Uji Nyali Efisiensi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Angka 2,85% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) bukan sekadar proyeksi defisit APBN 2026 yang melebar, melainkan sinyal bahaya kredibilitas kita. pemerintah berada di persimpangan jalan, antara terus membiarkan defisit menganga, atau mengambil tindakan bedah fiskal yang menyakitkan namun mendesak.
Pemerintah memang telah mulai menunjukkan langkah konkret melalui efisiensi anggaran, termasuk sinyal pemangkasan anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebesar Rp 40 triliun. Namun, langkah ini harus dibaca sebagai titik awal, bukan tujuan akhir. Efisiensi pada program prioritas ini menjadi ujian konsistensi pemerintah dalam menjaga kesehatan APBN.
Defisit yang diproyeksikan mencapai 2,85% ini belum memperhitungkan dampak efisiensi tersebut. Pemerintah tidak bisa lagi mengandalkan cara-cara lama yang membiarkan "lemak" belanja operasional membengkak sementara pendapatan negara masih rentan. Fokus pada efisiensi, terutama pada program-program dengan alokasi jumbo, adalah langkah krusial untuk memastikan setiap rupiah yang keluar memiliki multiplier effect.
Di sisi lain, perlu manajemen SiLPA (Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran) yang lebih ketat. Fakta bahwa SiLPA bengkak hingga Rp 255,5 triliun, yang jauh melampaui angka tahun lalu Rp 73 triliun, menunjukkan inefisiensi penyerapan anggaran. Dana yang seharusnya menjadi mesin penggerak ekonomi justru mengendap di kas negara, sementara pemerintah gencar menarik utang. Ini adalah paradoks yang harus diurai.
Transparansi dalam proses "efisiensi" ini mutlak diperlukan agar publik percaya bahwa langkah pemangkasan bukanlah upaya tambal sulam sesaat, melainkan strategi jangka panjang untuk menjaga stabilitas makroekonomi kita.
Namun, mengencangkan ikat pinggang saja tidak cukup.
Pemerintah juga harus agresif mengejar penerimaan melalui optimalisasi pajak dan reformasi administrasi. Jangan sampai beban defisit hanya ditimpakan pada pemotongan belanja, sementara potensi penerimaan masih banyak yang bocor di lapangan.
Pada akhirnya, pasar global sangat sensitif terhadap kredibilitas fiskal. Disiplin anggaran bukan sekadar kepatuhan pada undang-undang, melainkan fondasi kepercayaan investor.
Kita butuh aksi nyata di lapangan, bukan sekadar janji efisiensi di atas kertas yang berakhir menjadi utang baru.
