Dapat Kado Spesial Jelang Ultah Ke-20, Berikut Ini Profil Pendiri Kresna Graha (KREN)

Sabtu, 24 Agustus 2019 | 14:02 WIB
Dapat Kado Spesial Jelang Ultah Ke-20, Berikut Ini Profil Pendiri Kresna Graha (KREN)
[ILUSTRASI. RUPS PT Kresna Graha Investama Tbk (KREN)]
Reporter: Yuwono Triatmodjo | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Forbes beberapa waktu lalu merilis "Asia's Best Under A Billion 2019". Dua emiten asal Indonesia dengan pendapatan di bawah US$ 1 miliar yang beruntung masuk dalam daftar itu adalah PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) dan PT Kresna Graha Investama Tbk (KREN).

Hal tersebut seakan merupakan kado istimewa dari Forbes, menjelang perayaan ulang tahun Kresna Graha Investama yang ke-20 pada 10 September 2019 mendatang. Kresna Graha tercatat mulai berdiri berdasarkan akta pendirian perusahaan yang dibuat notaris Fathiah Helmi nomor 11 tanggal 10 September 1999.

Forbes sendiri menyebutkan bahwa Kresna Graha masuk sebagai pendapatang baru dalam daftar 200 perusahaan terbaik itu. Perusahaan ini masuk radar Forbes, lantaran penjualannya melonjak hingga 375% selama tiga tahun terakhir.

Forbes menyatakan, Kresna Graha mendapat keuntungan manfaat dari perkembangan industri e-commerce di Indonesia.

Dalam penjelasannya, pihak Forbes menyebutkan secara umum 200 perusahaan yang terpilih merupakan perusahaan di kawasan Asia Pasifik dengan rekam jejak pertumbuhan pendapatan yang kuat.

Baca Juga: Satu Lagi Anak Usaha Grup Kresna Bakal Menggelar IPO Senilai Rp 80 Miliar

Perusahaan-perusahaan tersebut, rata-rata membukukan penjualan dan laba bersih tahunan, lebih dari 59%.

Kresna Graha yang berdiri sejak 10 September 1999 ini, memiliki modal dasar Rp 50 miliar saat terbentuk. Adapun modal disetor Kresna Graha saat itu berjumlah Rp 12,5 miliar.

Baca Juga: Kresna Graha Investama (KREN) fokus jadi digital business integrator

Pemegang saham Kresna Graha saat awal berdiri merupakan individu-individu, yang merupakan profesional dibidang industri keuangan. Berikut daftar pemegang saham Kresna Graha saat berdiri (lihat tabel).

Pemegang Saham Kresna Graha Investama Saat Awal Berdiri
Nama Pemegang Saham Porsi Kepemilikan (%)
Michael Suryadi 30
Michael Steven 20
Inggrid Kusumodjojo 20
Irwan Arsyad 10
Suryandy Jahja 10
Gunawan Effendi 10

Dari sederet nama pemegang saham Kresna Graha tersebut, berikut ini merupakan profil dari tokoh-tokoh penting dalam pendirian Kresna Graha.

Michael Suryadi

Michael Suryadi pada awalnya merupakan Komisaris Kresna Graha. Dalam profil prospektus initial public offering (IPO) Kresna Graha yang terbit tahun 2002, disebutkan bahwa Michael Suryadi memulai karier profesionalnya sebagai account officer di PT Bank Central Dagang, antara tahun 1992 hingga tahun 1994.

Jebolan Fakultas Ekonomi Universitas Ekonomi tahun 1991 itu, melanjutkan kariernya sebagai wakil manajer PT Bank Tiara sepanjang tahun 1994 hingga 2000. Selanjutnya, pria kelahiran Jakarta tahun 1967 ini menjabat komisaris Kresna Graha, sejak perusahaan itu berdiri tahun 1999.

Saat berdiri, Michael Suryadi merupakan pemegang saham Kresna Graha terbesar, dengan kepemilikan sebanyak 30%.

Inggrid Kusumodjojo

Sosok penting lain di Kresna Graha adalah Inggrid Kusumodjojo. Wanita kelahiran Koln tahun 1964 ini, merupakan penyandang gelar bachelor in food science University of California tahun 1987.

Inggrid lantas melanjutkan pendidikan formalnya di Golden Gate University, San Francisco dan menyabet gelar master of business administration bidang management tahun 1991.

Karier profesional Inggrid, awalnya sejalan dengan pendidikan tinggi yang ditempuhnya. Bersumber dari data prospektus IPO Kresna Graha disebutkan bahwa Inggid bekerja sebagai quality control supervisor pada PT Del Monte Foods sepanjang tahun 1986 hingga 1987.

Pekerjaan Inggrid berlanjut sebagai research development manager di PT Cipta Rasa Primatama, dari tahun 1988 hingga tahun 1989.

Karier Inggrid terus melesat hingga dipercaya menduduki jabatan sebagai account officer World Trade Center of San Francisco, sepanjang periode 1989-1991. Mulai dari sini, karier Inggrid dalam dunia keuangan bermula.

Selepas dari World Trade Center, Inggrid melanjutkan pekerjaan sebagai finance & accounting manager di PT Sassoon Wushen Kedaung dari tahun 1992-1998. Dan mulai tahun 1999, Inggrid menjadi pemegang saham Kresna Graha sekaligus komisaris utama di perusahaan tersebut.

Inggrid mengapit 20% saham Kresna Graha, saat perusahaan itu mulai berdiri.

Michael Steven

Profil pendiri Kresna Graha Investama selanjutnya adalah Michael Steven. Pria kelahiran Jakarta tahun 1963 ini merupakan penyandang gelar MBA dalam bidang corporate finance & banking dari Golden Gate University di San Francisco tahun 1988.

Michael Steven dan Inggrid merupakan satu almamater dari Golden Gate University. Sebelumnya, Michael Steven menyabet gelar BA dalam bidang computer science & mathematics dari The University Texas, Austin tahun 1986.

Pria tersebut memulai karier profesionalnya sebagai Brody, Walsh, & Brody di San Francisco. Perusahaan ini merupakan perusahaan jasa investasi yang khusus menangani klien-klien besar individu (high net worth clients).

Michael Steven bekerja di Brody, Walsh, & Brody sepanjang periode 1988 hingga 1992. Jabatan terakhir yang dipegang Michael Steven pada perusahaan tersebut adalah Chief Operating Officer (CFO) merangkap Marketing Director.

Pria tersebut tercatat memiliki ijin National Association of Securities Dealer (NASD) Series 7 License (USA). Di Indonesia, Michael Steven juga memiliki izin sebagai Wakil Manajer Investasi dan Wakil Penjamin Emisi Efek dari Bapepam yang kini bernama Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Pemilik 20% saham Kresna Graha saat berdiri ini, dipercaya menjabat Direktur Utama sejak tahun 1999.

Suryandy Jahja

Profil penting di Kresna Graha selanjutnya adalah Suryandy Jahja. Ia merupakan peraih gelar Magister Manajemen bidang Manajemen Umum dan Teknologi Informasi pada tahun 1996 dari Universitas Bina Nusantara.

Suryandy Jahja kemudian melanjutkan pendidikannya di University of New South Wales dan meraih gelar bachelor of engineering di bidang communications & computer engineering pada tahun 1993.

Suryandy Jahja pernah berkarier di OGCI Incorporated Houston (USA) sebagai senior consultans dan senior account executive dari tahun 1994-1995.

Sebelum bergabung dengan Kresna Graha, Suryandy Jahja bekerja di PT Kresna Cakra Unika sebagai Direktur dari tahun 1997 hingga 1999. Ia kemudian memulai jabatannya sebagai direktur di Kresna Graha sejak tahun 1999, dan mengapit 10% saham perusahaan ini saat berdiri.

Seiring berjalannya waktu, berdasarkan laporan keuangan Krena Graha Investama 30 Juni 2019, pemegang saham perusahaan ini tercatat ada lima pihak (lihat tabel).

Pemegang Saham Kresna Graha Investama
Nama Pemegang Saham Porsi Kepemilikan (%)
PT Kresna Prima Invest 23,44
Michael Steven 7,24
Suryandi Jahja 6,05
Inggrid Kusumodjojo 4,02
Masyarakat 59,26

Saat ini, Inggrid tetap menempati jabatannya sebagai komisaris utama Kresna Graha. Demikian juga dengan Michael Steven yang tetap menempati posnya sebagai direktur utama.

Tidak terkecuali, Suryandi Jahja yang juga tetap menjabat sebagai direktur Kresna Graha.

Adapun profesional lain yang ada di Kresna Graha saat ini adalah Robinson Paido Simbolon di kursi komisaris. Robinson merupakan mantan pejabat Bapepam.

Nama lainnya adalah Dewi Kartini Laya dan Sanverandy H. Kusuma, masing-masing sebagai direktur di Kresna Graha.

Bagikan

Berita Terbaru

Davos 2026: Dunia sebagai Multiplex
| Jumat, 23 Januari 2026 | 04:31 WIB

Davos 2026: Dunia sebagai Multiplex

Dialog di Davos 2026 bukan jalan menuju harmoni global, melainkan mekanisme untuk bertahan di tengah great power politics yang semakin terbuka.

Sreeya Sewu Indonesia (SIPD) ingin Kinerja Terus Berkotek
| Jumat, 23 Januari 2026 | 04:20 WIB

Sreeya Sewu Indonesia (SIPD) ingin Kinerja Terus Berkotek

Pihaknya melihat industri perunggasan sebagai sektor yang bersifat populis dan memiliki daya tahan terhadap siklus ekonomi.

Kisruh Harga Daging Sapi Menuai Polemik Baru
| Jumat, 23 Januari 2026 | 04:10 WIB

Kisruh Harga Daging Sapi Menuai Polemik Baru

Pemerintah memastikan tidak ada pembatasan kuota sapi hidup yang dapat mengganggu pasokan daging sapi di pasaran.

Pasang Mata Elang Agar Target Bisa Dipegang
| Jumat, 23 Januari 2026 | 04:10 WIB

Pasang Mata Elang Agar Target Bisa Dipegang

Ditjen Pajak bakal tambah ribuan pemeriksa hingga wajib pajak aktif untuk kejar target pajak        

SRTG Jual Lagi Kepemilikan di NRCA, Harga Saham dalam Tren Melemah
| Kamis, 22 Januari 2026 | 12:00 WIB

SRTG Jual Lagi Kepemilikan di NRCA, Harga Saham dalam Tren Melemah

PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) kembali mengurangi kepemilikannya di emiten konstruksi PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA).

Sebelum Kabar Pencabutan Izin Martabe, Asing Sedang Akumulasi UNTR
| Kamis, 22 Januari 2026 | 10:36 WIB

Sebelum Kabar Pencabutan Izin Martabe, Asing Sedang Akumulasi UNTR

Manajemen Agincourt menegaskan menghormati setiap keputusan pemerintah, dan tetap menjaga hak sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

OJK: Sebanyak 72% Pedagang Aset Keuangan Digital Masih Rugi
| Kamis, 22 Januari 2026 | 10:30 WIB

OJK: Sebanyak 72% Pedagang Aset Keuangan Digital Masih Rugi

Mayoritas pedagang aset keuangan digital (PAKD) di Indonesia masih menghadapi tekanan kinerja di sepanjang 2025. 

Terungkap, Alasan Indokripto (COIN) Belum Pakai Dana Hasil IPO Rp 220,58 miliar
| Kamis, 22 Januari 2026 | 10:24 WIB

Terungkap, Alasan Indokripto (COIN) Belum Pakai Dana Hasil IPO Rp 220,58 miliar

Manajemen PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN) memberikan klarifikasi terkait belum digunakannya dana dana hasil IPO.

Saham COIN Rontok di Awal 2026, Fundamental dan Prospek Jangka Panjang Masih Menarik
| Kamis, 22 Januari 2026 | 08:35 WIB

Saham COIN Rontok di Awal 2026, Fundamental dan Prospek Jangka Panjang Masih Menarik

Selain bagian dari strategi sell on news oleh investor, koreksi harga COIN tak lepas dari lesunya pasar aset kripto global. 

Pesan Pasar Saat Rupiah Anjlok : Purbaya dan Pemerintah Harus Lebih Prudent
| Kamis, 22 Januari 2026 | 08:21 WIB

Pesan Pasar Saat Rupiah Anjlok : Purbaya dan Pemerintah Harus Lebih Prudent

Sejak adanya kebijakan tersebut, sumber treasury tadi menyebut, investor di Singapura menganggap Indonesia tidak prudent.

INDEKS BERITA