Jadi Top Foreign Buy, Saham AMMN dan BRMS Masih Layak Dilirik?
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) tercatat masih menduduki posisi sebagai emiten yang paling banyak diburu investor asing per Senin (14/9) dan Selasa (15/9).
Pada Senin, AMMN mencatatkan net buy asing sebesar 199,89 miliar sedangkan pada Selasa, AMMN mencatat angka sebesar 76,34 miliar. BRMS di sisi lain mencatatkan net buy asing sebesar 130,57 miliar dan pada hari Selasa mencatat angka sebesar 84,66 miliar.
Tetapi pada Selasa (15/9), AMMN ditutup melemah 0,98% ke Rp 5.050 sementara BRMS menguat 0,68% ke Rp 735. Padahal, pada perdagangan sebelumnya, kedua saham tersebut mencatat penguatan signifikan. AMMN naik 4,94%, sementara BRMS melesat 8,15%.
Head of Retail Research CGS International Sekuritas Mino mengatakan, penguatan AMMN dan BRMS yang disertai aksi beli investor asing tidak terlepas dari kenaikan bobot kedua saham tersebut dalam MSCI Global Gold Miners Index (GDXI).
Menurut dia, tidak terdapat perubahan emiten dalam indeks tersebut. AMMN dan BRMS tetap menjadi konstituen, tetapi bobot keduanya meningkat seiring kenaikan free float.
Baca Juga: Prospek Saham BRMS Masih Cukup Menarik Hingga Akhir Tahun
Kenaikan bobot tersebut membuat passive fund, termasuk exchange traded fund (ETF) yang mengacu pada indeks tersebut, perlu menyesuaikan portofolionya dengan meningkatkan kepemilikan pada AMMN dan BRMS.
“Hal ini berpotensi mendorong aliran dana masuk, terutama dari investor asing, ke kedua saham tersebut,” ujar Mino dalam paparan terbarunya, Selasa (15/9).
Rebalancing indeks tersebut akan berlaku setelah penutupan perdagangan Jumat, 18 September 2026, sehingga menurut Mino, hingga Jumat masih terdapat potensi aliran dana masuk ke AMMN dan BRMS.
Berdasarkan perhitungannya, potensi aliran dana masuk dari rebalancing mencapai sekitar US$ 44,4 juta untuk AMMN dan US$ 27,3 juta untuk BRMS.
Dia melanjutkan, di tengah peluang aliran dana asing tersebut, Mino menilai investor tetap perlu melihat fundamental kedua emiten.
BRMS telah merilis kinerja keuangan semester I-2026. Pada periode tersebut, BRMS membukukan pendapatan US$ 96 juta, turun 21% yoy. Penurunan pendapatan terutama berasal dari penjualan emas yang turun 21% year on year (YoY) menjadi US$ 93 juta. Penjualan perak juga turun 7,69% YoY menjadi US$ 2,98 juta.
Tekanan terhadap pendapatan tersebut kemudian berdampak terhadap laba bersih. BRMS membukukan laba bersih US$ 12,93 juta pada semester I-2026, merosot 44% YoY dibandingkan US$ 22,97 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
