Harga Emas Berbalik Arah dan Cari Jalan Menuju US$ 1.480, Ini Penyebabnya

Selasa, 19 November 2019 | 05:39 WIB
Harga Emas Berbalik Arah dan Cari Jalan Menuju US$ 1.480, Ini Penyebabnya
[ILUSTRASI. Pramuniaga menunjukkan emas batangan untuk investasi di sebuah gerai emas di Malang, Jawa Timur, Selasa (16/4/2019).]
Reporter: SS. Kurniawan | Editor: S.S. Kurniawan

KONTAN.CO.ID - Harga emas naik tipis kemarin, menghapus kerugian dari awal sesi karena keraguan baru atas kesepakatan perdagangan Amerika Serikat (AS)-China, yang mendorong Wall Street ke zona merah. 

Harga emas spot naik 0,3% ke posisi US$ 1.471,92 per ons troi, berbalik arah setelah sempat jatuh ke level US$ 1.455,87 menyusul optimisme pembicaraan perdagangan konstruktif antara AS dan China pada akhir pekan. 

Namun, sebuah laporan baru menyebutkan, Beijing ternyata tidak seoptimis itu, karena keengganan Presiden AS Donald Trump untuk menurunkan tarif. Ini melemparkan air dingin kepada pasar saham. 

Baca Juga: Sempat Dekati Level Terendah, Harga Emas Hari Ini Balik Arah Tembus US$ 1.470

"Saya terkejut betapa kuatnya reaksi pasar (terhadap berita tentang pembicaraan perdagangan). Ini bukan pertama kalinya kami memiliki berita ini, tetapi pasar terus merespons," kata Bart Melek, Head of Commodity Strategies TD Securities

Menurutnya, laporan mengenai pesimisme Beijing tersebut telah memicu rebound harga emas. "Sepertinya emas mencari jalan menuju US$ 1.480, yang merupakan rata-rata pergerakan selama 100 hari terakhir," imbuh Melek kepada Reuters.

Perang tarif AS-China selama 16 bulan terakhir telah memicu kekhawatiran resesi, tetapi optimisme baru-baru ini atas kesepakatan perdagangan fase satu telah mendorong reli di pasar ekuitas. 

Baca Juga: Waduh, Harga Emas Hari Ini Merosot dan Dekati Level Terendah

Emas dianggap sebagai investasi yang menarik selama masa ketidakpastian politik atau ekonomi. Tapi, logam mulia sangat sensitif terhadap suku bunga, lantaran bunga yang lebih rendah mengurangi biaya peluang memegang bullion yang tidak menghasilkan. 

Pelaku pasar sekarang menunggu berita pertemuan kebijakan terakhir bank sentral AS, Federal Reserve, yang dijadwalkan pada Rabu (20/11) besok, untuk petunjuk tentang lintasan suku bunga di masa depan. 

Investor juga terus mengawasi perkembangan di Hong Kong, ketika polisi kemarin mengepung ratusan pengunjuk rasa di dalam sebuah universitas besar dan demonstran mengamuk di distrik wisata.

Baca Juga: Harga emas Antam naik Rp 1.000 menjadi Rp 748.000

Bagikan

Berita Terbaru

Lewat Olahraga, Bos Valbury Asia Futures Ini, Bangun Kedekatan dan Soliditas Tim
| Sabtu, 18 April 2026 | 10:20 WIB

Lewat Olahraga, Bos Valbury Asia Futures Ini, Bangun Kedekatan dan Soliditas Tim

Ini membuka ruang komunikasi yang lebih jujur dan nyaman, sehingga masukan atau ide dari rekan-rekan bisa tersampaikan dengan lebih cepat.

Polemik Haji Klik Cepat
| Sabtu, 18 April 2026 | 07:15 WIB

Polemik Haji Klik Cepat

Polemik war ticket haji menegaskan satu hal: persoalan antrean memang mendesak, tetapi solusi tidak boleh lahir dari ketergesaan.

Mengkreasi Instrumen Moneter Valuta Asing
| Sabtu, 18 April 2026 | 07:05 WIB

Mengkreasi Instrumen Moneter Valuta Asing

Status finansial SBI (Sertifikat Bank Indonesia) dalam valas lebih kokoh dari sekuritas dan sukuk valas BI.​

Dampak Geopolitik, Industri Barang Mewah Melambat, Pertumbuhan Cuma 2%-4%
| Sabtu, 18 April 2026 | 07:00 WIB

Dampak Geopolitik, Industri Barang Mewah Melambat, Pertumbuhan Cuma 2%-4%

Ketidakpastian global pukul industri barang mewah. Proyeksi pertumbuhan hanya 2-4% di 2026. Bagaimana nasib koleksi Anda ke depan?

Rupiah Loyo, Bank Perketat Risiko Kredit
| Sabtu, 18 April 2026 | 06:00 WIB

Rupiah Loyo, Bank Perketat Risiko Kredit

Pelemahan rupiah belum berdampak signifikan ke NPL bank, namun debitur berpendapatan rupiah dengan utang valas patut waspada. Simak risikonya!

Nilai Tukar Rupiah Terjun Lagi, Ini Pemicu Pelemahan Sepekan Terakhir
| Sabtu, 18 April 2026 | 06:00 WIB

Nilai Tukar Rupiah Terjun Lagi, Ini Pemicu Pelemahan Sepekan Terakhir

Rupiah kembali melemah 0,29% ke Rp 17.189 per dolar AS. Perang Timur Tengah dan risiko fiskal domestik jadi biang keroknya.

Dharma Polimetal (DRMA) Bidik Pertumbuhan Pendapatan 10% Tahun Ini
| Sabtu, 18 April 2026 | 05:47 WIB

Dharma Polimetal (DRMA) Bidik Pertumbuhan Pendapatan 10% Tahun Ini

DRMA akan mencari jalan untuk mencapai target ini meski konflik Timur Tengah akan memengaruhi permintaan produk otomotif.

Bisnis Ponsel Metrodata Electronics (MTDL) Masih Berdering
| Sabtu, 18 April 2026 | 05:37 WIB

Bisnis Ponsel Metrodata Electronics (MTDL) Masih Berdering

Ada tren penjualan ponsel mereka dengan merek Infinix laris manis dengan pertumbuhan penjualan dobel digit.

Peluang OCBC Akuisisi Bisnis Ritel HSBC Indonesia
| Sabtu, 18 April 2026 | 05:30 WIB

Peluang OCBC Akuisisi Bisnis Ritel HSBC Indonesia

OCBC berpeluang besar mengakuisisi bisnis ritel HSBC Indonesia senilai Rp 6 triliun. Simak strategi besar di balik langkah ini.

Gadai Kendaraan Terus Tumbuh
| Sabtu, 18 April 2026 | 05:00 WIB

Gadai Kendaraan Terus Tumbuh

Bisnis gadai kendaraan tumbuh hingga 80% di awal 2026. Temukan bagaimana ini bisa jadi solusi dana cepat bagi UMKM dan individu.

INDEKS BERITA