Laju Komoditas Energi Tertekan Pandemi, Begini Proyeksi Harga Minyak dan Batubara

Senin, 03 Agustus 2020 | 06:29 WIB
Laju Komoditas Energi Tertekan Pandemi, Begini Proyeksi Harga Minyak dan Batubara
[ILUSTRASI. FILE PHOTO: A pump jack operates in front of a drilling rig at sunset in an oil field in Midland, Texas U.S. August 22, 2018. Picture taken August 22, 2018. REUTERS/Nick Oxford/File Photo]
Reporter: Hikma Dirgantara | Editor: A.Herry Prasetyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pandemi virus corona memberikan efek negatif bagi pergerakan harga komoditas energi. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI), batubara, dan gas alam kompak loyo dalam tujuh bulan di tahun 2020 ini.

Harga minyak jatuh paling dalam di antara komoditas energi yang lain. Minyak jenis WTI untuk kontrak pengiriman September 2020 anjlok 30,29% sepanjang tahun ini menjadi US$ 40,27 per barel pada Jumat (31/7).

Batubara juga turun cukup dalam sepanjang tahun ini. Harga batubara di ICE untuk pengiriman Agustus 2020 turun 25,88% sejak awal tahun menjadi US$ 52,7 per ton pada akhir pekan lalu.

Baca Juga: Kurs Rupiah Bisa Kembali Ditekan Dollar AS Pekan Ini

Demikian halnya dengan harga gas alam yang turun 22,15% tahun ini. Gas alam untuk kontrak pengiriman September 2020 ini berada di US$ 1,799 per MMBtu.

Analis Global Kapital Investama Alwi Assegaf menilai, kejatuhan harga minyak tidak terlepas dari turunnya permintaan seiring banyak negara yang melakukan lockdown periode Maret-April.

Keadaan semakin parah ketika terjadi perang harga antara produsen minyak yang sempat membuat harga minyak menyentuh minus US$ 40 per barel dan bertahan di level psikologis US$ 20 per barel akhir semester I-2020.

Baca Juga: IHSG Dibayangi Resesi Ekonomi, Simak Prediksinya untuk Bulan Ini

Beruntung, memasuki paruh kedua tahun ini, harga minyak WTI mulai membaik. Merujuk Bloomberg, harga minyak WTI naik 2,55% dalam sebulan terakhir. "Faktor yang mendorong harga minyak kembali ke US$ 40 per barel adalah kesepakatan pemangkasan produksi serta membaiknya permintaan.

Namun, Alwi melihat, pergerakan harga minyak WTI ke depan akan melandai. Penyebabnya, penyebaran virus korona yang masih meningkat, terutama di Amerika Serikat.

"Jika OPEC+ masih berkomitmen menjaga harga, kemungkinan penurunan bisa dibatasi," kata Alwi. Dia memperkirakan, harga minyak WTI pada akhir tahun berpotensi di US$ 38 per barel.

Baca Juga: IHSG Hari Ini Berpeluang Menguat, Resistace Diperkirakan Mencapai 5.210

Pergerakan harga batubara juga dipengaruhi pandemi virus corona. Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim menyebut, dua negara pengimpor batubara terbesar, China dan India, menutup keran impor seiring lockdown.

Ke depan, Ibrahim melihat fundamental batubara belum membaik. Selain pandemi, ketegangan antara China-Australia menjadi sentimen pemberat. Ibrahim melihat, sentimen positif batubara baru datang Oktober kala terjadi musim dingin. Ibrahim memperkirakan harga batubara bisa menuju US$ 60 per ton pada akhir tahun 2020.

Baca Juga: Jadi Anggota Baru IDX30, Ini Rekomendasi untuk Saham TOWR, BTPS, dan EXCL

Tak jauh beda, Analis Central Capital Futures Wahyu Laksono bilang, pergerakan harga gas alam juga loyo karena pasokan meningkat. Memasuki semester II tahun ini, harga gas alam rebound, naik 2,86% di Juli 2020.

Kata Wahyu, harga gas alam bisa kembali naik menjelang musim dingin. Prediksinya, harga gas alam akan berada di level US$ 1,50-US$ 2,30 per mmbtu, di mana US$ 2 menjadi gravitational area.

Bagikan

Berita Terbaru

Prajogo Pangestu Kembali Memborong Saham BREN
| Kamis, 18 Juni 2026 | 09:49 WIB

Prajogo Pangestu Kembali Memborong Saham BREN

Aksi pembelian saham BREN tersebut pada rentang harga Rp 3.740 hingga Rp 3.880 per saham. Adapun total nilai transaksi sekitar Rp 26,38 miliar. ​

Rupiah Terus Melemah, Emiten Farmasi Semakin Tak Bergairah
| Kamis, 18 Juni 2026 | 09:45 WIB

Rupiah Terus Melemah, Emiten Farmasi Semakin Tak Bergairah

Pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya bahan baku impor sehingga menekan margin kotor PT Kalbe Farma Tbk (KLBF).

Emiten Properti Kawasan Industri Menuai Berkah Pelemahan Rupiah
| Kamis, 18 Juni 2026 | 09:29 WIB

Emiten Properti Kawasan Industri Menuai Berkah Pelemahan Rupiah

Kinerja emiten properti kawasan industri dinilai masih prospektif di era suku bunga tinggi dan pelemahan rupiah.

Emiten Ramai-Ramai Menambah Modal Lewat Private Placement
| Kamis, 18 Juni 2026 | 09:22 WIB

Emiten Ramai-Ramai Menambah Modal Lewat Private Placement

Sejumlah emiten menggelar aksi penambahan modal lewat private placement. Dana hasil aksi korporasi ini mayoritas untuk pengembangan usaha emiten.

Pasar Keuangan Menanti Harapan
| Kamis, 18 Juni 2026 | 09:13 WIB

Pasar Keuangan Menanti Harapan

Pasar keuangan Indonesia menanti sejumlah agenda penting di pekan ini. Mulai dari suku bunga The Fed, BI rate hingga hasil evaluasi Indeks MSCI.

Menakar Prospek Consumer Staples Usai Pertamax Naik, Apa Saja Risikonya?
| Kamis, 18 Juni 2026 | 08:49 WIB

Menakar Prospek Consumer Staples Usai Pertamax Naik, Apa Saja Risikonya?

Bansos diyakini mampu secara langsung menopang angka penjualan produk-produk emiten consumer staples.

Usai Kompak Menguat, Saham Grup Bakrie BRMS, BUMI, dan ENRG Masih Menarik Dikoleksi?
| Kamis, 18 Juni 2026 | 08:23 WIB

Usai Kompak Menguat, Saham Grup Bakrie BRMS, BUMI, dan ENRG Masih Menarik Dikoleksi?

Dinamika kebijakan di sektor komoditas menjadi motor penggerak utama pergerakan saham-saham emiten terafiliasi Grup Bakrie.

The Fed Tahan Bunga, Rupiah Menanti BI Rate, Simak Proyeksi Mata Uang Garuda Hari Ini
| Kamis, 18 Juni 2026 | 08:00 WIB

The Fed Tahan Bunga, Rupiah Menanti BI Rate, Simak Proyeksi Mata Uang Garuda Hari Ini

Pasar menanti hasil RDG BI. Bank sentral menjadi sorotan setelah agresif  menaikkan suku bunga menjadi 5,5% guna menopang rupiah.

MBMA Buyback Lagi, Kini Anggarannya Rp 1,46 Triliun, Sudah Saatnya Koleksi Sahamnya?
| Kamis, 18 Juni 2026 | 07:57 WIB

MBMA Buyback Lagi, Kini Anggarannya Rp 1,46 Triliun, Sudah Saatnya Koleksi Sahamnya?

Di balik sentimen positif buyback, prospek MBMA masih sangat bergantung pada dinamika industri nikel global.

The Fed Tahan Bunga, Pasar Menanti Putusan BI, Berikut Rekomendasi Saham Hari Ini
| Kamis, 18 Juni 2026 | 07:50 WIB

The Fed Tahan Bunga, Pasar Menanti Putusan BI, Berikut Rekomendasi Saham Hari Ini

Setelah keputusan The Fed, pasar hari ini menantikan keputusan Bank Indonesia (BI) terkait suku bunga melalui Rapat Dewan Gubernur BI.  

INDEKS BERITA

Terpopuler