Wake Up Call: Behavioral Finance Tentang Tingkat Laku Investor

Senin, 28 Maret 2022 | 07:00 WIB
Wake Up Call: Behavioral Finance Tentang Tingkat Laku Investor
[]
Reporter: Harian Kontan | Editor: Harris Hadinata

KONTAN.CO.ID - Praktisi dan akademisi keuangan kini terbagi menjadi dua kelompok. Di satu pihak ada kelompok yang masih setia pada hipotesis pasar efisien atau kubu keuangan tradisional. Di sisi lain ada para penentangnya, yaitu kubu behavioral finance. Apa itu behavioral finance dan perbedaannya dengan ilmu keuangan tradisional?

Keuangan tradisional berlandaskan pada tiga asumsi. Pertama, investor diasumsikan rasional dalam menilai semua efek, yaitu sesuai nilai fundamentalnya. Jika ada informasi baru, mereka akan bereaksi dengan segera. Dengan demikian, dalam sekejap, informasi sudah tercermin di harga.

Kedua, jika ada investor yang tidak rasional, kehadiran mereka bersifat acak. Mereka akan saling meniadakan tanpa mempengaruhi harga. Ketiga, kalaupun investor irasional melakukan transaksi dalam arah yang sama, maka arbitrager akan muncul untuk menetralkan mereka.

Intinya, keuangan tradisional memandang investor sebagai manusia yang perfect rational, tanpa sisi emosional dan perfect self-interest, tanpa jiwa sosial. Keuangan tradisional berusaha untuk menjelaskan fenomena-fenomena keuangan secara matematik dengan model-model kuantitatif, layaknya ilmu eksakta.

Behavioral finance berusaha mengoreksi pandangan tersebut. Menurut behavioral finance, diri manusia berisi emosi dan rasio, serta ada motif sosial selain kepentingan pribadi. Behavioral finance  percaya ekonomi dan keuangan itu sejatinya bagian dari ilmu sosial.

Baca Juga: Kejagung Masuk Tahap Penyidikan, Dugaan Korupsi Komoditas Emas di Tubuh Antam (ANTM)

Behavioral finance adalah aplikasi psikologi dalam menjelaskan tingkah laku keuangan. Dalam keuangan tradisional, tidak ada usaha untuk melihat perilaku keuangan dari sudut psikologi. Sebagai ilmu baru, behavioral finance menarik banyak peminat.

Sesaat setelah psikolog pertama dan satu-satunya, Daniel Kahneman, meraih nobel ekonomi di tahun 2002, makalah-makalah tentang behavioral finance secara rutin dipresentasikan di konferensi ilmiah bergengsi dan dipublikasikan dalam jurnal bereputasi. CFA Institute pun kemudian memasukkan behavioral finance sebagai salah satu materi untuk ujian level 3.

Sertifikasi lokal untuk analis, yaitu Certified Securities Analyst (CSA) tidak ketinggalan dalam memberikan behavioral finance bagi para pesertanya sejak sembilan tahun lalu hingga angkatan ke-46 awal tahun ini. Saya kerap diminta mengajar mengenai behavioral finance ini.

Artikel-artikel populer behavioral finance rutin dimuat di harian-harian terkemuka seperti Wall Street Journal dan New York Times. Financial Times bahkan pernah menyediakan rubrik khusus untuk behavioral finance. Lembaga-lembaga keuangan di Amerika Serikat dan Eropa juga banyak yang menerapkan strategi behavioral dalam melakukan pengelolaan dananya.

Behavioral finance semakin berjaya dan diakui setelah dua tokohnya kembali memperoleh penghargaan nobel ekonomi pada tahun 2013 dan 2017. Kedua tokoh tersebut yakni Robert Shiller dan Richard Thaler.

Namun demikian, masih ada saja orang yang salah persepsi, memandang behavioral finance sebagai ilmu keuangan untuk mengalahkan pasar. Karena itu, Shefrin (2002) merasa perlu mengingatkan investor untuk tidak memahami behavioral finance setengah-setengah.

Baca Juga: Kasus Robot Trading Aset Kripto Fahrenheit, Bareskrim: Tersangka HS Sudah Kami Tahan

Behavioral finance harus dipahami secara lengkap dan investor tidak boleh melupakan bagian terpenting dari behavioral finance, yaitu pengakuan adanya risiko sentimen investor, untuk ditambahkan ke tingkat diskonto yang diprediksi CAPM. Faktor sentimen ini tidak pernah diperhitungkan dalam keuangan tradisional. Behavioral finance juga menekankan bahwa walaupun investor belajar dari pengalaman, mereka umumnya belajar dengan lambat.

Kita sudah kerap menyaksikan puluhan ribu investor menjadi korban investasi bodong, dengan total kerugian triliunan rupiah. Ini terjadi hampir setiap tahun. Ada juga saham yang melesat 300% lebih sepanjang tahun 2021 lalu, sehingga masuk top gainers di Bursa Efek Indonesia. Padahal perusahaannya masih terus merugi.

Di ekstrem lain, ada emiten-emiten yang selalu untung, tetapi selama bertahun-tahun sahamnya hanya dihargai pada price to book value (PBV) sebesar 0,2 kali dan price to earning ratio (PER) sebesar 3 kali. Banyak bank kecil dihargai sangat tinggi, dengan PBV belasan kali sementara PBV beberapa bank besar tetap di bawah satu.

Behavioral finance mengusung tiga tema utama. Pertama, behavioral finance mengakui praktisi keuangan acap melakukan kesalahan karena menggunakan aturan praktis (rule of thumb) dalam memroses data. Behavioral finance menyebut ini sebagai bias heuristic, yaitu aturan atau strategi dalam memroses informasi untuk mendapatkan solusi yang cepat, meskipun tidak optimal.

Menurut ilmu psikologi, manusia hanya dapat memroses paling banyak tujuh macam informasi secara bersamaan. Heuristic digunakan ketika manusia dikelilingi setumpuk informasi atau saat tidak punya waktu untuk memroses informasi secara keseluruhan. Heuristic juga sering dipilih ketika orang tidak mempunyai pengalaman sebelumnya untuk menyelesaikan sebuah persoalan tertentu (Aronson, 1994).

Baca Juga: Waspada Bila Kinerja Saham Pelat Merah Masih Merah

Contoh kekeliruan atau bias heuristic investor adalah pemikiran bahwa kinerja masa lalu merupakan indikator paling baik untuk kinerja masa depan, sehingga reksadana yang berprestasi terbaik di masa lalu menjadi paling layak dibeli. Contoh lainnya, pandangan bahwa saham perusahaan bagus akan memberikan return bagus di masa depan.

Behavioral finance menyebut ini sebagai bias representativeness. Masih ada belasan bias lainnya. Keuangan tradisional tidak mengakui bias ini karena mengasumsikan semua investor dapat menggunakan informasi dan statistik dengan benar.

Kedua, behavioral finance berbeda dari keuangan tradisional dalam memandang bentuk (form) atau penyajian data/informasi (framing). Keuangan tradisional memandang kedua hal tersebut tidak penting. Menurut keuangan tradisional, investor tidak akan memperhatikan urutan, cara penyajian, dan penggunaan kata-kata.

Alasannya, pelaku pasar hanya akan mempertimbangkan substansi. Sementara menurut behavioral finance, baik form dan framing sama pentingnya dengan isi.

Contohnya, ketika diminta untuk cut loss, banyak investor tidak mau melakukannya. Tetapi, jika diberi nasihat untuk melakukan rebalancing portofolionya, investor yang sama sangat mungkin bersedia menuruti.

Ketiga, behavioral finance menilai bias heuristic dan efek framing pada akhirnya akan menyebabkan harga menyimpang dari nilai fundamentalnya dan pasar menjadi inefisien. Sebaliknya, keuangan tradisional mengatakan pasar itu efisien, alias tidak ada makan siang gratis.

Bagikan

Berita Terbaru

Tekanan Kredit Sektor Konstruksi, Indikasi Tingginya Risiko Likuiditas
| Jumat, 23 Oktober 2026 | 13:30 WIB

Tekanan Kredit Sektor Konstruksi, Indikasi Tingginya Risiko Likuiditas

Masalah utamanya bukan sekadar jumlah utang, melainkan ketidaksesuaian jadwal pembayaran dengan penerimaan kas proyek.

Tak Hanya CIMB Niaga, Ada 14 Bank Punya Asing dengan Free Float di Bawah 15%
| Jumat, 23 Oktober 2026 | 13:15 WIB

Tak Hanya CIMB Niaga, Ada 14 Bank Punya Asing dengan Free Float di Bawah 15%

Guntur menambahkan, jika banyak perusahaan berkualitas memilih delisting, market cap, likuiditas, dan investable universe BEI akan berkurang.

Hari Ini Saham PTSN dan ERAA Naik 24,46% dan 1,75%, Efek Wacana Pemberian HP Gratis?
| Jumat, 23 Oktober 2026 | 13:00 WIB

Hari Ini Saham PTSN dan ERAA Naik 24,46% dan 1,75%, Efek Wacana Pemberian HP Gratis?

Pemerintah berencana akan membagikan handphone gratis untuk sekurang-kurangnya 25 juta warga berusia dewasa yang masuk dalam kategori desil 1-4.

Trafik Kargo IPCC Naik, Pemulihan Logistik Kendaraan Domestik Topang Kinerja
| Jumat, 23 Oktober 2026 | 12:37 WIB

Trafik Kargo IPCC Naik, Pemulihan Logistik Kendaraan Domestik Topang Kinerja

Tim Riset UOB Kay Hian memasukkan saham IPCC sebagai salah satu dari 10 saham yang berpotensi memberikan imbal hasil dividen tinggi.

Genjot Kinerja, JPFA Tebar Belanja Modal Rp 4 Triliun
| Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:53 WIB

Genjot Kinerja, JPFA Tebar Belanja Modal Rp 4 Triliun

PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) memproyeksikan belanja modal atau capital expenditure (capex) di sepanjang 2026 akan melampaui Rp 4 triliun.

AMMN Mulai Eksekusi Aksi Buyback Saham Rp 1 Triliun
| Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:46 WIB

AMMN Mulai Eksekusi Aksi Buyback Saham Rp 1 Triliun

Aksi korporasi ini akan berlangsung selama tiga bulan dan dimulai pada Kamis 22 Oktober 2026 hingga 22 Januari 2027.​

TLDN Bayar Dividen Interim Tahun 2026 Rp 258,9 Miliar
| Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:42 WIB

TLDN Bayar Dividen Interim Tahun 2026 Rp 258,9 Miliar

Kemarin, emiten perkebunan sawit tersebut telah melaksanakan pembayaran dividen interim tahun 2026 senilai Rp 258,93 miliar dari buku tahun 2026. 

Waspadai Kenaikan Inflasi Pangan Imbas El Nino
| Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:40 WIB

Waspadai Kenaikan Inflasi Pangan Imbas El Nino

Pada September 2026 lalu, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada September 2026 mencapai 3,28% secara tahunan

Penjualan Tiap Toko Membaik, Prospek ACES Semakin Ciamik
| Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:38 WIB

Penjualan Tiap Toko Membaik, Prospek ACES Semakin Ciamik

Pertumbuhan SSSG PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) di sembilan bulan 2026 berbalik dari kontraksi 3,6% yoy pada periode sama di tahun 2025.

Alokasi Anggaran Rekening Gratis Rp 1,28 Triliun
| Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:32 WIB

Alokasi Anggaran Rekening Gratis Rp 1,28 Triliun

Alokasi anggaran tersebut lebih rendah dibandingkan perkiraan pemerintah sebelumnya yang sebesar Rp 3,8 triliun

INDEKS BERITA

Terpopuler