Oil Extends Losses on Growth Concerns and Shanghai Lockdown

Jumat, 22 April 2022 | 16:17 WIB
Oil Extends Losses on Growth Concerns and Shanghai Lockdown
[ILUSTRASI. A general view of the Phillips 66 Company's Los Angeles Refinery, which processes domestic & imported crude oil into gasoline, diesel fuel, and other petroleum products, in Carson, California, U.S., March 11, 2022. REUTERS/Bing Guan]
Reporter: Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN.CO.ID - LONDON, April 22 (Reuters) - Oil slipped on Friday, burdened by the prospect of weaker global growth, higher interest rate and COVID-19 lockdowns in China hurting demand even as the European Union considered a ban on Russian oil that would further tighten supply.

The International Monetary Fund this week cut its global economic growth forecast while the U.S. Federal Reserve Chair on Thursday said that a half-point increase to interest rates "will be on the table" at the next Fed policy meeting in May.

Brent crude LCOc1 was down 76 cents, or 0.7%, at $107.57 a barrel by 0810 GMT. U.S. West Texas Intermediate (WTI) crude CLc1 declined 32 cents, or 0.3%, to $103.47.

Baca Juga: SAP Flags Hit from Russia Exit, Revenue Growth Beats Estimates

"At this stage, fears over China's growth and overtightening by the Fed, capping U.S. growth, seem to be balancing out concerns that Europe will soon widen sanctions on Russian energy imports," said Jeffrey Halley, analyst at brokerage OANDA.

The outlook for demand in China, the world's biggest oil importer, continues to weigh. Shanghai announced a new round of measures including daily coronavirus testing from Friday, adding to strict measures to curb the latest outbreaks.

Brent hit $139 a barrel last month, its highest since 2008, but both oil benchmarks were heading for weekly declines of more than 3% this week.

Baca Juga: Australian Lender Westpac Fined A$ 113 Million for Multiple Compliance Breaches

Ongoing support is provided by supply tightness after disruptions in Libya, which is losing 550,000 barrels per day (bpd) of output, and supply could be squeezed further if the European Union imposes an embargo on Russian oil.

An EU source told Reuters this week the European Commission is working to speed up availability of alternative energy supplies to try to cut the cost of banning Russian oil and persuade reluctant nations to accept the measure.

"An EU boycott of Russian energy would inevitably lead to higher energy prices, at least in the immediate term," said Stephen Brennock of oil broker PVM. "It looks to be a case of if, not when."

 

 

Bagikan

Berita Terbaru

CORE Indonesia: Perang Iran VS Israel-AS Berpotensi Gerus Ekspor Indonesia
| Selasa, 24 Maret 2026 | 04:00 WIB

CORE Indonesia: Perang Iran VS Israel-AS Berpotensi Gerus Ekspor Indonesia

Indonesia mengekspor produk-produknya ke Uni Arab Emirat (UAE), Arab Saudi, Qatar, Oman, Irak, Iran, Kuwait, dan Bahrain.

Daya Tarik Emas Memudar? Terjun 8% dalam Sehari, Terburuk 43 Tahun
| Senin, 23 Maret 2026 | 17:27 WIB

Daya Tarik Emas Memudar? Terjun 8% dalam Sehari, Terburuk 43 Tahun

Harga emas turun lebih dari 10% minggu lalu. Ini adalah penurunan mingguan tercuram sejak Februari 1983.

Peluang Saham ICBP di Tengah Isu Daya Beli dan Kenaikan Harga Bahan Baku
| Senin, 23 Maret 2026 | 15:00 WIB

Peluang Saham ICBP di Tengah Isu Daya Beli dan Kenaikan Harga Bahan Baku

PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) diproyeksikan masih akan melanjutkan tren kinerja keuangan yang solid di tahun ini.

Kenaikan Harga Ayam Broiler dan Impor Bahan Baku Jadi Penentu Kinerja CPIN
| Senin, 23 Maret 2026 | 14:50 WIB

Kenaikan Harga Ayam Broiler dan Impor Bahan Baku Jadi Penentu Kinerja CPIN

Pemerintah berencana memperluas cakupan MBG hingga 83 juta penerima pada Mei 2026, naik signifikan dibandingkan 55 juta penerima di Januari 2026.

Konflik Iran: Jebakan Perang yang Kini Menjegal Kekuasaan Trump
| Senin, 23 Maret 2026 | 14:27 WIB

Konflik Iran: Jebakan Perang yang Kini Menjegal Kekuasaan Trump

Goldman Sachs dan JP Morgan proyeksikan harga Brent bisa tembus US$100. Ketahui pemicu kenaikan dan dampaknya pada pasar energi global.

Ekspor RI Tahan Guncangan Timur Tengah, Tapi Terjepit dari Sisi Biaya
| Senin, 23 Maret 2026 | 14:20 WIB

Ekspor RI Tahan Guncangan Timur Tengah, Tapi Terjepit dari Sisi Biaya

Jika konflik berkepanjangan, harga minyak global pada 2026 diproyeksikan berada di kisaran US$ 85 – US$ 120 per barel.

Meramu Portofolio Tahan Banting di Tengah Ketidakpastian Global Ala Bank DBS
| Senin, 23 Maret 2026 | 13:00 WIB

Meramu Portofolio Tahan Banting di Tengah Ketidakpastian Global Ala Bank DBS

Bank DBS bahkan menaikkan proyeksi harga emas ke level US$ 6.250 per ons troi pada paruh kedua 2026.

Kinerja 2025 Belum Maksimal, Pemulihan APLN Diproyeksi Akan Lambat
| Senin, 23 Maret 2026 | 11:00 WIB

Kinerja 2025 Belum Maksimal, Pemulihan APLN Diproyeksi Akan Lambat

Sepanjang 2025, APLN mencatatkan penjualan dan pendapatan usaha sebesar Rp 3,56 triliun, merosot 36,08% year on year (YoY).

MSCI Indonesia Index Minus di Awal 2026, Kalah dari Malaysia dan Thailand
| Senin, 23 Maret 2026 | 10:00 WIB

MSCI Indonesia Index Minus di Awal 2026, Kalah dari Malaysia dan Thailand

MSCI Indonesia Index berisi 18 saham dengan total market cap senilai US$ 111,98 miliar. Sepuluh saham terbesarnya merupakan saham-saham big caps.

Usai Kemeriahan Lebaran, MAPI Bakal Hadapi Tantangan Tekanan Daya Beli
| Senin, 23 Maret 2026 | 08:00 WIB

Usai Kemeriahan Lebaran, MAPI Bakal Hadapi Tantangan Tekanan Daya Beli

Kondisi harga minyak global yang relatif tinggi saat ini dan diperkirakan akan bertahan lama, diprediksi juga akan berpotensi menekan SSSG MAPI.

INDEKS BERITA

Terpopuler