Uang Bukan Bawahan

Senin, 19 Oktober 2026 | 06:10 WIB
Uang Bukan Bawahan
[ILUSTRASI. TAJUK - Hasbi Maulana (KONTAN/Indra Surya)]
Hasbi Maulana | Managing Editor

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sifat modal global adalah entitas yang sangat dingin, rasional, dan sekaligus pengecut terhadap risiko. Ketika kalkulator risiko investor asing mendeteksi ada lampu kuning, mereka akan langsung menekan tombol jual tanpa perlu meminta izin, tanpa rasa takut terhadap pemegang kewenangan, dan tanpa beban psikologis menjaga perasaan pejabat di republik ini. 

Harus diakui, langkah ekstrem Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang langsung menyodorkan proposal Standalone Market -- melompati kasta Frontier Market -- memang sebuah kejutan besar yang sama sekali tidak terduga oleh radar otoritas maupun endusan investor. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambrol hingga 11,57 persen ke level 5.185,11 dan memaksa bursa meniup peluit trading halt pada 16 Oktober 2026.

Dana asing sebesar Rp 3,35 triliun yang langsung hengkang dalam sehari perdagangan pasca-pengumuman memberikan penyadaran yang sangat jernih: uang global sama sekali tidak memiliki atasan dan bergerak sepenuhnya suka-suka berdasarkan kalkulasi risiko semata. Narasi seindah apa pun yang dirajut di depan kamera tidak akan pernah bernilai di mata investor yang berbasis di New York atau London, saat alarm risiko mereka sudah menyala merah.

Mereka tidak butuh pidato penenang atau lobi-lobi diplomatik di balik pintu tertutup. Mereka hanya melihat realitas risiko yang nyata. Ketika potensi capital outflow masif hingga Rp 132 triliun membayangi bursa jika status pengucilan nanti benar-benar diketuk, bursa kita sedang diuji oleh hukum pasar yang merdeka dan dingin.

Pembuat kebijakan kita mungkin mengira bahwa modal asing bisa diperlakukan seperti "pihak lain" di dalam negeri yang bisa ditundukkan oleh instruksi, dipanggil menghadap ke griya pejabat untuk diikat komitmennya, maupun sekadar diminta bersikap manis demi menjaga muka instansi atau pejabat tinggi. 

Kita bisa saja bertanya-tanya soal motif MSCI mengajukan jadwal evaluasi sebulan lebih cepat dan menyodorkan proposal yang tidak pernah tersiratkan pula. Namun, para pemilik uang lebih suka menghindari risiko lebih dulu ketimbang ikut hanyut bergunjing sembari menyangkal kenyataan di depan mata yang tengah berlangsung. 

Oleh sebab itu, para pemegang otoritas tak perlu repot menyusun narasi sembari berharap para pemilik pemodal akan percaya. Mestinya tak akan sulit mencari pemicu alarm merah MSCI menyalak tiba-tiba, sekaligus cara mengatasinya.

Bagikan

Berita Terbaru

UMKM Merasa Dua Tahun Terakhir Situasi Lebih Sulit dibandingkan Saat Pandemi
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 10:00 WIB

UMKM Merasa Dua Tahun Terakhir Situasi Lebih Sulit dibandingkan Saat Pandemi

Keterbatasan modal, UMKM sulit mengikuti lelang/tender proyek-proyek pemerintah karena secara kapasitas produksi dan modal tidak akan mencukupi.

Pasar Saham Anjlok, Asing Lari ke SBN: Intip Strategi dan Tenor Obligasi Paling Cuan
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 10:00 WIB

Pasar Saham Anjlok, Asing Lari ke SBN: Intip Strategi dan Tenor Obligasi Paling Cuan

Peningkatan realisasi belanja dan kebutuhan pembiayaan pada kuartal IV berpotensi menambah tekanan pasokan SBN.

SCMA Membagikan Dividen Interim Rp 533,43 Miliar
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:49 WIB

SCMA Membagikan Dividen Interim Rp 533,43 Miliar

PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) mengumumkan akan membagikan dividen interim kepada pemegang saham sebesar Rp 533,43 miliar.​

Manajemen DSSA Buka Suara Soal Sanksi OJK
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:44 WIB

Manajemen DSSA Buka Suara Soal Sanksi OJK

Manajemen PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) buka suara perihal sanksi yang diberikan OJK terkait dugaan manipulasi perdagangan saham.

Tiga Emiten Tersangkut Pemeriksaan OJK, Buyback Rp 2,5 Triliun Usai Saham Anjlok
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:43 WIB

Tiga Emiten Tersangkut Pemeriksaan OJK, Buyback Rp 2,5 Triliun Usai Saham Anjlok

Aksi buyback dengan total anggaran Rp 2,5 triliun berpotensi membantu meredam tekanan jual dan menjaga stabilitas harga.

Emiten Big Caps Buyback Saham Saat Pasar Tertekan
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:38 WIB

Emiten Big Caps Buyback Saham Saat Pasar Tertekan

Emiten berkapitalisasi besar di BEI, dari BREN hingga BBCA menyisihkan anggaran jumbo untuk buyback saham.

Bursa Butuh Dana Institusi Domestik Saat Tekanan Jual Asing Semakin Mencekik
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:26 WIB

Bursa Butuh Dana Institusi Domestik Saat Tekanan Jual Asing Semakin Mencekik

Investor institusi domestik bisa jadi penyangga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tengah tekanan jual investor asing​.

Aturan ARB 7% Berlaku, Penurunan Saham Big Cap Bisa Diredam Sementara Waktu
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:00 WIB

Aturan ARB 7% Berlaku, Penurunan Saham Big Cap Bisa Diredam Sementara Waktu

Saham big caps dengan likuiditas tinggi dan fundamental kuat lebih mampu menyerap tekanan jual, meski tak otomatis kebal terhadap outflow asing.

El Nino Jadi Pisau Bermata Dua Bagi Produksi Sawit, 6 Saham Ini bisa Cuan Maksimal
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 08:38 WIB

El Nino Jadi Pisau Bermata Dua Bagi Produksi Sawit, 6 Saham Ini bisa Cuan Maksimal

Bagi emiten CPO yang punya eksposur besar pada bisnis upstream, kenaikan harga dapat memberikan leverage yang signifikan terhadap profitabilitas.

Dua Inisiatif Lagi Demi Merayu MSCI
| Selasa, 20 Oktober 2026 | 07:49 WIB

Dua Inisiatif Lagi Demi Merayu MSCI

Inisiatif tersebut ialah menambah informasi status afiliasi pemegang saham dengan kepemilikan 1% dan mengeluarkan saham HSC dari perhitungan IHSG.

INDEKS BERITA

Terpopuler