Emiten Konstruksi Bidik Proyek Data Center, Bagaimana Kesiapan TOTL?

Rabu, 16 September 2026 | 12:30 WIB
Emiten Konstruksi Bidik Proyek Data Center, Bagaimana Kesiapan TOTL?
[ILUSTRASI. PT PP (PTPP) mendapatkan proyek Lanjutan Revitalisasi Terminal 1 (T1A) Bandara Soekarno-Hatta (DOK/PTPP)]
Reporter: Amalia Nur Fitri | Editor: Yuwono Triatmodjo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten konstruksi terpantau mulai membidik bisnis pembangunan data center di tengah terbatasnya anggaran konstruksi pemerintah serta ramainya rencana pembangunan data center di Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartanto sendiri pernah menyampaikan bahwa investor berminat mendirikan data center dengan kapasitas total mencapai 1,3 gigawatt (GW).

Adapun saat ini, kapasitas data center yang ada di Indonesia ada sekitar 580 megawatt (MW). Untuk mendukung ekspansi masif ini, Airlangga menyebutkan butuh tambahan investasi yang diperkirakan mencapai US$ 15 miliar hingga US$ 20 miliar.

PT Wika Beton Tbk (WTON) pun tak menampik bahwa saat ini proyek pemerintah jauh berkurang akibat efisiensi anggaran. Atas hal ini, perseroan pun membidik proyek data center.

Ignatius Harry Sumartono Sekretaris Perusahaan WTON menyampaikan WTON telah menggenggam proyek pembangunan data center di Indonesia dengan menyediakan beton pracetak dan tiang pancang untuk pembangunan pondasi. Dia menyampaikan bahwa segmen ini menjadi peluang yang perlu dikembangkan.

Baca Juga: Skenario di Balik Rencana Merger PTPP dan ADHI

"Ini menjadi modal untuk merespons peluang peningkatan permintaan dengan memenuhi pasokan sesuai spesifikasi, lokasi, dan jadwal setiap proyek," ujar Ignatius saat dihubungi KONTAN, Selasa (15/9).

Tak hanya WTON, emiten konstruksi swasta, PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL) juga ikut menceburkan diri pada segmen pryk data center. Dalam paparannya, TOTL menyampaikan sudah memiliki pipeline tender sebesar Rp 17,2 triliun hingga semester I-2026 dengan sekitar 34% atau setara dengan Rp 5,8 triliun yang berasal dari lima proyek data center.

Senior Investment Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta memandang bisnis data center memang berpotensi menjadi katalis yang cukup signifikan bagi TOTL dan WTON, karena segmen ini memiliki karakteristik structural growth yang berbeda dari konstruksi konvensional.

"Kebutuhan data center terus meningkat seiring ekspansi cloud, AI, dan digitalisasi," ujar Nafan kepada KONTAN.

Dia juga menyebutkan adanya minat investasi tambahan sekitar 1,3 GW data center di Indonesia.

Nafan juga memandang bagi TOTL, katalisnya sudah cukup konkret karena pipeline tender mencapai Rp 17,2 triliun per semester I-2026, dengan sekitar 34% atau Rp 5,8 triliun berasal dari lima proyek data center.

Selain memberikan diversifikasi, proyek data center juga relatif menarik dari sisi value-added karena membutuhkan spesifikasi engineering dan standar eksekusi yang tinggi, sehingga berpotensi menghasilkan kualitas margin lebih baik.

Sementara bagi WTON, peluangnya lebih bersifat diversifikasi ke proyek swasta dan industrial yang dapat mengurangi ketergantungan terhadap APBN, mengingat kontribusi pelanggan swasta sudah mencapai 47,06% dari kontrak baru hingga Juni 2026.

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan
Topik Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

Kinerja Fundamental Ultrajaya Solid, Prospek Jangka Menengah ULTJ Kian Menarik
| Senin, 02 November 2026 | 07:51 WIB

Kinerja Fundamental Ultrajaya Solid, Prospek Jangka Menengah ULTJ Kian Menarik

Rencana akuisisi Frisian Flag Indonesia juga berpotensi memperkuat posisi bisnis PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ).

Antara Ancaman MSCI dan Koreksi di IHSG
| Senin, 02 November 2026 | 07:09 WIB

Antara Ancaman MSCI dan Koreksi di IHSG

Peristiwa ini membuktikan OJK independen dan menjatuhkan sanksi tanpa pandang bulu, sekalipun sekuritas tersebut dimiliki  tokoh penting,

Kendali Produksi Nikel dan Batubara Masih Ketat dalam RKAB 2027
| Senin, 02 November 2026 | 07:06 WIB

Kendali Produksi Nikel dan Batubara Masih Ketat dalam RKAB 2027

Pemerintah memberikan sinyal akan melanjutkan pengetatan kontrol kuota produksi di RKAB 2027, khususnya untuk komoditas bijih nikel dan batubara

Tak Sekedar Memantau Kendaraan
| Senin, 02 November 2026 | 07:06 WIB

Tak Sekedar Memantau Kendaraan

Fleet management system (FMS) membantu berbagai industri mendongkrak efisiensi, menekan biaya, meningkatkan keselamatan.

Pebisnis Rental Mobil Andalkan Momentum Akhir Tahun
| Senin, 02 November 2026 | 07:05 WIB

Pebisnis Rental Mobil Andalkan Momentum Akhir Tahun

Permintaan rental kendaraan secara umum masih cukup baik. Secara musiman, permintaan biasanya meningkat memasuki periode akhir tahun.

Dibayangi Data Domestik dan Implementasi HSC, IHSG Masih Berisiko Tertekan
| Senin, 02 November 2026 | 07:04 WIB

Dibayangi Data Domestik dan Implementasi HSC, IHSG Masih Berisiko Tertekan

Pergerakan IHSG akan dibayangi implementasi kebijakan baru Bursa Efek Indonesia (BEI) perkembangan isu MSCI, dan sejumlah data ekonomi.

OJK Tidak Menutup Opsi Sanksi Pidana
| Senin, 02 November 2026 | 07:03 WIB

OJK Tidak Menutup Opsi Sanksi Pidana

Upaya penindakan atas kecurangan dalam penawaran saham perdana bakal terus berlanjut dalam waktu dekat

Emiten Mind Id Mengantongi Laba Tinggi
| Senin, 02 November 2026 | 07:00 WIB

Emiten Mind Id Mengantongi Laba Tinggi

Kinerja emiten Mind Id ditopang oleh kenaikan harga komoditas, peningkatan volume produksi dan penjualan, serta efisiensi operasional.

Awal Pekan, HSC Mulai Didepak dari Perhitungan IHSG, Cek Rekomendasi Saham Hari Ini
| Senin, 02 November 2026 | 06:44 WIB

Awal Pekan, HSC Mulai Didepak dari Perhitungan IHSG, Cek Rekomendasi Saham Hari Ini

Kebijakan baru BEI mulai 2 November, saham-saham high shareholding concentration (HSC) dikecualikan dari perhitungan IHSG.

Instrumen Investasi Berguguran di Oktober
| Senin, 02 November 2026 | 06:30 WIB

Instrumen Investasi Berguguran di Oktober

Penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil US Treasury, serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik menjadikan investor wait and see

INDEKS BERITA

Terpopuler