Membedah IPO Produsen Makanan Bayi NAYZ, Cermati Valuasi Harga Saham Perdananya

Selasa, 03 Januari 2023 | 11:40 WIB
Membedah IPO Produsen Makanan Bayi NAYZ, Cermati Valuasi Harga Saham Perdananya
[ILUSTRASI. Produk makanan pendamping ASI (MPASI) PT Hassana Boga Sejahtera Tbk (NAYZ). DOK/NAYZ]
Reporter: Tedy Gumilar | Editor: Tedy Gumilar

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Hajatan IPO atau initial public offering pada awal 2023 banyak diramaikan oleh emiten skala kecil dan menengah. Salah satu yang akan hadir di Bursa Efek Indonesia (BEI) adalah PT Hassana Boga Sejahtera Tbk (NAYZ).

Jika proses IPO berjalan sesuai rencana, NAYZ akan menjadi emiten pertama yang fokus di bisnis makanan bayi. Seberapa menarik penawaran IPO calon emiten yang berawal dari industri rumahan ini?

NAYZ berencana menawarkan 510 juta saham baru, setara 20 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan setelah IPO.

Nilai nominalnya Rp 10 per saham. Sementara harga penawaran saham IPO NAYZ ada di kisaran Rp 100 hingga Rp 120 per saham. Dus, total dana IPO yang berpeluang diraup Rp 61,20 miliar.

Sebagian dana IPO yang diperoleh akan dialokasikan untuk kepentingan pembangunan pabrik di Gunung Sindur, Kabupaten Bogor. 

Pabrik ini akan dibangun setelah NAYZ memperoleh Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) yang direncana pada kuartal I-2023. Sementara pembelian mesin dan peralatan pabrik akan dilakukan pada Kuartal IV 2023.

Baca Juga: Perdagangan Saham Garuda (GIAA) Dibuka Setelah 1,5 Tahun Disuspensi

Oh ya, untuk memancing minat calon investor, NAYZ akan membagikan 510 juta Waran Seri I. Setiap pemegang satu saham baru NAYZ akan memperoleh satu Waran Seri I. Jika waran ini ingin dikonversi menjadi saham biasa, investor kudu membayar Rp 125 per saham. 

Jika seluruh waran tersebut dikonversi menjadi saham biasa, NAYZ akan memperoleh dana tambahan maksimal Rp 63,75 miliar. Seluruh dana hasil pelaksanaan waran akan digunakan untuk biaya operasional, pembelian bahan baku, biaya distribusi, marketing dan promosi.

Baca Juga: Sidang Kasus KSP Indosurya Selasa ini (3 Januari 2023) Agendakan Pembacaan Tuntutan

Berawal dari usaha rumahan

Usaha produksi dan penjualan makanan bayi yang dirintis PT Hassana Boga Sejahtera Tbk awalnya merupakan industri rumahan. Usaha ini dirintis sejak 2009 silam oleh pasangan suami-istri Lutfiel Hakim dan Nadia Juwita Ayu.

Seiring berjalannya waktu, NAYZ kini telah memproduksi berbagai varian makanan bayi, seperti bubur makanan pendamping ASI (MPASI), sereal, kaldu ayam dan puding susu.

Merujuk prospektus awal IPO, lewat satu pabrik yang berada di Tangerang, saat ini kapasitas produksi bubur perseroan mencapai 181.400 pcs per bulan. Sementara untuk produk non bubur kapasitasnya 45.000 pcs per bulan.

Hanya saja, sejauh penelusuran KONTAN terhadap dokumen ini, tidak ada penjelasan berapa kapasitas produksi di pabrik yang akan dibangun di Gunung Sindur.

Oh ya, Lutfiel Hakim dan Nadia Juwita Ayu saat ini tercatat sebagai pemegang saham mayoritas NAYZ lewat PT Hassana Investa Utama. Perusahaan ini tercatat mendekap 50,98 persen saham NAYZ, atau 40,78 persen setelah IPO. 

Lutfiel Hakim mendekap 51,34 persen saham PT Hassana Investa Utama dan Nadia Juwita Ayu mengempit 48,65 persen.

Pada 15 November 2021, PT Hassana Boga Sejahtera mengerek modal dasar dari Rp 500 juta menjadi Rp 50 miliar. Serta modal ditempatkan dan modal disetor dari Rp 400 juta menjadi Rp 20,40 miliar. Seiring dengan hal itu, PT Asia Intrainvesta masuk sebagai pemegang 49,02 persen saham PT Hassana Boga Sejahtera. 

Hanya berselang sebulan kemudian, tepatnya pada 24 Desember 2021, PT Asia Intrainvesta melego 24,51% saham Hassana Boga Sejahtera ke PT Asiavesta Investama Jaya, 19,61% saham ke Achmad Machlus Sadat dan 4,90% ke Nusa Perkasa International.

Baca Juga: Kinerja Berpeluang Membaik, Simak Rekomendasi Saham Bukalapak (BUKA)

Penelusuran KONTAN, PT Asia Intrainvesta merupakan perusahaan yang juga disebut sebagai Asiavesta Strategic Investment. Entitas yang didirikan oleh Achmad Machlus Sadat pada 2008 silam, itu fokus berinvestasi di perusahaan-perusahaan skala menengah.

Nah, PT Asiavesta Investama Jaya yang kini mendekap saham NYAZ merupakan perusahaan yang terafiliasi dengan Aisavesta Strategic Investment. 

Soal Achmad Machlus Sadat, ia tak hanya mendekap saham NAYZ. Lelaki 50 tahun yang awalnya merupakan pengepul kulit sapi, itu juga tercatat sebagai pemilik 24,32 persen saham PT Idea Indonesia Akademi Tbk (IDEA).

Baca Juga: Logam Mulia Lebih Bersinar di Tengah Ancaman Resesi

Perkiraan valuasi saham IPO NAYZ

Lantaran berstatus sebagai satu-satunya emiten yang fokus bermain di bisnis makanan bayi, valuasi harga saham IPO NYAZ pun tak bisa dicari perbandingannya. 

NAYZ selama ini menghadapi para pesaing dari sejumlah perusahaan besar yang tak hanya berbisnis makanan bayi. Diantaranya Promina (Indofood Nutrition), Cerelac (Nestle), SUN (Indofood Nutrition), Milna (Kalbe) dan Nutricia (Danone).

Meski demikian, perhitungan KONTAN berdasar posisi dan kinerja keuangan per 31 Oktober 2022, valuasi harga saham NAYZ sejatinya bisa dibilang kemahalan.

Di harga penawaran Rp 100-120 per saham, price to book value (PBV) NAYZ berada di kisaran 4,14 kali hingga 4,36 kali. Sementara price to earning ratio (PER) 2022 yang disetahunkan malah mencapai 414,84 kali hingga 497,81 kali.

Baca Juga: Kinerja Reksadana Pasar Uang Paling Moncer Sepanjang 2022

Bagikan

Berita Terbaru

MSCI Soroti Transparansi Pasar Indonesia, Risiko Turun ke Frontier Market Tetap Ada
| Rabu, 24 Juni 2026 | 13:26 WIB

MSCI Soroti Transparansi Pasar Indonesia, Risiko Turun ke Frontier Market Tetap Ada

MSCI menyoroti kualitas aksesibilitas pasar modal Indonesia dalam hasil MSCI 2026 Market Classification Review yang dirilis pada 23 Juni 2026. 

Stock Split RAJA Disetujui, Paling Minimal bisa Jadi Sentimen Positif Jangka Pendek
| Rabu, 24 Juni 2026 | 09:31 WIB

Stock Split RAJA Disetujui, Paling Minimal bisa Jadi Sentimen Positif Jangka Pendek

Pergerakan harga saham RAJA setelah stock split sangat bergantung pada kondisi fundamental dan momentum pasar secara keseluruhan.

Kondisi Ekonomi dan Bisnis Tak Pasti, GTRA Mengincar Pendapatan Rp 1 Triliun di 2026
| Rabu, 24 Juni 2026 | 08:14 WIB

Kondisi Ekonomi dan Bisnis Tak Pasti, GTRA Mengincar Pendapatan Rp 1 Triliun di 2026

GTRA siap capai pendapatan Rp 1 triliun 2026. Fokus pada FMCG, e-commerce, dan peningkatan layanan jadi alasan Anda harus tahu.

Indonesia Tetap di Emerging Market, MSCI Beri Sorotan, Cek Rekomendasi Saham Hari Ini
| Rabu, 24 Juni 2026 | 08:06 WIB

Indonesia Tetap di Emerging Market, MSCI Beri Sorotan, Cek Rekomendasi Saham Hari Ini

Kemarin investor asing mencatatkan aksi jual bersih alias net sell Rp 311,55 miliar. Empat hari terakhir net sell menyentuh Rp 4,73 triliun.

King Tyre Indonesia (TYRE) Kejar Target Penjualan Tumbuh 5%
| Rabu, 24 Juni 2026 | 08:02 WIB

King Tyre Indonesia (TYRE) Kejar Target Penjualan Tumbuh 5%

Pada tahun ini, TYRE juga berupaya mengoptimalkan penjualan ban untuk kendaraan listrik atau electric vehicle (EV).

GGRM Bakal Bagi Dividen Rp 800 Per Saham, Blackrock Hingga WisdomTree Akumulasi
| Rabu, 24 Juni 2026 | 08:00 WIB

GGRM Bakal Bagi Dividen Rp 800 Per Saham, Blackrock Hingga WisdomTree Akumulasi

RUPST menyetujui penggunaan Rp 1,54 triliun atau setara Rp 800 per saham dari keuntungan tahun buku 2025 sebagai dividen tunai.

Kawasan GBK Bakal Menjadi Pusat Sport Tourism
| Rabu, 24 Juni 2026 | 07:29 WIB

Kawasan GBK Bakal Menjadi Pusat Sport Tourism

Danantara juga berpeluang merobohkan Hotel Sultan yang selama ini dikelola oleh pihaaaak PT Indobuildco.

Optimalisasi Dana Haji Kian Mendesak
| Rabu, 24 Juni 2026 | 07:24 WIB

Optimalisasi Dana Haji Kian Mendesak

Anggota Komisi VIII DPR RI Maman Imanul Haq mendorong BPKH agar semakin independen dan mandiri dalam mengelola dana haji

Daya Beli Masyarakat Loyo, Jakarta dan Jawa Masih Jadi Penopang Penjualan ACES
| Rabu, 24 Juni 2026 | 07:22 WIB

Daya Beli Masyarakat Loyo, Jakarta dan Jawa Masih Jadi Penopang Penjualan ACES

SSSG ACES tumbuh 2,1% hingga Mei 2026. Wilayah Jakarta dan Jawa jadi penopang utama, sedangkan luar Jawa masih tertekan. 

Regulasi Koperasi Saat Ini Sudah Tidak Relevan
| Rabu, 24 Juni 2026 | 07:19 WIB

Regulasi Koperasi Saat Ini Sudah Tidak Relevan

Parlemen sedang menggodok revisi UU Koperasi agar sesuai dengan tuntutan ekonomi modern dan teknologi digital

INDEKS BERITA

Terpopuler