Ikuti Tren Digital, Perusahaan Ritel Memperkecil Porsi Gerai Fisik

Rabu, 30 Januari 2019 | 08:44 WIB
Ikuti Tren Digital, Perusahaan Ritel Memperkecil Porsi Gerai Fisik
[]
Reporter: Andy Dwijayanto | Editor: Dian Pertiwi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perkembangan teknologi informasi bergerak cepat dan dinamis. Oleh karena itu, pelaku bisnis harus mampu beradaptasi dengan teknologi demi menjaga roda bisnisnya terus berjalan, termasuk di sektor ritel.

Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) mengemukakan, sebesar 95% dari 600-an perusahaan di bawah naungan Asosiasi sudah melakukan transformasi ke platform digital. Sebagian kecil dari mereka bahkan sudah mengimplementasikan penggunaan big data analytics untuk mendukung bisnisnya.

Ketua Umum Aprindo, Roy N Mandey, menyatakan di era revolusi industri 4.0 saat ini, merupakan keniscayaan bagi para peritel untuk melakukan transformasi ke bisnis online. Namun transformasi tersebut tidak lantas mengindikasikan bahwa ekspansi gerai ritel akan berkurang.

Dia menjelaskan, saat ini peritel lebih suka membidik gerai yang lebih kecil dan melengkapi pengalaman belanja konsumen dengan omni channel ketimbang membuka gerai yang lebih besar.

"Kalau (gerai) offline-nya saat ini ada yang tutup dan sejenisnya, itu karena efisiensi untuk mengubah bisnis model sehingga bisa mixed use atau omni channel. Jadi perkembangan online tidak serta merta menggerus bisnis offline," ujar Roy kepada KONTAN, Selasa (29/1).

Menurut data Aprindo, hingga akhir tahun lalu transaksi ritel mencapai Rp 230 triliun. Sebagian besar pendapatan para peritel masih didominasi penjualan di gerai. Transaksi melalui online atau e-commerce hanya mencuil sebagian kecil.

Tahun ini, Aprindo menargetkan pertumbuhan bisnis ritel di kisaran 9% hingga 10%. Dengan asumsi tersebut, Roy optimistis transaksi ritel akan mampu menembus Rp 250 triliun hingga Rp 260 triliun pada tahun ini. "Penjualan (ritel) via online masih rendah, di bawah 7% atau 8% dari total transaksi ritel, sementara kontribusinya juga sangat kecil, mungkin sekitar 4% sampai 5% saja," lanjut dia.

Roy mengemukakan ekspansi gerai merupakan kunci pertumbuhan ritel. Menurut dia, menggarap ekosistem digital tidak akan membuat ekspansi gerai berkurang. Bahkan trennya saat ini pemain digital justru mulai membuka gerai ritel seperti Alibaba dan Amazon yang mulai membuka gerai ritel.

 

Gerai kecil

Sementara pengelola pusat belanja PT Agung Sedayu Retail Indonesia melihat saat ini permintaan terhadap gerai yang lebih kecil banyak diminati para penyewa. Oleh karena itu, Agungn Sedayu melakukan renovasi pusat belanja miliknya untuk bisa memenuhi permintaan tersebut.

David Hilman, Chief Operation Officer PT Agung Sedayu Retail Indonesia menyatakan mereka merenovasi Mall of Indonesia, Grand Galaxy Park dan pusat belanja lainnya. "(gerai) Big box itu yang besar-besar, sudah lewat zamannya. Orang ke mal sekarang untuk lifesyle, makan-makan dan belanja lebih spesifik," ungkap dia.

Saat ini brand yang ingin masuk lebih banyak meminati gerai lebih kecil. Biasanya tenant tersebut akan melengkapi bisnisnya dengan omni channel dan digital.

Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) menyatakan saat ini banyak peritel dengan gerai yang luas menutup atau menciutkan ukuran gerai. Hal ini untuk efisiensi biaya sewa, energi dan pekerja.

"Department store itu memperkecil luas dari 20.000 m² menjadi 15.000 m², bahkan ada yang menutup gerainya," pungkas Stefanus Ridwan, Ketua Umum APPBI.

 

Bagikan

Berita Terbaru

Harga Perak Anjlok 13% Setelah Cetak Rekor, Aksi Ambil Untung Jadi Penyebab
| Jumat, 30 Januari 2026 | 22:29 WIB

Harga Perak Anjlok 13% Setelah Cetak Rekor, Aksi Ambil Untung Jadi Penyebab

Perak anjlok 13% setelah rekor, pertanda apa bagi investor? Aksi ambil untung masif memicu koreksi tajam. 

Petinggi BEI dan OJK Kompak Mundur Efek MSCI, ini Komentar Pengamat Hukum
| Jumat, 30 Januari 2026 | 21:46 WIB

Petinggi BEI dan OJK Kompak Mundur Efek MSCI, ini Komentar Pengamat Hukum

Pengunduran diri para petinggi BEI dan OJK tersebut terjadi di tengah upaya pembenahan struktural industri pasar modal nasional.

MSCI Effect, Pejabat Tinggi OJK dan BEI Kompak Mundur
| Jumat, 30 Januari 2026 | 19:29 WIB

MSCI Effect, Pejabat Tinggi OJK dan BEI Kompak Mundur

Pengumuman MSCI yang membekukan evaluasi indeks saham Indonesia hingga bulan Mei 2026, berbuntut panjang.

IHSG Masih Tertekan, Apakah Saham MBMA Masih Cukup Menarik?
| Jumat, 30 Januari 2026 | 16:19 WIB

IHSG Masih Tertekan, Apakah Saham MBMA Masih Cukup Menarik?

Perubahan lanskap geopolitik, hingga kebijakan energi berbagai negara menjadi faktor yang berpotensi menjaga momentum sektor komoditas.

Momen Ramadan Bisa Mendorong Kinerja Kalbe Farma (KLBF)
| Jumat, 30 Januari 2026 | 09:00 WIB

Momen Ramadan Bisa Mendorong Kinerja Kalbe Farma (KLBF)

Pertumbuhan laba PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) di tahun ini akan didorong pemulihan pendapatan lintas segmen dan kontribusi bisnis obat resep.

Dongkrak Pertumbuhan Laba, ACES Hadirkan Gerai Ritel Rumah Tangga NEKA
| Jumat, 30 Januari 2026 | 08:52 WIB

Dongkrak Pertumbuhan Laba, ACES Hadirkan Gerai Ritel Rumah Tangga NEKA

PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) menghadirkan NEKA, merek usaha baru yang menyediakan aneka kebutuhan rumah dan gaya hidup.

Genjot Kinerja, Emiten Suntik Modal untuk Anak Usaha
| Jumat, 30 Januari 2026 | 08:42 WIB

Genjot Kinerja, Emiten Suntik Modal untuk Anak Usaha

Emiten berharap suntikan modal ke anak usaha bisa berefek positif ke kinerja perusahaan di masa mendatang. 

Rogoh Kocek Dana Rp 250 Miliar, Rukun Raharja (RAJA) Menggelar Buyback Saham
| Jumat, 30 Januari 2026 | 08:33 WIB

Rogoh Kocek Dana Rp 250 Miliar, Rukun Raharja (RAJA) Menggelar Buyback Saham

Buyback saham dilaksanakan PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) selama periode 29 Januari 2026 sampai dengan 28 April 2026. ​

Volume Produksi Meningkat, Laba Darma Henwa (DEWA) Melesat di Sembilan Bulan 2025
| Jumat, 30 Januari 2026 | 08:27 WIB

Volume Produksi Meningkat, Laba Darma Henwa (DEWA) Melesat di Sembilan Bulan 2025

PT Darma Henwa Tbk (DEWA) mencetak pertumbuhan kinerja pendapatan dan laba bersih selama periode Januari–September 2025.​

Dana Saham Lari ke Emas? Simak Proyeksi Harga Emas di 2026
| Jumat, 30 Januari 2026 | 06:50 WIB

Dana Saham Lari ke Emas? Simak Proyeksi Harga Emas di 2026

Emas batangan Antam capai Rp 3,16 juta per gram. Proyeksi di 2026 harga emas Antam akan sentuh Rp 4,2 juta per gram.

INDEKS BERITA

Terpopuler