Benih yang Perlu Disemai
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Coba bayangkan sebentar: Anda adalah seorang peneliti di Pusat Riset Teknologi Bahan Nuklir dan Limbah Radioaktif, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Sejak 2017, Anda dan tim kecil Anda bergelut dengan monasit dari Bangka -- pasir hitam berat, sisa buangan tambang timah yang selama puluhan tahun dianggap sekadar limbah radioaktif yang merepotkan.
Dengan peralatan seadanya dan anggaran tim yang hanya berkisar seratus hingga seratus lima puluh juta rupiah setahun, Anda berhasil memisahkan unsur-unsur tanah jarang satu demi satu dari monasit dan senotim -- sebuah pencapaian teknis yang, jika ditulis di jurnal internasional, akan membuat mata dunia melirik. Anda tahu persis bahwa dunia sedang kelimpungan mencari sumber pemisahan tanah jarang alternatif di luar China. Anda juga tahu, di laboratorium Anda sendiri, cikal bakal jawabannya sudah mulai bertunas. Tapi kemudian Anda menutup laporan penelitian itu, menyimpannya di rak, dan kembali mengantre proposal pendanaan tahun depan yang mungkin tidak akan cair tepat waktu.
Baca Juga: Deposit Facility Naik Saat BI Rate Tetap pada Oktober 2026, BI Akan Turunkan GWM Bank
