Kimia Farma (KAEF) Menerbitkan MTN Senilai Rp 500 Miliar

Selasa, 09 Juli 2019 | 20:10 WIB
Kimia Farma (KAEF) Menerbitkan MTN Senilai Rp 500 Miliar
[]
Reporter: Narita Indrastiti | Editor: Narita Indrastiti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Kimia Farma Tbk (KAEF) menerbitkan surat utang jangka menengah alias medium term notes (MTN). MTN tersebut terbagi menjadi dua jenis, yakni MTN konvensional dan MTN syariah. Nilai MTN itu masing-masing sebesar Rp 250 miliar. 

Berdasarkan informasi dari Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), MTN I Kimia Farma Tahun 2019 memiliki tenor tiga tahun atau akan jatuh tempo pada 10 Juli 2022 mendatang. Tingkat bunga MTN ditetapkan 8,75% per tahun. 

Sementara itu, MTN Syariah Mudharabah I Kimia Farma Tahun 2019 memiliki jenis dan tingkat bagi hasil floating. Adapun periode perhitungan bagi hasil ditetapkan 30/360. MTN syariah Kimia Farma juga memiliki tenor tiga tahun dengan frekuensi pembayaran bunga setiap tiga bulan. 

Rencananya, kedua MTN tersebut akan didistribusikan pada 10 Juli 2019 dan tanggal pembayaran bunga pertama akan dilakukan pada 10 Oktober 2019. 

Kimia Farma menunjuk PT Bank Tabungan Negara Tbk sebagai agen pemantau. Sementara itu, PT BNI Sekuritas dan PT Mandiri Sekuritas didapuk sebagai arranger. 

Sebelumnya, PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) telah menetapkan peringkat idAA- terhadap MTN Kimia Farma yang rencananya akan diterbitkan hingga Rp 900 miliar. Peringkat yang sama juga diberikan terhadap penerbitan MTN Syariah Mudharabah tahun 2019 yang direncanakan mencapai Rp 600 miliar.

MTN akan digunakan untuk membiayai ekspansi bisnis dan kebutuhan modal kerja Kimia Farma. Prospek untuk peringkat perusahaan adalah stabil. Menurut Pefindo, peringkat tersebut mencerminkan peran strategis KAEF dalam menyediakan obat-obatan tertentu untuk kebutuhan nasional, posisi pasar perusahaan yang kuat di industri farmasi, dan operasi bisnis yang terintegrasi. 

Namun, peringkat ini dibatasi oleh leverage keuangan yang tinggi, sejalan dengan program belanja modal yang signifikan dan marjin profitabilitas perusahaan yang lebih rendah dibandingkan dengan margin perusahaan-perusahaan farmasi yang lain.

Pefindo juga menilai, peringkat ini dapat naik apabila Kimia Farma secara konsisten mencapai target penjualannya dengan margin yang lebih baik dan berkelanjutan, serta secara signifikan meningkatkan pangsa pasar di industri farmasi dari kegiatan operational bisnis perusahaan. Pada saat yang bersamaan perusahaan juga harus memperbaiki leverage keuangannya. 

Sebagai informasi, tahun ini Kimia Farma mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) mencapai Rp 4,2 triliun. Dengan dana tersebut, Kimia Farma siap mengembangkan usaha. Perinciannya, sebanyak Rp 2,5 triliun untuk mendanai bisnis organik dan Rp 1,7 triliun untuk bisnis anorganik.

Bagikan

Berita Terkait

Berita Terbaru

Menakar Potensi Dampak Pelemahan Rupiah Terhadap Kinerja Emiten
| Rabu, 30 September 2026 | 15:12 WIB

Menakar Potensi Dampak Pelemahan Rupiah Terhadap Kinerja Emiten

Emiten dengan utang dolar AS tetapi pendapatan dominan rupiah, berisiko mengalami kenaikan beban bunga dan pembayaran pokok.

Keluar dari Papan FCA, Saham Grup Bakrie dan MNC Kompak Bergerak Liar
| Rabu, 30 September 2026 | 14:49 WIB

Keluar dari Papan FCA, Saham Grup Bakrie dan MNC Kompak Bergerak Liar

Saham-saham konglomerasi yang baru keluar dari Papan Pemantauan Khusus atau Full Call Auction (FCA) menunjukkan pergerakan yang beragam.

Saham UVCR Meroket 50% Sepekan, Saham UVCR Masih Layak Dikejar?
| Rabu, 30 September 2026 | 13:50 WIB

Saham UVCR Meroket 50% Sepekan, Saham UVCR Masih Layak Dikejar?

Ada sejumlah faktor fundamental yang menopang bisnis UVCR, diantaranya pergeseran program loyalitas dari bentuk fisik menuju voucher digital.

Seberapa Besar Sentimen Rights Issue Berefek Terhadap Pergerakan Harga Saham CBRE?
| Rabu, 30 September 2026 | 13:38 WIB

Seberapa Besar Sentimen Rights Issue Berefek Terhadap Pergerakan Harga Saham CBRE?

Selain sentimen rights issue, ekspektasi perbaikan struktur permodalan dan aksi ambil untung jangka pendek juga mewarnai pergerakan saham ini.

Insentif Industri Belum Mampu Mengerek Prospek Emiten Furnitur
| Rabu, 30 September 2026 | 10:00 WIB

Insentif Industri Belum Mampu Mengerek Prospek Emiten Furnitur

Kenaikan harga saham belum otomatis berarti insentif pemerintah sudah memberi dampak ke bisnis emiten furnitur.

Pemerintah Akan Bangun Peternakan, Tekanan Ganda Bagi Emiten Poultry
| Rabu, 30 September 2026 | 09:00 WIB

Pemerintah Akan Bangun Peternakan, Tekanan Ganda Bagi Emiten Poultry

Persoalan utama peternakan adalah pakan karena hampir 70% dari total biaya produksi. Jadi memang mesti membangun pabrik pakan di sentra produksi.

Kedatangan Pengendali Baru, Saham KETR Semakin Menarik untuk Dicermati
| Rabu, 30 September 2026 | 08:58 WIB

Kedatangan Pengendali Baru, Saham KETR Semakin Menarik untuk Dicermati

Konglomerasi milik keluarga Widjaja memperkuat ekosistem bisnis infrastruktur telekomunikasi dengan mengakuisisi KETR.

ANJT Guyur Pinjaman Senilai Rp 2 Triliun ke Perusahaan Afiliasi
| Rabu, 30 September 2026 | 07:58 WIB

ANJT Guyur Pinjaman Senilai Rp 2 Triliun ke Perusahaan Afiliasi

PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT) mengucurkan pinjaman senilai Rp 2 triliun kepada perusahaan terafiliasi, PT Adhitya Serayakorita (ASK).

Memperkuat Ekspansi, ENRG Mengincar Dana Rp 4,1 Triliun dari Rights Issue
| Rabu, 30 September 2026 | 07:54 WIB

Memperkuat Ekspansi, ENRG Mengincar Dana Rp 4,1 Triliun dari Rights Issue

Aksi rights issue bisa memberikan ruang PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) untuk memperluas kegiatan eksplorasi dan pengembangan lapangan migas.

Menakar Peluang Cuan dari Transaksi Saham Short Selling
| Rabu, 30 September 2026 | 07:45 WIB

Menakar Peluang Cuan dari Transaksi Saham Short Selling

Pada tahap awal, Bursa Efek Indonesia menetapkan ASII, BBCA, BRPT, BUMI dan INDF jadi saham short selling.

INDEKS BERITA

Terpopuler