Emiten Konstruksi Bidik Proyek Data Center, Bagaimana Kesiapan TOTL?
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten konstruksi terpantau mulai membidik bisnis pembangunan data center di tengah terbatasnya anggaran konstruksi pemerintah serta ramainya rencana pembangunan data center di Indonesia.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartanto sendiri pernah menyampaikan bahwa investor berminat mendirikan data center dengan kapasitas total mencapai 1,3 gigawatt (GW).
Adapun saat ini, kapasitas data center yang ada di Indonesia ada sekitar 580 megawatt (MW). Untuk mendukung ekspansi masif ini, Airlangga menyebutkan butuh tambahan investasi yang diperkirakan mencapai US$ 15 miliar hingga US$ 20 miliar.
PT Wika Beton Tbk (WTON) pun tak menampik bahwa saat ini proyek pemerintah jauh berkurang akibat efisiensi anggaran. Atas hal ini, perseroan pun membidik proyek data center.
Ignatius Harry Sumartono Sekretaris Perusahaan WTON menyampaikan WTON telah menggenggam proyek pembangunan data center di Indonesia dengan menyediakan beton pracetak dan tiang pancang untuk pembangunan pondasi. Dia menyampaikan bahwa segmen ini menjadi peluang yang perlu dikembangkan.
Baca Juga: Skenario di Balik Rencana Merger PTPP dan ADHI
"Ini menjadi modal untuk merespons peluang peningkatan permintaan dengan memenuhi pasokan sesuai spesifikasi, lokasi, dan jadwal setiap proyek," ujar Ignatius saat dihubungi KONTAN, Selasa (15/9).
Tak hanya WTON, emiten konstruksi swasta, PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL) juga ikut menceburkan diri pada segmen pryk data center. Dalam paparannya, TOTL menyampaikan sudah memiliki pipeline tender sebesar Rp 17,2 triliun hingga semester I-2026 dengan sekitar 34% atau setara dengan Rp 5,8 triliun yang berasal dari lima proyek data center.
Senior Investment Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta memandang bisnis data center memang berpotensi menjadi katalis yang cukup signifikan bagi TOTL dan WTON, karena segmen ini memiliki karakteristik structural growth yang berbeda dari konstruksi konvensional.
"Kebutuhan data center terus meningkat seiring ekspansi cloud, AI, dan digitalisasi," ujar Nafan kepada KONTAN.
Dia juga menyebutkan adanya minat investasi tambahan sekitar 1,3 GW data center di Indonesia.
Nafan juga memandang bagi TOTL, katalisnya sudah cukup konkret karena pipeline tender mencapai Rp 17,2 triliun per semester I-2026, dengan sekitar 34% atau Rp 5,8 triliun berasal dari lima proyek data center.
Selain memberikan diversifikasi, proyek data center juga relatif menarik dari sisi value-added karena membutuhkan spesifikasi engineering dan standar eksekusi yang tinggi, sehingga berpotensi menghasilkan kualitas margin lebih baik.
Sementara bagi WTON, peluangnya lebih bersifat diversifikasi ke proyek swasta dan industrial yang dapat mengurangi ketergantungan terhadap APBN, mengingat kontribusi pelanggan swasta sudah mencapai 47,06% dari kontrak baru hingga Juni 2026.
