Paradoks Akhir Tahun: Pemerintah Tebar Diskon, Alam Bunyikan Alarm Bahaya

Kamis, 18 Desember 2025 | 09:00 WIB
Paradoks Akhir Tahun: Pemerintah Tebar Diskon, Alam Bunyikan Alarm Bahaya
[ILUSTRASI. Suasana Bandara Soekarno Hatta di Tangerang, Banten. DOK/BKIP Kemenhub]
Reporter: Arfyana Citra Rahayu | Editor: Tedy Gumilar

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indonesia menghadapi situasi paradoks di penghujung 2025. Di satu sisi, pemerintah tancap gas menggelontorkan stimulus diskon tiket perjalanan demi mendongkrak ekonomi libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). Di sisi lain, alam justru menarik rem darurat lewat ancaman banjir, tanah longsor, hingga cuaca ekstrem.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahkan telah membunyikan alarm peringatan. Masyarakat diminta waspada penuh menghadapi kondisi alam di pengujung tahun ini hingga awal 2026.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani membeberkan, curah hujan tinggi hingga sangat tinggi bakal mengepung sejumlah wilayah pada periode Desember 2025 hingga Januari 2026. Intensitasnya diprediksi mencapai kisaran 300 hingga 500 milimeter per bulan.

“Wilayah yang berpotensi meliputi Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sulawesi Selatan, dan Papua Selatan. Sementara itu, sebagian besar wilayah Kalimantan secara klimatologis berada dalam musim hujan sepanjang tahun,” tegasnya dalam keterangan resmi.

Puncak musim hujan di Lampung, Bengkulu, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara diprediksi terjadi pada Januari hingga Februari 2026. Sedangkan sebagian besar Sumatra (kecuali Bengkulu dan Lampung), puncaknya justru berlangsung pada Desember ini. Kondisi ini jelas menuntut langkah antisipatif ekstra jelang libur akhir tahun.

Baca Juga: Tahun Depan, ADHI Membidik Kontrak Baru Rp 23 Triliun

Ancaman di Langit dan Laut

Tak cuma di darat, BMKG juga mewanti-wanti sektor penerbangan. Potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus siap menghantui langit Indonesia selama periode Nataru.

Pada Desember 2025, rute penerbangan yang rawan terdampak meliputi Laut Natuna, Selat Karimata bagian selatan, Selat Makassar, Laut Sulawesi, Laut Banda, serta Papua bagian utara. Memasuki Januari 2026, awan Cumulonimbus diprediksi bergeser ke rute Samudra Hindia barat Sumatra hingga selatan Nusa Tenggara, Laut Jawa, Selat Makassar, Laut Banda, Laut Arafura, serta Papua.

Di sektor laut, gelombang kategori sedang (1,25–2,5 meter) pada Desember 2025 mengintai perairan barat dan selatan Sumatra, Selat Sunda, selatan Jawa hingga NTT, serta Natuna. Waspada ekstra diperlukan di Laut Natuna Utara yang berpotensi diamuk gelombang setinggi 2,5 hingga 4 meter pada Januari 2026.

Ancaman banjir rob juga belum surut. Pada pertengahan Desember, wilayah Banten, Jakarta (terutama Pantai Utara), serta Pantura Jawa Barat masih dalam bayang-bayang pasang air laut.

Merespons sinyal bahaya ini, sejumlah kepala daerah mengambil langkah taktis. Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memperpanjang status siaga darurat bencana hidrometeorologi. Data BPBD DIY mencatat tiga kawasan wisata rawan longsor: Perbukitan Menoreh, Pegunungan Sewu, dan Perbukitan Patuk Imogiri.

Langkah tegas juga diambil Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Ia memutuskan menghentikan pemberian izin perumahan baru. Ini sinyal keras tingginya kerawanan bencana di salah satu wilayah yang menjadi tujuan utama pelesir warga Jakarta.

Baca Juga: Jurus Kalbe Farma (KLBF) Kejar Cuan, Genjot Radiofarmaka hingga Pabrik Alkes

Guyuran Stimulus Pemerintah

Kontras dengan kewaspadaan bencana, pemerintah justru agresif memberi insentif. Sejak November 2025, Program Diskon Tiket Transportasi Libur Nataru 2025/2026 resmi dibuka.

PT Kereta Api Indonesia (KAI) memangkas harga tiket sebesar 30% untuk 156 KA Reguler dan 26 KA Tambahan kelas ekonomi komersial. Diskon ini menyasar 1.509.080 penumpang.

Di sektor laut, PT PELNI memberikan diskon tarif dasar 20% (setara 16%-18% total harga tiket) bagi 405.881 penumpang kelas ekonomi. Sementara PT ASDP Indonesia Ferry menggratiskan 100% tarif jasa kepelabuhanan. Ini setara diskon riil rata-rata 19% dari tarif terpadu di 8 lintasan pada 16 pelabuhan, dengan target 2,34 juta penumpang (konversi dari penumpang dan kendaraan).

Tak ketinggalan, tiket pesawat mendapat diskon 13%-14% bagi sekitar 3,59 juta penumpang, ditambah perpanjangan jam operasi bandara.

Apakah diskon ini efektif? Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede menilai insentif ini memang masif. Data ekonomi Oktober 2025 menunjukkan daya beli masih kuat, terlihat dari kenaikan penjualan eceran 4,3% dan lonjakan penumpang angkutan umum.

“Bila faktor keselamatan dianggap terkendali, diskon bisa efektif menurunkan penghalang biaya (barrier to entry),” ujar Josua kepada KONTAN, Rabu (17/12/2025).

Namun, Josua memberi catatan tebal: insentif harga takkan mempan melawan rasa takut akan bencana. Persepsi keselamatan jauh lebih mahal daripada potongan harga tiket.

“Dalam situasi bencana, diskon tarif tidak menurunkan risiko. Jadi, tidak selalu mampu mengimbangi kenaikan rasa takut,” imbuhnya.

Diskon hanya efektif bagi mereka yang nekat atau bepergian ke wilayah aman, namun tidak akan mengubah keputusan keluarga yang mementingkan keselamatan anak dan lansia.

Baca Juga: Analisis Saham PPRE, Potensi Tekanan Jangka Pendek dan Prospek Fundamental

Jakarta Menikmati, Daerah Gigit Jari

Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI), Azril Azahari memprediksi pola wisata akan terbelah. Kalangan menengah atas cenderung pelesir ke luar negeri (outbound) mengejar tiket murah ke Malaysia, Singapura, atau Thailand. Sebaliknya, masyarakat menengah bawah akan memilih destinasi lokal yang dekat dari rumah.

“Destinasi yang dituju masih repeated travel. Seperti warga Jakarta ke Bandung atau sekitaran ibu kota,” kata Azril.

Josua menambahkan, ketakutan akan bencana membuat warga Jakarta cenderung menghabiskan liburan di dalam kota—ke mal, taman kota, atau kebun binatang.

Implikasinya serius bagi pemerataan ekonomi. Jika warga Jakarta batal ke luar kota, perputaran uang yang seharusnya dinikmati penginapan, restoran, dan UMKM daerah akan terkunci di Jakarta.

“Manfaat pemerataan ekonomi antardaerah menjadi lebih kecil. Ketimpangan penguatan ekonomi musiman justru cenderung meningkat,” tutup Josua.

Ini Artikel Spesial
Agar bisa lanjut membaca sampai tuntas artikel ini, pastikan Anda sudah berlangganan.
Sudah Berlangganan?
Berlangganan dengan Google
Gratis uji coba 7 hari pertama dan gunakan akun Google sebagai metode pembayaran.
Business Insight
Artikel pilihan editor Kontan yang menyajikan analisis mendalam, didukung data dan investigasi.
Kontan Digital Premium Access
Paket bundling Kontan berisi Business Insight, e-paper harian dan tabloid serta arsip e-paper selama 30 hari.
Masuk untuk Melanjutkan Proses Berlangganan
Bagikan
Topik Terkait

Berita Terbaru

Prospek Emiten Ban di Semester II-2026 Bergantung Pada Permintaan EV & Kinerja Ekspor
| Senin, 10 Agustus 2026 | 09:30 WIB

Prospek Emiten Ban di Semester II-2026 Bergantung Pada Permintaan EV & Kinerja Ekspor

GJTL memiliki fundamental yang menarik karena mampu mempertahankan tren pertumbuhan laba, memperbaiki arus kas dan menjaga tingkat leverage.

Jumlah Investor Pasar Modal Tembus 30,27 Juta SID
| Senin, 10 Agustus 2026 | 08:43 WIB

Jumlah Investor Pasar Modal Tembus 30,27 Juta SID

Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, investor pasar modal  mencapai 30,27 juta Single Investor Identification (SID).

Mitra Komunikasi Nusantara (MKNT) Eksekusi Private Placement Senilai Rp 1,02 Triliun
| Senin, 10 Agustus 2026 | 08:37 WIB

Mitra Komunikasi Nusantara (MKNT) Eksekusi Private Placement Senilai Rp 1,02 Triliun

Melalui private placement, PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk (MKNT) akan melakukan konversi utang serta menerima tambahan modal tunai. 

Laba Emiten Kertas Masih Bisa Ngegas
| Senin, 10 Agustus 2026 | 08:32 WIB

Laba Emiten Kertas Masih Bisa Ngegas

Dua emiten kertas Grup Sinar Mas berhasil mencetak pertumbuhan pendapatan dan laba di semester I​-2026.

Laba Bervariasi Emiten Kawasan Industri
| Senin, 10 Agustus 2026 | 08:23 WIB

Laba Bervariasi Emiten Kawasan Industri

Beberapa emiten mencatat pertumbuhan laba dan membalikkan kerugian jadi laba. Namun, ada emiten yang merugi dari sebelumnya mencetak laba.​

Awal Pekan di Tengah Tren Kepercayaan Konsumen Turun, Cek Rekomendasi Saham Hari Ini
| Senin, 10 Agustus 2026 | 08:16 WIB

Awal Pekan di Tengah Tren Kepercayaan Konsumen Turun, Cek Rekomendasi Saham Hari Ini

Menunjukkan kekhawatiran ekonomi saat ini, termasuk persepsi ketersediaan pekerjaan yang cenderung turun. 

Keputusan FTSE Menentukan Arah IHSG
| Senin, 10 Agustus 2026 | 08:13 WIB

Keputusan FTSE Menentukan Arah IHSG

Sejumlah analis menilai, peluang FTSE mencabut status pembekuan pasar saham Indonesia hanya berkisar 30%-40%.

MSCI Umumkan Hasil Index Review Pada 13 Agustus 2026, Penentuan Nasib CPIN dan GOTO
| Senin, 10 Agustus 2026 | 07:58 WIB

MSCI Umumkan Hasil Index Review Pada 13 Agustus 2026, Penentuan Nasib CPIN dan GOTO

CPIN menjadi kandidat kuat downward migration dalam review MSCI pekan ini, sementara nasib GOTO masih belum bisa dipastikan.

IHSG Menguat 2,78% Sepekan, Saham BBCA, BMRI, BBRI hingga BUMI bisa Jadi Pilihan
| Senin, 10 Agustus 2026 | 07:44 WIB

IHSG Menguat 2,78% Sepekan, Saham BBCA, BMRI, BBRI hingga BUMI bisa Jadi Pilihan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) termasuk salah satu indeks yang menonjol di tengah pergerakan bursa Asia yang cenderung mixed.

Pelanggan PLN Terkerek Ekspansi EV
| Senin, 10 Agustus 2026 | 07:27 WIB

Pelanggan PLN Terkerek Ekspansi EV

Total pelanggan yang memanfaatkan layanan HCS PLN telah menembus lebih dari 92.000 pelanggan hingga Juni 2026.

INDEKS BERITA

Terpopuler