Ekonomi Membaik, Nilai Emisi MTN Melonjak

Kamis, 23 Juni 2022 | 04:10 WIB
Ekonomi Membaik, Nilai Emisi MTN Melonjak
[]
Reporter: Hikma Dirgantara | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penerbitan surat utang jangka menengah alias medium term notes (MTN) rupanya kembali bergairah di tahun ini. Nilai penerbitan MTN sepanjang tahun ini tercatat meningkat.

Direktur PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Hendro Utomo mengungkapkan, realisasi penerbitan MTN di semester I tahun ini jauh lebih semarak. Ia menyebut, secara nominal, nilainya melonjak tinggi menjadi Rp 4,09 triliun dari sembilan emisi MTN hingga 21 Juni 2022. 

Padahal pada tahun lalu, nilainya hanya Rp 620 miliar dari 10 emisi. "Peningkatan yang cukup drastis ini tidak terlepas dari nilai MTN yang jatuh tempo tahun ini yang lumayan besar, yakni mencapai Rp 13,29 triliun,” kata Hendro kepada KONTAN pada  Rabu (22/6).

Baca Juga: Hingga Juni 2022, Penerbitan MTN Mencapai Rp 4,09 Triliun

Menurut Hendro, periode awal tahun ini memang menjadi waktu tepat untuk menerbitkan surat utang. Pasalnya, suku bunga acuan masih rendah di awal tahun. Ini dimanfaatkan perusahaan mengganti dengan MTN baru dengan beban bunga yang lebih rendah, sebelum suku bunga naik jelang akhir tahun.

Selain itu, Hendro melihat pemulihan ekonomi juga berkontribusi memperbaiki kinerja bisnis dan keuangan perusahaan. Dampaknya juga nampak pada profil kredit perusahaan mulai membaik. 

"Kami juga melihat investor lebih percaya diri berinvestasi ke MTN, mempertimbangkan perbaikan profil kredit di tengah pemulihan ekonomi dan imbal hasil yang lebih kompetitif," kata dia. 

Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto pun sepakat mengungkapkan, melonjaknya nominal penerbitan MTN lebih dikarenakan kondisi ekonomi yang semakin membaik. Perusahaan juga tertarik menerbitkan karena tren bunga masih rendah di semester satu ini. 

"Tahun lalu, fokus perusahaan masih memulihkan atau menjaga cashflow. Tahun ini kondisinya jauh lebih baik, sehingga perusahaan lebih berani menerbitkan MTN," ujar Ramdhan, Rabu (22/6).

Baca Juga: Manfaatkan Momentum, Nilai Penerbitan MTN Melonjak Signifikan di Semester I-2022

Efek ekonomi

Di satu sisi, Ramdhan juga melihat, membaiknya ekonomi turut mengurangi risiko gagal bayar MTN. Ditambah saat ini OJK telah cukup ketat membuat aturan penerbitan MTN, sehingga potensi kegagalan membayar kewajiban juga jauh lebih rendah. 

Mulai Juni 2020, OJK mengatur penerbitan MTN. Ketentuannya adalah harus diterbitkan oleh perusahaan publik atau badan usaha yang berbadan hukum. Selain itu, penerbitan dengan nilai lebih dari Rp 1 miliar harus ada pengawasnya, seperti kustodian dan arranger, serta beberapa aturan lain. 

Pembatasan ini diharapkan mampu membuat risiko berinvestasi di MTN lebih terkendali. Sebab, sebelumnya saat aturan longgar, tingkat risiko gagal bayar cukup tinggi. Ini terbukti dari terjadinya beberapa kejadian MTN gagal membayar bunga dan pokok.

Namun, di satu sisi, Ramdhan melihat ketatnya aturan tersebut berpotensi membuat penerbitan MTN semakin susut ke depannya. Pasalnya, dengan aturan baru tersebut, kini menerbitkan MTN tidak jauh berbeda dengan menerbitkan obligasi korporasi. 

Alhasil, perusahaan akan cenderung memilih menerbitkan obligasi korporasi bertenor pendek karena punya pasar dan minat yang jauh lebih baik. "Jadi, MTN yang diterbitkan belakangan berasal dari perusahaan yang memang biasa menerbitkan MTN ataupun sebatas refinancing saja,” imbuh dia.  

Baca Juga: Bakal Terbitkan MTN, Dwi Guna Laksana (DWGL) Incar Dana Rp 200 Miliar

Bagikan

Berita Terbaru

Peluang Mengutip Cuan dari Peristiwa Perpisahan
| Minggu, 16 Agustus 2026 | 05:50 WIB

Peluang Mengutip Cuan dari Peristiwa Perpisahan

Momen perpisahan di tempat kerja justru melahirkan ceruk bisnis cendera mata perpisahan yang kini banyak diminati.

Nasabah Bank Semakin Sering Pakai Layanan BI-FAST
| Minggu, 16 Agustus 2026 | 05:50 WIB

Nasabah Bank Semakin Sering Pakai Layanan BI-FAST

Volume transaksi BI-FAST menembus 2,9 miliar transaksi di semester I-2026, tumbuh 32,42% secara tahunan. 

Siaga Penuh! Masuk Fase Kritis Kebakaran dan Kekeringan
| Minggu, 16 Agustus 2026 | 05:50 WIB

Siaga Penuh! Masuk Fase Kritis Kebakaran dan Kekeringan

Seiring El Nino yang makin menguat, kebakaran hutan dan lahan serta kekeringan berpotensi kian meluas. 

 
Cermat Tentukan Tenor Kredit biar Kocek Sehat
| Minggu, 16 Agustus 2026 | 05:05 WIB

Cermat Tentukan Tenor Kredit biar Kocek Sehat

Kredit dengan tenor panjang dapat memberi napas pada anggaran bulanan, tapi ada risiko hitungan bunga yang besar. 

Siap-Siap Ada Kebijakan Tarif Pajak di 2027
| Sabtu, 15 Agustus 2026 | 11:40 WIB

Siap-Siap Ada Kebijakan Tarif Pajak di 2027

Target penerimaan pajak dalam RAPBN 2027 meningkat 12,1% dari outlook tahun 2026                    

Ambisi Ekonomi Terbentur Fiskal
| Sabtu, 15 Agustus 2026 | 10:31 WIB

Ambisi Ekonomi Terbentur Fiskal

Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi pada tahun depan sebesar 6%, rekor tertinggi dalam 13 tahun   

Menjadikan Sang Ibunda Sebagai Panutan
| Sabtu, 15 Agustus 2026 | 09:26 WIB

Menjadikan Sang Ibunda Sebagai Panutan

Perjalanan Agus Martowardojo menarik karena pernah dipercaya memimpin Bank Mandiri di usia yang masih muda.

Opex Naik, Investasi Jadi Pemicu
| Sabtu, 15 Agustus 2026 | 09:05 WIB

Opex Naik, Investasi Jadi Pemicu

Beban bank meningkat seiring ekspansi dan investasi.                                                    

Anggaran Perlinsos 2027 Makin Gemuk
| Sabtu, 15 Agustus 2026 | 09:02 WIB

Anggaran Perlinsos 2027 Makin Gemuk

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, perlinsos tetap menjadi salah satu instrumen penting dalam kebijakan fiskal pemerintah pada 2027

MDKA Tambah Kepemilikan Saham EMAS
| Sabtu, 15 Agustus 2026 | 08:16 WIB

MDKA Tambah Kepemilikan Saham EMAS

Setelah transaksi, kepemilikan MDKA di EMAS bertambah jadi 9,43 miliar saham dari sebelumnya 9,33 miliar saham.

INDEKS BERITA