zona Kontraksi, Tapi Ancaman Margin Belum Reda
| Kamis, 04 Juni 2026 | 07:27 WIB

Manufaktur Keluar dari Zona Kontraksi, Tapi Ancaman Margin Belum Reda

PMI manufaktur Indonesia kembali ekspansi, sinyal positif bagi sektor riil. Cek daftar emiten yang berpotensi diuntungkan jika tren ini berlanjut.

INDEKS BERITA

Terpopuler