Jadi Top Foreign Buy, Saham AMMN dan BRMS Masih Layak Dilirik?

Rabu, 16 September 2026 | 12:45 WIB
Jadi Top Foreign Buy, Saham AMMN dan BRMS Masih Layak Dilirik?
[ILUSTRASI. PT Bumi Resources Minerals Tbk (Dok/BRMS)]
Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) tercatat masih menduduki posisi sebagai emiten yang paling banyak diburu investor asing per Senin (14/9) dan Selasa (15/9).

Pada Senin, AMMN mencatatkan net buy asing sebesar 199,89 miliar sedangkan pada Selasa, AMMN mencatat angka sebesar 76,34 miliar. BRMS di sisi lain mencatatkan net buy asing sebesar 130,57 miliar dan pada hari Selasa mencatat angka sebesar 84,66 miliar.

Tetapi pada Selasa (15/9), AMMN ditutup melemah 0,98% ke Rp 5.050 sementara BRMS menguat 0,68% ke Rp 735. Padahal, pada perdagangan sebelumnya, kedua saham tersebut mencatat penguatan signifikan. AMMN naik 4,94%, sementara BRMS melesat 8,15%.

Head of Retail Research CGS International Sekuritas Mino mengatakan, penguatan AMMN dan BRMS yang disertai aksi beli investor asing tidak terlepas dari kenaikan bobot kedua saham tersebut dalam MSCI Global Gold Miners Index (GDXI).

Menurut dia, tidak terdapat perubahan emiten dalam indeks tersebut. AMMN dan BRMS tetap menjadi konstituen, tetapi bobot keduanya meningkat seiring kenaikan free float.

Baca Juga: Prospek Saham BRMS Masih Cukup Menarik Hingga Akhir Tahun

Kenaikan bobot tersebut membuat passive fund, termasuk exchange traded fund (ETF) yang mengacu pada indeks tersebut, perlu menyesuaikan portofolionya dengan meningkatkan kepemilikan pada AMMN dan BRMS.

“Hal ini berpotensi mendorong aliran dana masuk, terutama dari investor asing, ke kedua saham tersebut,” ujar Mino dalam paparan terbarunya, Selasa (15/9).

Rebalancing indeks tersebut akan berlaku setelah penutupan perdagangan Jumat, 18 September 2026, sehingga menurut Mino, hingga Jumat masih terdapat potensi aliran dana masuk ke AMMN dan BRMS.

Berdasarkan perhitungannya, potensi aliran dana masuk dari rebalancing mencapai sekitar US$ 44,4 juta untuk AMMN dan US$ 27,3 juta untuk BRMS.

Dia melanjutkan, di tengah peluang aliran dana asing tersebut, Mino menilai investor tetap perlu melihat fundamental kedua emiten.

BRMS telah merilis kinerja keuangan semester I-2026. Pada periode tersebut, BRMS membukukan pendapatan US$ 96 juta, turun 21% yoy. Penurunan pendapatan terutama berasal dari penjualan emas yang turun 21% year on year (YoY) menjadi US$ 93 juta. Penjualan perak juga turun 7,69% YoY menjadi US$ 2,98 juta.

Tekanan terhadap pendapatan tersebut kemudian berdampak terhadap laba bersih. BRMS membukukan laba bersih US$ 12,93 juta pada semester I-2026, merosot 44% YoY dibandingkan US$ 22,97 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Harga Tembaga Koreksi, Ini Dampaknya ke MDKA, ANTM dan BRMS
| Rabu, 16 September 2026 | 15:00 WIB

Harga Tembaga Koreksi, Ini Dampaknya ke MDKA, ANTM dan BRMS

Katalis yang perlu diperhatikan ke depan mencakup kebijakan tarif AS, perkembangan persediaan LME dan COMEX, kebijakan The Fed dan arah dolar AS.​

Gejolak Harga Minyak Mengerek Biaya Angkut
| Rabu, 16 September 2026 | 14:19 WIB

Gejolak Harga Minyak Mengerek Biaya Angkut

Konflik geopolitik turut memicu lonjakan tarif angkut dan mengancam margin perusahaan. Tapi, tekanan bukan hanya dari harga energi.

Meski Sentimen Akuisisi Saham DSSA Masih Volatile, Ini Sebabnya
| Rabu, 16 September 2026 | 14:15 WIB

Meski Sentimen Akuisisi Saham DSSA Masih Volatile, Ini Sebabnya

Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) bergerak volatile setelah melonjak signifikan menyusul narasi akuisisi PT Bali Media Telekomunikasi.

Saham BYAN Anjlok 41% Sebulan, Dihantam Isu Akuisisi hingga Force Majeure
| Rabu, 16 September 2026 | 12:50 WIB

Saham BYAN Anjlok 41% Sebulan, Dihantam Isu Akuisisi hingga Force Majeure

BYAN tidak mengetahui adanya rencana akuisisi sekitar 62,2% saham BYAN oleh Haji Isam, atau pihak yang terafiliasi dengan Haji Isam

Jadi Top Foreign Buy, Saham AMMN dan BRMS Masih Layak Dilirik?
| Rabu, 16 September 2026 | 12:45 WIB

Jadi Top Foreign Buy, Saham AMMN dan BRMS Masih Layak Dilirik?

Analis menyebut secara keseluruhan, AMMN dan BRMS masih berpeluang menguat dalam jangka pendek, terutama didorong oleh kenaikan bobot dalam indeks

Emiten Konstruksi Bidik Proyek Data Center, Bagaimana Kesiapan TOTL?
| Rabu, 16 September 2026 | 12:30 WIB

Emiten Konstruksi Bidik Proyek Data Center, Bagaimana Kesiapan TOTL?

Emiten konstruksi terpantau mulai membidik bisnis pembangunan data center di tengah terbatasnya anggaran konstruksi pemerintah.

Rencana Danantara Pegang 40% Saham BEI Picu Kekhawatiran Konflik Kepentingan
| Rabu, 16 September 2026 | 11:59 WIB

Rencana Danantara Pegang 40% Saham BEI Picu Kekhawatiran Konflik Kepentingan

Tujuan demutualisasi BEI seharusnya mengurangi konsentrasi dan konflik kepentingan, bukan sekadar memindahkan konsentrasi kepemilikan.

Ganti Pengendali, Prospek Saham DPUM Terkerek Rencana Transformasi dan Ekspansi
| Rabu, 16 September 2026 | 11:47 WIB

Ganti Pengendali, Prospek Saham DPUM Terkerek Rencana Transformasi dan Ekspansi

Sentimen masuknya pengendali baru DPUM cukup positif karena latar belakang PT Rama Indonesia yang mempunyai jaringan distribusi yang luas

Suntik Rp 325 Miliar ke Anak usaha untuk Ekspansi, Simak Rekomendasi Saham CMRY
| Rabu, 16 September 2026 | 11:11 WIB

Suntik Rp 325 Miliar ke Anak usaha untuk Ekspansi, Simak Rekomendasi Saham CMRY

Ekspansi distribusi cukup penting bagi CMRY karena pertumbuhan penjualan tidak hanya bergantung pada kapasitas produksi.

Porsi Danantara di BEI Menjadi Sorotan
| Rabu, 16 September 2026 | 09:10 WIB

Porsi Danantara di BEI Menjadi Sorotan

Danantara masih menunggu regulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menjadi landasan hukum demutualisasi

INDEKS BERITA

Terpopuler