Dompet Digital China Bisa Buat Belanja

Senin, 29 Juli 2019 | 17:38 WIB
Dompet Digital China Bisa Buat Belanja
[]
Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Havid Vebri

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ada pemandangan menarik di meja kasir Alun-Alun Indonesia di Grand Indonesia, Jakarta. Terdapat papan pemberitahuan bertuliskan aksara China serta logo wechat Pay dan Alipay.

Yang artinya, menurut Handaka Santosa, Presiden Direktur PT Panen Lestari Internusa, pemilik gerai Alun-Alun Indonesia, mereka menerima pembayaran menggunakan dompet digital wechat Pay dan Alipay.

Selain di gerai produk kreatif Indonesia itu, Sogo yang juga bernaung di bawah Panen Lestari, menerima transaksi dengan aplikasi asal China tersebut. Tapi, tak di semua gerai department store ini, transaksi baru bisa di Sogo Central Park, Jakarta, serta Sogo Bali Collection dan Sogo Discovery Mall, Bali.

Wechat Pay dan Alipay masuk ke Sogo dan Alun-Alun Indonesia lewat PT Alto Halo Digital Internasional (AHDI). Handaka bilang, Panen Lestari menjalin kerjasama dengan anak usaha PT Alto Network itu pada awal Juli 2019 lalu. Metode pembayarannya lewat teknologi kode respons cepat alias quick response (QR) code.

Target utamanya, tentu saja turis dari China yang pelesiran ke Indonesia, khususnya Jakarta dan Bali. Banyaknya pelancong negeri tembok raksasa yang berkunjung ke Indonesia jadi alasan Panen Lestari mau berkongsi sama AHDI.

Handaka menjelaskan, pelaku usaha harus sangat jeli melihat peluang bisnis. Salah satunya adalah potensi belanja dari turis China. Dari data yang dirilis oleh Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali, terlihat bahwa selama ini turis yang datang dari China menduduki ranking teratas, hampir 30% dari total turis asing ke Bali, jelas dia.

Hasilnya, Handaka mengungkapkan, cukup menggembirakan lantaran banyak wisatawan China yang berbelanja di Sogo dan Alun-Alun Indonesia. Sebelum ada wechat Pay dan Alipay, turis China sangat terbatas berbelanja dengan uang tunai, karena mereka kan, sudah terbiasa bertransaksi secara nontunai dengan uang elektronik yang diterbitkan di negaranya, ungkap Handaka.

100.000 merchant

Bukan cuma di gerai Sogo dan Alun-Alun Indonesia, Budhi Widjajantho Surjadi, Direktur AHDI, membeberkan, ada 2.000 merchant di Bali juga menerima pembayaran dengan wechat Pay dan Alipay. Bahkan, kerjasama yang dia klaim dengan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di pulau dewata itu sudah sejak 2018 lalu.

Selain di Bali, puluhan merchant di Batam dan Manado juga menyediakan fasilitas transaksi dengan wechat Pay dan Alipay. Tapi, Transaksi kami masih kecil, tidak sampai ratusan miliar rupiah, ujar Budhi. Hingga akhir 2019, ADHI menargetkan, bisa menggandeng 100.000 merchant yang bisa menerima pembayaran wechat Pay dan Alipay.

Kedua platform dompet elektronik (e-wallet) itu masuk ke Indonesia dengan menggandeng AHDI sebagai official partner. Kerjasama dengan wechat Pay terjalin akhir 2017, tapi aplikasi ini baru beroperasi pada Februari 2018. Sementara kerjasama dengan Alipay tercipta pada November 2018 dan operasionalnya bulan itu juga.

Tugas AHDI sebagai penunjang sistem pembayaran dalam negeri dan luar negeri, termasuk menyediakan merchant system kepada dua penerbit uang elektronik tersebut. Jadi, Budhi menegaskan, AHDI bukan penerbit e-money.

Oleh karena itu, AHDI tidak perlu mengajukan perizinan sebagai penerbit uang elektronik kepada Bank Indonesia (BI). Tentu, permohonan izinnya akan beda, kata Budhi.

Meski begitu, Budhi mengaku, perusahaannya sudah kulo nuwun dengan BI untuk operasional wechat Pay dan Alipay di Indonesia. Saat ini, menurutnya, AHDI tengah menunggu aturan dari bank sentral yang mengatur perusahaan dalam negeri sebagai penyedia bisnis penunjang bagi uang elektronik asing. Rencananya, beleid itu akan rilis bulan depan.

Memang, Budhi menyebutkan, ada Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 20/6/PBI/2018 tentang Uang Elektronik yang tegas mewajibkan penerbit e-money asing harus bekerjasama dengan bank umum kegiatan usaha (BUKU 4). Tetapi, ia menilai, ketentuan itu kurang gamblang karena wechatPay dan Alipay masuk lewat AHDI bukan untuk menawarkan uang elektronik kepada konsumen di Indonesia.

Dan, Budhi memastikan, pengguna wechatPay dan Alipay adalah turis China. Ia menjamin masyarakat bakal lebih memilih aplikasi dompet digital terbitan perusahaan dalam negeri. Sebab, kalau menggunakan dompet elektronik China, mereka harus menyimpan dana dulu di negara itu. Pasti tidak ada yang mau, tegasnya.

Walau belum mendapat izin dari BI, Handaka mengatakan, kesepakatan Panen Lestari dengan AHDI tidak memiliki risiko. Pasalnya, kongsi bisnis terjadi sama AHDI, bukan dengan wechat Pay dan Alipay. Kami juga memastikan, uang yang ditransaksikan dalam rupiah bukan renminbi. Jadi, tidak ada risiko, imbuh Handaka.

Sebatas mengecek

AHDI boleh mengklaim sudah permisi ke bank sentral. Tapi kenyataannya, BI belum tahu wechatPay dan Alipay telah beroperasi di Indonesia. Makanya, Deputi Gubernur BI Sugeng menyatakan, pihaknya bakal mengecek dan mendalami operasional dompet digital itu di negara kita.

Yang terang, Filianingsing Hendarta, Asisten Gubernur Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI, menegaskan, wechat Pay dan Alipay adalah penyelenggara e-money asing. Sesuai PBI Uang Elektronik, mereka wajib bekerjasama dengan bank BUKU 4 lokal.

Toh, BI belum akan menjatuhkan sanksi ke siapa pun. Mereka baru akan melakukan pengecekan lebih dulu.

Memang, Filianingsing mengungkapkan, wechat Pay dan Alipay sudah mengajukan permohonan perizinan dengan menggandeng bank BUKU 4. Saat ini, sedang kami proses. Ada beberapa dokumen tinggal dilengkapi, setelah selesai maka mereka dapat langsung beroperasi, ujar Filianingsih.

Skema operasional kerjasama, Filianingsih menjelaskan, penerbit uang elektronik asing membuka rekening penampung di bank BUKU 4. Rekening ini untuk menampung dana dari penerbit uang elektronik asing yang akan diteruskan ke merchant-merchant yang berkongsi dengan bank BUKU 4.

Budhi menyebutkan, AHDI telah bekerjasama dengan tiga bank BUKU 4, yakni Bank Central Asia (BCA), Bank Negara Indonesia (BNI), dan Bank Mandiri, serta satu bank BUKU 3, yaitu Bank Permata. Tapi, kerjasama ini untuk melancarkan proses settlement antara AHDI dan merchant yang menerima transaksi pembayaran wechat Pay dan Alipay.

Sedang Santoso, Direktur BCA, mengatakan, pihaknya belum ada kolaborasi dengan wechat Pay serta Alipay. Kedua pihak baru sebatas komunikasi saja. Dalam pembicaraan itu, BCA menyampaikan, agar wechat Pay dan Alipay bekerjasama dengan bank BUKU 4 dalam negeri jika ingin beroperasi di Indonesia.

BCA juga sedang dalam proses pengembangan platform uang elektronik sesuai standardisasi QR dari BI, yaitu QR Indonesian Standard (QRIS). Soalnya, Ke depan, semua transaksi lewat QR harus pakai QRIS, termasuk wechat Pay dan Alipay, terang Santoso.

Budhi memastikan, transaksi turis China dengan merchant yang ada di dalam negeri menggunakan wechat Pay dan Alipay dalam mata uang rupiah, bukan renminbi. Karena jika dengan renminbi, kami juga tidak untung, katanya.

Ke depan, AHDI tidak hanya ingin menyediakan merchant system untuk wechat Pay dan Alipay saja. Budhi mengatakan, pihaknya akan membuka peluang kerjasama dengan penerbit uang elektronik asing dari negara lain, karena banyak turis yang liburan ke Indonesia.

Kami ingin kerjasama dengan penerbit uang elektronik dari Australia, Singapura, dan Amerika Serikat, ujar Budhi.

Tapi, Budhi belum bisa menyampaikan, kapan rencana tersebut bakal direalisasikan. Soalnya, AHDI masih fokus pada operasional wechat Pay dan Alipay.

Maklum, pasar transaksi dari turis China sangat besar di Indonesia. Sepanjang Januari hingga Mei 2019 lalu, turis China yang berkunjung ke Indonesia, mengacu data Badan Pusat Statistik (BPS), total mencapai 882.000 orang. Jumlahnya paling banyak di antara wisatawan dari negara lainnya. Jika potensi transaksi turis China tidak diambil, maka akan diambil orang lain, ujar Budhi.

Handaka menambahkan, banyaknya turis China yang hanya membawa Alipay ataupun wechat Pay, yang merupakan sarana pembayaran sangat luas di negeri tembok besar, maka sudah seharusnya Indonesia bisa mengakomodasinya. Sehingga, mereka bisa melakukan transaksi belanja di tanah air.

Bila kita sampai lambat mengantisipasi, tentu akan berpengaruh pada potential sales loss opportunity, imbuh Handaka.

Salah satu negara yang aktif, kreatif, dan cekatan adalah Singapura. Kita bisa membayar transaksi secara umum dan bahkan taksi dengan memakai Alipay, kata Handaka.

Jadi sebaiknya, regulator aktif mendukung biar bisa memaksimalkan peluang transaksi untuk mengerek penjualan di Indonesia. Kalau ingin mengatur tentang transaksi menggunakan QR code, maka sebaiknya bisa diakomodasi kemudahan-kemudahan bisnis. Apalagi, bila transaksinya memang sudah menggunakan rupiah sesuai Peraturan Bank Indonesia, ucap Handaka.

Bagaimana BI?

Bagikan

Berita Terbaru

Bunga Masih Tinggi, Ambil KPR Sekarang atau Nanti?
| Rabu, 22 Juli 2026 | 13:18 WIB

Bunga Masih Tinggi, Ambil KPR Sekarang atau Nanti?

Saat tren bunga tinggi, apakah saat yang tepat untuk mengambil KPR? Simak saran dari perencana keuangan.

Jerat Inflasi Biaya Pendidikan, Antara Daya Beli & Hak Konstitusi
| Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00 WIB

Jerat Inflasi Biaya Pendidikan, Antara Daya Beli & Hak Konstitusi

Saat ini revisi UU Sisdiknas belum mengatur mengenai putusan MK yang mewajibkan pemerintah menggratiskan biaya pendidikan dasar.

Mengintip Risiko Dari Euforia Rebound TPIA yang Diiringi Aksi Beli Investor Asing
| Rabu, 22 Juli 2026 | 09:08 WIB

Mengintip Risiko Dari Euforia Rebound TPIA yang Diiringi Aksi Beli Investor Asing

Di tengah optimisme terhadap proyek CA-EDC, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada strategi pendanaan yang dipilih TPIA.

Saham DSSA Melejit 15,34% Sehari, Mendingan Pilih Jual atau Masih bisa Ikutan Beli?
| Rabu, 22 Juli 2026 | 08:32 WIB

Saham DSSA Melejit 15,34% Sehari, Mendingan Pilih Jual atau Masih bisa Ikutan Beli?

Kenaikan harga saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) juga dipicu sentimen pasar dan aksi bargain hunting.

Reli Serentak, Nasib Berbeda: Membedah Katalis di Balik Lonjakan Saham Grup Bakrie
| Rabu, 22 Juli 2026 | 08:30 WIB

Reli Serentak, Nasib Berbeda: Membedah Katalis di Balik Lonjakan Saham Grup Bakrie

Analis menilai penguatan serentak kelima saham Grup Bakrie tak lepas dari sentimen risk-on yang sedang menyelimuti pasar secara keseluruhan.

Perluas Akses Masyarakat Membeli Logam Mulia, ANTM Menggandeng Bank Muamalat
| Rabu, 22 Juli 2026 | 08:27 WIB

Perluas Akses Masyarakat Membeli Logam Mulia, ANTM Menggandeng Bank Muamalat

Kerja sama ini memperluas distribusi, memperkuat rantai pasok emas  dan meningkatkan akses terhadap emas melalui pembiayaan syariah. 

Ada Pengendali Baru dan Transformasi Bisnis, Saham PKPK Masih Akan Melanjutkan Rally?
| Rabu, 22 Juli 2026 | 08:08 WIB

Ada Pengendali Baru dan Transformasi Bisnis, Saham PKPK Masih Akan Melanjutkan Rally?

Rally saham  PT Paragon Karya Perkasa Tbk (PKPK) yang telah berlangsung selama berbulan-bulan membuka peluang terjadinya profit taking.

Setelah Reli Panjang, Waspada Potensi Profit Taking, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini
| Rabu, 22 Juli 2026 | 07:58 WIB

Setelah Reli Panjang, Waspada Potensi Profit Taking, Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Setelah reli yang cukup signifikan dalam beberapa hari terakhir, investor juga perlu mewaspadai potensi profit taking jangka pendek.

Kopi Kenangan Memacu Ekspansi Gerai di Semester II
| Rabu, 22 Juli 2026 | 07:19 WIB

Kopi Kenangan Memacu Ekspansi Gerai di Semester II

Perusahaan tetap berfokus merealisasikan target ekspansi yang telah ditetapkan sejak awal tahun, yakni menambah 300–400 gerai baru sepanjang 2026.

Menanti BI Rate, IHSG Rabu (22/7) Masih Punya Ruang Menguat
| Rabu, 22 Juli 2026 | 07:14 WIB

Menanti BI Rate, IHSG Rabu (22/7) Masih Punya Ruang Menguat

IHSG Rabu (22/7) masih berpeluang menguat, dengan level support 6.240-6.250 dan resistance di 6.390-6.400.​

INDEKS BERITA