Wake Up Call: Waktu Tepat Masuk Saham Blue Chips

Selasa, 28 Maret 2023 | 05:15 WIB
Wake Up Call: Waktu Tepat Masuk Saham Blue Chips
[]
Parto Kawito | Direktur PT Infovesta Utama

KONTAN.CO.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 6.691,61 per tanggal 21 Maret 2023, saat artikel ini dibuat. IHSG menorehkan kinerja minus 2,32% sejak awal tahun. Sedangkan indeks LQ45 ada di posisi 929.99, turun 0,77% sejak awal tahun.

Kinerja IHSG agak mirip dengan indeks di bursa saham Amerika Serikat (AS), yakni Dow Jones Industrial Average. Indeks saham ini turun 1,77% sejak awal tahun. Selain itu ada indeks saham Hong Kong yang turun 2,64% serta Straits Times Index di Singapura yang turun 2,38% sejak awal tahun.

Pergerakan turun indeks akhir-akhir ini lebih terpengaruh faktor regional, khususnya imbas dari kejatuhan beberapa bank di AS dan Eropa. Dari angka-angka tadi, sebetulnya penurunan IHSG masih relatif "wajar".

Begitu pula bila ditinjau dari maximum drawdown IHSG sepanjang tahun ini yang tercatat 5,42%. Ini masih jauh dari rata-rata maximum drawdown IHSG periode lima tahun terakhir yang tercatat sebesar 14,80%.

Secara sektoral, lima besar penyumbang kejatuhan IHSG periode awal tahun hingga tanggal 21 Maret 2023 berturut-turut adalah sektor energi yang turun 13,01%, sektor barang konsumen non-primer yang turun 7,12%, infrastruktur yang turun 6,79%, serta sektor properti dan real estat degan penurunan 6,44%, plus sektor barang baku yang turun 6,29%.

Baca Juga: Tang Mas, Produsen Teh Legendaris 2Tang asal Tegal Dimohonkan PKPU

Hanya ada dua sektor yang positif, yakni sektor transportasi dan logistik dengan kenaikan 5,20% serta sektor barang konsumen primer yang naik 0,10%. Sektor keuangan yang semestinya terimbas sentimen negatif bangkrutnya Silicon Valley Bank (SVB) ternyata "hanya" turun 2,95% sejak awal tahun.

Bila dilihat periode lebih pendek, dari awal berita SVB terekspos tanggal 10 Maret 2023, indeks sektor keuangan hanya turun 1,47% dan mulai terlihat berbalik arah dari posisi terendah pada 16 Maret 2023. Pembalikan arah ini juga seiring pergerakan IHSG dan indeks LQ45 yang mantul ke atas sejak 16 Maret 2023.

Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah sekarang saat yang tepat untuk menambah posisi di saham? Atau untuk sebagian investor lebih tepat melakukan average down, mengingat potensi kerugian yang sangat mungkin sedang dialami?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penulis mencoba pendekatan earning yield, yang sebetulnya kebalikan dari price earning ratio (PER). Dengan demikian rumus earning yield adalah E/P alias earning per share dibagi price, yang menunjukkan berapa laba per saham yang dihasilkan per satuan harga saham.

Angka-angka E/P dihimpun secara harian untuk kemudian digambarkan dalam grafik, bersama grafik indeks LQ45 untuk periode 10 tahun terakhir. Indeks LQ45 dipilih karena faktor kepraktisan. Investor lebih mudah berinvestasi di indeks LQ45 dibandingkan IHSG, bisa melalui reksadana indeks ataupun membentuk portofolio sendiri. Selain itu kinerja indeks LQ45 sejak awal tahun juga relatif lebih bagus daripada IHSG.

Dari grafik, ternyata earning yield saham yang biasanya berkisar 5%-7% dari tahun 2013 hingga pertengahan 2018 melonjak sangat tinggi dari posisi terendah di 21 September 2021, yakni di 6,13%. Earning yield melejit hingga mencapai 16,13%.

Earning Yield yang tinggi saat ini dipicu oleh laba per saham emiten yang naik, sedangkan harga sahamnya malah terkoreksi. Posisi saat ini jauh lebih tinggi daripada saat indeks hancur karena pandemi Covid-19, di mana semua indeks mengalami titik terendah pada tanggal 24 Maret 2020, dengan earning yield berada di 12,56%.

Seperti telah kita ketahui bersama, sejak saat itu indeks melaju dengan cepat menuju puncak baru tanggal 21 Januari 2021. Dilihat dari angka earning yield yang mencapai rekor, tampak bahwa saat ini investor berpotensi mendapatkan return yang tinggi. Sewajarnya hal tersebut tercermin di kinerja indeks saham.

Dari pengumuman pembagian dividen beberapa emiten besar, sudah bisa diprediksi bahwa tahun ini investor bisa menikmati yield dividen 4%, bahkan lebih. Angka ini setara suku bunga deposito 1 tahun di beberapa bank swasta besar. Sehingga bila diasumsikan harga saham tidak turun lagi atau tetap selama setahun ke depan, maka return dari saham sudah sama dengan deposito.

Baca Juga: Hasil Survei, Tiga Besar Pusat Keuangan Global Tidak Berubah dalam Setahun Terakhir

Investor tinggal memperkirakan apakah sahamnya tidak akan pernah naik dari posisi sekarang? Logikanya, sih, tidak demikian. Kecuali terjadi kejadian luar biasa buruk di pasar.

 Selain itu, jika earning yield dibandingkan dengan yield obligasi pemerintah 10 tahun yang saat ini sekitar 6,90%, memegang saham masih lebih menguntungkan, meski tentu saja risiko jadi jauh lebih besar. Perlu diketahui, sejak Mei 2013 hingga Desember 2019, earning yield lebih kecil daripada yield obligasi pemerintah.

Ini mengisyaratkan kepercayaan investor saham bahwa laba emiten akan tumbuh, sehingga mereka rela membeli saham yang harganya relatif tinggi dibanding laba per sahamnya. Namun sejak 4 Februari 2022, earning yield melejit meninggalkan yield obligasi pemerintah.

Penulis berpendapat bahwa saat ini saham sudah murah, ditinjau dari earning yield. Namun apakah indeks masih akan turun? Ini memang susah untuk menjawabnya, mengingat masih ada potensi berita buruk dari regional yang akan menghujani bursa.

Penurunan saat ini juga masih belum apa-apa dibandingkan angka historis. Namun bagi investor jangka panjang, risiko penurunan indeks bisa dimitigasi dengan posisi hold untuk periode lebih dari 1 tahun.

Lupakanlah menebak titik bottom pasar, fokus pada probabilitas meraih keuntungan jangka panjang. Bila kita tahu harga yang kita pegang sudah murah dan saham yang dipilih berfundamental bagus serta membagi dividen minimal sama dengan deposito, kenapa kita tidak coba untuk bersantai saja?

Bagikan

Berita Terkait

Berita Terbaru

SE Sisa Kuota Internet Langkah Tepat tapi Perlu Dinaikkan Jadi Permen Agar Mengikat
| Senin, 31 Agustus 2026 | 11:05 WIB

SE Sisa Kuota Internet Langkah Tepat tapi Perlu Dinaikkan Jadi Permen Agar Mengikat

Kemkomdigi memberi batas waktu hingga 28 September 2026 bagi operator menyampaikan laporan pemenuhan kewajiban.

Belanja Pemerintah Tumbuh tapi Mesin Ekonomi Swasta Belum Sepenuhnya Bergerak
| Senin, 31 Agustus 2026 | 10:10 WIB

Belanja Pemerintah Tumbuh tapi Mesin Ekonomi Swasta Belum Sepenuhnya Bergerak

Konsumsi rumah tangga merupakan salah satu indikator penting untuk melihat apakah pertumbuhan ekonomi sudah memiliki basis permintaan yang kuat.

Risiko Politik Tetap Membayangi IHSG, Tercermin dari Valuasi hingga Cost of Capital
| Senin, 31 Agustus 2026 | 08:31 WIB

Risiko Politik Tetap Membayangi IHSG, Tercermin dari Valuasi hingga Cost of Capital

Pemberantasan korupsi, good corporate governance (GCG), dan kepastian hukum penting bagi kesehatan pasar modal.

Daftar Antrean IPO dan Rights Issue di BEI Masih Panjang
| Senin, 31 Agustus 2026 | 08:20 WIB

Daftar Antrean IPO dan Rights Issue di BEI Masih Panjang

Minat korporasi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) lewat skema penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) masih tinggi.

Pendapatan Naik Dua Digit, BNBR Malah Berbalik Rugi
| Senin, 31 Agustus 2026 | 08:14 WIB

Pendapatan Naik Dua Digit, BNBR Malah Berbalik Rugi

PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) membukukan kinerja top line dan bottom line yang tak seragam di semester I-2026.

Rencana Merger MTEL-TBIG Bakal Menguntungkan TLKM
| Senin, 31 Agustus 2026 | 08:04 WIB

Rencana Merger MTEL-TBIG Bakal Menguntungkan TLKM

Setelah lebih dari satu dekade berlalu, spekulasi merger MTEL dan TBIG kembali berembus di pengujung Agustus 2026.

Harga Saham LUCY Melaju Kencang, Aksi Jual HP Capital Resources Perlu Jadi Perhatian
| Senin, 31 Agustus 2026 | 07:58 WIB

Harga Saham LUCY Melaju Kencang, Aksi Jual HP Capital Resources Perlu Jadi Perhatian

Kenaikan harga saham PT Lima Dua Lima Tiga Tbk (LUCY) belum didukung oleh perbaikan fundamental yang signifikan.

Harga Pangan hingga Emas Diramal Mengerek Inflasi
| Senin, 31 Agustus 2026 | 07:51 WIB

Harga Pangan hingga Emas Diramal Mengerek Inflasi

Laju inflasi Agustus 2026 diramal meningkat dengan pemicu utamanya kenaikan harga bahan pangan       

Suku Bunga Tinggi Memicu Saham Properti Layu
| Senin, 31 Agustus 2026 | 07:49 WIB

Suku Bunga Tinggi Memicu Saham Properti Layu

Kinerja saham emiten milik konglomerat Sugianto Kusuma alias Aguan, jadi salah satu pemberat kinerja indeks properti.

Waspada Imbas Penyusutan Restitusi Pajak
| Senin, 31 Agustus 2026 | 07:45 WIB

Waspada Imbas Penyusutan Restitusi Pajak

Ditjen Pajak Kementerian Keuangan mencatat, realisasi restitusi pajak hingga Juli 2026 mencapai Rp 185,38 triliun

INDEKS BERITA

Terpopuler